Enuma Elish dan Rekam Jejak Ketuhanan

Standar

KESADARAN manusia untuk bertuhan memiliki alasan logis sebagai naluri insting­tif dari bawah sadar manusia. Alasan ini bi­sa diterima manakala kita sedikit merela­kan waktu untuk menengok jauh ke za­man purba di mana nenek moyang kita me­miliki rasionalitas instingtif terhadap Tuhan.

Hal yang menarik, kesadaran manusia atas Tuhan tidak dimulai dari paham akan politeisme (kepercayaan terhadap banyak Tuhan), melainkan dimulai dari kesadaran monoteisme (kepercayaan terhadap Tuhan Yang Esa). Sekitar 60.000 tahun silam (seiring ditemukan komunikasi bahasa lisan pertama) di daratan Afrika bagian selatan, orang-orang suku di sana telah mengenal Yang Esa bertengger “di puncak”. Langit dijadikan simbol tempat bersemayam Yang Esa.  Mereka memercayai ke­hidupannya diawasi oleh Yang Esa. Seperti apa Yang Esa? Tak jelas bentuknya. Tak bisa digambarkan, sulit diekspresikan, tak juga membutuhkan sajian khusus sesembahan. Bagi orang-orang suku, Yang Esa hanyalah pengawas, yang selalu menilai baik dan buruk perilaku manusia. Keba­nyak­an manusia melakukan kebaikan se­sa­ma makhluk hidup dan alam, Yang Esa akan selalu memberikan kebaikan berlipat.

Ketika banyak orang ber­buat buruk, Yang Esa sering kali murka. Suatu ketika saat terjadi krisis kehidupan, wa­bah penyakit merajalela, pertanian mengalami kemun­dur­an dan kesulitan pangan me­landa, Yang Esa diserukan un­tuk bertindak campur ta­ngan. Orang-orang meminta am­pun atas dosa-dosanya. Tetapi Yang Esa tetap diam. Mala­pe­taka terus menyelimuti ke­hi­dupan mereka. Sebagian dari mereka bingung dibuat oleh sikap diam Yang Esa. Se­makin bingung, mereka ber­kesim­pul­an Yang Esa telah pergi.  Kepergian ini membuat kekosongan imajinasi manusia. Ada dan tiadanya Yang Esa dalam diri manusia tetap saja tak berfungsi. Mereka inginkan tindakan konkret saat-saat kehidupan mereka memburuk, dan mereka pun siap bersyukur dan mengabdi saat kehidupan berlangsung baik. Tetapi Yang Esa telah pergi.  Bagaimana perasaan me­reka di kemudian hari tanpa Yang Esa?
Orang-orang suku bi­ngung akan kehampaan ini. Pada kemudian hari, di pinggir laut Mesopotamia, orang-orang merasakan kehadiran getaran khusus yang miste­rius. Ada roh di luar diri me­reka yang hidup dan banyak memengaruhi manusia serta alam sekitarnya. Orang-orang suku itu kemudian menyebut “mana” sebagai istilah abstrak untuk menjelaskan ruh-roh itu.
Abstraksi ini pada mula­nya dirasa nyaman sebagai pe­ngontrol perilaku buruk manusia. Tetapi pada zaman kemudian tak cukup membimbing kehidupan mereka. Orang-orang butuh kejelasan tentang “mana” untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Kemudian terumuslah konsep mana baik dan mana buruk. Keduanya seringkali bertarung. Orang-orang tak boleh salah meminta petunjuk pada mana buruk dan harus setia mendukung mana yang baik.

Politeis dari Enuma Elish
Membaca gerak kesadaran akan Tuhan-dari monoteisme berubah ke arah politeisme- tentu butuh pembahasan yang luas dari masa ke masa. Te­ta­pi, untuk menarik benang merah perubahan itu kita punya rujukan historis valid dari kitab paling tua, yakni Enuma Elish. Kitab itulah yang kemudian membawa ja­waban mengapa kesadaran ma­nusia atas Tuhan mono­teis­me berubah menjadi politeisme. Ceritanya, pada tahun 1798 Napoleon Bonaparte bersama para intelektual dan seniman menjelajah ke bumi Mesir dan daratan Babilonia. Beberapa puluh tahun kemudian salah satu kelompok anak buah Napoleon menemu­kan sebuah catatan penting di kota Niniveh yang diduga berasal dari masa Raja Asyur, sekitar 650 tahun sebelum masa Nabi Isa. Kitab berupa lempengan dari tanah liat yang memperlihatkan istilah menonjol Enuma Elish.
Di dalamnya memuat kisah, ada dewa yang hidup di air laut tawar. Dewa yang disebut Apsu ini mampu keluar dari jeratan alam (air laut asin), melayang ke udara dan bersinggasana di langit. Kese­pian hidup sendirian membuat dirinya membutuhkan pasangan. Pada kemudian hari muncul dewi bernama Tiamat, jelmaan dari saripati garam laut. Perkawinan Apsu dengan Tiamat melahirkan banyak anak-anak dewa.  Lahirnya banyak dewa ini pada akhirnya membuat nes­ta­pa kehidupan langit. Per­ta­rungan demi pertarungan mem­buat Apsu marah dan berniat membunuh dewa-dewi itu. Ea, salah satu dewa men­de­ngar rencana itu, lalu me­nyu­sun kekuatan dan membunuh Apsu. Salah satu ang­gota Ea, yang paling gigih mem­bunuh Apsu, yakni Mar­duk, anaknya sendiri dija­di­kan pemimpin menggantikan Apsu.
Matinya Apsu membuat marah Tiamat yang menciptakan banyak monster hebat untuk menyusun kekuatan melawan Marduk. Sebenarnya Tiamat sangat hebat di mata Marduk. Oleh karena itu, un­tuk menghadapi Tiamat, Marduk harus sungguh-sungguh kuat dan berani bertaruh. Setelah melalui pertarungan hebat, akhirnya Marduk ber­hasil memenangkan peperangan itu. Kingu, panglima perang yang diangkat oleh Tiamat mati, setelah itu Tiamat juga dibantai Marduk.  Tubuh Tiamat dibelah dua. Bagi Marduk, kemenangan ini membanggakan sekaligus me­ngecewakan. Ia trauma dengan pertarungan yang terus-menerus terjadi. Akhirnya Marduk memutuskan membentuk kehidupan baru tanpa dendam. Ia buat aturan-aturan main kehidupan secara jelas.
Setelah semuanya jelas, ma­ka langkah selanjutnya me­mantapkan legitimasi ke­kua­saan Marduk di antara para dewa. Marduk lantas me­ngum­pulkan semua dewa pada acara khusus di Babi­lonia. Para dewa yang terdiri dari berbagai latar belakang, baik air maupun bumi di seluruh penjuru negeri berkumpul bersama dalam suasana kebersamaan.  Mereka lantas menghormati Marduk sang pemimpin dengan cara membuat kuil. Dalam suatu perayaan penghormatan itu Marduk duduk di atas singgasana kuil. Para dewa yang lain menyembah penuh penghormatan. “Babi­lonia, kota kesayangan para dewa, hidup damai sejahtera di tanah air tercinta.“
Kisah pertarungan para dewa di atas adalah ekspresi awal bagaimana manusia menciptakan Tuhan, setelah manusia-manusia purba sebelumnya kebingungan de­ngan Yang Esa. Tuhan, para Dewa kemudian terjerumus secara konkret, sebagian dewa berasal dari tanah dan sebagian dari bumi. Sungguh, alam sangat berperan menentukan kesadaran akan Tuhan. [] Penulis adalah Alumni Perguruan Tinggi Islam Salaf (PTIS) Ma’had Aly, Pesantren Almunawwir, Krapyak, Yogyakarta. Dimuat di Harian Sore Sinar Harapan, Sabtu 19 Pebruari 2011. http://www.sinarharapan.co.id/berita/content_96/read/enuma-elish-dan-rekam-jejak-ketuhanan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s