Perihal “unik” dalam Buku

Standar

Di tengah-tengah persaingan, keunikan merupakan salahsatu terobosan yang penting dipahami dan dieksekusi oleh siapapun. Buku sebagai bagian utama dalam dunia bisnis juga mensyaratkan adanya keunikan.

Hal ini bermula dari dua kenyataan, bahwa tidak semua buku bagus laku, dan sejalan dengan itu juga terdapat fakta, bahwa tidak semua buku jelek pasti laris. Anda sering mendengar kata unik atau khas, atau lain dari yang lain berulang kali. Itu maklum diterima karena faktanya, dalam hidup sekalipun kita harus memiliki keunikan. Artinya ada kebutuhan memiliki karakter khas yang membedakan dari kebanyakan orang.

Pada prinsipnya, sebuah karya tulis (baca: buku) memang untuk memenuhi kebutuhan pembaruan juga. Sekalipun yang ditulis itu merupakan tema lama, tetap saja harus ada pembaruan. Hanya saja tidak setiap hal yang baru itu menarik. Karena itu, pada setiap penulisan karya, tetap membutuhkan keunikan supaya bisa menarik perhatian masyarakat. Tanpa ciri khas tersendiri apa yang kita produksi, akan serupa nilainya dengan barang lain yang konvensional.

 Dua jenis keunikan

Unik menjadi penting sebab ia bukan sekedar untuk sensasi, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan terjadinya pembaruan. Pengertian unik di sini tentu bukan sekedar mengemas produk buku, melainkan unik pada wilayah ide (isi dasar) dan gaya penulisan. Pada isi tulisan kita perlu menciptakan keunikan, yakni dengan menciptakan karya yang  “belum ditulis”. Kalaupun sudah banyak karya yang ditulis, tugas mewujudkan keunikan itu ialah lebih pada menciptakan inovasi dalam suatu bidang, misalnya ilmu ekonomi, ilmu agama, ilmu politik, atau fiksi dengan cara pandang yang lain yang selama ini belum ditulis oleh penulis lain.

Keunikan penulisan seperti ini tak cuma membutuhkan pembaruan dalam penulisan, melainkan lebih pada upaya memecahkan masalah pada bidang keilmuan tertentu, atau penciptakaan karya khusus dalam bidang penulisan fiksi. Soal keunikan (gaya) bahasa kemudian menjadi nomor dua setelah keunikan isi(substansi tulisan; keilmuan, pengetahuan). Jadi sementara waktu kita arahkan dulu pengertian unik menurut isi dengan unik menurut jenis penulisan.

Barulah setelah unik yang kita maksud tersebut memiliki kekuatan yang pasti untuk digulirkan ke masyarakat, kita beranjak berpikir, “jangan sampai unik hanya dari sisi isi”, melainkan harus unik dalam “sisi penulisan.” Kenapa demikian, karena bagaimanapun juga antara isi dan penulisan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Sering kita mendengar istilah, “itu tulisan memang bagus isinya, tetapi cara menulisnya tidak menarik.” Pengalaman saya menjadi editor, sering menemukan naskah seperti itu, terutama dari mereka kalangan akademisi yang secara keilmuan memiliki semangat bagus, tetapi gagal dalam hal mengemas menjadi tulisan yang baik. Sedangkan dari sebagian teman penulis produktif atau penulis pemula biasanya dari sisi bahasa lumayan baik tetapi isinya terkadang lemah, atau konvensional.

 Mengapa “unik” itu dibutuhkan?

Kita memang harus mengejarnya untuk mendapatkan kepuasaan atas jawaban ini. Unik menjadi hal yang asasi dalam kehidupan karena sesungguhnya ternyata genetika kita itu sendiri sebuah keunikan.  Saya akan kembali merujuk pada tafsir Kazuo Murakami, seorang ilmuwan yang tangguh dalam urusan genetika ini. Pada bagian “Gen-dan Kemampuan-Setiap Individu itu Unik” ( The Divine Message of The DNA: Tuhan dalam Gen Kita (Mizan; cetakan IV 2008) ia menegaskan keunikan itu bagian dari genetika. “Tidak ada dua set gen atau “genom” yang persis sama. Hal ini bisa dibuktikan dari adanya variasi (sedikit beda) pada setiap orang. Ini bisa dibuktikan dari bagian wajah, tangan, kaki, perut, mata, hidung, rambut dan seterusnya.

Pandangan seperti ini nanti bisa kita tarik pada urusan tulis-menulis yang menegaskan bahwa “tidak ada karya yang sama.” Prinsipnya, setiap karya yang dihasilkan oleh seorang penulis selalu memiliki keunikan tersendiri sekalipun itu ditulis dalam bahasa yang sama, pendekatan yang sama, tema dan topik yang sama, sampai arah tujuan yang sama. Masing penulis dengan “genetika nalarnya” sendiri akan selalu memiliki keunikan.

Apakah dengan meletakkan keunikan pada setiap individu ini lantas masalah selesai? Pandangan Murakami di atas tersebut perlu kita ringkas sebagai pijakan dengan pengertian bahwa;

1) Genetika bisa berkembang baik manakala pendidikan dan lingkungan juga mendorong untuk terus menyala.

2) Keunikan itu anugrah, karena itu harus memiliki kepercayaan diri untuk menyuguhkan sesuatu dari dalam diri kita yang sudah unik ini ke masyarakat.

Setelah meringkas pemahaman yang demikian itu, pertanyaan akan muncul, “kita sudah unik, tetapi ternyata tidak menghasilkan keunikan dalam karya kita?”

Di sinilah masalahnya. Ternyata tidak semua yang unik yang kita dilahirkan dari dalam diri kita ini bisa menjadi sebuah keunikan bagi orang lain, termasuk bagi banyak orang.

Kedua, bisa pula keunikan itu hanya berhasil pada satu komponen, misalnya pada isi, tetapi dalam berbahasa Anda gagal memaksimalkan keunikan. Bisa pula keduanya sudah berhasil kita wujudkan, tetapi karena pengemasan atau cara penyajian ke masyarakat tidak unik bisa mengakibatkan kegagalan, atau keterhambatan.

Kita mesti sadar itu karena memang dalam hidup kita tidak sekedar memiliki satu modal. Kita butuh memaksimalkan satu keunikan dari dalam diri kita dengan meletakkan pada pilar-pilar yang lain sehingga genetika tetap menyapa dan mampu menyinari peradaban. Itu semua butuh proses. Tidak mungkin menghasilkan keunikan hanya modal ide spontan, nulis spontan, terbit seketika lalu mendapatkan keunikan dalam diri kita. Bahkan pengertian unik itu sendiri harus ditegaskan bukan milik sang penulis, melainkan milik masyarakat.

Sebenarnya, seorang penulis hanya berusaha untuk berbuat unik, memunculkan potensi unik dari diri Anda semaksimal mungkin sampai maut menjemput. Sebelum mati tidak ada kata berhenti menulis dan terus menggali potensi unik yang sudah Anda miliki.

Polemik “unik”

Mengapa karya tertentu yang sering dianggap unik oleh penulisnya, bahkan oleh penerbitnya sekalipun ternyata tidak unik di mata masyarakat? Mengapa pula ada karya yang nampak jelek secara ukuran konvensional (baik dari standar bahasa, kemasan dan juga isinya yang tidak berbobot) tetapi disambut banyak pembaca lintas usia?

Mengapa?

Ya itulah keunikan. Apanya yang unik? Untuk mendapatkan jawaban yang tepat hanya mereka lah satu persatu dari sekian ribu pembaca itu yang akan menjawabnya secara pasti. Itulah mengapa sebenarnya survei tentang dunia perbukuan tidak sekedar hal-hal konvensional seperti survei jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan.

Kita harus punya survei yang lebih maju untuk melihat misalnya, mengapa sebuah karya yang menurut kalangan intelek dalam hal buku seperti para redaksi, editor, penulis, wartawan dan kalangan akademik itu, digemari masyarakat luas. Mengapa karya bagus di rak-rak toko buku yang juga ditulis secara popular tetap tidak diminati?

Genetika sendiri ditemukan keadaan, sifat dan potensinya melalui riset, bahkan melibatkan pengalaman riset para ilmuwan dunia di sepanjang sejarah. Penemuan potensi berbasis DNA ala Murakami misalnya juga berbasis riset. Itulah riset. Itulah rasionalitas.

Penting untuk membuktikan sesuatu yang tadinya irasional menjadi rasional sehingga Anda tidak melulu ketemu misteri, melainkan berjumpa dengan potensi.

Menyangkut keunikan ini, menarik kalau kita hubungkan dengan pendapat dari Benjamin Franklin, seorang politikus ternama Amerika Serikat,  yang mengatakan, “Originalitas ada dalam diri tiap individu karena tiap orang berbeda dari orang lainnya. Kita adalah bilangan prima, yang hanya bisa terbagi oleh diri kita sendiri.”

Selamat menempuh jalan keunikan! [Faiz Manshur]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s