Abrahami: Tiga Jalan Satu Tujuan

Standar

ADA elemen yang sama dan ada elemen berbeda dalam ajaran adalah sesuatu yang sifatnya masuk akal. Rasionalitasnya bersandar pada fakta sosiologis-antropologis yang secara natural (sunnatullah) selalu menyajikan fakta; tidak ada gagasan, pemikiran, ideologi atau ajaran yang bisa diterapkan secara mutlak. Sesungguhnya perbedaan dalam agama itu bukan berarti tidak memiliki titik persamaan pada wilayah substansialnya. Yahudi, Kristen dan Islam yang notabene lahir dari “gua garba” Ibrahim de­ngan coraknya yang abraha­mis­tik membuktikan itu pada wilayah spiritualitas.

Ke Masa Silam
Akar-akar spiritualitas da­lam Yahudi, Kristen dan Islam ini memiliki pertautan yang kuat karena secara antropologis bersandar pada kultur yang sama; terhubung dengan kebudayaan Mesir Kuno.  Kebudayaan itu melahir­kan imajinasi. Pada corak budaya yang sama, imajinasi agama pun akan sering memiliki kaitan yang erat. Ini juga merupakan hal yang natural karena pada dasarnya manusia (dengan pola pikir dan nalurinya) tidak akan lepas dari pijakan kehidupan sosial.

Dalam Mitologi Yunani, sebagaimana Alkitab juga menyebutkan, nama Hajar, istri kedua dari Ibrahim yang berasal dari Mesir dan ibu dari anak lelaki pertamanya, Ismail. (MC. Astour: 1967). Alasan historis ini diperkuat oleh David Baba Yusuf, yang mampu menarik garis sejarah dengan merujuk pada kisah “dibuang”-nya Hajar ke padang pasir untuk mengembara oleh istri pertama Ibrahim, Sarah, yang cemburu.

Kisah ini menurutnya mendeskripsikan sisi esetorik ajaran murni (Ismail sebagai anak lelaki pertama) yang berasal dari Hajar (Mesir), yang disingkirkan oleh kaum eskternalis/kaum lahiri, de­ngan simbol Sarah. Kisah petualangan Hajar dengan keluarganya itu menjadi tonggak lahirnya kesadaran esetorik bagi agama-agama Abrahami, dan karena itu wa­jar kalau kemudian agama yang paling baru, yakni Islam dengan ikon “Muhammad”-nya memiliki spiritualitas yang sa­ma dengan Kristen dan Ya­hu­di. Muhammad sendiri adalah penganut ajaran hanif, yang dibedakan dengan penyembah berhala yang politeistik pada masa itu.

Sejak penemuan Injil-Injil Gnostik dan Lembar-Lembar Laut Mati, sebagaimana diceri­takan Heinemann David (1986), Kristianitas yang asli memperoleh kejelasan dalam sebentuk Yudaisme yang amat mirip dengan Islam di masa awal kelahiran.  Cerita-cerita dari Therapu­tae of Egypt dan Esennes of Qumran misalnya, secara jelas mengambarkan kisah para spiritualis Islam awal yang mengenakan wol sebagai simbol pengorbanan (Domba Paskah) yang juga menjalan­kan tarian sakral. Sedangkan Umat Kristiani merujuk pada pengalaman ekstatik bertutur pada lidah, dan kita juga di­ingatkan pada kisah Bibel tentang Deborah, Nyanyian Musa, dan Kitab Mazmur.

Heinemann juga melihat kenyataan menarik lain dari spiritualitas Agama Abrahami yang mengakar dari pola hu­bungan antara guru dan mu­rid. “Guru” esensial ini sifatnya universal yang secara umum di­hayati sebagai “munculnya kembali Kebijaksanaan Ilahi” yang dipersonifikasikan pada diri Khidir (guru Spiritual Na­bi Musa dalam ajaran Islam), Idris,-Enoch dalam Bibel (ajaran Kristen)- dan juga Melkisedek dan Eliyah (dalam ajaran Yahudi).

Heinemann merujuk pada fakta historis lain, “dalam al-Quran misalnya, gambaran Tuhan sebagai Cermin manusia dengan Kebesaran dan Kesucian Ilahi (2: 30; 6: 165) yang pada esensinya sejalan dengan Alkitab (Kejadian I:26-27), bahwa manusia diciptakan dalam citra Tuhan.” Hal kesamaan juga bisa ditemukan dari Spiritualitas Islam dan Spiritualitas Kristen dalam memandang jati diri manusia. Ungkapan Yesus “Aku dan Bapaku adalah Satu” atau “Barangsiapa melihat aku ber­arti melihat Sang Bapa,” serupa dengan dengan ungkapan “Yang Benar” (al-Haq) dari Al-Hallaj, yang keduanya kebetul­an sama-sama mendapat hukuman mati dari penguasa.

Tujuan spiritualitas yang demikian itu memiliki tujuan untuk membebaskan, atau minimal mengendalikan nafsu, sehingga seseorang mencapai kemerdekaan diri dari belenggu-belenggu yang menghambat seseorang untuk meraih kesejatian. Itulah mengapa mereka yang mencapai tempat tertinggi dari spiritualitas seperti Al-Hallaj, Isa (Yesus), termasuk Siti Jenar dan juga para martir spiritual lain mengabaikan tubuhnya. Tubuh ini hanya bagian dari kepemilikan materi ruh milik mereka.

Sesungguhnya mereka memi­lih dihukum tubuhnya bukan karena tubuh, melainkan karena sikap politik untuk selalu mengabdi pada kaum teraniaya oleh kekuasaan. Bagi pribadi yang memiliki transendentalisme kokoh se­per­ti itu letak jati dirinya bu­kan hubungan harmonis an­ta­ra jiwa dan tubuh, melainkan cukup pada jiwa. Jiwa yang merdeka tak mudah dipasung oleh derita tubuh seperti pe­nyaliban, gantung leher atau hukum picis sekalipun.

Masih Simbolis
Menjelaskan tiga agama yang lahir dari “gua garba” Ibrahim sebenarnya tidak terlalu sulit selama akar menda­sar dari agama itu sendiri, yak­ni spiritualitas menjadi pedoman cara pandang umat beragama. Kelemahan kita da­lam melihat agama lain disebabkan karena kita lebih suka mencari letak perbedaannya, bukan melihat sisi kesamaan.  Mencari perbedaan me­mang mudah. Cukup melihat sisi luarnya, simbolnya atau tradisinya, sedangkan untuk menggali persamaan dibutuh­kan kecanggihan pikiran dan batin tersendiri karena harus rela merobek dan membuka kemasan luar guna meraih makna dari yang terdalam.

Tidak setiap pemeluk aga­ma, bahkan juga para pe­mim­pin agama, mampu menggali kedalaman nilai dan makna tersebut, wajar jika setiap kali terjadi konflik pada ujung-ujungnya memperlihatkan “konflik antarumat beragama yang dangkal memahami agamanya sendiri.” Pada kehidupan agama simbolis manakala situasinya kondusif, memang tidak akan terjadi konflik. Berbagai perbedaan akan berlangsung normal di masyarakat majemuk. Tetapi ketika satu pihak memiliki kepentingan di luar agama, biasanya ekonomi, politik atau sentimen primordial, terjadinya kerusuhan dan pembantaian bukan hal yang mustahil. Dan sudah banyak kasus seperti ini terjadi di Indonesia.

Kenyataan ini membukti­kan, sekalipun pelakunya me­ngaku paham dan taat ajaran Tuhan, menyatakan membela agama Tuhan, menunjukkan kualitas kepribadian umat beragama yang labil dan awam dalam menyerap energi spiritualitas ajaran Tuhan. Untuk menjadikan manusia memiliki kualitas yang baik dan menemukan Pintu Tuhan, seseorang mesti naik ke tangga spiritualitas dengan cara memahami semua ajaran, bukan hanya memahami ajaran agamanya sendiri.

Spiritualitas adalah esensi menuju kesejatian umat ber­agama. Beragama yang baik bukan sekadar berhenti pada wilayah formal dengan menyi­bukkan diri membenarkan ajaran agamanya sendiri sampai rela berkonflik dengan pemeluk agama lain yang pada ujungnya hanya ingin menga­ta­kan kamu salah aku benar, atau lebih bengis lagi, kamu salah karena itu kamu harus kalah. Jalan menuju Tuhan sungguh beragam. (Penulis independen, tinggal di Bandung). Sumber sinar harapan 4 Desember 2010. http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/browse/1/read/abrahami-tiga-jalan-satu-tujuan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s