Karakter Binatang-Politik

Standar

Yang perlu dikemukakan pada kenyataan Indonesia saat ini, tahun 2012 yang hampir lewat, bahwa perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara sejak 1998 telah mengakibatkan kegagalan.  Istilah gagal ini pahit adanya, tetapi harus kita telan bersama karena kita punya bayangan kebaikan setelah era buruk Orde Baru berganti menjadi era reformasi yang (diharapkan) lebih baik adanya.

Memang kita tak bisa mengabaikan sejumlah perbaikan yang sudah terjadi. Seluruh elemen bangsa ini pun punya kearifan untuk menilai. Setidaknya kebaikan itu berupa gerak modernisasi di berbagai bidang, yang telah menjadikan kultur baru dalam kehidupann masyarakat kita tak ketinggalan dari gerak globalisasi.  Sekalipun itu masih menjadi perdebatan karena kita tetap keok dengan negara-negara lain, tapi tak ada salahnya sedikit saja kita tetap harus bersyukur.  

Tapi, kita juga tak bisa menyalahkan kepada siapa saja yang hendak menyatakan bahwa kultur hidup kita tetap berlumpur-lumpur dalam kekotoran yang melimpah ruah sampai nurani kita muak dibuatnya. Sebab, katanya reformasi, tetapi wujudnya ialah laku korupsi. Adapun laku manusia pengemban reformasi di institusi negara –sekali lagi tanpa bermaksud mengabaikan sedikit dari mereka yang baik—tetapi konyol, bahkan keterlaluan buruknya.

Hal yang merisaukan antara lain praktik tercela dari pencurian uang/korupsi, itu dilakukan oleh kaum muda di jajaran kekuasan. Sebut saja nama-nama tenar yang mudah dikenal saat ini: Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Anggelina Sondakh. Tiga nama yang secara final belum diketok palu sebagai terpidana saja sudah membuyarkan persepsi kita dalam memandang reformasi di Indonesia.

Dari sekian perenungan yang meluas, melibatkan batin, dan kearifan kita memandang kehidupan di Indonesia, kemiskinan secara ekonomi bukanlah satu-satu penyakit utama lagi. Menjadi tidak utama bukan karena tidak penting, melainkan karena ternyata masih ada yang lebih besar lagi penyakitnya, yakni kelakuan orang-orang miskin karakter di jajaran birokrasi negara. Ini tak perlu repot-repot survei dan berdebat seolah-olah setelah itu ada tindakan konkret menyelesaikan kemiskinan rakyat.

Dengan pengandaian yang mudah saja, anggaran yang boros karena salah strategi alokasi disertai penyelewengan besar-besaran yang itu seandainya digunakan secara tepat untuk mengurus kemiskinan tentunya tak seburuk ini negara kita. Tapi sudahlah!. Itu telah menjadi realitas karena karakter aktor reformasi kita ternyata sangat miskin karakter. Harus dikatakan demikian karena kemiskinan melanda banyak pihak, bukan semata kemiskinan ekonomi.

Barangkali, untuk mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 25.000 tetap kita perhatikan sebagai pihak yang mengalami kemiskinan struktural. Tapi efek lebih besar bukan dari kemiskinan jenis ini, melainkan dari orang-orang miskin karakter yang itu mereka status ekonomi dan posisi politiknya tinggi tetapi jiwanya diperbudak oleh egoisme individual.

Kelas menengah politik, atau menurut anak gaul disebut ‘borjo’ (dari kata bourgeois) itu menjadikan politik bukan lagi sebagai cara berbuat baik kepada publik, melainkan sebagai karir personal. Dan dalam situasi politik pencintraan yang tinggi (sejalan dengan watak media televisi dan internet) mereka memiliki dasar kebutuhan yang irasional untuk biaya politik.

Sebut saja biaya kampanye politik tinggi karena mereka tidak gaul dengan rakyat sehingga harus narsis di media massa atau panggung publik, biaya lobi, saling suap di antara elit untuk transaksi keuangan (yang uang itu milik rakyat), dan satu lagi yang menambah beban hidup boros ialah gengsi hidup keluarga dengan bermewah-mewahan.

 Beras-baju-uang

Perwajahan pola hidup elit politik itu tak usah didudukkan sebagai ‘bagian’ dari problem sehingga kita dengan enteng bilang: “salahsatu problematika kerusakan bangsa diakibatkan oleh elit politik”. Eit, masalahnya mereka bukan objek sebagaimana golonggan ekonomi miskin yang tak punya tanggungjawab dan kesanggupan mengelola negara.

Mereka adalah manusia-manusia terdepan yang dengan keberanian tertentu sanggup membawa perubahan, tapi kemudian berkhianat di tengah jalan. Kebanyakan mereka menjadi politisi atau pejabat negara bukan karena disuruh oleh kelompok, melainkan karena keinginan pribadi. Asumsi batiniah mereka sesungguhnya adalah karir-politik tetapi melalui lisannya dilafalkan sebagai perjuangan untuk publik.

Lalu mereka menjadi ‘pejuang’ saat masa kampanye sampai-sampai merelakan banyak tenaga dan harta–kalau perlu main gadai barang dan ngutang. Tapi pada praktiknya pada beberapa tahun menjabat, kata perjuangan berevolusi kata benda, yang beku dan maknanya terdistorsi menjadi beras-baju-uang.

Ironisnya lagi kemudian mereka menjadi berpikir rasionalis matematis, mengembalikan uang modal yang sudah terbuang. Setelah kembali modal, mendadak mereka memiliki kecerdasan finansial (secara bisnis) dan bahkan menghindari diri dari predikat manusia yang merugi dengan tetap semangat mencari sumber-sumber keuangan dengan ‘keikhlasan’ menerima suap, kalau perlu dengan usaha keras memalak pengusaha atau BUMN.

Dengan kenyataan itulah kata khianat kemudian menjadi lafal yang bagus untuk perilaku busuk politik mereka. Inilah yang paling pas membuktikan bahwa mereka mengalami kemiskinan karakter karena telah melakukan penyimpangan dari sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti. Terang pula menjauh dari kualifikasi dari hakikat makna dasarnya; manusia unggul.

Sebenarnya perkara uang merupakan urusan mulia yang itu sewajarnya dilakukan oleh manusia. Sebab, salahsatu yang membedakan manusia dengan binatang adalah uang. Tetapi manakala seseorang tidak bisa menghindari sifat buas memangsa jatah makan orang lain dengan mencuri sumber pangan sesamanya, maka barangkali sebutannya tetaplah sahih sebagai binatang yang mahir melafalkan “pancasila untuk kita bersama. Adapun jatah makannya saya ambil semua.”(Faiz Manshur. Pemerhati sosial tinggal di Bandung: Sumber Koran Sinar Harapan, 11 November 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s