Kutubuku atau Pengundang Kutu?

Standar

Mencintai buku itu baik dan seharusnya demikian. Tetapi sering bernafsu memborong buku tanpa seleksi bisa jadi pemborosan dan bisa juga mengakibatkan kehilangan utama membaca itu sendiri. Saya katakan boros karena tujuan dari membeli buku adalah untuk dibaca dan kemudian dipahami. Jika buku yang dibeli tidak dibaca–bahkan tidak dipahami secara baik– maka di situlah letak pemborosannya. Adapun jika niatnya membeli memang untuk koleksi, gagah-gagahan, atau investasi, tentu itu urusan lain.

Pada tulisan ini saya membatasi topik “buku yang dibeli berhubungan dengan pencapaian ilmu pengetahuan.” Dari sini, ada kebutuhan berupa panduan untuk tujuan efektivitas “menggali” ilmu dari buku. Orang-orang yang kecanduan buku memiliki perbedaan “pola konsumsi” dengan mereka yang membeli buku untuk tujuan kewajiban eksternal (seperti tugas kuliah, tugas perusahaan atau tugas organisasi). Pecandu buku membaca karena kebutuhan naluriah, di mana akalbudinya senantiasa membutuhkan “menu” bergizi dari buku tak terikat waktu dan tempat. Karena naluri inilah mereka gemar belanja buku dan mengabaikan belanja, termasuk mengabaikan kegiatan lain.

Di atas segala kelebihannya, “hukum alam” selalu mewanti-wanti kelemahannya. Salahsatu kelemahan mendasar (dari kebanyakan) makhluk bernama kutubuku ialah; 1) Tidak memiliki skala prioritas atas buku yang dibaca, 2) Mudah tergoda saat melihat (tema) buku yang disukainya, dan 3) Nafsu bacanya  tidak diukur oleh kemampuan dirinya, baik dari sisi waktu maupun target memahami buku secara utuh dan mendalam.

Skala prioritas itu penting karena untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang mendalam tidak cukup hanya dengan satu atau dua buku. Butuh sekian buku untuk menjadikan pikiran mendapatkan pasokan gizi yang baik. Di sini, diperlukan perilaku konsumsi yang terpola. Misalnya dalam masa tiga bulan mencanangkan fokus membaca filsafat. Dengan mengukur kemampuan diri, kita bisa memilih sekian buku filsafat yang layak dipilih untuk alokasi tiga bulan.

Caranya, patok saja 10 buku dalam masa tiga bulan. Metode membaca secara fokus merupakan salahsatu strategi untuk meraih wawasan sekaligus kedalaman ilmu-tentu dengan pengertian kita memiliki metode komparasi yang terukur. Kelemahan fokus seperti ini memang ada, yakni kebosanan, atau sedikit tertinggal terhadap munculnya buku-buku baru yang harus ditunda membacanya.

Pada kelemahan pertama kita harus membenahi mentalitas kita supaya setan bernama bosan itu minggat. Adapun kelemahan yang kedua bisa dicuekin saja karena masa tiga bulan tertinggal buku tidak jadi masalah.

Konsentrasi pada tema-tema tertentu seperti ini membutuhkan pra-kondisi pikiran. Kita harus mematok prinsip untuk konsisten selama masa yang telah kita tentukan. Tidak harus tiga bulan, bisa saja cukup dua bulan, bahkan mematok satu bulan untuk pengetahuan yang tergolong ringan (menurut ukuran kita masing-masing) dan bisa pula lebih lama hingga 6 atau 12 bulan untuk mendapatkan pengetahuan baru dari ilmu baru.

Perilaku sistematis dalam membaca seperti ini akan lebih baik ketimbang membaca tanpa aturan sehingga timbul pemborosan, baik finansial maupun waktu. Jika kita memang membeli buku untuk dibaca, jumlah banyak itu penting. Tetapi bukan buku yang dibeli lalu ditimbun, melainkan benar-benar dibaca secara seksama dan benar-benar menghasilkan transformasi pemikiran.

Membeli buku tanpa penentuan tema juga sering menjadikan kita kecewa. Prinsip teliti sebelum membeli itu penting. Intip review buku sebelum ke toko. Gali juga muatan-muatan isinya dan pandangan orang tentang buku yang hendak dibeli. Metode meneliti seperti ini merupakan kedewasaan kita mengontrol diri dari godaan judul, iklan, dan sejumlah dorongan emosional saat berada di toko buku. Main samber lalu bayar, kemudian periksa belakangan bisa mengakibatkan pemborosan. Sudah banyak kasus kecewa karena isi bukunya tak sehebat iklan dan judulnya.

Berlaku boros itu artinya secara tak sadar mengikuti perilaku konsumerisme; belanja berlebihan karena dorongan nafsu. Sedangkan belanja hemat itu perilaku konsumsi; membeli untuk tujuan memenuhi kebutuhan yang memang harus dipenuhi. Jadilah konsumen yang bijak dan cerdas agar Anda benar-benar menjadi kutubuku, bukan penimbun buku untuk mendatangkan kutu.

Memang tidak setiap buku harus diteliti detail sebelum dibayar. Kita juga tahu ada banyak motif bukan karena judul maupun tema  melainkan karena kita menyukai sang penulis. Untuk yang satu ini– jika Anda memang harus membeli– sambar saja.

Saya menulis ini semata untuk para pembaca. Tentu berbeda urusannya dengan kolektor buku. Lain waktu saya akan bahas bagaimana metode mengoleksi buku –yang ujung-ujungnya juga untuk kepentingan ilmu dengan pola investasi.[] Faiz Manshur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s