(Shastri) Di Kaki Merapi

Standar

Akhirnya kesempatan pergi dari kampung halaman pun terpenuhi. Niatnya  sekolah di pesantren Pabelan, yang pengelola pesantren itu masih kerabat dekat dengan Bapaknya. Tetapi karena bapaknya tidak mengijinkan sekolah, ia terpaksa harus masuk pesantren tradisional. Mula-mula masuk pesantren Diponegoro, Tegalrejo Magelang. Tetapi hanya sebulan karena tidak kerasan. Terlalu ramai dan tidak nyaman untuk membaca. Lalu pindah ke pesantren di dusun Kapas Kuning, sekitar 14 Kilometer dari Gunung Merapi. Hari-harinya sebagai santri pun dimulai, berusaha menjadi santri yang baik, tak ingin mengecewakan orang tua, tak hendak menampakkan sedikitpun sebagai santri nakal terhadap gurunya.

KH Abdul Jabar Aly, pengasuh pesantren Kapas Kuning ini  juga alumni Pesantren Diponegoro Tegalrejo Magelang, tempat Bapaknya dulu nyantri. Kiai Abdul Jabar Aly lebih tua sedikit umurnya dengan Bapaknya. Ia adalah salah seorang murid kesayangan dan kebanggaan sang guru, KH.Khudlori, yang pernah nyanti lebih 18 tahun. Saking dekatnya dengan guru ia dijodohkan dengan anak ketiganya, Ibu Aisyah lalu mendapat mandat pulang ke kampung halamannya, kampung kapas kuning, berjarak empat kilo meter dari kota Muntilan.

Pesantren ini nyaris sama dengan pesantren Bapaknya, baik dalam hal metode pelajaran maupun kebiasaan sehari-hari. Bahkan kehidupan dengan masyarakat sekitarpun memiliki kesamaan dalam banyak hal, misal hubungan dengan orang-orang tua muslim dan mereka yang memiliki paham Islam modern.

Hal yang aneh, kiai Abdul Jabar Aly sekalipun di mata masyarakat sekitarnya sangat terhormat, ia tak pernah mau mengimami solat berjamaah di masjid yang berada persis di depan rumahnya. Kabarnya ia menghormati orang yang lebih tua untuk terus mengimami. Tetapi selentingan kabar lebih disebabkan karena orang-orang Islam modern di sekitar itu selalu mempermasalahkan model ibadah kelompok Islam santri.

Suatu ketika kiai Abdul Jabar Aly mengatakan, “sebenarnya kalau orang itu benar ajaran syariat, masalah furu’iyah, seperti doa qunut tidak perlu dipermasahkan.” Katanya, “ dulu imam-imam mazhab kita itu masing-masing memiliki perbedaan dalam hal tata cara beribadah, bahkan dalam hal soal halal-haram pun berbeda, tetapi manakala mereka berada di tengah-tengah penganut mazhab yang berbeda mereka mengikuti tata cara yang berlaku. Syariat itu jalan, bukan tujuan. Masalah fikih adalah masalah cabang ilmu. Kalau terjadi benturan antara syariat dan akhlak maka diutamakan akhlaknya, dengan cara menghormati penganut paham yang lain.”

Pelajaran seperti ini dihayati benar oleh hampir semua kiai. Kalaupun ada sebagian kiai yang memegang ortodoksi dengan meruncingkan perbedaan mazhab, biasanya bisa dikatakan kurang baik ilmu pengetahuan syariatnya.  Kiai Abdul Jabar Aly lebih suka menarik diri sebagai imam masjid untuk menghindari konflik. Kerendahatiannya tak pernah menyurutkan nilai lebihnya sebagai kiai alim. Santri-santrinya pun tak pernah dilarang berjamaah di masjid itu. Namun pada solat-solat tertentu, yakni solat dluhur dan asar, para santri diwajbkan berjamaah terpisah dari jamaah orang desa. Hal ini bukan sikap menyempal, melainkan untuk memberikan waktu yang lebih lama kepada para santri belajar bersama menjelang ngaji ba’da dluhur. Dengan memformulasikan pembagian waktu seperti itu para santri yang biasanya malas belajar sendiri, bisa belajar bersama di masjid, kemudian solat berjamaah dengan Kiai Abdul Jabar Aly, selanjutnya masuk kelas pelajaran siang.

Perbedaan lain dengan pesantren Bapaknya, tidak adanya santri putri di pesantren ini. Kasusnya tak jauh berbeda dengan masa-masa sebelum pendirian pesantren putri Bapaknya. Kiai Abdul Jabar Aly merasa tak mampu jika harus mengurusi santri putri, dan memilih menyarankan warga yang hendak menitipkan anak-anak putrinya ke pesantren lain. Kebetulan di kawasan sekitar pesantren ini juga banyak pesantren putri yang sudah lama berdiri.

Kiai-kiai alim seperti Abdul Jabar Aly, ambisi menjadi orang terdepan nyaris tak ada. Semua kehidupan dijalaninya sebagai orang biasa, sebagai pengabdi masyarakat, mendidik anak-anak titipan orang tua desa agar memperoleh pengetahuan agama. Pola iuran pesantren pun tak jauh berbeda dengan pesantren Bapak Sabit. Sedikit perbedaannya paling terletak pada iuran akhir tahun. Kalau di pesantren Bapaknya iuran sangat sedikit karena hanya untuk memenuhi acara pengajian, di pesantren ini iuran agak tinggi karena para santri sendiri menginginkan acara pentas seni. Semua tidak karena ide sang kiai, tetapi diserahkan pada para santri.

Kampung Kapas Kuning di kelilingi area persawahan yang sangat subur. Kebanyakan petani bercocok tanam padi, semangka dan sayur-mayur. Lima puluh meter di belakang pesantren itu terdapat sungai yang cukup besar. Orang desa Kapas Kuning menyebutnya kali mbelan. Di bawah air jernihnya sungai ini mengalirkan banyak pasir yang mengalir dari kaki gunung merapi. Orang-orang desa di sekitar itu selalu ada yang mencari pasir sebagai penghasilan tambahan atau saat ada kebutuhan pembangunan rumahnya. Batu-batu pegunungan yang hitam juga sangat bagus untuk membangun rumah gedongan. Kalau di kampung Sabit masyarakat desanya masih jarang yang kuliah di kota, di kampung Kapas Kuning agaknya lain. Sekalipun sama-sama desa, tetapi karena ekonomi pertanian masyarakatnya agak maju, menjadikan anak-anak desa di sekitar itu lebih beruntung dalam hal pendidikan. Sebagian kecil nyantri, sebagian meneruskan sekolah hingga jenjang SMA dan sebagian ada yang beruntung bisa kuliah di Kota Magelang atau Yogyakarta.

Peraturan pesantren agaknya lebih ketat ketimbang pesantren Bapaknya. Konon kenapa pemberlakuan ini lebih ketat karena banyak santri yang suka main keluar dan gampang meninggalkan pelajaran. Pola yang diterapkan dalam mengatur santri nyaris sama dengan pesantren Diponegoro yang sangat ketat. Hanya saja pada prakteknya tidak berlaku sama semuanya. Sebagai anak-anak remaja yang memasuki usia pubertas sebenarnya Sabit dan kawan-kawannya memiliki hasrat besar untuk berlaku bebas di luar pesantren. Kalau dulu setiap gerak-geriknya di rumah selalu dipantau oleh orang tuanya, di pesantren ini semuanya sudah berakhir. Ia dipantau oleh kiai Abdul Jabar Aly, tetapi itupun hanya berlaku di dalam pesantren. Di luar?

Mula-mula dengan sepenuh kesadaran ia tak akan berlaku neko-neko. Kebetulan ia tak suka nonton film atau tontonan konser sebagaimana kegemaran teman-temannya. Kesukaan mainnya ialah ke tempat-tempat buku. Membaca menjadi godaan yang semakin terus menekan, apalagi tahu bahwa kiai Abdul Jabar Aly juga menganjurkan muridnya agar membaca. Sebatas anjuran, tak pernah ada upaya menganjurkan langganan koran atau membuka perpustakaan, tetapi di kamar-kamar para santri itu, selalu ada beberapa buku umum yang bisa dibaca manakala tak ada kegiatan belajar formal. Pertemuannya dengan beberapa mahasiswa di sekitar kampung itu membuat dirinya kembali merasa membutuhkan pengetahuan lain.

Dari situlah kegemarannya masuk ke perpustakaan dan toko buku mulai kambuh. Ia makin lupa dengan kewajiban belajar tekun hafalan dan mengkaji kitab. Jenuh dan penat. Dalam setengah jam membaca kitab beraksara Arab tanpa arti tanpa harakat hanya memberikan sedikit ilmu, sedangkan setengah jam membaca buku akan ia dapatkan banyak pengetahuan.

Selain hobi mencari buku, ada kegemaran umum  yang sering dilakukan para santri setiap hari jumat, saat liburan pekan. Mereka selalu punya acara jalan-jalan ke rumah teman-temannya di sekitar Muntilan. Sabit pun ikut-ikutan terbawa kebiasaan itu. Yang paling ia senangi ialah main ke kampung-kampung temannya di dekat candi Borobudur dan candi Mendut. Selain bisa main ke candi itu ia senang menikmati kehidupan petani di sekitar candi itu.

Beberapa bulan bertahan di pesantren itu kepenatan melanda. Antara tuntutan ketat mengaji dengan dorongan hasrat pubertasnya hidup di alam pendidikan yang bebas selalu menjadi beban pikiran. Pada saatnya kemudian ia pun merasa perlu memutuskan untuk mencari tempat belajar yang lebih bebas agar niatnya membaca buku terpenuhi. Yogya adalah pilihan utamanya. Maka ia pun berangkat ke Yogya, sekedar mencari-cari informasi. Barangkali ajaran tahun baru setelah lebaran mendatang ia akan diijinkan oleh orangtuanya memasuki pesantren baru yang bisa membuat hasrat membacanya tersalurkan.

“Setiap melangkah harus ada target,”kata seorang mahasiswa yang tinggal di pesantren itu. “Targetnya apa dulu. Kalau mau jadi ahli kitab, ada baiknya mesantren dulu di pesantren yang memang spesialis kitab. Kalau mau dapat ilmu tasawuf ya cari pesantren tasawuf. Kalau mau ilmu kitab dan umum, di sini memang tempatnya. Terserah kamu mau gimana?”

Mendadak ia dipaksa berpikir mendengar penjelasan itu. Tak terpikir sebelumnya bahwa dalam pendidikan pun ada target. Pada lazimnya santri tidak punya pikiran target, kecuali pintar agama dan mengamalkan. “Ya, kalau saya ini anak kiai mas. Pulang ke kampung pasti ngajar ngaji. Jadi gimana baiknya?” tanyanya serius minta nasehat.

“Dulu sebelum saya kuliah dan nyantri di sini saya mengaji kitab di Giri Banyuwangi. Pesantren di sana besar dan spesialis kitab. Setelah lulus tingkat menengah saya pingin kuliah. Barulah saya masuk ke sini. Ada pula teman yang sejak SMP dan SMA sekolah di sini, tetapi karena pingin mahir membaca kitab, setelah lulus malah ke pesantren di Pesisir. Dua tahun di sana menggembleng diri khusus ilmu alat (nahwu dan sorof). Setelah merasa mampu membaca, kembali ke sini dan masuk kuliah.

“Tidak tertinggal kuliahnya?”

“Ya ndak. Banyak yang masuk kuliah pada usia 22 tahun, bahkan baru masuk pada 25 tahun. Santai saja. Yang penting belajar,” jawabnya tanpa beban. Ia melanjutkan, “buat apa buru-buru? mau kerja? Kalau ndak ingin cepat-cepat kerja ya ngapain buru-buru.”

Pulanglah Sabit ke rumah. Seperti biasanya setiap habis pergi dari kota tasnya akan berisi banyak buku. Sebelum pulang rupanya ia mampir ke shopping Yogyakarta, menghabiskan uang saku pemberian Bapaknya yang seharusnya buat bekal hidup sebulan. Ia sadar uang itu seharusnya untuk bekal sehar-hari, tetapi ia selalu tak kuat menahan nafsu setiap kali melihat buku di toko. Selalu saja uangnya habis untuk pemenuhan hasrat itu. Sampai di rumah ia mengambil keputusan  bulat. Tak usah ke Yogya dulu. Ada baiknya mematangkan ilmu-ilmu bahasa untuk bekal penguasaan membaca kitab tanpa harakat. Maka, bertekadlah Sabit menujulah ke pesantren di pantai utara pulau Jawa.

“Ya sudah, hari rabu pagi kamu berangkat. Bapak tak bisa mengantarmu. Kamu pergi sendiri saja, “ujar bapaknya menyetujui kepinginan Anaknya. Kepergian seorang santri sendiri ke pesantren sebenarnya tidak lazim. Biasanya orang tuanya mengantarnya menghadap kiai guna menitipkan anaknya nyantri di situ. Agaknya Adnan sudah kehilangan kepercayaan kepada Sabit. Ia masih marah karena selama ini dianggap tidak bener berada di pesantren, selalu keluyuran menghabiskan uang bekalnya.

“Kenapa harus hari rabu pak?” tanya Sabit yang sudah pingin segera cepat-cepat pergi. Rasanya ia sudah tak sabar lagi berlama-lama di rumah. Kehidupan desa yang monoton dan tiada aktivitas yang pasti membuat Sabit tak pernah kerasan di rumah. Tak ada televisi, tak ada tempat bicara. Ia enggan bersua dengan teman-teman lamanya karena pikirannya sudah tak nyambung lagi.

“Semua hari itu baik. Tapi Gusti Allah dulu membuat lautan pada hari rabu. Biar ilmu kamu seluas laut.”

“Ya sudah. Kalau begitu aku mau minta uang buat beli pakaian pak.”

“Dulu kamu sudah dikasih uang untuk beli baju, tapi kamu malah belikan buku. Buku…buku….terus. Repot banget kamu ini,” jawab Bapaknya dengan muka masam. Bapaknya lantas masuk ke kamar. Sebentar kemudian keluar dengan membawa lembaran uang. Pergilah Sabit ke kota. Kali ini benar-benar hendak membeli baju, dan berjanji tak akan ke toko buku.

Dua hari kemudian hari rabu pun tiba. Setelah semalam berkemas, pagi tinggal berangkat. Dua tas besar ia siapkan. Saat-saat berangkat itulah Bapak Ibu dan Ibu tirinya berkumpul.

“Ini kamu makan dulu, biar tidak jajan di jalan,” ujar Afifah, Ibu kandungnya sambil menyodorkan sepiring nasi berlauk sayur bayam, sambal dan telor goreng. Sambil makan, bapaknya banyak bicara.

“Kamu itu harus bersungguh-sungguh di pondok. Jangan suka keluar. Yang penting kerasan dan terus belajar.”

“Inggih pak,” jawab Sabit sambil terus memamah nasinya.

Sementara itu ibunya tak mau ketinggalan urun nasehat. “Uang itu susah nyarinya. Kalau kamu tidak tertib yang nyari uang bingung. Kita ini bukan orang punya. Ingat itu.”

“Inggih Bu,” Sabit mengangguk.

Bapaknya lantas melanjutkan. “Iling cerita bapakmu iki le. Dulu melas uripku. Embahmu meninggal saat aku masih umur 14 tahun. Budemu durung iso opo-opo. Pak likmu sebelum lulus SD terpaksa jadi bakul rokok. Tak bisa sekolah tak bisa mondok. Makan saja susah. Sampai-sampai pak likmu meninggal ketabrak truk gandeng di Wonosobo saat jualan rokok.”

Terdiam. Wajah Adnan nampak murung setiap ingat masa lalunya, apalagi ingat adiknya yang meninggal tertabrak truk gandeng. “Mbiyen pak likmu itu seneng kluyuran seperti kamu itu. Orang-orang pada ngomong pak likmu digondol jin karena masih kecil suka pergi jauh-jauh. Masih SD perginya kok sampai Wonosobo, numpangi truk tentara Jepang. Ya anggapan orang biarlah. Mosok kamu percaya sama Jin nggondol anak orang.” Kali ini suasana jadi agak nyaman. Seperti biasanya, bapaknya memang suka bergurau, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Dengan gurauan itu ia sering berhasil menciptakan suasana nyaman bagi para pendengarnya.

“Le, bapakmu tidak nuntut macam-macam di pondok. Yang penting kamu ini belajar sungguh-sungguh dan sering menyempatkan beribadah, solat malam dan berdoa. Jangan lupa kirimi doa buat embahmu. Ziarah itu baik saja. Tapi jangan sampai terus-terusan ke kuburan. Aku khawatir kalau para santri itu terlalu banyak ziarah ke kuburan tapi malas belajar. Tirakat juga perlu, tapi aku tidak minta kamu untuk seneng tirakat tapi melupakan pelajaran. Pokoknya yang penting ngaji dan ibadah. Dan ingat, jangan berlaku boros. Itu kelakuan setan. Dan kamu itu harus banyak ngaji, jangan banyak baca buku. Nanti lupa ajaran pondok.”

“Inggih pak,”

Tak sampai lima belas menit, pergilah Sabit. Seorang santri mengantarkan Sabit hingga ke kota. Selanjutnya Sabit pergi sendiri. Menuju Semarang. Tiga jam perjalanan ia tempuh, sampailah di terminal Terboyo Semarang. Ia lantas mencari bus jurusan Surabaya.

Orang pesisir melihat pegunungan akan melihat sebagai pemandangan yang menakjubkan. Sebaliknya, orang pegunungan merasa lebih senang jika melihat pantai. Berada di dalam bus itu pikirannya langsung terbayang pantai. Ya, setelah beberapa tahun tidak melewati perjalanan pantai utara ke arah timur itu, sekarang tiba saatnya. Yang lebih mengesankan, sekarang bukan sekedar lewat, tetapi akan segera menetap sebagai bagian orang-orang pesisir juga.

Nggunung dan pesisir. Dikotomi sangat luas dikenal masyarakat Jawa. Orang yang berada di pedalaman atau pegunungan sering dibedakan dengan orang di pesisiran. Orang nggunung kesannya lebih ndeso dan terbelakang dalam hal ilmu pengetahuan. Terutama di kalangan kaum santri, orang nggunung sering dianggap kurang memiliki ilmu agama yang baik. Banyak kiai yang masih menerapkan praktek-praktek kejawen.

Ada banyak kiai yang juga dikenal sebagai dukun. Sementara sebutan kiai di kawasan pesisir biasanya sangat jauh dari praktek perdukunan. Orang-orang pesisir sendiri pergaulannya lebih terbuka di banding dengan orang pedalaman. Dari sisi bahasa sehari-hari orang nggunung bergaya santun dan halus. Hubungan antara anak-anak muda dengan orang tua sangat berjarak. Unggah-ungguh khas pribumi pedalaman sangat kuat, sementara di kalangan pesisir gaya bahasa sehari-hari nampak lebih elegan. Hubungan antara para priyayi dengan masyarakat biasa tak sesantun orang nggunung.

(Hai Sabit, kau belum tahu, dibalik keterbukaan orang pesisir mereka juga terikat dengan tanahnya. Setinggi kunthul terbang, ia akan nyeblok comberan. Selepas camar lepas di lautan, ia pun pulang ke sarang)

Selain mengenal perbedaan tersebut, Sabit juga mengenal cerita para ahli ilmu agama, ahli politik dan kaum cerdik-cendekia lebih banyak lahir dari kalangan masyarakat pesisir di banding dengan masyarakat pegunungan. Sejarah panjang keilmuan Islam maupun ilmu lain sangat menentukan perbedaan ini. Para ulama sendiri jauh sebelum negeri ini berdiri sudah lama berurat akar di kalangan pesisir. Sedangkan di pegunungan tradisi keilmuan itu nyaris tak ada. Sisa-sisa peninggalan agama Hindu di jaman mataram Kuno lebih mencerminkan sisa-sisa peradaban asketis ketimbang peradaban pengetahuan. Sementara di kalangan pesisir banyak bangunan-bangunan yang mencerminkan sisa-sisa kekuatan politik dan gerakan keagamaan..[] (Bersambung pada tulisan Sepanjang Jalan Daendels https://faizmanshur.wordpress.com/2010/11/13/sepanjang-jalan-daendels/ )

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s