Pasar buku dan nasib penulis

Standar

Bagaimanapun juga kenyataan yang sulit berubah dari pasar buku,-yang di dalamnya terkait masalah rendahnya minat baca masyarakat dan juga daya beli,-ini menjadikan banyak penulis di Indonesia dirundung awan gelap pesimisme, terutama jika itu menyangkut soal penghasilan. Teman-teman penulis, termasuk juga saya di dalamnya seringkali merasa jenuh setelah melewati lebih 15 tahun berkutat dengan dunia penulisan. Dari sekian puluh teman penulis yang saya tangkap dari setiap obrolan, saya merasakan “kita ini menjadi penulis kehilangan arah tujuan hidup.  Di satu sisi sudah terlanjur bisa dan mudah menulis. Tetapi dipihak lain pada kenyataannya menulis tidak banyak menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Sudah sering menulis buku, muncul di koran-koran juga tidak membuat perubahan hidup yang berarti. Dan uang adalah sesuatu yang bisa membuat malas.

Ya, uang membuat malas bukan karena uangnya, melainkan karena setiap penghasilan dari menulis rasanya tidak akan bisa menopang kehidupan. Akibatnya menulis hanya menjadi kerja sambilan.  Karena sifatnya sambilan, -dan mereka tahu tidak banyak menghasilkan pendapatan,- kreativitas pun jadi macet. Karena sudah tahu nominal uangnya, mereka lantas menulis asal-asalan tanpa motivasi yang lebih.

Seorang teman saya, sebut saja Sinom, mantan wartawan di Jakarta yang sangat produktif (rata-rata mampu menulis 5 artikel dalam seminggu) pernah bilang, “payah bener ini. Bertahun-tahun sulit dapat uang ratusan juta. Recehan melulu. Ternyata sudah terkenal jadi penulis begini juga tidak berefek nasib yang lebih baik,” keluhnya. Sebetulnya Sinom juga tidak kere-kere amat. Penghasilannya dari menulis biasanya mencapai 3-4 juta perbulan, belum termasuk gaji sebagai volunteer di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Terkadang juga masih sering menulis buku proyek. Hasil buku proyek yang biasanya digarap selama 3 bulan itu rata-rata menghasilkan uang Rp antara 15-25 juta, terkadang juga bisa lebih. Tetapi namanya juga manusia. Setiap kali mendapatkan sesuatu, pasti ingin lebih dari yang telah ia dapatkan. Tetapi pada kasus penulis yang lain, agaknya memang kebanyakan kurang beruntung nasibnya menjadi penulis. Kebanyakan para penulis independen ini berkutat pada jenis penulisan artikel, opini, esai. Uang mereka dapatkan dari honor media massa.  Untuk menulis buku? Nanti dulu.

Rata-rata penulis ini sudah menguasai peta perbukuan. Tetapi hasil pengetahuan itu bukan lantas memudahkan jalan untuk lebih produktif dan kreatif. Mereka mungkin hanya produktif, tetapi tidak kreatif untuk terus berkarya. Akhirnya hanya bisa menulis beberapa buku, yang sialnya tidak laku, dan lebih memilih menulis untuk tulisan-tulisan pendek untuk koran.

Mengapa?

Karena mereka tahu rata-rata buku yang ditulis itu paling hanya akan dicetak antara 1.000-2.000 copy dan yang terjualpun tidak lebih dari angka itu. “Paling-paling royaltinya hanya Rp 5 juta. Itupun harus nunggu lebih dari dua tahun,” begitulah kira-kira ungkapan yang sering kita dengar dari para penulis.

Kematian kreativitas memang bisa terjadi setiap waktu dan bisa disebabkan oleh berbagai alasan. Ternyata, ketika kita menjadi seorang penulis yang sudah kreatif pun tidak cukup menjadikan masa depan lebih baik.  Kita masih butuh kreativitas lain, yakni berkreasi untuk menaklukkan sesuatu yang lumrah menjadi tidak lumrah. Para penulis yang kreatif dan bermental baja untuk menaklukkan pasar ternyata bisa lolos dan mereka berhasil meneguk nikmatnya menjadi penulis. Hal ini karena diimbangi oleh kepuasaan karya yang menyebar dan juga uang yang mengalir.

Kreativitas di luar penulisan juga butuh dimiliki para penulis jika memang kita ini benar-benar mau menjadi penulis tulen. Tanpa kreativitas untuk berani menaklukkan situasi yang terjadi kita pun hanya akan dibuat bingung dan pada akhirnya patah di tengah jalan. Apa yang seharusnya kita lakukan untuk keluar dari jebakan realitas seperti itu? []

“Jika Anda termasuk orang yang senang menunggu datangnya peluang, Anda adalah bagian dari manusia pada umumnya.” (Edward de Bono)

bacaan terkait lihat https://faizmanshur.wordpress.com/2010/12/03/minat-baca-masyarakat-dan-nasib-penulis/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s