Menulis untuk Media Massa

Standar

Ada banyak penulis yang membangun karirnya melalui jalur penulisan media massa seperti Koran, Tabloid, Majalah dan media online. Media massa di Indonesia biasanya memberikan tempat kepada para penulis lepas (yang tidak bekerja di media tersebut) untuk mengisi rubrik seperti Opini, Esai, Puisi, Resensi Buku, Resensi Film, dan terkadang juga menerima naskah liputan.

Pada penulis yang sudah terbiasa berurusan dengan mediamassa, menulis opini, esai, atau resensi bukan hal yang sulit. Saking mudahnya, merekanampak produktif dengan menulis cepat dan dalam waktu seminggu bisa dimuat beberapa naskah berbeda di beberapa media yang berbeda. Ini berbeda dengan penulis pemula yang sering berkutat dalam kebingungan dengan pertanyaan, “bagaimana supaya naskah kita bisa dimuat.”

Pada prinsipnya naskah untuk mediamassa mesti memperhatikan visi media tersebut. Dengan memahami visi tersebut, kita bisa memahami arah redaktur yang menginginkan jenis naskah tertentu. Masing-masing media memiliki visi yang berbeda karena setiap mediamassa memiliki segmen pembaca yang berbeda.

Namun demikian bukan berarti setiap jenis tulisan atau isi dari tulisan hanya layak untuk sebuah media. Misalnya dalam artikel opini politik. Koran Harian Kompas, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Koran Tempo dan beberapa koran lain bisa menampung visi yang sama. Letak perbedaan yang menonjol pada opini politik pada koran-koran seperti itu biasanya hanya pada soal bentuk dan panjang pendeknya tulisan. Sedangkan secara umum visi media seperti itu tidak jauh berbeda. Artinya manakala Anda menulis opini politik untuk kompas, bisa jadi itu layak untuk mediaIndonesia.

Di muat atau tidaknya sebuah naskah pada prinsipnya terletak pada bobot naskah itu sendiri. Sekalipun Anda memiliki deretan gelar tetapi kalau tulisannya melanggar kaidah kaidah penulisan rubrik tersebut tentu sulit untuk berharap dimuat. Sementara seorang penulis yang tanpagelar sama sekali tetapi mampu menunjukkan tulisan yang baik, akan mendapat tempat.

Di koran-koran Harian mediamassamenyediakan rubrik opini yang setiap hari memberikan kesempatan para penulis luar untuk mengirimkan naskahnya. Opini harian ini selain membutuhkan kemampuan analisa yang baik juga membutuhkan nilai aktualitas. Analisa yang baik tidak diukur dari latarbelakang pendidikan (gelar), melainkan oleh basis logika dan arah pemikiran sang penulis. Sedangkan aktualitas itu menyangkut kebutuhan nilai berita dalam mediamassa.

Artinya, kita sulit berharap naskah dimuat manakala topik yang diutarakan berseberangan dengan beberapa isu yang sedang hangat di masyarakat. Memang tidak semua rubrik opini selalu aktual. Sebagai contoh harian kompas yang dengan beberapa rubriknya juga menyediakan ruang penulisan yang lepas tanpa mempertimbangkan sisi aktualitas. Misalnya opini di rubrik humaniora yang terbit harian. Di sana banyak ditemukan artikel tanpa nilai aktualitas sering muncul.

Selain menyediakan opini/artikel harian, mediamassa juga secara khusus menyediakan rubrik lain semisal esai budaya, sastra (fiksi, puisi) dan resensi buku atau film yang secara khusus hadir pada hari libur, terutama minggu, atau sebagian pada hari sabtu. Rubrik-rubrik tersebut juga memungkinkan kita untuk aktif menulis.

Selain dibutuhkan mutu tulisan yang baik, rubrik-rubrik tersebut juga mempertimbangkan nilai aktualitas. Hanya saja aktualitasnya berbeda dengan rubrik opini harian.

Hubungan penulis dan Redaksi Media Massa

Menjabarkan satu persatu jenis naskah apa yang dimuat dan tidak akan dimuat di mediamassa sebenarnya terlalu rumit menginggat masing-masing media memiliki arah tersendiri. Sebanyak kiat apapun tidak akan menjawab pertanyaan “bagaimana supaya naskah kita dimuat” kalau kita tidak memahami secara langsung kebutuhan-kebutuhan masing-masing media itu. Apakah dengan begitu kita harus kenal dekat dengan penjaga redaksinya?

Mengenal dekat itu baik. Kita bisa bertanya langsung kepada redaksinya sehingga kita mendapatkan penjelasan yang detail. Biasanya kita bisa mengetahui hal itu saat bertemu dalam forum antar redaksi dengan para penulis atau pembaca media-massa yang bersangkutan, atau saat kita bertemu tanpa sengaja.

Tetapi menunggu ilmu dari dua hal tersebut sebenarnya tidak efektif. Apakah kita perlu menelpon untuk mengajak diskusi redaksi?

Agaknya hal ini juga sulit dilakukan dan hanya akan menganggu bagian redaksi untuk menjelaskan satu kriteria naskah dimuat atau tidaknya. Cara ini sangat tidak lazim dilakukan oleh para penulis terhadap redaktur, kecuali jika sebelumnya ada hubungan pertemanan yang akrab.

Karena ketiga hal di atas agaknya tidak akan membantu langkah praktis, maka cara yang paling mungkin adalah memahami arah media itu sendiri dengan terus memperhatikan rubrik-rubrik tersebut. Dengan seringnya membaca kebiasaan media menurunkan isi tulisan dari para penulis yang dimuat, kita akan tahu kebiasaan.dan memang memahami kebiasaan itu lebih penting ketimbang sekedar tahu criteria.

Banyak para penulis pemula, atau penulis yang kurang jeli memahami media hanya bersandar para kriteria. Benar kriteria itu penting. tetapi di atas criteria kita redaksi pada akhirnya akan memilih naskah yang terbaik di antara naskah-naskah yang masuk. Asumsinya setiap hari ada 10 naskah yang masuk ke dapur redaksi.

Dari 10 naskah tersebut redaksi harus memutuskan 2 naskah saja yang bisa dimuat. Oleh karena itu, sekalipun 10 naskah tersebut masuk kriteria, pada akhirnya yang akan dipilih hanya 2 naskah saja. Maka, mau tidak mau kita harus paham terhadap situasi ini sehingga kita harus mampu menghasilkan tulisan yang selain bersandar pada criteria kebiasaan, juga harus memiliki nilai lebih di atas rata-rata.

Setelah memahami pentingnya nilai kualitas seperti ini, apakah setiap naskah yang ditolak adalah naskah yang tidak berkualitas? Eit, tunggu dulu. Redaksi, sekalipun di dalamnya memiliki kompetensi analisa yang baik, bukan berarti mereka adalah dewan juri lomba. Sebagian awak redaksi hanya butuh seseorang yang memegang keputusan untuk menilai mana naskah yang layak dimuat dan mana yang tidak.

Karena adanya unsur subjektif inilah terkadang faktor pertemanan, faktor selera atau bahkan mungkin juga karena faktor kebetulan naskah bisa dimuat. Faktor pertemanan tidakusah ditutup-tutupi, sebab antara penulis mediamassa dan redaktur adalah spesies yang serumpun dalam pergaulan.

Para penulis yang dimuat di mediamassa, selain memang memiliki kompetensi yang baik dalam menulis terkadang didukung oleh faktor pertemanan. Ini bukan berarti selamanya hubungan mereka bersifat kolusi, melainkan bisa juga bermakna positif.

Salahsatu makna positif dari hubungan pertemanan itu misalnya, sang penulis-karena kedekatannya, -bisa melayani kebutuhan redaksi dengan isu, tema dan kekuatan nilai tulisan sehingga redaksi memperhatikan secara khusus, bahkan tidak jarang menghubungi penulis untuk terus menulis. Seorang penulis yang sekalipun kenal dekat dengan redaksi tidak berarti bisa mudah mendapat tempat.

Bahkan kalau seringnya penulis itu mengirim naskah berkualitas jelek atau tidak sejalan dengan pakem media, sang redaktur sendiri yang akan dibuat tidak enak. “Ini orang menulis tanpa memperhatikan kebutuhan kami. Jadi sekalipun dia temanku aku keberatan memuatnya,” kata seorang teman penulis yang bekerja sebagai redaktur opini di mediamassa.”

Selain masalah di atas, ada juga faktor lain yang menentukan dimuat atau tidaknya sebuah naskah. Bisa jadi karena kebetulan tepat momentum dan cocok bagi redaksi sebuah naskah yang tidak begitu bagus isinya harus dimuat. Biasanya hal ini terjadi manakala redaksi tidak menemukan naskah lain dari para pengirim.

Tidak dimuat juga bukan berarti tidak berkualitas atau tidak layak. Bisa jadi karena Anda telat mengirim beberapa jam sebelum deadline redaksi sedangkan sebuah naskah yang sudah dipilih terlanjur sudah masuk ruang edit dan siap naik cetak. Tidak jarang redaktur mendapatkan naskah yang bagus tetapi karena datangnya terlambat maka mereka dengan berat hati tidak bisa membuat naskah Anda tersebut.

Di atas segala ketidakjelasan itu, seorang penulis tidak boleh terlalu berkalkulasi rasional atas segala hal.Ada baiknya berpikir positif bahwa kita menulis bukan semata tujuan untuk dimuat di media yang kita inginkan. Sekiranya naskah tidak dimuat, kita bisa segera melempar ke media lain yang kita anggap layak mendapat kiriman naskah dari kita.[] (Naskah ini hanya merupakan penggalan dari naskah panjang di buku Genius Menulis 2012.Materi selengkapnya ada di buku tersebut)

2 thoughts on “Menulis untuk Media Massa

  1. agus

    saya ingin menulis. di SD Negeri pinang 3 tangerang terdapat guru yg menerima suap karena pas pembagian raport semua wali murid pun tidak percaya atas anak yg seharusnya berprestasi menjadi sebaliknya. bagaimana bisa kejadian ini benar-benar transparan. yg saya bingung kejadian tersebut diulangi tiap semester. tetapi tidak ada yg mengambil tindakan. jadi bagaimana cara berpikir guru tersebut???

    • Memang kacau. Banyak yang seperti itu. mentalnya sudah rusak. Kerusakan itu biasanya diakibatkan oleh pengaruh kebiasaan. Artinya kebiasaan buruk dipelihara, dan bahkan diketahui orang tetapi tidak ada yg mempersoalkan sehingga dianggap lumrah. Harus ada keberanian seseorang untuk menegurnya. Jika secara personal dinasehati susah, perlu dilaporkan ke kepala sekolah. Jika kepala sekolahnya juga rusak, laporkan ke bagian yg lebih atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s