(Shastri) Sepanjang Jalan Daendels

Standar

-Sebuah catatan perjalanan Semarang-Rembang waktu lalu.

Bus yang ditumpangi sudah masuk kota Demak. Tak lama lagi ia akan melewati kota bersejarah yang sangat luas dikenal orang sebagai bekas kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Saat bus yang yang ditumpanginya melewati alun-alun Kabupaten Demak, tak henti-hentinya matanya melotot bangunan masjid itu. Dulu ia sering diajak Bapaknya berziarah di kuburan Raja Jawa pertama, Jimbun yang makamnya berada persis di Belakang Masjid. Orang-orang pesantren yang gemar berziarah menganggapnya sebagai salahsatu ulama terhormat. Itu saja yang diketahui Sabit, termasuk para santri kebanyakan. Pemahaman sejarah lisan turun temurun membuat seorang santri seperti Sabit harus mempercayai apa adanya. Dan, sesuatu pemahaman itu bisa berubah manakala jika seseorang memang berkeinginan mengetahui lebih detail, jelas dan membuang prasangka negatif maupun positif. Jarak kota Demak kira-kira 27 kilo meter dari pusat kota Semarang.

Kota Demak berdiri tahun 1500 Masehi. Ketika kekuasaan Majapahit mulai mengalami kemerosotan, para saudagar muslim di Kota itu berinisiatif membangun imperium kerajaan, memanfaatkan peluang kelemahan Majapahit. Saudara muslim Tionghoa bernama Jimbun yang masih keturunan dari keluarga kerajaan Majapahit terakhir inilah yang kemudian menjadi Raja Islam pertama di Jawa. Jika sebelumnya raja-raja Majapahit didukung oleh kekuatan dibalik layar para brahmana, Jimbun, Raja Demak yang memakai nama Raden Fatah (fatah, berarti kemenangan) ini mengklaim mendapat restu dari para Ulama yang tergabung dalam forum Wali Songo.

Demak tak pernah bisa dipisahkan dari Masjid Agungnya. Mitologi yang berkembang di kalangan santri mempercayai saat membuat masjid ini Jimbun menarik benang dari lokasi bangunan masjid Demak sampai ke Ka’bah yang berada di kota Mekkah. Sebagaimana biasanya, para pendiri masjid saat hendak mendirikan pasti mempertimbangkan arah kiblat. Dengan cara itulah Jimbun memastikan arah kiblatnya. Masjid ini tergolong besar dan megah untuk masa itu. Secara arstistik bangunannya mengadopsi gaya arsitektul Tionghoa, Majapahit dan Arab.

Ada empat tiang utama penyangga yang dibuat dari potongan-potongan kayu (tatal) yang disatukan dengan besi. Pembuatan masjid ini melibatkan para Ulama yang kemudian disebut Wali Songgo itu. Empat orang dari sembilan wali itu memimpin satu persatu pembuatan tiang, yakni Bong Swie Ho, Bo Tak Ang, Gan Si Cang dan Du Anbo. Di Bagian serambi ada delapan tiang penyangga. Konon tiang-tiang ini adalah Hadiah dari Prabu Brawijaya V, yakni Raden Kertabumi yang diberikan kepada Jimbun saat sebelumnya menjabat Adipati Notoprojo di Glagahwangi Demak tahun 1475 Masehi. Secara umum nuansa masjid Demak menampakkan gaya arsitektural Majapahitan. Sedangkan pada beberapa sudut dinding dipasang porselin-porselin Tionghoa. Di bagian pintu samping masjid terdapat lukisan ular naga.

Disebut prasasti “condro sengkolo” yang diartikan Nogo Mulat Saliro Wani. Dibuat pada tahun 1466 oleh Ki Ageng Selo. Lukisan tangan ini dikembangkan menjadi cerita mistis oleh kalangan kasultanan Demak yang diperoleh oleh Ki Ageng Selo. Konon saat ki Ageng Selo mencangkul di Sawah kehujanan ia disambar petir. Karena kehebatannya, petir ditangkap dan rawat, lalu diserahkan ke kesultanan Demak Bintoro. Sebuah masjid sebuah simbol. Bangunan ini selalu mengantarkan kita untuk menjejalah sejarah penyebaran Islam di masa lalu. Kisah walisongo begitu luas dikenal masyarakat Indonesia. Bagi orang Jawa, setiap bangunan kuno selalu dianggap memiliki nilai sakral. Mitologi di setiap kawasan pasti ada, bahkan di negara-negara maju sekalipun, tetapi di Jawa penafsiran mitos nampaknya sangat dominan. Hanya sedikit yang melihat simbolisme itu secara rasional. Para wali songo, atau penguasa Islam kerajaan Demak pada galibnya tak lebih dari penguasa biasa. Bahkan dalam hal tertentu mereka juga memiliki kepentingan duniawi, kepentingan politik, saling berebut posisi dan nasi, tak ubahnya politisi di jaman sekarang ini.

Salah satu kisah yang tak boleh dilewati dari sejarah Islam adalah hubungan politik antar para ulama itu sendiri. Alkisah, di abad 15, negeri Demak Bintoro dilanda bencana. Gempa bumi bertubi-tubi. Petani gagal panen. Nelayan tak melaut. Wabah penyakit merajalela seantero negeri. Orang-orang mati mengenaskan. Yang hidup dicekam cemas. Tak tahu harus bagaimana mereka bersikap menghadapi situasi gawat itu. Keluhan mereka kepada penguasa berbuah kecaman. “Bertobatlah! Pegang buhul syariat. Tuhan menimpakan bencana karena kalian banyak maksiat,” jawab Sultan Demak Bintoro. Tragis! Maunya dimanusiakan, malah dikambing-hitamkan. Begitulah kawanan ternak. Tugasnya hanya menerima perintah dan tanggung Jawab. Saat negeri sukses meraih kemakmuran, penguasa bertepuk dada. Saat bencana menerpa, kesalahan dilimpahkan pada rakyatnya. Atas nasehat ulama walisongo, Sultan Demak menyerukan tobat nasional. Setiap hari rakyat berdoa khusuk di rumah sendiri. Usai salat jumat ratusan jamaah melakukan istighotsah pertobatan. Hari demi hari dilewati.

Dengan doa, orang-orang mampu merawat harapan. Harapan membuahkan asa. Dengan harapan pula orang-orang melihat ada masa depan, tapi, menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan. Sampai kapan harus bersabar? Di tengah-tengah kebingungan, beberapa santri ditemani puluhan orang desa mengadu kepada seorang ulama yang independen dari kekuasaan. Kanjeng Sunan, begitu mereka sering memanggilnya. Jenar namanya. Orang-orang sekarang mengenalnya Syekh Siti Jenar. Ia, sosok sederhana berhati mulia. Ucapannya dipercaya. Selalu adil melihat setiap perkara.

Orang-orang desa meminta agar ia berkenan memimpin doa dan pertaubatan. Mereka berharap doa sang Sunan benar-benar menjadi alternatif untuk menghentikan bencana. Tapi Jenar menolak. Katanya, “seandainya bencana ini karena perbuatan dosa, kenapa tidak berhenti juga setelah kalian bertobat? Kalau benar Tuhan mengirim bencana karena dosa, kenapa yang tertimpa orang-orang kecil dan bukan para penguasa yang lalim? Bencana itu sunatullah, akan terus terjadi dengan berbagai macam bentuknya.” Bagi Jenar, Tuhan menimpakan musibah semata-mata karena kehendak-Nya. Kehendak yang merdeka. Tak juga karena dosa hamba-Nya. (Q.S Al Baqarah 155). “Terimalah bencana ini, sebagai peringatan Tuhan bahwa kita manusia yang rapuh dan fana. Yang fana harusnya menyesuaikan yang kekal. Yang naif harus menyesuaikan kepada yang sejati,” ucapnya pasti. “Tapi Kanjeng Sunan”, kata seorang Santri. “Rakyat sangat menderita. Kita harus memohon kepada Tuhan untuk menghentikan bencana ini.” “Selama kalian masih memanusiakan Tuhan, selama itu pula kalian tidak akan paham hakekat Tuhan dan kehidupan alam. Inilah kesalahan fatal kalian. Saat Tuhan menimpakan bencana. Tuhan kalian anggap sebagai raksasa kejam. Saat kalian kelimpahan rezeki, Tuhan kalian jadikan berhala,” tutur Jenar.

Dalam pandangan Jenar, tawakal adalah kehendak manusia berserah diri secara total pada kenyataan. Tawakal bukanlah sejenis pelarian dari tanggungjawab. Mereka yang tergolong tawakal adalah orang yang mampu menyatukan proses dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Proses dinamis dari yang tak sadar ke arah sadar. Dari tak mampu menjadi mampu. Kasih Tuhan tak bisa dibandingkan dengan kasih orang tua terhadap anaknya. Tuhan menyayangi manusia, tapi alam punya hukum kodrat sendiri. Bencana dan anugerah tak ada hubungan dengan kasih-sayang Tuhan. Kematian, bencana, kemiskinan, sudah satu paket dengan alam. Sebelum manusia berbuat dosa, bencana telah digariskan ada. Kematian badan adalah tragedi badani, bukan tragedi ruhani. Justru manusia yang hidupnya tak bergantung pada akal budi itulah yang sebenarnya tragedi paling parah. Tanpa akal budi, manusia tiada beda dengan bangkai gentayangan. Orang-orang yang tercerahkan, menurut Jenar, adalah mereka yang menyatu dengan Tuhan.

Dengan Wahdatul-wujud, manusia akan otonom dan merdeka, tak menghamba kepada siapapun. Orang-orang tercerahkan adalah orang yang memahami jagat gedhe (makro-kosmos), -sebagaimana para nabi dan filsuf memahami hakekat arah kehidupan ini. Kata Jenar, “kita harus kembali pada akal budi. Jika akal budi lepas kalian akan terjerembab pada takhayul, musyrik dan syirik.” Suatu bangsa yang mampu memberdayakan akal budinya jauh lebih mudah mengarungi bencana ketimbang bangsa yang mengabaikan akal budinya. Akal budi adalah kata kunci transformasi pribadi dan transformasi kolektif. Pemikiran yang rasional dan emansipatif akan mampu menjawab persoalan-persoalan manusia. Bagaimana kiat Jenar menghadapi problema bencana kehidupan? Jenar menyuruh orang-orang agar menghibur mereka yang sedih tertimpa bencana. Tidak sekadar menghibur tentunya. Membantu dalam bentuk pertolongan tindakan dan materi adalah langkah konkret yang humanis. Tapi, pada abad 15 itu Desa Pengging yang miskin tak punya biaya untuk membantu para korban. Jenar menganjurkan agar rakyat Pengging memboikot pajak dan mengalihkan uang untuk menolong mereka yang tertimpa bencana. Dengan cara itu rakyat tidak perlu mengemis bantuan penguasa. Kesadaran tercerahkan membuat orang berani menentang kecongkakan negara. Jenar. Simbol manusia kreatif dan berani.

Berani melawan kepongahan penguasa dan kemunafikan agamawan. Jenar selalu membuka kemungkinan yang lain. tak ada hitam putih dalam kehidupan. Mengklaim sesuatu adalah pendapat Tuhan adalah kemunafikan yang paling vulgar. Paradigma liyaning-liyan (lain dari yang lain) bukan berarti waton-sulaya (asal beda), melainkan jalan pencerahan untuk menuju pemaknaan hidup yang sejati. Ulah Jenar inilah yang membuat Sunan Kudus dan para walisongo lainnya kebakaran jenggot. Penguasa pun dibuat resah. Terputuslah leher Jenar! kepalanya menggelinding. Darahnya mengalirkan benih-benih perlawanan rakyat terhadap penguasa.( Catatan kaki; sumber utama penafsiran sejarah ini dari naskah Jenar karya Saini KM.selebihnya penafsiran penulis pribadi). Kerajaan Demak hanya bertahan setengah abad karena terjadi pergeseran perdagangan merkantilisme Eropa yang ditopang oleh kekuatan militer. Dulu Demak sebagai pusat perdagangan berbasis maritim lantas memudar karena pengaruh kekuatan kolonial. Rentang puluhan tahun selanjutnya Demak berada di bawah ketiak kolonialisme Belanda dan hanya menjadi Kabupaten biasa di tahun 1848. Ketika Daendels membangun jalan penghubung antara Demak dengan Semarang, warga dipaksa bekerja lebih keras dari daerah lain. Hal ini karena tanah bebatuan begitu sulit digali, belum lagi tanah di sekitar itu terturup oleh rawa-rawa pantai. Tak cukup sampai di situ. Pribumi juga harus dipaksa untuk membuat saluran air khusus di samping jalan penghubung karena tanah yang begitu datar berkilo-kilo itu seringkali menimbulkan banjir. Di luar urusan penindasan, -dengan cara itu pula pemerintahan Daendels bisa dikatakan sukses, bukan hanya membangun jalan, tetapi juga membuat saluran air untuk area-area persawahan.

Demak pada masa-masa kekuasaan ini seperti daerah lain, menjadi korban pembantaian massal secara tak langsung. Konon sepertiga jumlah penduduknya tewas akibat pembangunan jalan dan kebijakan tanam paksa. Demak lewat. Tak sampai sejam masuk kabupaten Kudus. Lagi-lagi Masjid adalah sentral ingatan yang paling kuat di kalangan umat Islam. Mendengar Kata Kudus, orang-orang Islam pikirannya selalu melayang jauh ke negeri seberang, al-Quds, sebuah kota suci ketiga di Yerusalem. Masjid Kota Kudus sendiri bernama al-Aqsa dengan istilah yang disematkan sebagai al-Mubarak al-Musammi bi-al-Aqsa, artinya kurang lebih, yang diberkati Tuhan ini bernama al-aqsa. Menara tua yang berada di samping mesjid itu sangat akrab oleh mata kaum sarungan. Kalaupun orang belum pernah melihat langsung masjid Kudus, dipastikan sudah sering melihat melalui siaran televisi sejak jaman dulu. Setiap kumandang adzan magrib, masjid kudus selalu menjadi ilustrasi gema adzan. Kalender-kalender yang dicetak berbagai pesantren tak pernah lupa memasang menara foto menara kudus, warna coklat dominan, menggambarkan tumpukan bata dengan bagian atas mustaka rumahan kecil. Menara di sampingnya akan terlihat kubah masjid arsitektur Timur Tengah. Seperti Demak, Kudus memiliki kisah kehidupan masuknya Islam di masa-masa abad ke 15 dan awal abad 16. Tokoh sentral yang menjadi perbincangan kota ini adalah Ja Tik Su yang berganti nama menjadi Ja’far Sadiq, salahsatu ulama barisan Walisongo yang juga dikenal dengan politisi tulen di Kerajaan Demak yang menjabat kadi, semacam menteri kehakiman bagi kerajaan.

Jabatan formal ini sebenarnya terbatas pada urusan keagamaan, tetapi Ja Tik Su bisa sering terlibat jauh campur tangan politik. Untuk urusan agama formal ia memainkan peranan sebagai kadi, sementara untuk keterlibatan politiknya ia memakai jalur kultural sebagai salahsatu penasehat Raja yang tergabung dalam Wali Songo. Ja Tik Su dikenal sebagai seorang politisi berdarah dingin. Ia tak segan-segan menyingkirkan mereka yang dianggap lawan politiknya. Ja Tik Su yang ahli debat itu banyak memainkan peranan kebijakan-kebijakan, baik agama maupun politik. Perbedaan yang menonjol dari wali songo lainnya, Ja Tik Su lebih cenderung formalistis dalam menjalankan misi keagamaan dan politik, sementara wali lainnya lebih kompromis dengan adapt istiadat masyarakat. Ketika kerajaan Demak menyerang sisa-sisa kerajaan Hindu Majapahit antara tahun 1526-27 Ja Tik Su memimpin salah satu agresi itu.

Prestasi inilah yang kemudian semakin memperkuat dirinya sebagai hero di lingkungan Kasultanan Demak Bintoro. Di masa kedudukannya sebagai kadi, banyak kebijakan-kebijakan yang idenya bermula dari idenya. Ia pernah menjalankan misi diplomasi ke kerajaan Pengging di sekitar lereng Merapi untuk mempengaruhi Raja Pengging yang mengikuti ajaran Syekh Siti Jenar agar mengakui kekuasaan Demak. Raja pengging menolak diplomasi penaklukan ini, akhirnya Ja Tik Su marah dan meminta Pengging dibunuh. Kemudian, -sebagaimana sudah dikisahkan sebelumnya,- Ja Tik Su juga memainkan peranan atas kematian Siti Jenar yang dihukum mati. Kasus lain yang melekat pada Ja Tik Su adalah sebagai aktor penuduh kesesatan Syekh Jangkung yang dipersoalkan karena membangun masjid tanpa ijin kasultanan Demak.

Setelah era kekuasaan Jimbun berakhir, Demak diperintah oleh putranya, Sultan Trenggana. Pada masa kekuasaan ini keadaan politik Demak kurang garmonis, terlebih setelah Sultan Trenggana mati perang jihad di Jawa Timur 1546. Babad-babad Jawa mengisahkan ada dua fraksi utama yang berebut mewarisi tahta ini. Sultan Trenggana ini memiliki dua orang putra mahkota, bernama Raden prawoto dan Pangeran Jipang. Raden Prawoto didukung oleh Ga Si Cang, sedangkan Pangeran Jipang didukung oleh Ja Tik Su. Ketika perseteruan memuncak, Ja Tik Su mempengaruhi Jipang agar membunuh Raden Prawoto. Pembunuhan ini memunculkan kemarahan pihak lain, yakni Jaka Tingkir, seorang tentara terdepan dari kubu Raden Prawoto. Belum juga menikmati kekuasaan hasil kudeta Kesultanan Demak dihabisi oleh Jaka Tingkir, kemudian Jaka Tingkir ini mendirikan kerajaan Pajang. Ada pula cerita lain, bahwa Ja Tik Su pernah berseteru dengan para ahli agama di Demak soal penentuan awal bulan Ramadan. Ia marah dan memilih kembali ke Kudus dan memutuskan hubungan dengan Demak kemudian membangun keraton kecil di Kudus. Ja Tik Su meninggal di hari tuanya, tak ada yang jelas kapan tanggal kematiannya. Jenazahnya dikuburkan di belakang masjid al-Aqsa yang dibangunnya itu. Kota kudus di masa kini memiliki kemajuan dagang lebih pesat dari kota-kota kabupaten di sekitarnya. Industri rokok kretek adalah salahsatu maskot paling kentara, selain dikenal sebagai penghasil gula. Selepas Kudus, bus memasuki kabupaten Pati, sebuah kota yang menurut kaum santri memiliki sejarah penting pergolakan agama formal dengan agama substansial. Menurut sahibul hikayat, ada seorang ulama berbana Mutamakin berasal Kampung Cabolek Tuban yang jasadnya dikuburkan di Pati, tepatnya di daerah Kajen. Biasanya, para santri remaja paling suka dengan cerita-cerita unik tentang para wali, dan kisah Wali Mutamakin tergolong paling mengasyikkan sebagai cerita-cerita lisan. Kisah Mutamakin ini bisa didapat dari sebuah buku kuno, berjudul Serat Cabolek, (orang sering menyebutnya dengan Cebolek).

Penulis kisah ini adalah Raden Ngabehi Yasadipura I. Serat Cabolek ini secara umum mengisahkan hubungan antara ulama birokrat yang pro kebijakan penguasa dengan ulama kultural yang independen. Naskah ini oleh para peneliti sejarah dan ahli sastra dianggap karya yang paling memikat, karena pengenalannya yang mendalam atas tata cara dan adat kebiasaan Jawa, serta berhasil menghidupkan karakter tokoh-tokohnya. Latar ceritanya mengisahkan ulama bernama Ketib Anom Kudus bersama sejumlah ulama pesisir Jawa Utara yang mendesak Paku Buwana II, Raja Surakarta, agar menghukum Haji Ahmad Mutamakin. Alkisah, Ketib Anom Kudus melaporkan Kiai Mutamakin, murid Syeikh Zain al-Yamani yang dianggap menyebarkan ajaran sesat.

Ketib Anom merasa gerah karena praktek ibadah dan kegiatan keagamaan yang dijalankan Mutamakin menyimpang dari jalur syariat Islam. Yang menyebalkan Ketib Anom Kudus adalah kesukaan Mutamakin memelihara anjing, binatang yang menurut orang Islam najis dan harus dijauhi. Ada dua belas anjing yang ia pelihara di rumahnya. Para ulama itu bertambah jengkel ketika tahu bahwa ada dua anjing kesayangannya yang diberi nama Abdul-Kahar dan Kamarul-Din. Asal tahu saja, kedua nama ini diambil oleh Mutamakin dari nama seorang penghulu dan seorang Ketib Tuban. Kelakuan Mutamakin itu mendorong para ulama pesisir memutuskan untuk melaporkan kepada Raja Kartasura, Sunan Amangkurat IV. Melalui proses yang agak rumit, akhirnya Mutamakin diadili. Murid Syeikh Zain al-Yamani ini berdebat sendirian melawan 142 ulama. Perdebatan membahas seputar pengakuan Mutamakin tentang ajaran yang dianutnya.

Menurut penuturan Mutamakin, ajaran mistiknya diperoleh dari gurunya di Yaman bernama Shaikh Zain, yang intinya ajaran itu sama dengan isi kitab Bhima Suci, yakni ajaran Dewa Ruci. Ketib Anom mendebatnya dengan menantang Mutamakin agar membaca kembali kitab Bhima Suci dan menafsirkan maknanya. Mutamakin tak mampu memenuhi tantangan ini, sedangkan Ketib Anom dengan piawai menjelaskan ajaran Dewa Ruci itu. Mutamakin kalah telak dalam perdebatan itu. Ejekan pun datang bertubi-tubi. Sekalipun demikian, Raja tetap tidak mau menghukum Mutamakin. Alasannya, Raja menjaga wibawa sesama para ulama. Jalan tengahnya: Mutamakin boleh mempraktekkan ajarannya, tapi dilarang menyebarkannya kepada masyarakat. Kini sejarah membuktikan dengan cara pandang lain. Kekalahan Mutamakin melalui tafsir format tak membuat namanya surut. Mutamakin tetap menjadi maskot Islam Substansial di kalangan santri Jawa.

Dua jam lebih perjalanan itu berlangsung. Imajinasi pubertasnya begitu kuat menggebu, membayangkan apa saja tentang masa depan, termasuk mengingat masa lalu. Begitulah asyiknya perjalanan. Setiap kali berada di dalam bus ia akan dapatkan banyak imajinasi, juga impian yang muluk-muluk bagaimana hidupnya kelak di masa mendatang. Beberapa kota telah ia lewati. Setelah Pati, Juwana, kota kedua kabupaten Pati ini terlewati. Aroma pesisir semakin jelas, terutama saat-saat area sawah yang digunakan untuk membuat garam itu menghampar di pinggir jalan. Bus terus melaju dengan kecepatan kencang, semakin kencang semakin liar imajinasi para penumpang. Saat-saat perjalanan seperti itulah sebenarnya momen-momen kecerdasan seseorang tumbuh berkembang, disemai oleh kenyataan alam yang cepat berubah.

Alam yang berubah-ubah dengan cepat membuat pikiran dan rasa seseorang mampu menghadirkan bayangan-bayangan kehidupan yang tak bisa didapatkan saat mereka berdiam di darat. Banyak cerita yang menuturkan para penyair seringkali mendapatkan karya besar dari inspirasi sebuah perjalanan. Dan perjalanan juga menyingkap sebuah takdir jalan hidup seseorang. Masing-masing mempunyai tujuan tertentu dengan kepentingan tertentu. Masing-masing mempunyai pandangan tertentu terhadap apa yang mereka lihat. Insiprasi tentang fenomena alam yang paling baik mungkin saja didapat dari orang-orang yang baru pertamakali melewati jalan itu, tetapi bagi mereka yang memiliki bekal pandangan tertentu, dengan keilmuan tertentu, setiap perjalanan adalah objek studi yang amat disayangkan jika dilupakan begitu saja.

Terutama bagi mereka yang gemar menuliskan kisah kehidupan, perjalanan adalah sebuah riset yang sangat mubadzir jika tak pernah dicatat, di mana pun itu perjalanan yang ditempuhnya. Bukankah hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan? Perjalanan dengan kendaraan adalah sebuah penyerahan nasib, nasib baik tentunya. Diujung pengharapan tempat yang dituju, setiap orang berharap kemujuran nasib hidupnya, tetapi tiadalah perjalanan itu tanpa resiko. Kepasrahannya kepada pengendali bus, masinis kereta atau pilot pesawat, bahkan kusir andong adalah kepasrahan buta yang diberikan oleh para penumpang untuk menuju “tanah pengharapan.” Hanya doa keselamatan yang bisa jadi jaminan untuk meyakini bahwa perjalanannya akan selamat sampai tujuan. Hanya itu. Selebihnya Tuhan dan Pengendara itu sendiri yang mungkin lebih mengerti masalah-masalah yang dihadapi penumpang. (faizmanshur-penggalan dari Cerita Panjang Sastri)

One thought on “(Shastri) Sepanjang Jalan Daendels

  1. Ping-balik: Di Kaki Merapi |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s