Modernitas, Obsesi, dan Jalan Tuhan

Standar

Manusia butuh Tuhan itu merupakan naluri. Berbagai penemuan sejarah membuktikan masyarakat primitif telah memiliki (persepsi) ketuhanan. Karen Amstrong dengan buku Sejarah Tuhan-nya, atau John C Alvies dengan buku The Genetic Gods-nya memiliki argumentasi yang sangat kuat untuk membuktikan bahwa ide tentang Tuhan bukanlah tradisi, melainkan muncul dari naluri (bawah sadar) manusia.

Antara naluri dengan kebiasaan (tradisi) memang bukan sesuatu yang terpisah. Sudah lazim naluri membentuk tradisi, demikian pula sebaliknya. Ide tentang Tuhan menjadi sesuatu yang naluriah karena manusia selalu memiliki obsesi sesuatu yang indah, romantis, herois, dan segala hal yang imajiner.

Abstraksi semacam itulah yang menjadikan “posisi” Tuhan kokoh dalam batin manusia sepanjang zaman. Itulah mengapa hampir semua agama selalu punya mitos berupa kisah-kisah penciptaan asal-usul individu, suku bangsa, ras, penciptaan alam semesta, dan (prediksi) arah hidup yang lebih jauh (akhirat). Itu semua untuk obsesi manusia.

Tetapi, mitos yang telah menjadi obsesi bukanlah sesuatu yang tidak berguna, melainkan menjelma menjadi motivasi manusia untuk mengembangkan kehidupannya. Manusia gemar bermitos, sekaligus gemar menghancurkan mitos. Yang sudah ilmiah sekalipun bisa ditumbangkan rumus baru atau penemuan yang lain hingga “persepsi yang lama” menjadi mitos karena kedatangan “yang baru”. Sepanjang zaman, mitos dan rasionalitas terus bertempur memperebutkan tempat. Tuhan tak tergoyahkan karena bisa dimitoskan, juga bisa dirasionalisasi.

Karena itu, di sinilah kita menemukan rasionalitas empirik, di mana masyarakat modern tetap butuh agama. Agama dengan segenap variasinya terus berevolusi untuk hidup dan berkembang dalam ruang batin manusia karena ia menyediakan sarana yang obsesif, sebagaimana naluri betina untuk mendapatkan kenyamanan dari jantan, atau sebaliknya.  Pada 1980, ilmu pengetahuan sosiologi pernah menggulirkan gagasan masyarakat pascaagama (sekularisme). Ide dasarnya cukup rasional, yakni dengan meletakkan agama sebagai mitos.

Muncul kemudian anggapan bahwa ketika masyarakat semakin rasional, kecenderungan untuk beragama secara otomatis akan memudar. Ini bukan salah rumus, melainkan karena paradigma sosiologi hanya mampu melihat sisi luar dan kurang memperhatikan kedalaman individu/psikologi manusia.

Sekarang ilmu pengetahuan sosial telah mengalami banyak perkembangan. Ini juga sejalan dengan rumus ilmiah evolusi, di mana ide-ide yang terpisah kemudian melakukan perkawinan akan menimbulkan rumpun spesies baru.

Ilmu psikologi agama yang dikembangkan Abraham Moslow, misalnya, cukup familiar untuk melihat hubungan perilaku orang beragama dengan situasi sosial kehidupannya.  Kemudian jika dihubungkan dengan pendekatan ilmu memetika (baca: mim), Ricard Dawkins (1976) akan mendapatkan rasionalitas bahwa tradisi yang selalu dibutuhkan dan kuat mengakar di masyarakat bisa menjelma menjadi naluri. Itulah mengapa masyarakat yang orang tuanya hidup dalam pilar agama, keturunannya sulit lepas dari agama, apalagi lepas dari Tuhan (kecuali sesekali lepas dan coba-coba menjauh).

Modernitas mampu memberi manfaat bagi kehidupan, tetapi di lain pihak juga berperan “menjadikan manusia terasing dari Tuhan”. Dengan begitu, ketika naluri akan Tuhan itu masih ada dalam diri seseorang, ia akan “kembali” kepada Tuhannya.

Mereka yang konvensional biasanya lari ke jalur agama tradisional dengan mengikuti pakem-pakem ajaran yang ada, seperti rajin berdoa, datang ke acara keagamaan, dan seterusnya. Sementara yang akal budinya lebih maju biasanya memilih jalan kreatif dengan mengembangkan spiritualitasnya sendiri.

Ide ketuhanan yang abstrak dan universal mengakibatkan banyak orang bisa mengembangkan persepsinya tentang Tuhan. Sesekali perbedaan membawa rahmat karena dengan ragam jalan tersebut orang bisa memilih secara bebas menemui Tuhannya. Sejalan dengan banyak kepentingan pemeluk agama, keragaman itu memunculkan sekte, aliran, golongan, agama baru, bahkan kemudian harus saling berperang. Semua peperangan yang berkaitan dengan agama, kata Karen Amstrong, adalah “berperang demi Tuhan”.

Makin Meningkat

Tema kembali ke agama semakin hari semakin meningkat. Modernitas tak melulu melahirkan sekularisme. Bahkan, di Indonesia, khususnya di lingkungan perkotaan, terdapat fakta kecenderungan orang menempuh jalan tobat. Banyak golongan orang beragama (yang karena awamnya), mendadak melalukan proses penyucian diri atas jalan hidupnya.

Dengan naluri obsesif menemui Tuhan, mereka melewati salah satu pintu agama. Tema kembali ke agama sesuai Alquran dan Al-Hadis dalam Islam misalnya, kini kembali menjadi ide yang marak diminati. Apakah hal ini lebih baik daripada lari ke dukun? Itu tergantung fakta orang per orang yang melakukannya.

Agama bisa jadi sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi bisa juga untuk mengembangkan praktik perdukunan. Bahkan sejarah kehidupan Nabi Muhammad pun pada mulanya banyak bersitegang dengan para dukun (kahin). Agama sebagai sarana pertobatan, bak pil penenang untuk memenuhi kebutuhan naluri primitif manusia. Tentu saja gagasan pragmatisme kembali ke jalan Tuhan seperti ini bukanlah sesuatu yang final. Ibarat orang sakit, biasanya ia sadar kesehatan.

Tetapi ketika sehat kembali, ia sering lupa menjaga kesehatannya. Lupa-ingat merupakan kebiasaan manusia. Maksiat dan tobat berulang merupakan fenomena perilaku umat beragama yang konvensional, dan biasanya dipraktikkan pemeluk agama yang dangkal sisi spiritualitas hidupnya. Maraknya “kembali ke jalan Tuhan” di era modern merupakan bagian dari fakta terdapat banyak korban dari corak kehidupan ekonomi dan konsumerisme yang menghampakan batin manusia.

Jalan agama memang tidak melulu bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Tetapi tanpa pijakan akal budi niscaya hanya akan menjebak diri pada mitos, kultus, bahkan praktik keagamaan “semau gue”.

Jalan untuk menuju kualitas spiritualitas hidup sebagaimana yang diidolakan manusia dengan istilah “jalan Tuhan” hanya akan bermutu jika bersandar pada mutu akal budi manusia itu sendiri.

*FAIZ MANSHUR. Penulis adalah pemerhati agama dan budaya.

SUMBER: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/modernitas-obsesi-dan-jalan-tuhan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s