Agamawan Versus Penguasa

Standar

Statemen Kebohongan Publik terhadap Pemerintah beberapa waktu lalu cukup menarik perhatian masyarakat. Kalau sebelumnya kritik-kritik pedas, bahkan makian terhadap pemerintah ditanggapi adem-ayem, kritik agamawan itu justru mampu membuat gerah penguasa. Istilah “Kebohongan Publik”, yang kemudian berubah menjadi slogan “pemerintah bohong”- paling tidak menegaskan peranan agamawan di Indonesia masih punya taji. Ya, bukan tajamnya kata bohong, melainkan independensi merekalah yang membuat kata itu menjadi mantra untuk memperlihatkan apa yang sesungguhnya terjadi di republik ini; republik yang melarat dan sengsara tetapi pemerintahnya kehilangan kepekaan.

Apa yang dilakukan para agamawan dengan sikapnya tersebut sudah benar. Kebutuhan rakyat untuk menyampaikan kesengsaraan hidupnnya bisa tersalurkan oleh pemimpinnya. Di sini, agamawan patut mendapat dorongan agar selain terus menjaga independensinya, juga terus menyuarakan fakta buruk yang terjadi di lapangan. Negara ini bukan milik politisi, bukan pula hak murni pemenang pemilu. Masyarakat berbasis agama seperti Indonesia sangat butuh keterlibatan para pemimpin agama untuk memainkan peranan politik dengan cara mengkritik secara jujur. Agamawan harus bicara politik bukan dalam konteks politik konvensional untuk mencari kekuasaan. Cukuplah ia mengurusi umatnya dan pada saat-saat tertentu harus turun ke lumpur politik untuk menyampaikan kebenaran.

Di Indonesia, banyak agamawan yang gemar berpolitik. Saking gemarnya, mereka larut masuk ke wilayah kekuasaan (baca terlibat berebut kursi dan kue politik). Akibatnya mereka pun kehilangan wibawa. Tetapi ketika mereka mampu menjaga independensinya, pengaruhnya justru lebih kuat.

Inspirasi Syariati

Bagaimana seharusnya posisi agamawan dalam hubungannya dengan politik? Ali Syariati, ideolog sekaligus “arsitek” revolusi Islam Iran yang juga salah seorang Cendekiawan Muslim di akhir 1970an pernah melansir dua istilah yang menarik, yaitu “agamawan revolusioner” dan “agamawan status-quo”. Agamawan revolusioner merupakan seorang pemeluk agama yang memperjuangkan perubahan sosial-politik menuju kehidupan yang lebih baik dan progresif, sedangkan agamawan status-quo mencoba mempertahankan sistem yang mapan.  Yang pertama minat pada “perubahan”, yang kedua “anti perubahan”. Yang pertama mencoba menggempur sistem sosial-politik yang timpang serta kekuasaan yang otoriter dan menindas, sedangkan yang kedua selalu mempertahankan sistem sosial-politik yang telah ada dan pro kekuasaan.

Agamawan revolusioner ingin memperjuangkan sistem sosial-politik yang lebih baik untuk kemaslahatan umat seluas-luasnya, sedangkan agawaman status-quo mempertahankan sistem yang telah ada karena menguntungkan kelas yang berkuasa, termasuk para pemuka agama dan pemodal. Yang pertama berwatak dinamis dan progresif, sedangkan yang kedua berwatak konservatif dan dogmatis.

Berbeda dengan kebanyakan ilmuwan dan cendekiawan (muslim) yang hanya sibuk berwacana, Ali Syariati justru melengkapi kiprah hidupnya dengan perjuangan nyata bersama massa rakyat untuk mengubah sistem sosial politik yang timpang dan menindas. Ali Syariati tidak bertindak eksklusif sebagai kelas menengah, melainkan berusaha melakukan “bunuh diri kelas” dengan membaur dan turun langsung ke jantung massa rakyat untuk menggerakkan perubahan sosial dan revolusi.  Tidak heran jika salah satu tokoh model yang disimpatiki Ali Syariati adalah Abu Dzar Al-Ghiffari, seorang pejuang muslim yang berani dalam memperjuangkan keadilan dan melawan kezaliman penguasa yang menindas rakyatnya.

Pemikiran dan tindakan Ali Syariati yang mampu menggabungkan secara ideal antara dua hal yakni “wacana” dan “praksis sosial” yang tak terpisahkan, sebenarnya merupakan cerminan dari perjalanan para nabi dan rasul sepanjang sejarah. Para nabi dan rasul bukan hanya membawa misi ajaran, nilai-nilai, dan agama, melainkan terutama mendobrak dan mengubah sistem sosial yang bobrok, dekaden, tidak adil, timpang, dan menindas.

Para nabi dan rasul—khususnya jika kita merujuk pada empat nabi legendaris yaitu Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad—merupakan sosok yang teguh melawan segala bentuk kezaliman yang biasanya dilakukan oleh kelas yang berkuasa. Nabi Ibrahim melawan Raja Namrudz, Nabi Musa melawan Raja Firaun, Nabi Isa melawan Para penguasa Romawi, sedangkan Nabi Muhammad melawan penguasa kafir Quraisy. Sayang, dalam perjalanan sejarah, para pewaris nabi yakni para agamawan mulai kehilangan watak revolusionernya. Mereka acapkali hanya sibuk berwacana dalam bentuk ceramah dan khutbah misalnya, namun gagap mengemban misi perubahan sosial yang baik dan mulia untuk kehidupan rakyat banyak. Alih-alih melakukan perubahan, para agawaman justru sering menjadi bagian dari kelas yang berkuasa.

Para agamawan status-quo pun terus bermunculan karena mereka juga merupakan komunitas yang diuntungkan oleh sistem yang mapan. Dalam sejarah pun acapkali terjadi persekongkolan busuk antara penguasa, pemodal, dan agawaman. Sementara itu, rakyat kebanyakan berada dalam kondisi miskin, bodoh, sengsara, dan tertindas.

Independen dan Bergerak

Independensi saja tidak cukup. Agamawan harus aktif untuk terus menyerukan perubahan. Sikap kritis adalah cara terbaik agar pemerintah tidak terus melakukan kebohongan yang jelas menindas rakyatnya. Melalui posisi dan sikap yang jelas serta jauh dari kepentingan politik (merebut kekuasaan atau tebar pesona untuk pemilu mendatang) itulah langkah yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Ketika kaum LSM, Aktivis dan tokoh-tokoh politik oposan kehilangan kepercayaan dari masyarakat, pemuka agama harus mengambil peranan ini.

Statemen yang dikeluarkan agamawan itu memang langsung mendapat respon pihak istana. Sayangnya responnya terlalu reaksioner. Orang-orang Istana dan juga partai pendukungnya masih juga hobi berkilah atas apa yang disampaikan pihak luar. Seolah-olah apa yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-Boediono selama ini seratus persen benar. Sama seperti kritik para LSM dan tokoh oposan lain, kritik tokoh agama itu dianggap bermotif politik, ditunggangi pihak tertentu, dan sejumlah klaim lainnya.

Bahkan sekalipun agamawan sudah diundang ke istana untuk dialog, yang terjadi justru sekadar basa-basi politik. Tak ada hal yang signifikan untuk merespon pernyataan para agamawan yang sebenarnya itu mewakili kegelisahan rakyat Indonesia. Sikap menggelak dari tanggungjawab inilah yang seharusnya direspon ulang oleh para agamawan untuk menyatakan lebih tegas apakah pemerintahan sekarang masih layak diteruskan atau diberhentikan. [] Faiz Manshur. Dimuat di Harian Sore Sinar Harapan Sabtu 22 Januari 2011. http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/read/agamawan-versus-penguasa/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s