Spirit Universal Haji

Standar

Sebuah ritual senantiasa menarik perhatian manusia, terlebih jika ritual itu berupa perayaan massal yang melibatkan isu-isu publik dunia. Idul Adha patut mendapat perhatian karena melibatkan dimensi sejarah, sosiologi, tradisi dan peradaban. Dan lebih penting lagi ialah memaknainya sebagai cara hidup orang modern untuk menciptakan tatanan hidup yang lebih baik.

Di masa-masa awal perjuangan Muhammad Saw, ia merupakan pribadi yang menyadari kebutuhan ibadah untuk orang Arab yang kala itu gelisah mencari jalan Tuhan yang universal. Kebutuhan itu muncul mengingat orang-orang Arab kuno tidak memiliki pemahaman Tuhan yang Satu.

Mereka menyembah berhala hasil kreasi leluhurnya sendiri. Terdapat banyak berhala pada setiap suku, klan dan kabilah. Dari sini, sentimen antar golongan sering bercampur-aduk meliputi konflik dagang, agama, perkawinan, etnik dan politik. Ruwet dan menegangkan. Korban-korban politik dan pertarungan antar kesukuan terus bermunculan. Kaum perempuan ditindas, kemiskinan dibiarkan.

Menyatu bersama kabah

Haji sebagai ritual masyarakat Arab lahir dan berkembang dari rahim tradisi orang-orang pagan. Mereka menyembah berhala. Saat ritual, mereka sering berlari-lari mengelilingi kabah (salahsatu tempat ibadah) sebagai sarana ritual.

Praktik ibadah haji, secara fisik mengambil dari praktik lama. Tetapi secara substansial, Muhammad Saw melampaui kebiasaan itu. Wujud perbedaan tradisi haji orang-orang pagan dengan tradisi baru Muhammad Saw dikisahkan dalam Al-Quran. Kalau orang pagan melakukan “peribadatan mereka di sekitar kabah tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan belaka…”(QS:8:35), maka Muhammad Saw menggantinya sebagai ritual untuk satu tujuan menyatukan umat dalam orientasi bersama “labaika allahuma labaik” (Aku memenuhi panggilan-Mu). Jutaan manusia menyatu dalam padu, bergerak mengelilingi kabah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim As bersama anaknya, Nabi Ismail As.

Ekspresi kolektif haji merupakan cara Muhammad Saw menyatukan  keterpecahbelahan umat dari sentimen-sentimen primordial banyak suku, klan dan kabilah, mengubah menjadi sentimen universal. Haji menjadi sarana kreativitas Muhammad Saw sebagai pemimpin. Wujud kreatifnya berupa kompromi; tidak merusak beberapa praktik turun-menurun sekaligus menetapkan langkah baru dengan kemauan menyerap  ajaran baru dari luar yang lebih baik.

Pengalaman Muhammad Saw hidup bersama orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi bagian terpenting dirinya mencari jalan perubahan transformasi sosial. Satu cerita menarik ialah pengalamannya berguru kepada orang Yahudi, yang dikenal “berlidah asing” yang bertutur dalam bahasa Arab. Juga terdapat kisah dari banyak sumber Muhammad melakukan ibadah shalat tiga kali sehari menghadap Yerussalem, sebagaimana kebiasaan orang Yahudi.

Cerita seperti ini bukan hal yang aneh karena sangat disadari Islam merupakan agama penerus dari ajaran Abrahami, atau masuk golongan “khunaf” yang berbeda dengan golongan penyembah berhala. Bahkan kisah tentang pengusiran Hajar dan Ismail akibat cemburunya Sarah (istri pertama Ibrahim) hingga cerita mimpi Ibrahim menyembelih Ismail nyaris sama dengan mitologi Yunani dan Bibel. Termasuk di sini, Muhammad Saw menyerukan melakukan ritual kolektif di sekitar kabah yang didirikan Ibrahim As bersama anaknya, Ismail As.

Muhammad Saw terbuka terhadap ajaran baru dari luar dengan jalan Islamnya. Tak segan-segan Ia menyerukan perubahan masyarakat untuk keluar dengan menggali keilmuan dari tradisi yang jauh. Seruan terkenalnya, carilah ilmu sekalipun sampai negeri Cina.

Kebaikan kolektif

Hakikat dari haji ialah menanamkan spirit universal di mana setiap masyarakat (termasuk individu) mesti memandang ke arah yang satu, menafikan kepentingan personal maupun golongan, melebur dalam kesetaraan antar sesama. Dalam laku keseharian, Haji dalam ajaran Nabi Muhammad Saw ialah membuka diri untuk menjadi pribadi yang terbuka dalam urusan ilmu pengetahuan dan menegakkan kebaikan kolektif.

Ia seorang nabi. Naba’, artinya “muncul di antara kaum”, atau tumbuh. Nabi adalah ‘orang yang mengabarkan wahyu’. Secara deskriptif Nubuwah bisa berarti, “memunculkan/mengabarkan hal gaib atau masa depan (wujudnya ialah wahyu dari Tuhan). Hal yang gaib di sini tak perlu diartikan sebagai sesuatu yang mistik, tetapi akan lebih baik jika dimaknai sebagai cara memandang (secara visioner) terhadap sesuatu yang belum terjadi di masa depan (futuristik).

Muhammad Saw meneruskan tradisi leluhurnya dari sisi monoteisme Abrahami. Seorang ilmuwan muslim ternama, Abu’l-Hasan ‘Ali al-Hujwairi (990-1077) melukiskan Kenabian dalam bentuk simbolis. Adam sebagai pertobatan, Nuh pengorbanan, Ibrahim ketaatan, Musa ketundukan, Daud penderitaan, Isa harapan, Yahya pembaptis kesalehan, Muhammad yang terpuji.

Dengan mengambil intisari dari praktik ibadah itu kita pun bisa bercermin atas kenyataan laku ibadah orang-orang di masa kini.

Apakah setelah ibadah haji kemudian seseorang itu moralnya lebih baik? Apakah dengan haji itu kelakuan seseorang mampu lepas dari praktik tak beradab (jahiliyahnya) seperti tidak peduli nasib orang lain, egois, gemar menipu, tega memonopoli ekonomi, mencuri/korupsi, menindas kaum lemah, memarjinalkan perempuan, dan praktik tercela lainnya?

Kita semua pemeluk abrahami. Yang beragama Islam pun merasa pengikut nabi. Tetapi ‘merasa’ mengikuti praktik nabi dengan sejumlah praktik ibadah, tanpa menjiwai hakikat ibadahnya, bisa jadi takbir dan gerak ibadah hanyalah sekadar “siulan dan tepuk tangan belaka.” [Faiz Manshur]

Sumber: http://cetak.shnews.co/web/read/2012-10-27/2770/spirit.universal.haji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s