Ihwal Meresensi Buku

Standar

Lama saya tak membicarakan topik menulis resensi buku. Dulu, di masa-masa awal saya belajar menulis, bidang penulisan resensi pernah menjadi garapan khusus. Kebiasaan di Yogya, rentang tahun tahun 1997 silam–kebanyakan penulis muda sebelum mampu menulis esai atau opini–ngresensi buku menjadi garapan yang paling realistis dilakukan.

Alasannya sederhana; menulis opini sulit dimuat karena harus berkompetisi dengan penulis senior, sementara menulis resensi sangat terbuka peluangnya karena rata-rata penulisnya mahasiswa. Sekalipun saya mulanya lebih suka menulis opini, tetap melihat penulisan resensi sebagai bidang garapan yang mengasyikkan. Ada dua hal yang mendorongnya.

1) Saya suka buku dan banyak mendapatkan informasi buku dari resensi, khususnya tiap hari minggu. Dari situ ada pengaruh untuk berbuat sebagaimana para penulis resensi. 2) kalau naskahnya dimuat, selain dapat honor, yang terpenting dapat buku dari penerbitnya. Nah, ini yang paling mempengaruhi. Betapa sedapnya mendapat buku baru tanpa beli. Lebih senang lagi dapatnya dari kantor penerbit langsung. Bisa ketemu dengan redaktur, berlama-lama melihat proses produksi redaksi dan dapat banyak kawan. (Dan sekarang saya jadi redaktur, yang sering juga berbalas budi kepada adik-adik dengan memberi buku terbitan kami untuk diresensi).

Sekarang ini banyak sekali teman-teman muda yang senang meresensi. Tentu kecenderungan trennya berbeda dengan jaman saya yang kala itu belum ada blog, facebook, twitter dan lain-lain. Sekarang media-media personal bertebaran dan dijadikan ajang untuk mengulas buku.  Dari situ saya melihat ada kenyataan lain. Kalau dulu target menulis resensi di kalangan penulis itu satu tujuan, yakni supaya di muat di koran atau majalah, sekarang banyak yang menulis semata karena hobi.

Hal ini tentu positif mengingat setiap orang bisa meresensi dan informasi tentang buku lebih majemuk dengan segala kekurangan dan kelebihannya –tanpa harus bersumber dari informasi resensi yang dimuat di media massa.

Menulis resensi untuk sekedar apresiasi tanpa target di muat di media itu baik, tentu dengan catatan seseorang tetap mau belajar menyusun kalimat, membidik angle, dan menguraikan isi buku secara baik. Yang baik itu pastinya yang bisa bicara secara kritis dan analitis. Maksudnya, tidak sekedar hura-hura menyampaikan kesan, apalagi jika kesan itu sekedar dilandasi suka atau tidak suka. Kalau di media massa para peresensi sering mengeluh karena ruangnya terbatas dan harus sesuai format baku keredaksian, maka dalam penulisan untuk blog, biasanya cenderung bebas tanpa format.

Menurut saya, blog yang tidak membatasi pada jenis khusus model penulisan dan jumlah karekter naskah, mestinya dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan buku secara lebih baik. Sudah tanggung tahu tidak dapat honor, mestinya menulis sekalian yang baik dan serius. Jangan berpikir kebalik, karena tidak mendapat honor lantas tidak serius. Ingat, tulisan adalah cermin kepribadian kita. Kalau kita menulis asal-asalan, nanti orang akan melihat kualitas kita sebagai pribadi yang kuantitatif.

Kalau memang tujuan murninya menyampaikan “fakta” dari sebuah buku, maka tetaplah pegang kaidah jurnalistik. Sampaikan fakta secara baik, tidak berbohong, tidak berlebihan dan seimbang dan menilai kelebihan dan kekurangannya. Itulah tugas jurnalisme sang peresensi. Untuk menjadi peresensi yang baik seperti ini, dua pilar ilmu pengetahuan tetap harus dipegang, yakni memahami dasar-dasar jurnalistik dan wawasan untuk perbandingan. Jurnalistik dalam urusan resensi yang saya maksud ini bukan memakai teori khusus, melainkan menyerap ruh dari prinsip-prinsip jurnalisme. Jika itu dipakai, pastilah akan menghasilkan mutu resensi yang baik. Pada soal wawasan, tentu yang dibutuhkan ialah penguasaan aneka ragam buku yang memadai.

Menulis resensi itu tidak terlalu rumit. Buat saya, teorinya penulisannya sederhana, yakni mengikuti kaidah penulisan opini. Buku yang kita telaah itu adalah objek. Sebagai objek yang dibicarakan ia harus dianalisa melalui pendekatan tertentu yang sekiranya relevan dan tentu realistis. Untuk memperkuat khasanah, kita perlu membandingkan dengan buku lain. Cara membandingkannya pun bukan mengurai satu persatu tema, melainkan cukup dengan mengambil intisari dengan format penulisan beberapa paragraf saja. (Kalau terlalu panjang nanti berubah jadi perbandingan buku. Ndak cukup ruangnya…hehe)

Mudah atau sulitnya menulis resensi itu sangat bergantung pada penguasaan buku yang kita baca. Untuk tidak pusing, janganlah sembarangan buku diresensi. Saya sendiri sekalipun dipasok puluhan buku dari teman-teman penerbit hanya akan memilih jenis-jenis buku yang saya kuasai. Tidak satu dua bidang memang, tetapi yang terpenting saya tidak asing dengan buku tersebut dan memang di dalamnya isinya baik, berguna dan layak diinfokan ke masyarakat. Kalau bukunya isinya jelek dan saya sendiri tidak merasa perlu mendorong orang mengambil manfaatnya, maka saya tidak akan melakukan.[] Sekian saja dulu. Hari sudah siang.(15 menit nulis, tanpa edit langsung di ruang wordpress).

3 thoughts on “Ihwal Meresensi Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s