Mengapa Kita Malas Bertani?

Standar

Liputan harian Sinar Harapan beberapa waktu lalu tentang sepinya peminat jurusan pertanian, menarik diulas lebih lanjut. Dari tulisan tersebut diungkap rendahnya minat calon mahasiswa yang mengambil jurusan pertanian. Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar, dalam liputan itu, mengatakan sepinya minat ini disebabkan dunia pertanian tidak memiliki gengsi dan masyarakat lebih tertarik pada bidang nonpertanian di kota besar. Hermanto kemudian menawarkan solusi untuk sosialisasi ke daerah guna meyakinkan bidang pertanian memiliki prospek bagus. Di sini, pertanyaan yang patut diajukan; apakah benar “kesalahan persepsi” itu yang menjadi masalah utama? Sudahkah pandangan tersebut diuji secara sahih untuk kemudian kita ketahui esensi di balik munculnya salah persepsi sehingga kita punya solusi yang tepat untuk me­ngatasinya?

Cara Pandang

Tanpa bermaksud menyangkal pandangan wakil rektor tersebut, tulisan ini hendak berbicara lain. Latar belakang tidak berminatnya masyarakat kita (dalam hal ini orang tua petani dan anak petani) untuk bertani ini disebabkan kepemilikan tanah yang sempit. Kalaupun mereka memiliki tanah yang luas, tetap saja tidak memiliki daya produktif yang sepadan de­ngan dinamika pasar. Katakanlah masa panen butuh waktu paling cepat tiga hingga tujuh bulan, sementara banyak kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi dalam hitu­ngan bulan. Mungkin bisa produktif dalam hal bercocok tanam. Tetapi, saat panen harganya jatuh (dan biasanya selalu terjadi demikian) mereka lantas merasa dikecewakan oleh situasi. Masalah ini muncul bukan pada dua tiga tahun belaka­ngan, melainkan sudah terjadi sejak era 1970-an, di mana tanah petani rata-rata hanya cukup untuk pemenuhan terbatas (subsistem hulu). Karena akumulasi berlarut-larut, asumsi “tanah tidak menjanjikan” berakumulasi menjadi cara pandang (paradigma).

Cara pandang yang bertahan lama, sampai akhirnya terwariskan secara turun-temurun, kemudian membentuk persepsi yang berujung pada pembentukan keyakinan (dogma). Inilah yang kemudian menjadi budaya berpikir yang kemudian menuntut kesadaran orang untuk menjawab pertanyaan “hendak ke mana kita bergerak”.

Sebenarnya, kadar kecintaan masyarakat kita pada tanaman, ternak, tanah, dan situasi hidup harmoni dengan alam tidak diragukan lagi. Fakta ini bisa kita lihat dari anak-anak petani yang jadi “migran” di kota-kota besar yang sekarang merindukan suasana alam setelah didera hidup lama dengan kekeringan batin di lingkungan industri perkotaan.

Akan tetapi, memang para petani dan keturunannya itu, manakala kehidupan sosial dan ekonominya terjepit, dihadapkan pada pilihan: Apakah menyayangi tanahnya dengan risiko tidak terpenuhi hajat ekonomi rumah tangganya, (terutama membayar biaya kuliah yang tinggi) atau lebih menyayangi masa depan anaknya melalui sekolah?

Sesungguhnya, kesalahan persepsi itu bukan masalah sederhana, melainkan terbentuk melalui budaya berpikir. Akan sangat sulit jika itu hanya diselesaikan dengan sekadar menawarkan prospek. Sebab, istilah prospek, yang berarti harapan, itu bukanlah nilai-lebih yang bisa dijual untuk meyakinkan orang. Sekalipun masyarakat kita sering irasional, tetapi (dalam urusan ekonomi) bisa sangat empiris,- (bagian dari rasionalitas juga). Empirisme itu biasanya tersirat pada pertanyaan “mana buktinya?” atau lebih tajam lagi bisa jadi petani akan bertanya, “apakah Anda sudah membuktikan keberhasilan bertani sukses dengan latar belakang yang sama dengan kami?” Jika sudah berhasil, bagaimana tahapan demi tahapan yang harus kami lalui?

Kontradiksi

Sehebat-hebatnya penjabaran dan motivasi, kalau tidak bisa memberikan fakta keberhasilan dari sebuah pro­ses yang konkret, niscaya sulit untuk menarik perhatian, apalagi biaya kuliah juga sa­ngat mahal. Bahkan akhir-akhir ini muncul kesadaran ekstrem, daripada uang puluhan juta untuk biaya kuliah, lebih baik digunakan buat modal dagang. Nanti kalau sudah berhasil dagangnya baru kuliah, karena pada akhirnya kuliah tidak mencerdaskan, bahkan hanya mendidik orang menjadi karyawan dan parahnya lagi cuma jadi PNS.

Studi penulis di Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung di buku Entrepreneur Organik (rahasia sukses KH Fuad Affandi bersama pesantren dan Tarekat Sayuriah-nya) membuktikan anak-anak petani desa dari berbagai daerah itu sangat bergairah dalam kegiatan olah pertanian. Mungkin saja dari sebagian itu tetap memiliki rasa diri sebagai petani (terutama buruh tani), tetapi karena kenyataan bahwa pertanian itu menghasilkan dan menda­patkan pendidikan melalui metode kewirausahaan yang tepat, mereka akhirnya tidak ambil pusing untuk beralih menjadi pegawai kantoran atau PNS.

Hal ini karena di pesantren itu bisa dilihat secara konkret bagaimana pertanian itu benar-benar bisa menyejahterakan kehidupan rumah tangga petani. Kiainya bertani dan berhasil. Lalu, pesantrennya berkembang juga karena hasil pertanian. Lalu bagaimana dengan di kampus pertanian? Rasanya sangat sulit kita meyakinkan orang kalau pada faktanya ribuan sarjana pertanian lebih suka mengikuti jejak para dosennya menjadi PNS. Sesungguhnya, empirisme adalah keteladanan, dan pendidikan yang baik harus memakai teladan/contoh yang tepat. Masalah minimnya daya tarik kuliah di fakultas pertanian ini semua  diakibatkan sistem pendidikan akademik yang tidak mampu merespons tantangan dari kenyataan di masyarakat. Prospek? Anak-anak petani yang gaul itu sekarang sudah punya jawaban sebelum diprospek, “so what gitu loh…?” Penulis Independen, tinggal di Bandung.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/content_96/read/mengapa-kita-malas-bertani/

One thought on “Mengapa Kita Malas Bertani?

  1. ani

    Saya tertarik untuk mengangkat tema pergeseran perekonomian masyarakat pedesaan dari pertanian ke non pertanian di dalam tesis saya. Apakah ada saran referensi yang mendukung? Terima kasih banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s