Bara Empati Puasa

Standar

Dari mana datangnya empati? Dari kesamaan rasa turun ke hati. Dari mana datangnya keadilan? Dari harapan menuju tindakan!

Ramadan datang kembali. Sebulan penuh umat Islam akan melakoni ritual guna mewujudkan hakikat ajaran Ilahi dalam bentuk amal insani. Selain penting melakoni hidup serbarepot selama sebulan penuh, ada pentingnya melihat makna puasa dalam dimensi kehidupan yang lebih luas.

4-F

Richard Brodie (2006), seorang pemikir psikologi-behavior memperkenalkan sendi kehidupan spesies hewan dengan rumus 4-F, yakni F; fighting (lawan), fleeing (kabur), feeding (makan), dan finding a mate (berhubungan kelamin).

Melalui rumus ini, Brodie ingin memperlihatkan bahwa kita yang mengaku berbeda dengan hewan sekalipun tidak akan lepas dari kebutuhan untuk “melawan” saat diri kita ditekan, “kabur” saat kita tidak mampu melawan, “makan” karena urusan dasar tubuh, dan “adu-kelamin” karena kebutuhan hormon dan juga (kebutuhan) untuk keberlangsungan hidup berketurunan. Keempatnya telah menjadi perkara naluriah.

Sepanjang hidup, setiap spesies, termasuk manusia, terikat dengan rumus 4-F di atas. Di sini, harmoni untuk keempatnya menjadi kebutuhan dasar yang seharusnya diperjuangkan secara berkelanjutan.

Mengapa? Karena sejarah memiliki fakta, untuk urusan distribusi makanan dari sumber daya alam ini terganggu oleh apa yang disebut kesenjangan –yang itu lahir dari egoisme bernama keserakahan. Ada yang berlimpah (statusnya minoritas) dan ada yang kekurangan (dalam jumlah mayoritas).

Lebih jauh menilik dari cara pandang evolusi, spesies yang kurang pasokan makanannya akan mudah punah, sementara spesies yang bisa mapan oleh makanan akan lebih langgeng. Atau –jika tidak sampai mengalami kepunahan– paling tidak terjadi kerusakan pada rasa aman (harmoni), makanan, dan kerusakan perkawinan. Semua itu terjadi akibat munculnya keserakahan.

Keserakahan merupakan “ide” dari rahim (bawah sadar) egoisme diri yang itu semuanya bermuara untuk kebutuhan “survival of the fittest”. Benar ini bukan soal “yang kuat akan menang”, melainkan yang paling mampu menyesuaikan/adaptif yang akan bertahan–guna “seleksi alam”.

Sayangnya, untuk mampu adaptif, manusia juga harus melakukan rekayasa agar mereka (baca: penguasa politik dan pemodal) yang sukses bertahan hidup dengan mendapatkan pasokan ekonomi. Itulah mengapa pesan esensial dari puasa semestinya (yang utama) dihayati oleh mereka yang posisinya mapan.

Di sini, agama memberikan cara tepat bagi manusia untuk kontrol diri. Terutama bagi yang berkecukupan, diharapkan sadar akan empati dan solidaritas distribusi ekonomi.

Tetapi tentu bukan sekadar sedekah atau membayar zakat yang menjadi target, melainkan kehendak melakukan transformasi diri, minimal dalam dua hal utama, yaitu 1) Tidak serakah menumpuk hasil ekonomi dan 2) Menciptakan pemerataan ekonomi yang berkeadilan untuk setiap insan.

“Keterserapan Diri”

Ajaran agama, sekalipun tidak lengkap dan kurang praktis menjawab urusan dunia saat ini, paling tidak memiliki visi keadilan untuk digunakan. Visi tersebut nantinya bisa diterjemahkan sebagai spirit, bukan sebagai perangkat kerja politik (undang-undang), apalagi dijadikan sebagai ideologi.

Sebagai spirit yang tujuan utamanya ialah mewujudkan harmoni, mula-mula kita perlu membangun “daulat empati” dalam diri setiap insan yang kemudian diarahkan sebagai cara-pandang hidup.

Empati bukanlah rasa kasihan, melainkan “rasa kasih” yang di dalamnya memuat kepedulian untuk hidup dalam kesetaraan, saling menghormati hak hidup secara utuh (ekonomi, politik, pendidikan, budaya, agama, dst) dan lebih dari itu, kesanggupan praktis (beramal) memperjuangkan tiada henti.

Dengan kata lain, “rasa kasihan menjadi percuma manakala kita tidak mengarah pada kesanggupan mewujudkan dalam bentuk amaliah.”

Itulah yang secara jelas kita lihat dari realitas politik Indonesia, di mana mayoritas politikus memahami (visi) agama, –termasuk tanggung jawab berpancasila– tetapi wujud perilakunya justru menegaskan laku binatang kuat yang gemar memangsa spesies yang lemah.
Empati tampak sederhana.

Tetapi, jika itu dimaksudkan untuk sebuah amal kebaikan, akan menimbulkan getaran emosional yang bisa berubah menjadi tindakan solidaritas untuk hidup setara di antara manusia.

Pada upaya praktisnya, empati juga tidak bisa sekadar dikhotbahkan melalui wicara, melainkan harus melalui tindakan nyata.

Ini karena sebagaimana para psikolog mengenal istilah “elevasi”, tindakan baik dari rahim empati itu bisa menimbulkan sensasi, atau “rasa senang” orang lain yang itu bisa diharapkan memicu pihak lain bergerak. Di sini, keteladanan menjadi penting dilakukan dalam bentuk tindakan.

Puasa, sekali lagi, mesti dinaungkan dalam ruang batin, karena untuk meraih sikap empati membutuhkan “keterserapan diri” dalam situasi Ramadan. Ramadan sendiri artinya ialah pembakaran.

Yang dibakar dari kita ialah sisi-sisi lain dari luar dimensi kemanusiaan, terutama hawa nafsu yang banyak melahirkan dosa-dosa, baik dosa terhadap Tuhan maupun dosa yang sifatnya sosial. Itulah mengapa dalam Ramadan dibagi menjadi tiga bagian, yakni “sepertiga awalnya adalah rahmat, sepertiga tengahnya adalah ampunan, dan sepertiga akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.”

Tiga hal tersebut secara kronologis menjelaskan, setelah diberikan rahmat dengan kesempatan prosesi pembakaran, kemudian mendapat ampunan, selanjutnya meraih kemerdekaan.

Salah satu kemerdekaan hidup manusia ialah ketika ia meninggalkan egonya dan memberikan empati kepada yang lain. Daniel Goleman dalam bukunya Social Intelligence (2006) melukiskan, “ketika kita memusatkan perhatian kita pada orang lain, dunia kita meluas.” *Penulis adalah pemerhati sosial, tinggal di Bandung. (Sinar Harapan 21 Juli 2012) http://www.shnews.co/detile-5102-bara-empati-puasa.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s