Yang Mulia dari Amal-Baca (1)

Standar


“Jika ingin meraih keberhasilan, maka usaha harus dilakukan. Jika ingin keberhasilan itu lebih baik, maka usahanya pun harus baik.” 

Bagaimana usaha yang baik itu?

Saya merasa perlu menjadikan hal ini sebagai piranti dasar sebelum meyakini kegiatan membaca sebagai hal penting dalam hidup ini. Ini semata supaya kita memiliki fondasi yang konstruktif. Konstruksi tersebut perlu direka-reka supaya kita—selain memiliki target dalam pencapaian menuju keberhasilan—juga supaya kita menyadari kelebihan dan kekurangan yang sudah kita lakukan.

Piranti dasar utama yang harus ditegaskan dalam dunia membaca mula-mula ialah kewajiban. Sebagai sesuatu yang tak boleh ditinggalkan, maka ia harus kita amalkan sesuai tanggungjawab dan akan lebih baik jika dilakukan dengan sepenuh hati; rasa suka, bahagia, antusias, tak kenal lelah dan selalu merasa butuh.

Jika dasarnya adalah kebutuhan, maka, urusan apapun akan menjadi nomor kesekian, dan membaca nantinya akan menjadi prioritas. Tak harus nomor satu karena hidup kita tidaklah untuk semata membaca. Membaca memang luas pengertiannya, tetapi yang kita bicarakan di sini ialah membaca literatur, seperti buku, majalah, koran, situs online, dan sejenisnya.

Tetapi sebagai hal yang utama, kelak kita akan membuktikan bahwa dengan cara itu, kita telah menjadikan diri kita memiliki nilai lebih, ciri khas, karakter personal dari ganjaran usaha membaca selama bertahun-tahun, bahkan bisa menjadi gerakan transformasi sosial.

Arah, dengan target seperti itu, penting dipahami mengingat kegiatan membaca itu merupakan kegiatan manusia beradab, maksudnya telah menjadi hak milik manusia yang ingin perbaikan di segenap bidang kehidupan yang semestinya untuk menjadikan pola hidup manusia berpijak pada adab di segala hal.

Mengingat target yang mahabesar itu, kiranya penting kita melangkah dari sesuatu yang simple, karena perjalanan sejauh apapun selalu dimulai dari langkah kecil pertama. Itulah mengapa penting juga untuk sementara waktu tidak memasukkan problem budaya Indonesia yang  lisaniah, cangkeman, atau bertradisikan cocot.

Tahan nafsu untuk tak usah terlalu memikirkan kemelaratan literasi dalam masyarakat kita. Ayolah kembali pada urusan diri, memikirkan perbaikan tradisi membaca personal agar benar-benar maksimal, barulah nanti sesi lain kita bicarakan hal itu. Tunda juga pembicaraan seputar tradisi menulis.

Membaca pada dasarnya ialah untuk menggali ilmu—dengannya kita memperkuat pengetahuan yang arahnya kita gerakkan untuk tujuan diri menjadi pikiran kita pintar, mahir, cerdas, berwawasan, dan mentalitas hidup kita berbudi-luhur,rendah hati,mampu menyadari kelemahan diri sehingga konsisten untuk senantiasa belajar, serta syukur-syukur kita memiliki tanggungjawab untuk memikul amanat mulia sebagai “guru” penyebar kebijaksanaan.

Dengan meletakkan dua kepentingan, yakni pembangunan pemikiran dan pembangunan mental/karakter, sejatinya kita sedang bicara samudra membaca yang mahaluas dan tentu harus diwacanakan dalam dua konteks yang kokoh dalam dua ruang, yakni seputar inspirasi, ide, cakrawala, wawasan, juga idelogi dan satu ruang lagi masuk ke wilayah praktis yang isinya berupa ketrampilan, kecakapan, rumus-rumus teknis efektif, kemahiran memilih jenis bacaan, dan hal-hal yang sifatnya how-to lainnya.

Di atas dasar bangunan seperti itu, membaca akan kita arahkan sebagai sesuatu yang mahapenting dalam hidup ini untuk menolak kesia-siaan dari usaha keras kita. Karena kita telah menjadikan membaca sebagai kebutuhan, maka pula kita juga perlu menyiapkan jawaban untuk sebuah pertanyaan; “kalau sudah jadi kutubuku dan kemudian kita mendapat julukan sebagai sebagai spesies yang sering disebut intelektual, maka untuk apa itu semua?”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi itu bukan hal remeh karena akan menyasar pada sisi terdalam dari sisi insaniah kita yang hidup dalam ruanglingkup kehidupan sosial. Dan, karena itu pula kelak ada semacam tanggungjawab sosial di mana seorang intelektual (yang kutubuku itu) tidak menjadi manusia yang terasing; menjadi makhluk unik sejenis alien yang enak disawang tetapi tak berguna sebagai penggerak sosial. Atau masuk ke wilayah perbandingan yang buruk, menjadi elit yang bergaya tetapi fungsinya naïf karena tak berguna luas bagi lingkungan dibanding ketua organisasi Karang Taruna atau kalah fungsional ketimbang ketua geng motor.

Hal yang naïf seperti ini perlu mendapat perhatian dari diri kita agar kegiatan membaca yang mulia tak cuma jadi kerjaan hobi yang genit yang muaranya hanya untuk memenuhi konsumsi diri. Lebih buruk lagi kalau aktivitas membaca hanya sebagai tren kegiatan yang itu maksudnya untuk pelarian semata.

Benar bahwa membaca, apapun motifnya tentu baik, tapi nilai kebaikannya amat disayangkan jika hanya dihubungkan dengan cara minimalis semacam; lebih baik daripada bengong, lebih baik daripada hura-hura, lebih baik daripada kongkow-kongkow, atau lebih parah lagi seminimalis logika yang jauh dari adab modern, yakni berpikir; membaca lebih baik daripada tidak.

Seyogianya amal membaca—karena ini kegiatan yang mulia—tidak direndahkan derajatnya ke wilayah-wilayah dangkal seperti itu yang itu sebenarnya tidak beranjak dari tradisi lisaniah yang dekat dengan produksi comberan mulut, atau yang sering disebut bualan.

Dari sinilah kemudian saya merasa penting mendudukkan kegiatan membaca di piramida tertinggi dengan meninggalkan sikap minimalis, dan menjadikannya sebagai prioritas selain prioritas hidup kita yang lain,seperti urusan makanan, sandang, papan dan aktualisasi diri lainnya.[] Bersambung….ke arah pembicaraan, “membaca bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai cara….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s