Sunni-Syiah, Sesat dan Sindrom

Standar

Kekerasan yang merusak sendi keharmonisan hidup terus terjadi. Selain kekerasan atas nama ekonomi, politik dan kekerasan sosial, juga kekerasan atas nama agama. Kita tak kaget dengan serentetan kejadian kekerasan dari berbagai penyebabnya karena ini telah berulang.

Tetapi, kejadian pembakaran Kompleks Pesantren Islam Syiah, Kamis (29/12) di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, merupakan sesuatu yang perlu kita bicarakan secara khusus. Kita juga perlu mempertanyakan hal itu karena letupan merupakan sesuatu yang mengganggu ketenangan. Cemas melanda, dan siapa pun ingin menghindarinya.

Tiga Hal

Hal yang menjadi pertanyaan kita pertama-tama adalah, mengapa Syiah? Selama ini kita jarang mendapat kabar berita kelompok agama beraliran Syiah di Madura. Tiba-tiba sekarang muncul, dan itu pun bukan dengan kabar baik, melainkan kerusuhan berupa pembakaran.

Kedua, munculnya kata sesat. Mengapa setiap kali terjadi perselisihan antarumat dalam satu agama, terasa lebih tajam isunya dibanding konflik yang berbeda agama?

Ketiga, kenapa isu minoritas, dalam hal ini sekte, selalu mengundang empati dan pembelaan dari berbagai pihak?

Pertanyaan pertama lebih pada masalah sosiologis. Benar kelompok umat Islam yang beraliran Syiah (ibu kandung dari ajaran Islam di Indonesia), terutama yang mengaku secara terbuka jumlahnya sedikit. Tetapi, penganut Syiah atau kebanyakan mereka lebih suka menyebut Ahlul Bait, adalah golongan Islam yang tidak jauh berbeda dengan kelompok mayoritas, Sunni.

Orang-orang Ahlul Bait bisa beradaptasi dengan praktik kehidupan beragama ala NU dan Muhammadiyah. Bahkan, mereka tidak suka memperdebatkan perbedaan ibadah dan tauhid. Letak perbedaan biasanya hanya menyangkut masalah imamah dan penggunaan hadis.

Dalam hal praktik ibadah mereka tak jauh berbeda dengan warga NU. Satu hal lagi, penganut Ahlul Bait mempraktikkan ajarannya secara inklusif; membuka diri, tetap bergaul dengan siapa pun tanpa ada sekat khusus.

Tetapi harus diakui, kala mendengar kata Syiah, pikiran selalu dirangsang untuk mempertanyakan apa itu Syiah. Tidak semua mengarah pada isu kesesatan. Di kalangan kelompok mahasiswa muslim, ide Syiah tidak dipertanyakan kesesatannya, melainkan justru menarik ditelisik ide-ide politiknya yang revolusioner.

Di kalangan santri, terutama santri tradisional, mungkin kata Syiah kurang enak didengar, tetapi mereka punya kearifan untuk tidak ikut-ikutan terbawa isu yang memprovokasi untuk bertikai.

Para kiai NU pun terkadang tidak tahu Syiah secara mendalam. Karena tidak tahu-menahu, mereka lebih memilih diam dan tidak berprasangka buruk. Mereka punya prinsip, “agama bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk diamalkan.”

Nah, menyambung dengan pertanyaan kedua, Syiah dibicarakan sebagai sesuatu yang “sesat” itu sebenarnya hanya ada dalam pikiran orang Islam secara minoritas.

Biasanya mereka yang punya pandangan “sesat” dan “lurus” atau saya sebut sindrom “kami/mereka” (kami-benar dan mereka=sesat) adalah orang-orang yang kurang mengakar di masyarakat dan kurang serius memerankan tugasnya sebagai pengajar agama.

Ulama/pengajar agama yang mumpuni dalam bidang urusan agama akan lebih fokus mengajar praktik keagamaan secara baik dan kurang suka memilih mengajar atau mengampanyekan gagasan, apalagi menyerang paham orang lain.

Mereka yang beramal secara tulus mungkin tidak banyak tahu ragam perbedaan aliran, paham dan wawasan politik keagamaan. Tetapi, sesungguhnya mereka lebih konkret dalam hal beramal dengan fokus mengajarkan ilmu pengetahuan untuk bekal ibadah dan muamalah kepada murid-muridnya.

Pemimpin agama yang gemar mengampanyekan kesesatan kebanyakan kurang serius beramal dan lebih suka sibuk membuat kegaduhan, yang ujung-ujungnya kepentingannya politis atau kepentingan personal di luar misi agama. Kelompok radikal yang terinfeksi sindrom “kami/mereka” adalah kelompok keagamaan politik, sekalipun bukan politik kepartaian.

Proporsional

Pada kasus Syiah-Sunni di Madura, kita sudah bisa menjawabnya dengan pasti, yakni ada kepentingan di luar misi keagamaan. Dari liputan majalah Tempo (3/1/2012) dan juga beberapa liputan berita media massa lain, konflik tersebut memang sangat kuat beraroma konflik personal para pemimpinnya.

Majalah Tempo menuliskan, “Tajul Muluk pemimpin kelompok Syiah dan Roisul Hukama pemimpin kelompok Sunni memang masih kakak-beradik.” Ada masalah keluarga yang “menahun” dan pada kondisi tertentu memanas lalu meledak dalam bentuk konflik kolektif. Hal ini terjadi karena masing-masing pemimpin memiliki pengikut.

Sekiranya kita bermaksud untuk beragama ke arah yang damai, jelaslah masalah ini tidak perlu masuk wilayah (perbedaan) paham.

Berbagai media massa yang kurang peka melihat masalah ini, bahkan punya kepentingan sempit serta motif meramaikan justru sering kurang menyadari bahwa masalah seperti ini tidak seyogianya dieksploitasi sebagai komoditas berita yang diarahkan untuk sebuah sensasi yang ujung-ujungnya berupa kegaduhan nasional.

Kasus lokal kekeluargaan ini merupakan kasus hukum karena memang sudah telanjur menjadi konflik berupa kekerasan. Di sini, hukum agama apalagi dipersempit dalam mindset sindrom kami/mereka, bisa memperuncing persoalan yang tidak semestinya.

Yang perlu dilakukan ialah penegakan hukum atas kriminal itu sendiri. Hukum agama selain tidak bisa diterapkan, dan memang tidak layak untuk diterapkan menghakimi kasus tersebut, juga tidak memiliki kebenaran filosofis maupun etis.

Pernyataan sesat merupakan ungkapan emosional dari pihak yang memiliki tendensi politis, ideologis atau kepentingan tertentu-semisal memanfaatkan kesempatan ikut-ikutan menggebuk musuh yang sedang berseteru.

Kita perlu memahami esensi konflik pada setiap kejadian. Etika beragama dalam hal ini juga perlu ditegakkan penggunaan akal budi dengan melihat kenyataan secara mendalam agar agama yang kita pegang bukanlah agama dalam sindrom “kami/mereka”, melainkan agama yang bisa berkembang secara baik tanpa harus bersitegang karena perbedaan paham.

*FAIZ MANSHUR. Penulis adalah pemerhati masalah sosial agama.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/sunni-syiah-sesat-dan-sindrom/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s