Menulis K.H Khudlori Magelang?

Standar

Suatu malam di hari ketiga Idul Fitri 2010. Tepat magrib saya datang untuk bertemu Ibu dari Alm Bapak asuh saya, Kiai Abduljabar Aly. Lebih 9 tahun saya tidak memasuki rumahnya. Situasi tidak banyak berubah. Tetapi yang sangat berubah adalah karena saya tidak bisa bertemu dengan K.H Abdul Jabar Aly (alm), orangtua asuh yang  sangat berjasa kepada saya untuk membuka wawasan membaca banyak hal di luar kitab dan juga mendorong saya untuk jadi penulis. Di bawah asuhan K.H Abdul Jabar Aly, saya  sempat belajar ilmu agama, terutama ilmu gramatikal Arab, Al-Umrity dan Al-Fiyyah Ibnu Malik., juga kitab-kitab syar’i lainnya. Itu saya alami setelah saya lulus sekolah dasar. Saya nyantri di pesantren yang diberi nama Nailul Muna itu setelah niat saya sekolah di Pesantren Pabelan tidak disetujui Bapak saya.

Pesantren Nailul Muna ini adalah pesantren kecil, kala itu jumlah santrinya sekitar 70-an orang. Pengasuhnya K.H Abdul Jabar Aly (Alm), seorang kiai dari murid K.H Khudlori (alm) pengasuh pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang yang kini dimpimpin oleh K.H Abdurrahman Khudlori (Ketua Dewan Syuro PKNU). Kiai Abdul Jabar Aly ini beristrikan Ibu Hj Aisyah, adik dari K.H Abdurrahman Khudlori. Di pesantren ini sebenarnya saya lebih tepat dititipkan oleh Bapak Saya sebagai tempat belajar awal sebelum pergi ke pesantren yang lebih jauh. Bapak adalah yunior dari K.H Abduljabar Aly saat nyantri di Tegalrejo. “Kamu di tempat Mas Dul jabar saja,” itu kiai baik dan wira’i (perwira), begitu Bapak saya memberikan masukan sebelum saya berangkat ke Muntilan.

Karena tidak mungkin saya tanyakan Bapak di mana, maka saya pun tanyakan ibu. Lega rasanya bisa bertemu di ruang tamu itu. Di tengah bincang-bincang saya melihat dinding dengan tiga foto (K.H Hasyim Asyari, K.H Khudlori dan K.H Abdul Jabar Aly). Iseng-iseng saya ceritakan itu satu persatu foto itu kepada istri saya, “itu Pendiri NU, (merujuk foto KH.Hasyim Asya’ari).  Itu  (yang tengah) Kakeknya Mas Alvan, itu (yang bagian sampingnya lagi) Ayahnya Mas Alvan- K.H Abdul Jabar Aly), tentu dengan ilustrasi cerita sejarah.

Pada akhirnya obrolan iseng itu mengantarkan perbincangan, “mestinya Embah (Sebutan untuk alm K.H Khudlori) itu harus punya buku biografi, maksudnya perjalanan hidupnya harus dicatat,” Celetuk saya kepada Mas Alvan .

“Iya, Pak Usup (Gus Yusuf http://cetak.kompas.com/read/2009/11/17/03101035/menjaga.benteng.terakhir) dan keluarga yang lain juga sudah mikir,” Sahut Mas Alvan.

“Mas,” kata saya kepada Mas Alvan. “Bagaimanapun kita ini kan mesti menghormati leluhur kita. Simbah itu lebih cukup melebihi kepentingan keluarga. Beliau juga bukan cuma kakeknya cucu-cucu, bukan cuma Ayahnya dari Pak Dur, Pak Muh, Pak Usup, Beliau itu kakeknya rakyat, Bapak dari ribuan orang. Kalau seandainya ada orang menulis tanpa seijin keluarga pun itu wajar, seperti orang tanpa ijin menulis Gus Dur, menulis tokoh publik lain,” papar saya.

“Ya iya. Cuma siapa yang mau nulis? Pak usup kemarin bilang ayo nulis, masing-masing punya tugas,” jawab Mas Alvan. Setelah panjang lebar bicara, Ibu punya respon yang di luar dugaan saya mampu menggerakkan saya untuk mengambil sikap. “La iyo, aku saiki duwe putu akeh. Aku pingin nyeritaake bapak kanggo putu-putuku (cucu-cucuku) ben pada ngerti sopo simbahe,” jelas ibu dengan nada berharap.

Saya melihat jelas raut muka Ibu Aisyah, saya memahami apa arti pesan itu, bukan dari lafalnya, melainkan dari tatapan matanya. Mata ibu menyiratkan keperluan yang mendalam. Kata cerita, atau mungkin bisa disebut dongeng seorang Nenek kepada cucu-cucunya buat saya itu bukan perkara sepele sebagai sekedar cara meninabobokkan anak supaya lelap tidur. Bagi saya, dongeng, hikayat atau kisah lama adalah bagian dari peradaban umat manusia.

Pendidikan sejak kecil sangat penting untuk melihat masa depan. Untuk menatap masa depan seorang anak harus mengenal masa lalunya, mengenal bagian dari linkup kehidupannya, memahami bagaimana interaksi sosial antar keluarga, sosial, ekonomi dan politik serta kebudayaan. Dongeng adalah mantra magis sekaligus bimbingan ilmiah yang paling menentukan bagi kelangsungan hidup seseorang.

Apakah seseorang itu kelak akan takut pada dedemit atau tidak takut juga ditentukan oleh dongeng. Kalau seorang bayi sering ditakut-takuti di luar ada dedemit, pastilah besarnya juga jadi penakut. Kalau seorang bayi sering didendangkan ayat-ayat suci, kelak besar juga akan mudah memahami lafal-lafal kitab suci itu. Kalau seorang bayi sudah dibisiki Tuhan itu ada, maka ia tidak akan sulit menjadi ateis di masa besarnya. Jadi kalau kita mau membuat generasi yang tidak bertuhan pun caranya sangat mudah. Jangan sering diperkenalkan asma Allah sejak bayi. Hehe…..

Dongeng itu memang cerita lisan. Tetapi ia menentukan gerak hidup seseorang. Kalau kita memahami teori memetika, pasti merasakan bagaimana bisikan-bisikan di masa kecil itu akan mempengaruhi akal-budi seseorang di hari depannya. Itulah mengapa seorang ibu mestinya banyak membaca sejarah dan ilmu pengetahuan supaya anak-anaknya diisi ilmu sejak belum mampu menggunakan rasio murninya. Orang lupa seolah-olah bayi yang belum punya nalar itu tidak mampu menyerap ilmu pengetahuan. Ini salah kaprah. Bahkan sejak dalam kandungan pun bayi secara genetik sudah mampu berkomunikasi dengan pihak luar. Sayangnya orang luar sendiri yang sering tidak mau memahami hal ini.

Ilmu yang diterima bayi tentu bukanlah ilmu sebagaimana orang dewasa mendapatkan. Ilmu pada bayi bisa diterima dalam konteks kesadaran jiwa, bahkan pada orang-orang khusus, ruh-nya pun bisa menyerap pengetahuan dari luar. “Nek duwe bukune mengko lak iso nggo cerito,” ujar ibu.

Akhirnya setelah ide itu, Mas Alvan membawa niat menulis ke acara silaturrahmi keluarga besar pesantren Tegalrejo. Beberapahari kemudian saya dan Gus Yusuf saling komunikasi untuk realisasi niat ini. Menulis kiprah perjuangan K.H Khudlori adalah agenda yang sedang saya susun bersama K.H Yusuf Khudlori, putra paling bontot dari Alm KH Khudlori. Seharusnya kerja penulisan ini dimulai awal November.

Sayangnya amukan merapi berlangsung lama. Tidak enak rasanya datang ke Magelang bulan November ini. Dan saya bersama Gus Yusuf dan Mas Alvan justru sibuk bakti sosial nyari sembako.(faizmanshur).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s