Dasein Kiai (Bagian 5 Novel Shastri)

Standar

Kehidupan Adnan sekalipun tidak kaya, tak juga disebut miskin. Kalau di desanya pada masa swasembada beras orang-orang desa tetap makan nasi jagung, ia bisa berikan nasi beras kepada anak-anaknya. Orang-orang desa itu sering mendengar kabar dari TVRI dan dari mulut pegawai kecamatan kalau negaranya gemah ripah loh jinawi. Pemerintah terus bangga dengan mengaku berhasil menerapkan swasembada pangan.

Orang-orang desa tak paham dengan semua ini. Mereka hanya tahu hidupnya tak jua beranjak dari miskin ke miskin. Sampai pada tahun 1984, ketika presidennya menerima penghargaan dari organisasi pangan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) para pegawai negeri semakin lancang negerinya maju dan makmur. Saat itu, berbagai koran kota menyajikan berita, negeri-negeri asing mengagumi keberhasilan pemerintah Orde Baru karena dalam tempo yang singkat, yakni 14 tahun, terhitung dari 1970-1984 produksi padi berhasil digenjot dari 1,8 ribu per hektar menjadi 3,01 ton per hektar. Para ahli statistik yang membandingkan dengan Jepang pun mengakui kehebatan program pemerintahan Soeharto karena di Negeri Sakura itu untuk meningkatkan produksi padi dari 2 ton per hektar menjadi 3,28 ton per hektar saja memerlukan waktu 68 tahun, yakni dari tahun 1880-1948. Di bawah jargon revolusi hijau transformasi pertanian tradisional ke pertanian modern pun berlangsung. Pemerintah menepuk dadanya karena pembangunan ekonomi berbasis pertaniannya, yakni revolusi biologi bibit padi unggul, revolusi kimiawi pupuk-pupuk buatan dan penyediaaan obat-obatan anti hama diakui dirinya sendiri telah berhasil membuat rakyat hidup tenang.

Orang-orang desa di hampir seluruh Kecamatan Kanaan dan beberapa kecamatan yang tak menanam padi itu tetap saja makan nasi jagung, nasi yang sangat lezat dimakan sesekali, namun sangat menyiksa kalau dimakan terus-terusan setiap hari, sepanjang tahun. Selain itu, nasi jagung terasa menyiksa bukan karena jagung tak enak, tetapi karena sudah terlanjur dianggap makanan orang miskin. Para guru dan pegawai di desa itu selalu mengatakan bahwa beras adalah makanan pokok yang lebih baik dari jagung. Jagung hanya mengenyangkan tapi tak punya gizi yang baik. Tak pernah terdengar bahwa makanan bergizi terletak pada menu. Seandainya orang makan nasi jagung berlauk daging ayam pun tetap dianggap tidak bergizi, sementara mereka yang makan nasi beras dengan sambal terasa dianggap lebih bergizi.

Orang-orang desa yang lugu, tak suka berseteru hanya bisa menggerutu; semakin yakin kalau mereka ditakdirkan hidup miskin dan statusnya lebih rendah dari para pegawai negeri, para guru atau para priyayi pemilik tanah luas yang biasa disebut ndoro itu. Sabit dan saudara-saudaranya diberikan secara khusus makanan beras oleh Bapaknya bukan soal gizi, tetapi soal selera. Anak-anak itu memang kurang suka dengan nasi jagung. Dikasih daging ayam atau telor pun tak enak. Nasi jagung cocoknya dengan ikan asin, sambal dan urap sayuran.

Revolusi hijau dengan swasembada beras yang diklaim sebagai swasembada pangan boleh dibangga-banggakan Orde Baru. Pegawai Negeri boleh ngomong sembarangan soal gizi beras karena mereka mendapat jatah beras rutin dari pemerintah. Tetapi petani–petani desa Kanaan yang mayoritas bercocok tanam palawija tak pernah merasa kenyang dengan cerita lezatnya beras. Saat-saat acara tertentu mereka harus mengeluarkan biaya besar karena harus menukar berkilo-kilo jagungnya, ditukar dengan sejumput beras. Pidato-pidato pejabat sering menonjok petani miskin yang dianggap selalu kurang dalam pemenuhan gizi. Pegawai yang biasa makan beras mengkritik petani yang biasa makan jagung. Betapa hinanya petani dihadapan pegawai negeri. Adnan yang sering mendapat keluhan para petani karena ketersinggungan itu lantas merasakan ada yang janggal dari cara berpikir para pejabat.

“Orang berpikir cukup sandang, papan dan papan. Cukup!.” Pemerintah selalu mendengungkan kebijaksaan itu sebagai pilar kehidupan masyarakat. Manusia seolah-olah seperti hewan piaraan yang urusan hidupnya selesai dengan kecukupan itu. Apakah ini karena pemerintah sedang melawan kemiskinan sehingga memprioritaskan slogan itu dan tak perlu berbicara soal kebutuhan ruhani dan pendidikan? Adnan yang berdiri di barisan orang-orang desa selalu menentramkan hati petani miskin itu. “Biar saja pejabat ngomong begitu.”

Begitulah. Para pejabat, lurah, guru-guru sekolah dan pejabat dinas Pemerintahan daerah seperti mendapat mandat sebagai pendakwah untuk meyakinkan bahwa jalan hidup manusia harus cukup sandang, pangan dan papan. Memang tak ada yang salah dalam hal ini. Siapapun butuh, bahkan seorang kiai yang rela hidup sederhanapun membutuhkan itu. Tetapi mulut pegawai negeri yang gemar ngoceh setelah kenyang menyantap beras tunjangan itu selalu saja menyakitkan petani. Bagi petani, negara tiada fungsi kecuali sekadar membuat KTP dan Akta pernikahan. Pembangunan jalan-jalan juga dikerjakan dengan kerja bakti. Bantuan sekian juta….sekian juta tak pernah mereka ketahui kemana lenyapnya. Bahkan bantuan sumbangan masjid pun harus disertai kesepakatan warga untuk memilih Golongan Kuning.

Kiai seperti Adnan yang merasakan desah nafas kehidupan petani miskin di desanya tak bisa berbuat banyak. Terkadang ia menyesal kenapa di desa ini tak ada ahli pertanian yang tidak berpihak pada negara untuk membantu para petani. Ia juga sering mengeluh karena dirinya tak bisa memahami apa sesungguhnya di balik program revolusi hijau itu yang mengancam masyarakat petani. Ia hanya bisa berpikir bahwa penggunaan pupuk kimia itu hanya menguntungkan tengkulak dan Cina-Cina kota. Tak pernah ia tahu juga bahwa sesungguhnya obat-obatan kimia yang pada tahun 1990an menjadi tsunami diam-diam karena tanah petani terlanjur bergantung pada pupuk kimia yang merusak. Tetapi pun demikian ia bukan tipikal manusia tukang gerundel. Apapun yang ia bisa lakukan, ia akan lakukan, semampunya, sebaik-baiknya.

Salah satu hobi Adnan ialah bercocok tanam. Kegemaran ini selain karena pengalamannya ikut mengabdi kepada keluarga kiai, gurunya di Magelang juga karena dipengaruhi ajaran Nabi yang mengatakan hasil pertanian dianggap paling baik dan halal,-walaupun ia sadar hasilnya tak seberapa di banding berdagang di pasar. Dalam bertani, ia punya dua konsep dasar, yakni pertanian yang menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang dan jangka pendek. Tanaman berbuah jangka panjang belasan tahun yang ia tanam antara lain pohon kelapa dan kelengkeng. Sedangkan jangka menengah, berusia di bawah sepuluh tahun adalah rambutan, nangka dan duku. Sementara tanaman berjangka pendek yang menghasilkan ialah pohon pisang dan pepaya, dengan tujuh bulan panen, sedangkan tanaman berpanen tiga bulanan ialah ketela, jagung, pare dan labu siyam.

Di kampung itu banyak petani menanam pohon pisang, tetapi kebanyakan yang ditanam jenis pisang yang memenuhi kebutuhan pasar, sebagai pembuat emping, sale atau produk makanan olahan lainnya. Para petani hanya meneruskan kebiasaan-kebiasaan orang tuanya, mewarisi bibit-bibit pohon pisang, seperti jenis pisang kluthuk ( musa balbisiana colla), raja tawi (tanduk; sunda), nangka, siyem, batu, kepok dan lain sebagainya. Istilah pisang itu sendiri di lingkungan desa itu sendiri sering dipakai orang-orang saat mengucapkan bahasa kromo (halus). Sedangkan saat mereka mengucapkan dalam bahasa gaul biasa, lebih suka menyebutnya gedang. Pisang atau gedang, dikenal seluruh dunia dengan beragam istilah: orang Inggris menyebutnya Banana, orang Bali menyebutnya Biu, orang Sunda menyebut Cau, Transmigran Lampung mengabarkan istilah pisang sebagai Puti

Lebih unik tentang perihal gedang, Remy Sylado dalam sebuah artikelnya “Satu Nusa Satu Bangsa Dua “Languages” (Kompas, 07/09/2001) punya cerita khusus. Katanya, Bahasa Jawa ini berasal dari ucapan syukur tentara bantuan Belanda yang berasal dari indonesia Timur di masa perang Diponegoro. Konon, satu peleton yang berhari-hari tidak makan lantas menemukan sebuah kebun pisang. Tentu saja tentara itu girang hati karena dapat makan. Saking bahagianya, mereka lantas teriak dalam bahasa Belanda, “God dank,” artinya “terimakasih Tuhan.”

Para petani kebanyakan mengenal tanaman pisang ini sebagai makanan sekunder yang diambil manfaatnya sebagai menu selain makan. Sekalipun buah pisang sangat padat dan mampu mengganjal perut tetapi para petani tidak menganggapnya sebagai makanan pokok penganti nasi jagung atau beras. Pisang bisa mengenyangkan tapi tetap saja belum terasa makan jika belum makan nasi. Begitulah keyakinan mereka. Para petani juga tidak mengenal kasiat pisang secara detail. Yang mereka tahu biasanya pisang emas untuk sarana menelan jampi-jampi kekebalan atau pengasihan. Pisang emas juga menjadi pantangan bagi kedua ilmu ini. Konon para dukun sering memberikan syarat untuk kemanjuran ilmu ini sebagai sarana sekaligus pantangan. Sementara pisang kluthuk sering diyakini sebagai obat ambeyen.

Pengetahuan para petani, termasuk Adnan tentang tanaman obat yang terbatas itu bertahan bertahun-tahun tanpa pernah mendapat penjelasan secara ilmiah dari pemerintah. Padahal, berbagai riset pemerintah dan ahli ahli tanaman obat saat itu sudah tergolong banyak. Para ahli tanaman obat sering menyebutkan berbagai khasiat dari tanaman pisang, seperti obat sariawan, amandel, kanker perut, ambeien, sakit kuning, diare merapatkan vagina dan lain sebagainya. Para ahli sudah sering menyebutkan di berbagai media massa buah pisang itu mengandung banyak vitamin, seperti vitamin A, B1, C, lemak, mineral, karbohidrat, air, zat tepung dan lain sebagainya. Sayang seribu sayang, bahkan sampai semodern sekarang ini jaman mengalami kemajuan tetap saja para petani hanya tahu pisang sebagai tanaman yang tak banyak bisa dimanfaatkan kecuali untuk makanan tambahan rumah tangga dan selebihnya dijual ke pasar sebagai komoditi keripik atau sale. Harga pisang itu sendiri sangat murah, karena itu petani tidak menanam sebagai tanaman pokok.

Mereka hanya menanam di pinggir-pinggir ladang supaya tanah mereka tidak mubadzir. Cara menanamnya pun tidak dirawat semestinya. Mereka hanya menggali kedalaman tanah sekitar 10 senti meter, untuk menjaga agar bibit pohon tidak tumbang. Karena hanya sedikit yang ditanam, hasil pisang setiap petani pun hanya sedikit. Satu tangkai paling dihargai setara dengan harga satu bungkus rokok.

Lain dengan petani, Adnan memiliki keyakinan setiap tanaman dirawat dan diperhatikan secara sungguh-sungguh pasti akan menghasilkan buah yang lebih baik. Sebagaimana mestinya tanaman lain, pohon pisang juga membutuhkan pasokan pupuk dan air. Adnan menggali tanah sedalam satu meter. Setelah galian selesai, baru kemudian pupuk kandang setengah karung dimasukkan ke dalam lubang. Baru kemudian pohon pisang ditanam dan diuruk dengan tanah gembur. Pada bagian atas tanah urugan itu disisakan lubang sekitar dua puluh cm, tujuannya supaya saat ada tampungan air. Dengan cara itu pohon pisang bisa tumbuh baik dan menghasilkan buah secara maksimal.Pola tanam dengan cara yang sedikit menguras tenaga dan bahan tanam berupa pupuk ini tentu saja diberlakukan pada pisang tertentu yang menghasilkan nilai ekonomi tinggi.

Pohon pisang yang dipilih biasanya jenis kepok, ambon atau raja tawi. Adnan memilih ketiganya sebagai tanaman bernilai tingi, sebab selain rasanya manis dan bagus untuk oleh-oleh saudaranya di kota, harganya pun tergolong mahal. Setiap kali menanam pohon pisang itu ia ajak beberapa santri seniornya untuk bekerja di kebun belakang rumahnya atau di ladang pinggir Kampung Kauman. Para santri, anak-anak petani itu biasanya sering bertanya-tanya kenapa menanam pohon pisang saja harus digali dan diberi pupuk,- sayangnya tiada yang berani bertanya langsung. Baru setelah musim panen tiba, sekitar 6-7 bulan mereka bisa membandingkan hasil pisang model tanam kiainya dengan model tanam orang tuanya di desa.

Hasilnya bukan saja berbeda pada buahnya, melainkan juga pada lebarnya daun dan lebarnya kedebok pohon. Buah pisang yang ditanam Adnan lebih besar, daunnya pohon lebih lebar dan kuat, juga pada kedebok pisangnya yang kuat dan lebar. Dengan begitu setiap pohon pisang menghasilkan tiga komoditi berkualitas sekaligus. Daunnya bisa dijual ke pasar, sedang kedeboknya bisa dijemur lalu dikumpulkan. Saat-saat musim tembakau tiba, kedebok pisang sangat laku jual karena orang-orang di lereng gunung Sumbing akan mencarinya untuk bungkus tembakau kering.

Tumbuhan menjalar Pare dan Labu Siyam juga disukai Adnan. Selain merawatnya mudah juga bisa ditanam di pekarangan terbatas di sekeliling rumahnya. Tujuannya sebagian kecil tentu saja dijual ke pasar, sedangkan tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan dapur istrinya, juga bisa dimanfaatkan sebagai sayur para santri.

Buah pare memang pahit rasanya.

“Gusti Allah tak mungkin menciptakan sesuatu tanpa tujuan,” katanya setiapkali berceramah di depan petani. Adnan sering menyarankan agar ibu-ibu menyusui memakan rutin buah pare dan daun pepaya. Keduanya memiliki kebaikan, tanpa pernah menjelaskan kandungan gizi di dalamnya.

Di belakang rumah itu, kalau tidak pohon pare yang menjalar, dipastikan pohon labu siyam. Mulanya bibit Pare ditanam di di tanah. Beberapa minggu kemudian saat batang pohonnya sudah meninggi didirikan batangan-batangan bambu berangkai untuk perkembang biakannya. Dalam waktu kurang tiga bulan biasanya pada setiap mata pohon itu akan membuahkan pare, hijau kecil muda lalu menua berubah menguning.

Buah boleh pahit, tapi kasiatnya sangat hebat untuk kesehatan. Buah itu mengandung albiminoid, karbohidrat dan zat warna, sedangkan daunnya sendiri mengandung momordina, karantina, momordisina, resin dan lemak. Tanaman ini memiliki istilah keren momordica charabtia. Oleh banyak orang sering dikenal dengan istilah-istilah lain seperti paya, kambeh, pepare, pariak, paitan dan lain-lain. Menurut penelitian ristek (2002), kandungan kalori di dalam buahnya mencapai 29,00 lal, protein 1,10 gr, lemak, 0,30 gr, karbohidratnya mencapai 6,60gr, kalsium 45,00 mg, fosfornya mencapai 64,99 mg, zat besinya 1,40 mg. Secara umum kandungan vitamin di dalamnya mengandung vitamin A, 180,00 SI, Vitamin B 0,08 mg, Vitamin C 52,00 Mg, dan kandungan airnya 91,20 gr.

            Daun pepaya bagi Adnan memiliki kandungan magis. Adapun kandungannya ia tak pernah tahu. Yang ia yakini setiap kepahitan pasti mengandung hikmah, dan itu cukup baginya untuk tidak menghindari kepahitan hidup. Istrinya yang setiap dua tahun sekali melahirkan anak-anaknya ditanamkan khusus pohon pepaya.

Buah pepaya besar biasanya ditunggu sampai masak dialaf manfaatnya sebagai menu. Kala stok pepaya banyak biasanya istrinya membuat manisan dari pepaya. Tidak pernah dijual, tetapi dibagi-bagikan kepada tamu atau para santri. Sedangkan pepaya yang tergolong gagal, buahnya kecil biasanya dimasak sebagai sayur. Daunnya sendiri dimasuk sebagai sayur urap. Kalau bosan daun pepaya biasanya berganti daun pare, bayam dan seterusnya. Khusus daun pepaya ia makan minimal seminggu sekali. Tujuannya untuk manfaat bayinya. Sekalipun tak tahu pasti kandungan gizinya, tetapi mitos “dibalik pahit ada manis” membuatnya mempercayai kandungan kebaikan di dalam daun berwarna hijau lebar ini.

Kalau kemudian dijelaskan memakai optik ilmu pengetahuan, sesungguhnya kepercayaan terhadap pahitnya daun pepaya itu tak juga bertentangan kaidah ilmiah. Lembaga riset nasional pada beberapa puluh tahun kemudian mengatakan, daun pepaya ini memiliki kandungan macam zat, antara lain berupa kandungan vitamin A 182, 50 SI – Vitamin B1 0,15 mg – Vitamin C 140 mg – Kalori 79 kal – Protein 8,0 gram – Lemak 2 gram – Hidrat Arang 11,9 gram – Kalsium 353 mg – Fosfor 63 mg – Besi 0,8 mg – Air 75,4 gram Kandungan carposide pada daun pepaya berkhasiat sebagai obat cacing. Selain daunnya, akar dan getahnya pun mengandung sejumlah unsur bermanfaat bagi manusia maupun hewan, seperti zat papayotin, karpain, kautsyuk, karposit dan vitamin.

Jenis cucurbitaceae, alias labu-labuan yang dikenal kalangan akademisi sebagai Sechiem Edule, atau bahasa Inggrisnya Chayote atau istilah Jawanya Jipang ini adalah tanaman menjalar yang disukai Adnan. Para petani sendiri jarang yang menanam tumbuhan ini karena persoalan harga yang murah. Bagi orang desa, setiap harga murah tumbuhan apapun akan dianggap barang marjinal dan tak jarang sebagai makanan rendahan. Mereka menanam Jipang ini manakala ada waktu senggang dan sedang memiliki bambu untuk tempat menjalarnya tumbuhan hijau berdaun indah ini.

Buah Jipang berbentuk bulat agak lonjong ke bawah berwarna hijau. Kulit luarnya terdapat belahan, terkadang berbelah empat terkadang tiga. Kulitnya sendiri bertonjolan kurang teratur terutama pada buah Jipang yang tua. Di bagian dalam kulit terdapat kandungan getah putih yang cukup banyak, sedangkan Jipang muda kadar getahnya sangat sedikit. Adnan menanam tumbuhan yang bisa dipanen dalam umur tiga setengah bulan tiada lain untuk kemaslahatan lingkungan. Paling-paling jika adik iparnya, Mak Tun mengiginkan, ia ijinkan dibawa ke pasar. Selebihnya Jipang itu dimanfaatkan untuk sayuran dapur istrinya dan para memenuhi kebutuhan para santri.

Setiap murah harga, murahlah barang itu. Jipang yang memiliki berbagai kasiat pengobatan herbal itu bahkan sampai era modern sekarang ini masih dianggap makanan rendahan. Hanya sedikit yang menyadari manfaat di dalamnya. Pada beberapa tahun kemudian, para peneliti di universitas menemukan kandungan asal folat tergolong baik, yakni mencapai 93 mkg per 100 gr. Dengan cukup mengonsumsi 100 gram itu, tubuh seseorang secara otomatis cukup untuk memenuhi 23, 25 kebutuhan asam folat.

Pemenuhan asam folat ini sangat penting bagi manusia, terutama bagi ibu hamil untuk mengurangi resiko kelahiran bayi cacat dan gangguan otak. Kandungan vitamin B 6 yang cukup tinggi di dalam buah Jipang juga sangat berguna untuk mendorong kelancaran metabolisme protein. Di Amerika Serikat Jipang ini dianggap makanan baik karena kadar seleniumnya. Para peneliti Amerika pada awal tahun 1985 sudah menemukan bahwa selenium sangat berperan penting memperbaiki mood seseorang. Konon orang yang kadar selenium tubuhnya rendah moodnya juga rendah.

Para peneliti itu lantas menyarankan agar setiap orang, terutama pelajar yang sangat membutuhkan konsentrasi dan minat pada mata-pelajaran mengonsumsi 55-70 mikrogram Jipang perhari. Ah, jipang…..Orang-orang menjauhimu karena nilai rupiahmu tak menarik si mata duiten. Kandungan kesehatanmu yang begitu melimpah untuk mengobati asam urat, peningkatan daya pikir, menghindari cacat bayi dan sejumlah manfaat lain dianggap sepele. Serupa dengan Saudaramu yang bernama Xanthosoma Violeceum Schoot, alias kimpul.

Ya, Adnan juga suka menanam kimpul bersama para santri-santrinya. Setiap lahan yang kosong di kebun belakang atau di tiga ladang lainnya. Apapun tanaman yang sekiranya bermanfaat ia akan tanam, tiada peduli harga di pasar. ” Cangkul…cangkul yang dalam menanam kimpul di kebun kita.” Ini adalah gurauan yang pernah dilontarkan kakak sepupu Adnan, Kiai Joned yang sering melihat keanehan Adnan gemar menanam kimpul.

Beberapa kali panen melimpah Kiai Joned akhirnya tertular kebiasaan Adnan menanam kimpul di pinggiran ladang yang menganggur. Tiada peduli harga kimpul di pasar berapa, yang penting dengan adanya kimpul itu keluarganya, para tamunya, dan santri-santrinya tiada pernah sepi suguhan. Saat duku tak panen, ikan emasnya belum musim panen, ketela pohon tak ada, maka kimpul adalah solusi mengakrabkan percakapan dengan tamu. Buah kimpul berada di dalam tanah. Tumbuhan berasal dari daratan Amerika Latin ini mudah tumbuh di daratan rendah dan agak sedikit terhambat di daratan ketinggian 2000 meter dari permukaan laut. Tumbuhan ini berdaun hijau, kecoklatan dan sebagian unggu. Penampilannya seperti ilustrasi pada kartu remi, membentuk daun cinta. Urat daun itu berwarna unggu gelap. Pada bunga tersebut memunculkan warna coklat, atau tabung seludang ungu dan pada bagian dalamnya tampak warna kream. Daunnya lebar sering disebut daun talas itu diyakini oleh orang-orang desa sebagai penangkal santet, pengusir danyang atau dedemit jahat lainnya.

Baik daun maupun buah kimpul mengandung saponin dan flavonida. Saponin adalah suatu glikosida yang tentu di dalamnya mengandung protein dan karbohidrat. Sementara flavonoida merupakan senyawa kimia aktif yang oleh para peneliti di negara maju di dalamnya mengandung silimarin. Unsur didalamnya konon sangat baik untuk anti hepatotoksik action, alias cocok sebagai perlindungan atau obat penyakit hati juga bisa mengobati hepatitis kronis. Orang-orang desa selain mengenal tumbuhan ini berfungsi supranatural atau paling-paling memanfaatkannya sebagai pengobat sakit bisul. Biasanya mereka yang terkena bisul memanfaatkan segumpal kimpul yang ditumbuk lalu dioleskan pada daging yang bisulen.

Pertanian, perikanan dan peternakan yang dilakukan Adnan tiada modal uang. Modal etos kerja menerima kahanan dan bekerja atas dasar apa yang bisa ia kerjakan membuat dirinya selalu optimis menatap hari-harinya. Ia tak pernah gelisah terhadap hari ekonomi hari esuk. Baginya rejeki adalah sejenis ide abstrak yang tiada bisa ditebak. Bekerja itu sendiri adalah suatu rejeki. Selama badannya sehat, selama itu pula ia akan menyukuri dengan cara bekerja di siang hari dan berdoa di malam hari.

Sumeleh?

Tidak. Ia tak suka mendengar kata-kata berbau Jawa. Ia hanya suka dengan istilah Arab. Ia pilih kepasrahannya dengan konsep tawakal. Tawakal adalah jalan ujung setelah ia benar-benar ikhtiar. Kerja adalah tesa, doa adalah sintesa. Perkawinan keduanya melahirkan sitesa berupa tawakal. Tawakal itulah yang diyakininya sebagai penadah rejeki; dan ia benar-benar berserah di tengah-tengah ketidakberdayaannya sebagai seorang kiai desa dengan kepemilikan tanah terbatas itu.

Orang-orang desa menganggap Adnan adalah orang yang paling tenang dalam situasi apapun. Tetapi dibalik serba kekurangannya itu ia terasa ada di tengah-tengah masyarakat. Bagi sebagian priyayi yang merasa tersaingi “adanya Adnan”, merasa sulit menundukkannya. Ia terus-menerus memiliki pengikut. Bagi para petani, Adnan adalah teman baik, sekaligus menjadi kontrol moral atas laku sehari-harinya. Khusus bagi para jamaahnya, Adnan adalah guru laku, tempat nyaman mengadukan curahan-curahan hati orang-orang desa. Orang bisa mudah dibuat malu jika melakukan sesuatu yang tak baik. Dan bagi anak-anak muda sosok Adnan ini ambigu. Di satu sisi memiliki selera gaul dan humor yang baik, tiada pernah menyakiti siapapun juga, tetapi disatu sisi terkadang “menganggu” aktivitas nakal mereka.

Agaknya manusia bernama Adnan ini perlu ditengok dari kejauhan. Orang-orang Kauman itu dulu sering meledek orang desa lain berasal dari Jerman, alias ”jejer Kauman”. Maksudnya adalah olok-olok keterbelakangan dusun lain dengan menganalogkan kemajuan di negeri Jerman yang tiada mungkin dibayangkan serupa dengan keterbelakangan orang-orang “jejer Kauman” itu. Seorang “ulama” Syekh Martin Heidegger pernah berijtihad melalui sebuah konsep Dasein, kalau diartikan kurang lebih sebagai “ada di sana.” (Catatan kaki: Secara filosofis penjelasan ini agak sulit. Ada baiknya lebih jauh memahami konsep Dasein Anda bisa baca buku Heidegger Mistik Keseharian: suatu pengantar menuju seint und seit, karya Franciscus Budi Hardiman Kepustakaan Popular Gramedia 2003. Tulisan tentang Dasein ini juga menginduk  pada buku ini).

Ada di sana adalah konsep abstrak seorang Dasein bagi seorang makhluk bernama manusia.(sekalipun Heidegger tidak mau memakai istilah manusia karena khawatir disalahpamahi). Menurut Heidegger “ada di sana” ini menghasilkan sebuah faktisitas (Faktizitat), atau kurang lebihnya konsep asasi hidup seorang “manusia” di dunia tanpa mengetahui dari mana dan mau ke mana. Tak mengetahuinya seseorang ini tentu saja bukan dalam konteks pemahaman simbolis Islam; manusia diciptakan oleh Tuhan melalui proses biologis, hidup dan kemudian mati menuju akherat. Heidegger dengan caranya sendiri berpendapat manusia ini hidup di dunia tak pernah dahulu ditanya mau atau tidak hidup di dunia. (Lagi-lagi ini berseberangan dengan konsep mistis yang berkembang di kalangan Islam konon sebelum Tuhan meniupkan ruh ke janin, malaikat diutus Tuhan menanyakan agar si janin di tanya apakah mau hidup di dunia atau tidak. Jika si Janin menjawab ya, maka diberikannya ia ruh, jika tidak ia gagalkan janin tersebut. Sebuah konsep yang hanya bisa diyakini tanpa pernah bisa dibuktikan tentunya).

Bagi Heidegger, manusia hidup ada begitu saja, di sana, di dalam dunia. Ia memakai istilah keterlemparan (Geworfenheit). Secara harafiah, Dasein itu sendiri ialah menduduki ruang, tidak ‘terletak’ di suatu tempat, melainkan ‘memukimi’ suatu tempat. Karena itu kata ‘di dalam’ bagi Dasein berarti ‘bermukim’ (Wohnen, ‘percaya’, vertraut-mit atau katakanlah dalam bahasa kita ‘kerasan’.

Kata Mukim yang digunakan F. Budi Hardiman ini nampaknya adalah pilihan yang tepat bagi kelompok kaum santri, ketimbang kata menempati atau mendiami. Biasanya kaum santri sendiri memakai istilah mukim pada banyak kasus, terutama saat mereka hendak pulang kampung halaman dari pesantren dan bermaksud menetap. “Mau mukim kamu?” maksudnya ialah pulang kampung seterusnya setelah keluar dari Pesantren. Kata kerasan adalah sebuah ungkapan yang tepat bagi seorang Dasein bernama Adnan. Ia kerasan bukan karena tempat yang memang menyenangkan. Tanah yang didapatkannya dari pertukaran dengan pamannya di kota ia anggap sebagai anugrah materi di mana seseorang pasti membutuhkannya.

Adanya tanah itu sendiri tak banyak ia persoalkan. Subur atau tidak, ia hadapi sebagai sesuatu yang sudah ada. Istilah rejeki bukan merujuk pada konsep material nilai dari tanah, melainkan sebagai ide abstrak yang yakin bisa didapatkan di manapun manusia hidup. “Hewan melata saja bisa menghidupi, kenapa manusia tidak?” itulah prinsip yang dipakai oleh Adnan. Baginya, keterlemparannya ke dunia adalah sebuah takdir. Hanya kesia-siaan jika ia larut di dalam pertanyaan-pertanyaan tentang takdir. Dalam pandangan Adnan pertanyaan itu cukuplah di Jawab dengan ide abstrak dari agama yang menyatakan bahwa makhluk hidup beserta alam semesta ada, karena itu pasti ada yang menciptakan. Allah yang sering disebut-sebut setiap waktu itulah yang mennciptakan. Manusia “dilemparkan” ke dunia mengemban tugas bekerja dengan sejumlah aturan yang bisa didapatkan dari ajaran kehidupan, salahsatu yang penting adalah ajaran agama.

Ia menerima setiap kenyataan hidupnya sebagai sebuah kemestian, kemestian yang harus disikapi dengan “kerasan”. Kerasan itu sendiri baginya jika ia melakukan aktivitas kerja (amal) dan amal yang akan menjadikan dirinya eksis di tengah-tengah masyarakat adalah amal baik, -baik, sesuai ukuran ajaran agama yang dipahami tentunya. Bagi Adnan, manusia yang tidak menerima karunia hanya akan menjerumuskan pada sikap pemurung, pemalas dan menjadikan dirinya tiada berarti di tengah-tengah kerumunan. Dengan kata lain akan menjebak seseorang pada alienasi (keterasingan). Heidegger menyebut keterasingan manusia modern sering membuat manusia bijak sana (homo sapiens) berubah menjadi manusia keji (homo brutalis). Adnan menyadari sepenuhnya ‘adanya’ diri di tengah kehidupannya.

Identitasnya sebagai kiai sesungguhnya tiadalah begitu berarti. Baginya, manusia hanya menjalankan tugas, dan tugas hidupnya sesuai dengan kenyataan yang dihadapi dan kemampuan yang ia miliki. Kenyataan tanahnya kecil dan tak menghasilkan nilai ekonomi yang berarti karena hasil panennya tiada pernah dihargai pasar tak membuatnya berpikir bekerja sebagai buruh upahan. Ia lebih rela bergulat dengan beberapa petak tanahnya ketimbang harus menjadi pekerja di hadapan orang lain. Baginya bekerja dengan kepemilikannya akan lebih berarti karena ia percaya bahwa doa adalah pilar utama yang tak kalah pentingnya. Dan berdoa untuk diri sendiri adalah ikhtiar yang paling baik. Adnan tak bisa membayangkan bagaimana ketika ia menggantungkan ‘rejeki’ sebagai gantungan hidupnya manakala hitung-hitungan rejeki itu sendiri sudah dipersempit sebagai upah kerja.

“Aku tak bisa bayangkan kelak kalau anakku sepuluh orang lantas gantungan hidupku hanya dari gaji pegawai negeri.”

Menjadi manusia bagi Adnan tiada lebih adalah menegaskan dirinya sendiri. Kepasrahan totalnya terhadap rejeki sebagai efek dari laku hidupnya membuat hatinya tentram dengan apa yang ada dihadapannya. Heidegger sendiri dalam konsep Dasein ini cukup banyak menaruh perhatian terhadap suasana hati yang sudah tertata di dalam diri manusia. Menurutnya, dengan Dasein itu manusia tidak akan terkurung di dalam dirinya sendiri, pasif seperti benda mati, melainkan terbuka terhadap segala sesuatu.

Kenyataan hidup sehari-hari Adnan sebagai orang biasa itulah yang justru membuat dirinya mampu menghayati “Ada” dan “menjadi”. “Ada” artinya Adnan menyadari jati dirinya sebagai manusia, dan “Menjadi” karena ia sendiri merasa beberapa tujuan hidupnya terus berkembang sebagaimana yang ia yakini, bahkan tak pernah ia prediksikan sebelumnya, sebagai seorang kiai, sebagai seorang pemuka dan mendapat kehormatan sebagai seorang manusia di tengah-tengah lingkungan hidupnya; yang membuat dirinya tak pernah terasing sekalipun pekerjaannya tak menghasilkan nilai ekonomi.

Baginya pekerjaan adalah sesuatu yang memang harus dilakukan. Manusia wajib usaha, wajib kerja. Kerja yang paling baik adalah bertani. Bertani di sini tentu saja bercocok tanam di atas tanah sendiri, berbeda dengan buruh tani yang bertani di atas tanah orang lain.  Karena itu selalu ia tekankan kepada para jamaahnya agar jangan pernah menelantarkan tanahnya.

“Tanaman tak menghasilkan uang, tapi menghasilkan rejeki,”katanya.

Adnan tak pernah berpikir hasil pertanian harus disesuaikan dengan harga pasar, sebab dengan begitu seorang petani hanya akan dipermainkan oleh pasar, alias oleh pedagang cina dan calo-calo pribumi yang gemar curang. Baginya, pasar bukanlah salahsatu-satunya penentu rejeki. Ia melihat hubungan sosial dengan sesama warga dan saudara-saudara di daerah lain sebagai salahsatu penarik rejeki dengan kepemilikan buah-buahan, tanaman dan sejumlah hasil pertanian dan perikanannya.

Pola pertanian subsistem ala komune primitif yang jauh dari hitungan uang seperti itu pada akhirnya justru melapangkan dada Adnan untuk terus bertanam tanpa harus terikat dengan harga pasar. Di tengah-tengah situasi kemiskinan petani di sekitarnya itu, Adnan seringkali merasa benar-benar merasa menjadi tong sampah; tempat pembuangan keluh-kesah petani miskin yang disingkirkan oleh negara.

“Mbiyen dijajah londo putih, saiki dijajah londo ireng,” katanya suatu ketika meledek para pejabat di hadapan para petani.  Kata-kata ini tentu saja dilontarkan tanpa pernah didengar para pejabat. Berbeda dengan Khozin, kiai yang masih muda dan agresif itu, Adnan memilih jalan diam terhadap negara dan mendorong Khozin untuk memasuki area dakwah politik.

****

Siang beranjak. Kehidupan desa terus bergulat dengan kegelisahannya sendiri. Orang-orang lalu lalang di pagi hari menuju ladang kehidupan masing-masing. Berbekal cangkul dan arit petani menuju ke ladang. Hanya sedikit mereka yang jadi pedagang setiap hari di pasar. Orang-orang desa itu datang ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dapurnya cukup setiap hari pasaran Pahing dan Wage. Bagi mereka yang berprofesi pedagang, di luar kedua hari pasaran ini mereka akan menuju pasar-pasar desa lain untuk menjajakan dagangannya. Desa tua ini pernah sebenarnya kehidupannya sangat bergantung dengan pasar. Hanya saja pertanian yang tak beranjak maju menjadikan pasar hanya dibutuhkan pada hari-hari tertentu.

Sejak awal berdirinya mataram kuno, 717 Masehi empat desa di kawasan utara Manggung itu menjadi cermin pola kehidupan pasar di tengah-tengah kehidupan kaum tani. Sebuah prasasti Tri Tpussan 764 Saka (842 M) di Candi Borobudur membuka prosesi kehidupan pasar Jawa dengan pola yang khas, yang tiada ditemukan di kerajaan tua lainnya. Tri Tpussan (sekarang Tepusen) ini merupakan pasar sentral, disebut sebagai Pasar Kliwon. Sebagai pasar induk Pasar Kliwon ini menjadi tempat perbelanjaan pedagang-pedagang dari desa lain yang menerapkan hari pasar Pon Kliwon, Wage Pahing. Kelima hari pasaran ini merupakan penandaan dari kalender Jawa Kuno.

Orang Jawa bilang, hari pasaran merupakan “posisi sikap” (patrap) dari bulan. Kliwon berarti asih. Menandakan jumeneng (berdiri). Legi (manis) berarti mungkur atau berbalik arah kebelakang. Pahing (pahit), artinya, madep (menghadap). Sementara Pon (petak) berarti sare (tidur), Wage (cemeng) berarti lenggah atau duduk. Rangkaian dari konsep pasar di atas dalam tradisi Jawa Kuno disebut pancawara.

Simbol-simbol di Candi Borobudur seolah-olah hendak mengabarkan, tentang situasi mataram kuno dengan tradisi kehidupan pasar sangat berperan menghidupkan industrialisasi di desa-desa sekitarnya. Desa Kemiri, Tepusen  memproduksi tape singkong; Desa Tepusen, Desa Mbayah dan Desa Goanu,-Tegowanuh memproduksi gerabah.  Dukuh Ngulakan, Dukuh Sendang, dan Dukuh Megatan memproduksi tempe; Dukuh krengseng, Dukuh Banjar (Kecamatan Kandangan) memproduksi gula merah. Pada salahsatu deretan pahatan terlihat jenis-jenis alat untuk menangkap binatang yang merupakan hasil produksi para perajin. Ada juga pahatan yang mengambarkan perajin gerabah yang sedang membuat gerabah dan membakar gerabah.

Di Kecamatan Kanaan itu terdapat tiga pasar kuno yang tercatat dalam situs di candi borobudur, yakni pasar Pahing Kanaan (berjarak 300 meter dari kantor kecamatan), Pasar Kliwon Tepusen, (empat kilometer dari kantor kecamatan, pertengahan antara kecamatan Kanaan dengan Kecamatan Kandangan), Pasar Tegowanuh, (lima kilometer dari kecamatan menuju arah kota Manggung). Sebagian orang-orang Kauman berdagang di pasar Kanaan, pada saat hari pasaran Pahing dan Wage. Saat hari pasaran Kliwon dan Pon sebagian dari pedagang itu berjualan di Pasar Tepusen, dan hanya sedikit sekali yang berjualan di pasar Tegowanuh. Bakul-bakul belanja barang dagangannya biasanya dari Pasar Induk (Pasar Kliwon Manggung), di kota, sebagian mengambil dari Pasar Sumowono (12 Kilometer dari Kecamatan Kanaan menuju arah Semarang).

Dini hari, setiap hari pasaran Pahing suara-suara keriuhan para bakul memecah sepinya subuh di desa yang sangat dingin kala itu. Simpang siur orang-orang berdagang dan berbelanja menuju pasar. Selain keriuhan suara orang, suara-suara ayam, domba dan sapi mewarnai pagi dini hari itu.

Pasar Pahing Kanaan, sebagaimana pasar tradisional kebanyakan di Jawa adalah tempat berkumpulnya pedagang dan pembeli. Biasanya ratusan atau bahkan ribuan orang berjubel memadati lingkungan pasar, kebanyakan mereka yang ke pasar adalah kaum perempuan yang menjajakan hasil bumi. Bangunan pasar sebagian terbuat dari kios yang disewakan atau dijual oleh dinas pasar kelurahan. Sebagian besar kios-kios murah dibangun memakai batang bambu atau kayu dengan atap genteng,- di masa kuno beratap ilalang. Pedagang kecil yang tak mampu menyewa kios memilih emperan seadanya menggelar dagangannya dengan tikar.

Bagi petani, pasar adalah sarana memasarkan hasil produknya kepada masyarakat, tetapi sebagian besar hasil bumi itu dibawa ke kota. Biasanya pengepul di pasar yang memiliki modal mengumpulkan hasil bumi jadi satu, lalu diangkut memakai mobil pribadi atau sewaan ke kota. Para pengepul ini membeli hasil bumi petani dengan tarif mempertimbangkan harga pemasar di kota, yang biasanya para pedagang Tionghoa. Sejak jaman kolonial, kelompok pedagang beretnis Tionghoa ini memainkan peranan penting perdagangan di basis-basis pertanian. Hampir semua hasil bumi pertanian yang hendak masuk pasar kota dipastikan melewati perantara dan begitu ketat diatur oleh orang Tionghoa.

Orang pribumi sendiri rata-rata tak memiliki kemampuan modal untuk belanja. Kalaupun mereka mampu menjadi pengepul, biasanya harus berhubungan baik dengan pedagang Tionghoa, sebab biasanya jika berdagang tanpa relasi mereka akan mudah tergusur. Pedagang Tionghoa ini kebanyakan tak suka campur dengan urusan pertanian. Dengan kemampuan modal dan etos kerja yang khusus, yang tak dimiliki oleh orang pribumi, mereka memainkan monopoli dagang. Sebenarnya tak terlalu rumit urusan ini. Asalkan ada modal dan mampu membeli barang banyak, mereka akan membawa hasil buminya ke pelabuhan untuk di ekspor, atau cukup di pasarkan di kota-kota besar.

Hari pasaran terasa menggairahkan kehidupan desa yang sepi. Nampak wajah-wajah ceria dan semangat dari para ibu-ibu petani pada dua hari pasaran setiap minggu itu. Setiap hari pasaran itu juga tiga titik keramaian menyatu dalam satu keriuhan yang khas, yakni keriuhan pasar, keriuhan di depan kantor kecamatan dan keriuhan di kampung Kauman yang berjarak 200 meter dari kantor kecamatan. Di Kampung Kauman santri-santri ramai belajar. Setelah solat subuh para santri pemula mengaji di serambi masjid. Suara-suara tartil al-Quran pun bergema. Setelah jam kemudian orang-orang pasar mulai lewat, ada pula ibu-ibu yang lalu lalang mengambil air bersih dari sumur di samping pesantren, sumur yang disediakan Adnan untuk warga desa. Jam 06:00 para santri dewasa mengaji, dengan keriuhan bacaan-bacaan tartil nadzaman syair Arab.

Setiap hari pasaran itu pula anak-anak keluarga Adnan merasakan kesukaan tersendiri. Sabit, Zaid dan dua adiknya, Haidar dan Husein sering mendapat bonus jajan sebelum berangkat sekolah. Kalau di luar hari pasaran mereka hanya mendapat sarapan nasi goreng buatan simboknya, maka pada hari pasaran itu mereka mendapatkan menu makanan yang enak dari para bakul. Biasanya para bakul makanan itu dicegat berhenti. Di depan pesantren itulah Mbok Painem, bakul lopis kesukaan anak-anak Adnan berhenti. Belum juga sampai ke pasar dagangannya sudah terbeli oleh anak-anak Adnan, terkadang para santri juga ikut membeli. Kalau bosan lopis anak-anak Adnan membeli sarimi sebagai tambahan sarapan atau juga membeli jajan pasar lain seperti jenang candil buatan Yu ndil. Yu ndil ini bernama asli kartini, tapi anak-anak sering memanggilnya Yu Ndil karena ia sebagai pedagang jenang candil yang sangat enak.

            Sejak Nuriyah, istri kedua Adnan menyatu dengan keluarga ini, ia dibekali sedikit modal untuk dagang oleh Adnan. Di depan pesantren itulah sebuah warung berdiri menyediakan bahan-bahan pokok makanan keperluan keluarga desa, terutama untuk memenuhi keperluan ibu rumah tangga di luar hari pasaran Pahing dan Wage. Hanya dalam beberapa bulan warung sangat laris. Orderan minyak tanah banyak dipesan. Pengalaman berjualan Nuriyah semasa remaja menjadi bekal kelancaran ekonomi keluarga Adnan. Begitu warung dibuka, ia tak perlu banyak belajar lagi. Hubungannya dengan pedagang lain langsung lancar, bahkan Nuriyah ini dikenal paling gampang mencari modal dagangan.

Baginya belanja banyak tak harus dengan modal banyak, cukup modal kepercayaan. Beberapa relasi pedagang Tionghoa di kota mempercayai Nuriyah mengambil barang tanpa uang muka, dengan perjanjian membayar tepat waktu selama semingu. Bahkan untuk modal jualan minyak tanah, sebelum listrik masuk desa itu, Nuriyah tak perlu repot-repot datang ke kota. Agen minyak tanah dari kota datang dengan mobilnya, langsung menurunkan beberapa tong besar minyak tanah. Urusan duit belakangan. Ini berlangsung bertahun-tahun. Hasil warung inilah yang membantu tonggak ekonomi keluarga mandiri kiai Adnan.

Usaha dagang adalah satu-satunya usaha yang mempercepat perbaikan ekonomi, tetapi di sisi lain sebenarnya juga problematis. Apalagi usaha seperti warung harian di desa. Hutang piutang ibu-ibu rumah tangga itu sudah lazim terjadi. Ibu-ibu rumah tangga itu biasanya menghutang cukup dengan cara mencatat di buku piutang. Mereka sangat jujur dan terus mencatat. Sayangnya, kejujuran itu tak diakhiri dengan cara yang baik dengan membayar tepat waktu. Semakin sering menghutang, semakin mereka merasa nyaman, terus dan terus mengambil barang dari warung.

“Usaha paling baik itu memang bertani.” Kata-kata ini selalu disampaikan Adnan kepada setiap orang, tak terkecuali kepada istrinya yang sedang mengeluhkan uangnya ludes dihutang tetangga-tetangganya. Hasil penghitungan menunjukkan, kebanyakan yang sering menghutang adalah keluarga pegawai ketimbang keluarga petani. Istri-istri guru sering menghutang untuk jangka waktu antara dua hingga tiga minggu.

Biasanya mereka membayarnya pada tanggal muda setelah suaminya gajian. Sedangkan pegawai-pegawai kelurahan tak pernah bisa tertib karena suaminya tak mendapatkan gaji melainkan hanya mendapat tanah bengkok. Pertanian yang tak bisa menghasilkan uang serutin pegawai gajian membuat mereka terpaksa berani menunggak pembayaran hutang. Seolah-olah warung Nuriyah adalah koperasi yang menyediakan subsidi dari langit.

Dagang bak durian, di balik manisnya buah, kulitnya mengandung resiko melukai tubuh seseorang. Kehati-hatian menjadi ujian sepanjang kehidupan. “Tapi kehati-hatian macam apa lagi yang harus dilakukan?” Nuriyah tak habis pikir. Ia berbelanja dan menjual secara wajar. Menimbang dengan tepat dan benar, lebih baik memberikan berat lebih ketimbang menjerumuskan dirinya pada dosa. Setiap melayani pembelinya, tak pernah bermuka masam. Ia coba tersenyum kepada siapapun, termasuk yang gemar menghutang tanpa bayar. Lalu apa lagi yang kurang?

“Kalau tani itu hasilnya lama, kebutuhan harian bagaimana?”

Adnan terdiam.

Setiap kali memikirkan masalah dagang, bukan bagaimana mengusahakan dagang yang maju, melainkan teringat pada bahaya-bahaya pasar. “Di pasar banyak setannya. Pasar penuh dengan tipu daya, maksiat merajalela.” Adnan sering melarang santri-santrinya ke pasar, kecuali hanya sebentar. Kepada para petani ia sampaikan bahaya pasar yang penuh tipu daya. Orang-orang pasar itu, orang-orang yang menjungkirbalikkan nilai kebaikan. Menipu sebagai cara meraih untung. Semakin mahir ngomong semakin tebal kantongnya. Adnan tahu hanya pedagang jujur yang sukses, dan anehnya kebanyakan dari mereka justru bukan orang-orang Islam, melainkan justru orang-orang Kristen atau Tionghoa.

Hanya sedikit orang Islam yang berlaku jujur. Para petani itu hanya bisa jujur di ladang, saat mereka menyemai benih, bercocok tanam dan tulus dalam gotong royong di desa. Di pasar? Kebohongan bukanlah perbuatan dosa. Keuntungan adalah target yang harus dicapai. Berbohong adalah cara paling mudah. Katakan barang cacat tiada cacat. Setiap barang dagangannya adalah yang termurah dan terbaik. Menipu itu perlu, tanpanyakau akan beruntung. Kalau tak untung di pasar kembalilah ke ladang!.

“Orang-orang pasar itu tersesat. Hanya sedikit yang benar ”kata Kang Gito, blantik sapi suatu ketika kepada Adnan. Orang-orang pasar sendiri sangat menyadari kenyataan ini. Sejak kecil Adnan tak tertarik dengan pasar. Di kota ia punya pengalaman tersendiri bagaimana teman-teman main kecilnya sering ngutil beras milik pedadang. Percek-cokan antar bakul sungguh memusingkan kepalanya. Dan ia tak hendak berurusan dengan pasar. “Terlalu pagi ke pasar tak baik. Kalau mau berangkat jangan lupa baca doa, keluar dari pintu melangkah pakai kaki kiri terlebih dulu,”pesannya kepada para jamaahnya. Kaki kiri adalah simbol kewaspadaan terhadap bahaya-bahaya pasar yang penuh dengan kemaksiatan.

“Yu, ndak usah jualan di rumah,” kata Mak Tun, adik Nuriyah yang selama ini membantu belanja kakaknya itu. “Kalau jualan di pasar lebih enak, karena bisa menolak penghutang,”sarannya.

“Yo kepiye Tun, mbak yu mu kan mulang ngaji,”sergah Adnan.

Ketiganya diam

“Kalau tidak keberatan, saya saja yang ngurus jualannya. Biar Yu Nur mengajar saja. Jualan dengan tetangga itu memang susah mas,” ucapnya meyakinkan.

Adnan mengangguk.

Hatinya selalu tersayat setiap kali mengingat masa kecilnya sebagai fakir. Sejak sering ceramah ke desa-desa Adnan setiap hari melihat banyak petani miskin. Hidup mereka terlunta-lunta. Untuk meringankan beban keluarganya ia nekad pasang badan, menarik anak-anak petani miskin tinggal di pondokannya. Mereka lantas disuruh mengaji dan membantu bekerja di kebun, merumput, mengambil kayu bakar atau menyangkul. Ia ajarkan anak-anak petani miskin itu bercocok tanam sebaik mungkin. Bertahun-tahun lamanya ia menyubsidi empat anak petani miskin. Mereka rata-rata tak lulus sekolah SD karena orang tuanya tak mampu membiayai. Sebenarnya kalau mau nuruti perasasan, bisa saja ia pungut puluhan anak-anak miskin di setiap desa ia berceramah.

“Tiada mungkin….”

Antara kasihan dan ketidakmampuan silih berganti menyerang batinnya. Sesekali ada solusi. Beberapa anak petani miskin yang sudah mengaji lebih dua tahun ia kirim ke rumah kakaknya, ikut kerja bengkel di Kota Bambu Runcing. Ia beruntung kakak perempuannya di kota itu ikut memikirkan masalah ini. Hanya saja tak mungkin berharap lebih karena kakak perempuannya itu bukan pemilik pabrik, cuma toko onderdil, ditambah jasa bengkel dan penjual sepeda onthel. Dagangan sepeda onthel laris setiap musim tembakau, selebihnya penghasilan lebih bergantung pada jasa bengkel dan penjualan onderdil. Ketika tenaga bengkel sudah tak mungkin menyerap tenaga kerja dan kebutuhan membantu si fakir terus menuntut, lagi-lagi Adnan harus merepotkan kakaknya. Beruntung kakak perempuannya mengerti apa yang dirasakan adiknya. Rupanya, pahit getir kehidupan masa lalunya itulah yang selalu menggerakkan agar kakak beradik ini menganggap menolong sebagai  kewajiban; mampu tak mampu harus jadi mampu. Sampai berapa puluh orang yang hendak ditolong?

“Sesusah-susahnya kita sekarang masih susah mereka,”kata Adnan setiapkali mendengar keluhan istrinya yang makin hari semakin direpotkan oleh anak-anak fakir di rumahnya. Lalu, perempuan-perempuan desa itu. Satu dua orang bisa ia tampung di rumahnya, membantu kegiatan dapur kedua istrinya. Tiga, empat, sampai kemudian lima perempuan desa itu ikut menaungi rumahnya yang luas. Beban makin berat. Doa-doa terus disebarkan ke penjuru langit setiap solat dluha dan setiap malam. Sepanjang hari sepanjang umur Adnan berdoa.”

Dan, ketika keponakan-keponakannya datang dari Jakarta, Adnan memanfaatkan kesempatan itu.

“Sebenarnya belum mampu bayar pembantu Lik….” Sahut Salamah, salah seorang keponakannya. “Tapi kuusahakan. Doakan saja dapat rejeki.”

“Seandainya kalian tidak bisa membayar penuh gaji kepada mereka, itu tak berdosa,” kata Adnan. “Yang penting kalian penuhi kebutuhan sehari-hari, baru kalau ada rejeki kalian bayar.”

Tak ada jalan lain menyelesaikan kehidupan fakir yang setiap hari hanya bisa makan sekali itu. Mereka tak dipekerjakan sebagai pembantu, melainkan dititipkan, dan anak-anak petani desa itu akan merasa lebih baik hidupnya, minimal bisa makan setiap hari secara normal. Tak selalu mulus upaya ini. Di tengah jalan terkadang keponakannya mengeluhkan kebutuhan yang membengkak. Setiap kali keluhan datang, Adnan dan Kakaknya mengumpulkan anak-anaknya itu.

“Kalian ini harus bersyukur tak melarat seperti kita dulu. Rejeki itu dari Gusti Allah. Setiap kalian berusaha pasti ada rejeki.”

Kalau sudah begini, tak ada satupun keponakannya yang berani menentang. [By:Faiz Manshur/2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s