Karakter Tulisan dan Ilmu Instan

Standar

Mengapa sekarang opini media massa sangat pendek?

Sebelum masuk membahas hubungan ilmu pengetahuan, model penulisan pendek dan hubungan dengan tradisi membaca masyarakat Indonesia era internet, saya merasa perlu mengajukan pertanyaan tersebut.

Beberapakali bertemu teman wartawan dari media cetak, saya mendapatkan beberapa jawaban, antara lain, “karena sekarang orang lebih suka baca pendek, sudah tidak seperti dulu lagi, generasi sekarang serba instan, ruang teks menyusut karena memperkuat visual dengan ilustrasi atau foto, bukan hanya opini yang serba pendek, melainkan liputannya juga pendek,” dan ungkapan sejenisnya.

10 tahun silam, ketika format koran masih lebar, para kolomnis media massa menulis opini/artikel panjangnya rata-rata 7.000 karakter (tanpa spasi). Naskah sepanjang itu cocok untuk format koran dalam satu kolom penuh, atau bersambung, dan cocok untuk dua halaman format majalah semacam Tempo dan Gatra.

Memasuki tahun 2003, sejalan dengan format koran yang menciut, jumlah karakternya diperpendek menjadi 5.000. Masuk pertengahan 2011, semakin pendek lagi. Ada yang bertahan pada 4.000 karakter, ada pula yang mematok panjang naskah 3.000 karakter. Bahkan untuk situs berita seperti Harian Detik, panjang naskahnya hanya 2.500.

Opini, esai, tajuk atau kolom sejenisnya merupakan sajian khusus dari sebuah media untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan. Bagaimanapun, pembaca tidak cukup sekadar mendapatkan informasi. Artinya, rubrik-rubrik tersebut menjadi bagian penting sebagai pemasok ilmu, atau memberikan kesempatan aktualisasi para cerdik-cendekia untuk menyebarkan gagasannya.

Sekalipun tergolong sedikit jumlah pembacanya, tetapi ia punya segmen khusus, terutama pembaca dari lapisan kelas menengah yang gemar berpikir serius dalam memandang persoalan kemasyarakatan. Opini, artikel, dan esai inilah yang kemudian membedakan antara media untuk segmen masyarakat kelas bawah dengan media segmen menengah.

Rubrik opini yang karena di dalamnya menyertakan perangkat analisa tertentu disertai argumentasi ilmiah terkadang butuh ruang yang lebih panjang. Tetapi sekarang format harus pendek. Selain untuk alasan efisiensi ruang, situasi juga mendesak untuk tidak bisa berpanjang-panjang dalam mengulas sesuatu.

Hal ini dikondisikan oleh situasi di mana masyarakat sekarang sangat padat menerima informasi dari berbagai media, selular maupun internet–dan kita tahu, koran/majalah hanya menjadi bagian dari jenis media pemasok berita. Informasi tidak lagi setiap pagi atau berita malam menjelang tidur, tetapi setiap mata terjaga, kita semua dicekoki informasi.

Berjubelnya informasi membuat orang terkondisikan membaca kurang serius dan mencerna sambil lalu. Pergeseran tersebut juga selaras dengan evolusi yang terjadi di internet dengan watak dasarnya yang serba cepat dan mengondisikan orang tak sabaran. Karena kondisi itulah Nicholas Caar, penulis buku The Shallows (2010), menganggap internet berperan mendangkalkan pikiran masyarakat.

Evolusi yang saya maksud itu bisa dilihat pada perubahan di internet. Beberapa tahun lalu, internet merayakan media personal (blog) sebagai media yang luas untuk sebuah tulisan. Ternyata fasilitas yang maksimal itu hanya cocok bagi orang yang sudah mumpuni dalam urusan tulis-menulis.

Kelemahan lain dari blog adalah kurang memiliki nilai interaktif dalam jalinan antarpertemanan, atau komunikasi antarpersonal. Realitas itulah yang kemudian direspons oleh Mark Zuckerberg, dengan mendirikan Facebook. Dari sinilah kemudian muncul perkembangan ide ke arah pembentukan media yang lebih simpel, yakni  twitter.

Dus, Kebutuhan menyampaikan pesan pendek, selain karena kebutuhan mayoritas orang yang lebih suka berkicau ringkas, juga karena berawal dari kebutuhan praktis efektif bin instan gaya masyarakat “sibuk.” Orang-orang sekarang sibuk luar biasa. Jam kerja memang tetap, tetapi beragam media massa, baik online maupun cetak itulah yang menjadikan kita sibuk berpesta melahap informasi setiap saat.

Bukan hanya opini yang harus menyesuaikan. Beritapun serba pendek. Jurnal-jurnal ilmiah edisi cetak yang bertahan dalam gaya lama kurang diminiati. Menimbang rubrik ilmiah di media cetak berada dalam bahtera instanisme, maka ia pun dituntut menyesuaikan dengan gaya penulisan model “status”–dengan kalkulasi ketimbang ditendang dari percaturan publik.

***

Di luar arus itu, sebenarnya kebutuhan untuk “lebih mendalam” tetap ada di masyarakat. Kita tahu, pembaca berurusan dengan segmentasi. Sekalipun segmen kelas menengah Indonesia yang sewajarnya gemar menyantap menu bergizi dari pengetahuan berbobot telah berganti selera sebagai konsumen menu instan– sekaligus menjadi pembuat status pendek–tetapi  akan tiba saatnya kesadaran untuk kembali menyantap menu bergizi.

Sejarah pernah memiliki bukti, era 1960-an, buku tebal mendapat ancaman dari televisi dan radio. Tetapi kemudian masing-masing media itu menemukan jati dirinya sebagai sesuatu yang dibutuhkan secara berbeda. Itulah mengapa bacaan-bacaan panjang berupa kertas tebal itu bertahan hingga sekarang.

Mungkin saja buku cetak tetap sesuatu yang akan terbenam –dan hanya sisa sekian persen– oleh arus deras digital di masa mendatang. Yang jadi pembicaraan penting bukan dikotomi cetak versus online-nya. Internet menjadi sesuatu yang merisaukan karena kecepatan arus berita dan isi yang pendek. Tetapi kita tahu sekarang evolusi pertumbuhan digital memungkinkan menu-menu bergizi dari pengetahuan berbobot dari e-book dan rubrik-rubrik ilmiah panjang lainnya.

Dengan kata lain, apakah kita tetap mau serba instan mengonsumsi berita dan juga sibuk menghabiskan waktu sebagai pemasok berita instan tiada henti sampai umur kita menua, atau mahir memilah bacaan secara kritis dan beraktualisasi dengan cara yang tepat sehingga menghasilkan manfaat personal dan sosial yang lebih baik?

Menyempatkan merenung dan mengubah pola hidup tetaplah dibutuhkan untuk menyongsong hari esok. Orang-orang yang menang dalam hidup bukan karena sekedar kemampuannya mengikuti perubahan, melainkan karena kemampuan mengendalikan diri. [] Faiz Manshur.

One thought on “Karakter Tulisan dan Ilmu Instan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s