Alquran dan Dua Jenis Korupsi

Standar

Pekan ini media massa ramai mengangkat pemberitaan korupsi pengadaan Alquran di Kementerian Agama. Ada “nilai lebih” dalam kasus ini. Kalau biasanya kasus korupsi menjadi berita biasa, kali ini agak sensasional karena istilah “kitab suci”.

Asumsinya, Alquran: sebuah pedoman hidup umat beragama terbesar di Indonesia yang di dalamnya memuat kebijaksaan mulia sehingga, seperti laku korupsi (baca: mencuri) merupakan sesuatu yang bertentangan dengan Alquran. Dengan kata lain, Alquran yang melarang keras korupsi itu kini sedang dijadikan objek korupsi.

Sebagian orang memiliki sikap yang lebih dari biasanya karena terdapat ironi dan anomali. Namun—tentu saja tanpa bermaksud meremehkan korupsi Alquran—tidak semestinya koruptor “dipojokkan” lebih kuat karena alasannya adanya istilah kitab suci.

Mesti dijernihkan, pertama, tidak ada ajaran agama, atau bahkan peraturan yang menegaskan korupsi kitab suci lebih buruk dari korupsi barang lain. Dalam rasionalitas objektif hukum (baik hukum Islam maupun hukum negara Indonesia), semua korupsi adalah sama.

Kedua, kita mesti memahami karakter korupsi di Indonesia bukanlah barang tabu, sekalipun normativitas hukum berbicara lain.

Perilaku korup bukan hal yang mengagetkan dan itu terus terjadi—dengan situasi politik yang masih seperti ini— dan pastinya masih akan berlanjut. Hanya kemauan yang lebih dari aparat penegak hukum dan kesadaran para pelaku untuk bertobat, serta calon pelakunya untuk tidak mengikuti pendahulunya.

Melalui dua alasan tersebut saya ingin mengatakan, korupsi—entah itu korupsi alat peraga pendidikan, semen bangunan Wisma Atlet Palembang atau Hambalang, serta yang lainnya—tetaplah kebangeten. Pihak pengutuk yang sungguh-sungguh benci dengan korupsi maupun yang pura-pura mengutuk karena alasan politik—semestinya juga memahami bahwa korupsi telah menjadi bagian dari profesi.

Korupsi sebagai profesi itu lebih pas sebagai penilaian dibanding korupsi sebagai budaya, karena sesungguhnya wilayah budaya lebih luas daripada profesi. Kita tak bisa mengatakan mayoritas penduduk negeri ini telah memiliki budaya korupsi. Tetapi akan lebih pas jika disebut profesi karena nyata-nyata pelakunya ada di lingkungan institusi negara.

“Korupsi sebagai profesi” tentu memiliki rasionalitas. Sejalan dengan “objektivitas” yang menjadi karakter dasarnya adalah ketiadaan tebang pilih dalam melihat objek. Seperti para bisnis yang dilakukan kaum profesional, mereka tak perlu pilih-pilih kecuali satu hal, yakni bisnis yang menguntungkan.

Jadi, apa pun objeknya, jika itu menguntungkan, pantang ditinggalkan. Ini Lantaran rasionalitas seperti itu, “koruptor yang baik” juga tak perlu membedakan objek Alquran dengan semen, kayu, besi karena yang dicari bukan barangnya, melainkan nilai yang wujudnya adalah uang.

Korupsi Ayat

Pada lain pihak yang terjadi kasus korupsi Alquran, dan yang ini sungguh-sungguh, biasanya justru dilakukan umat Islam yang berpikir sempit, yang sekarang sering dijuluki “Muslim Radikal”, “Preman Berjubah Islam”, atau “Politikus Pengusung Syariat Islam”.

Mereka sering mengorupsi ayat-ayat Alquran, maksudnya ialah mengambil ayat yang sekiranya cocok sesuai kepentingannya (baca: hawa nafsunya), dan mengabaikan ayat-ayat lain yang dianggap tidak cocok. Kegemarannya memaksa pendapat orang lain dengan dalil parsial Alquran merajalela di mana-mana, dan karena itu mereka sering berpikir bahwa pihak yang menentangnya adalah kafir.

Pada dasarnya, korupsi dan pemaksaan kehendak selalu berkait. Beragam kasus korupsi yang terjadi selalu berhubungan dengan strategi dan cara yang dipaksakan untuk melanggar aturan dan memaksa pihak lain untuk tidak tahu rekayasanya.

Oleh karena itu, para pelaku korupsi biasanya memiliki kecenderungan berbohong atau gemar bersilat lidah membela diri ketika pihak lain menentang pendapatnya. Lebih jauh dari itu, mereka juga berani mengatasnamakan Tuhan dengan sumpah untuk membentengi dirinya.

Menimbang realitas di atas, korupsi apa pun jenisnya pada akhirnya sama mudaratnya. Dengan sungguh-sungguh memaknai korupsi sebagai kriminal, sudilah kiranya kita tidak tendensius “memojokkan” pelaku korupsi (uang) pengadaan Alquran itu dibanding korupsi jenis lain.

Pada sisi yang lain kita pun harus menyadari bahwa korupsi ayat yang sering dilakukan pengkhotbah korup itu juga membahayakan kehidupan. Semua bukti telah nyata adanya. Oleh karena itu, pelaku korupsi tak memiliki pola pikir tebang pilih, kita yang menentangnya pun mestinya proporsional dan objektif dalam menilai. Mari membenci korupsi sampai ke dasar hati tanpa pandang bulu. (Sumber: Sinar Harapan, 2 Juli 2012).

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial-budaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s