Akar Moderat Islam Jawa

Standar

JAWA sebagai ideologi, atau sistem kepercayaan atau katakanlah Jawa­is­me memang sudah punah, te­tapi Jawa sebagai adat istiadat tetap bertahan kuat. Tak pernah runtuh oleh desakan Islam, Kris­ten atau moder­nisasi.

Mayoritas penduduk Jawa hidup dalam kultur pedesaan de­ngan ekonomi pertanian yang tak maju. Islam yang dipeluk masyarakat Jawa di basis pe­dalaman memainkan peranan yang menentukan corak kebudayaan. Hal ini karena jumlahnya yang begitu banyak. Orang-orang Jawa butuh ajaran agama karena tuntutan untuk menjawab berbagai persoalan hidup. Kalaupun sebagian dari mereka kurang mementingkan agama formal, orang Jawa butuh “agama” dalam pengertian aliran kebatinan. Agama dibutuhkan masyarakat karena di dalam himpunan tata nilai sosial, ajaran agama lebih lengkap dalam memberikan jawaban dibanding ilmu pengetahuan atau ideologi. Sosiolog Arief Budiman (1996) pernah me­ngatakan, “Agama akan mampu menjawab masalah-masalah yang tidak dipecahkan ideologi atau ilmu pengetahuan, sekalipun jawabannya tidak  rasional.”

Uraian ini memang tak selalu benar, sebab di dalam agama sendiri terdapat variabel-variabel yang mengandung ilmu pengetahuan, ideologi, termasuk mitologi. Tetapi, semakin kuat ilmu pengetahuan, semakin berkurang kecenderungan orang mempercayai agama secara doktriner. Kalaupun pada pasca-era 2000 ini kita menyaksikan gairah keagamaan, tentu bukan agama dalam pengertian agama tradisional, melainkan corak yang lain, yakni agama politik, agama ilmu, termasuk agama teror.

Keharusan Tokoh Agama

Agama pedesaan di Jawa sarat dengan mitos. Setiap dae­rah memiliki perbedaan mitos sehingga agama itu sendiri terkontaminasi dengan unsur lokal setempat. Sebagian unsur lokal bisa beradaptasi dengan ajaran agama, sebagian tidak. Oleh karena itu, wajar jika seorang tokoh agama yang menyebarkan ajarannya sangat penting memahami hal ini.

Agamawan yang berlaku ekstrem dalam menyebarkan pemahaman secara otomatis akan ditolak masyarakat. Karena sebenarnya, orang Jawa secara umum sebenarnya dikenal “setengah hati” dalam menjalankan ajaran agama. Bagi pendakwah yang memilih jalan kompromi dan sabar dalam mengajarkan ilmu-keagamaan, ia akan diterima luas oleh masyarakat, sedangkan yang vulgar dan reaksioner akan menjadi hantu yang menakutkan masyarakat sekitar. Itulah mengapa para kiai tradisional yang moderat lebih mendapat tempat di masyarakat ketimbang agamawan modern yang elitis.

Di sini, penting memahami apa yang disebut beragama melalui jalur “kesadaran”. Mereka yang berlaku moderat menyadari bahwa sebagian masyarakat mudah menerima ilmu pengetahuan baru, tetapi sebagian tidak langsung bisa menerima. Semua butuh proses, terutama saat memasuki kesadaran spiritualitasnya. Kesadaran tak cukup dibangun dari sebuah institusi pendidikan, melainkan harus melalui pola hidup keseharian.

Praktik pergaulan yang baik sangat menentukan kesuksesan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Agamawan moderat juga menyadari, mengajarkan agama tak sesimpel mengajarkan ilmu pengetahuan, karena agama memiliki dimensi yang lebih rumit; ajaran petunjuk praktis untuk laku, bertindak, praksis dan menggerakkan.

Fakta-fakta hubungan antara agama, ilmu dan kesadaran seperti itulah yang kemudian juga membentuk wajah agama khusus di Pulau Jawa. Sekalipun masyarakat sekarang sudah menerima sejarah panjang kehidupan beragama, tetapi ajaran yang dipeluk masyarakat itu tidak berhasil membentuk identitas tunggal hanya dalam bentuk agama.

Hal ini bisa dilihat dari wujud nyata dalam hal politik. Sekalipun agamanya jelas Islam, kecenderungan politiknya tak melulu Islam. Orang desa yang mayoritas petani, dengan nalarnya sendiri memandang identitas dirinya sebagai muslim dan tidak wajib memilih Partai Islam. Tak heran di kalangan masyarakat ini pada masa silam orang-orang Islam sebagian ikut Partai Komunis, Murba, atau Partai Nasionalis. Di luar politik, orang-orang Islam juga tak merasa alergi dengan kesenian lokal. Dari sisi sosial, misalnya, keluarga santri taat merasa pas dengan ucapan assalamualaikum, tetapi bagi muslim lain lebih enak menyapa dengan ucapan kulo nuwun. Jilbab dikenakan secara ketat oleh keluarga santri perempuan, namun tidak menjadi persoalan bagi muslimah pada umumnya. Kesadaran moderat mereka tidak kemudian memaksa orang untuk berbusana muslimah.

Di sini, kesantunan dan sikap moderat pemeluk Islam Jawa nampaknya dirasakan lebih nyaman untuk menjaga etika pergaulan dengan masyarakat sekitar. Sangat berbeda dengan golongan Islam modernis berhaluan Islamisme (paham serbaIslam) yang justru tinggal di kota-kota besar. Mereka yang gemar berdakwah itu setiap kali ketemu orang selalu mendakwahi dengan ceramah-ceramah yang cenderung memaksakan kehendak sehingga orang yang diajak bicara merasa tak nyaman karena merasa digurui.

Agama Politik

Hubungan antara ideologi, agama (khususnya Islam), dan ilmu pengetahuan di atas sesungguhnya memberikan gambaran bagaimana ajaran agama di kalangan masyarakat Jawa, khususnya Jawa pedalam­an memang memiliki akar yang kuat untuk terus berada dalam iklim moderat. Sikap mereka terhadap ajaran agama yang “mengimpor” dari kehidupan masyarakat asing mereka terima sebagai kenyataan. Tetapi, yang asing itu bukanlah berarti harus dibenturkan dengan ideologi, kosmologi, mitologi dan unsur-unsur lain dalam kesadaran masyarakat.  Atas dasar penerimaan yang fleksibel seperti itu menjadikan wajah agama di Jawa selalu menarik perhatian, bersifat majemuk dan dinamis karena berjalan di atas rel transformasi ekonomi-politik modern. Agama selalu menarik perhatian karena dibutuhkan.

Tetapi, ia bukanlah satu-sa­tunya unsur yang mencukupi karena masyarakat Jawa terus membutuhkan mitologi, kosmologi, dan etika khusus yang tak bisa mengadopsi dari unsur agama. Pada wilayah kebudayaan, ekonomi dan sosial agama tidak banyak menimbulkan masalah karena diserap secara bijak. Tetapi dalam hal politik, elite politik sering memperkeruh dengan pendekatan-pendekatan pragmatisnya.[]Penulis Independen, Tinggal di Bandung.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/content/read/akar-moderat-islam-jawa/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s