Resensi di www.horison.or.id

Standar

Di era sekarang, menulis mudah dilakukan oleh siapapun. Tetapi untuk meraih predikat penulis tulen tidak sembarangan diwujudkan. Sebab, untuk mendapat status itu, seseorang harus melahirkan banyak karya tulis yang diakui oleh publik melalui media massa/penerbit. Artinya, tidak cukup rajin menulis di media jejaring sosial online atau web personal. 

Genius Menulis merupakan sebuah pedoman kerja untuk mewujudkan karya publik. Dengan caranya yang khusus, yakni menelaah secara mendalam hubungan penulis, karya, media massa, dan masyarakat, penulis buku ini sangat ambisius melakukan pembaruan. Hal itu paling tidak bisa dilihat dari dua sisi.

Pertama,menulis bukan sekedar obsesi diri untuk popular, sekedar uang, apalagi hanya untuk menambah kredit prestasi di lingkungan kerja, melainkan berurusan dengan idealisme untuk melakukan transformasi sosial, pengembangan ilmu pengetahuan, pembaruan hidup dan mengusung nilai-nilai etik tertentu.

Kedua, menulis merupakan dunia profesi sepanjang hayat. Ia bukan sekedar pekerjaan sambilan atau profesi praktis harian dalam dunia perusahaan, melainkan sebagai sebuah aktivitas penuh guna mencapai derajat mutu karya besar yang itu maksudnya ialah untuk memajukan kehidupan umat manusia.

Melihat kenyataan itu, Faiz Manshur merasa perlu menandaskan profesi penulis harus dihayati sebagai bentuk tanggungjawab sosial yang mulia. Seseorang yang ingin menjadi penulis,  tidak cukup bekerja di wilayah kerajinan (craft), melainkan butuh pembelajaran hidup, atau lebih tepatnya seni hidup menjadi penulis. Maksudnya seni di sini ialah metode perjuangan hidup untuk mengatasi problematika hidup. Nah, penulis tidak cukup hanya mahir menyusun naskah, melainkan harus pula mahir mengemas karya secara baik, bekerja rutin secara baik, memiliki pandangan hidup yang baik, dan seterusnya.

Agar tercapai cita-cita itu, Faiz menggulirkan pentingnya hidup di jalan genius. Menurutnya, “genius bukanlah istilah sakral, melainkan istilah untuk menyebut “orang yang memiliki kemampuan lebih dalam berpikir dan berkarya”. Dengan modal kemauan dan kerja keras, setiap orang bisa memaksimalkan potensi pemikirannya sehingga menghasilkan karya yang luar biasa.(Halaman 29).

Genius Menulis menandaskan prinsip kerja keras dan kerja cerdas menjadi sesuatu yang sangat penting dikuasi oleh penulis. Tanpa keduanya, seseorang bisa jadi mati kutu di tengah jalan. Kerja keras mungkin banyak dilakukan para penulis, tetapi tidak setiap penulis memiliki kecerdasan, terutama pada wilayah publikasi, pemilihan tema (produk) yang ditulis dan lain sebagainya. Kenyataan membuktikan, banyak penulis dengan karya idealis tetapi tidak bisa dinikmati banyak orang karena tidak laku. Banyak sebab dalam hal ini. Buku ini secara luas membicarakan masalah kelemahan para penulis seperti itu, disertai penyelesaiannya. Solusinya bukan dengan memotivasi, melainkan mengangkat fakta-fakta hubungan antara penulis, redaksi media massa/penerbit, pasar buku, dan masyarakat bertradisikan lisan seperti Indonesia.

Selain cerdas memahami wilayah produksi seperti itu, Genius Menulis juga mengajarkan ajaran cerdas dalam mendudukkan diri. Maksudnya, seorang penulis, dengan latar belakang apapun, dalam situasi hidup apapun dan bahkan kelemahan yang sangat kritis mesti harus mampu mengatasi setiap hambatan dan mampu memaksimalkan potensi.  Tawaran gagasan di dalamnya bukan sekedar memakai pendekatan ilmu motivasi, melainkan melibatkan paham-paham ilmiah seperti ilmu evolusi, genetika, psikologi, filsafat, etika dan lain sebagainya.

Apa yang dikatakan Remy Sylado dalam pengantar buku ini memiliki alasan. Novelis dan Musikus terkemuka itu menyajikan apresiasi secara serius dan bukan semata memberi polesan untuk berbasa-basi.  “Pengetahuan (untuk menangkaskan akal budi dalam bidang tulis-menulis) itu dipetik, diramu, dilaraskan menjadi seperti asam di gunung dan garam di laut dan menjadi satu dalam kuali. Dan, di situlah cerdik-cendekianya Faiz Manshur memainkan perannya sebagai koki.

Lebih dari sekedar buku motivasi, sebenarnya buku ini layak disebut sebagai buku pembangunan mental hidup para penulis. Mentalitas yang tangguh sangat dibutuhkan penulis karena seorang penulis tak akan lepas dari kebutuhan belajar sepanjang hidup, terus mengasah kemampuan diri, mengenal ruang kehidupan yang maha luas dan yang tak kalah penting adalah kewajiban untuk mampu mengatasi persoalan hidup, baik urusan internal keluarga maupun urusan eksternal dalam ruang publik kemasyarakatan.   Selamat membaca.M.Yusuf. Peminat Buku/ (Sumber Naskah: http://horisononline.or.id/rampai-rampai/genius-menulis-penerang-batin-para-penulis )

Judul: Genius Menulis: Penerang Batin Para Penulis/Pengarang: Faiz Manshur/Pengantar: Remy Sylado/Editor: Miftahudin/Penerbit: Nuansa Cendekia, Bandung (Anggota IKAPI)/Desain Sampul: Laksmitha Ratu Indira./Tahun: Cetakan I Januari 2012/Tebal: 288 Hlm./ISBN: 978-602-839454-3/Harga: Rp 56.000.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s