Islam Desa (Bagian 4 Novel Shastri)

Standar

Kebanyakan kampung Kauman di Pulau Jawa dikelilingi oleh kampung-kampung yang memiliki tradisi keagamaan cukup baik. Tetapi Kauman Kanaan nampaknya memiliki pengecualian. Di sebelah kampung ini, dusun-dusunnya sebagian belum tersentuh oleh ajaran Islam secara memadai. Tak banyak santri di kampung ini, bahkan sebelum tahun 1960an nyaris hanya beberapa gelintir anak muda yang nyantri. Di Kecamatan Kanaan itu sendiri pesantren paling tua adalah pesantren Adnan, yang didirikan tahun 1969, disusul pesantren Al Misbach Kemloko, berjarak 6 kilometer dari Kantor Kecamatan Kanaan yang didirikan oleh Kiai Fadlan. Pesantren baru muncul belakangan, tahun 1980an adalah Pesantren Sumur Blandung, milik Kiai Fajdroel yang kemudian dikembangkan oleh menantunya, Kiai Khozin. Pesantren Sumur Blandung ini didirikan di pinggir jalan raya Kanaan Manggung, tepatnya di Kampung Goano, sebuah kampung yang memiliki sejarah pasar Tua di awal jaman Mataram Kuno. Selain pasar berserajah, masyarakat Goano juga memiliki produksi kerajinan gerabah sejak jaman mataram kuno dan bertahan hingga sekarang.

Sebagai kelompok muslim yang berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat Jawa, penduduk Kauman di manapun sebenarnya agak “mentereng” sekaligus mengundang sinisme. Di satu sisi ia menjadi tolak ukur kehidupan Islam, di lain pihak sebagian priyayinya berlaku elitis terhadap warga dusun lain. Secara sosiologis, orang Kauman Kanaan bisa dianggap paling baik sisi ke-Islamannya karena memiliki beberapa ahli agama, bahkan kantor KUA pun pernah berada di samping masjid Kauman itu. Di lain pihak masyarakat menganggap kehidupan Islam cenderung tidak memperlihatkan nilai lebih. Oleh sebab itulah kelompok Islam biasa, atau mereka yang masih memeluk pajam kejawen secara sungguh-sungguh mengganggap ajaran Islam tak terlalu penting. Barulah semenjak kehadiran Adnan di kampung itu, seiring didirikannya pesantren masyarakat melihat ada unsur nilai lebih yang menonjol. Tetapi lagi-lagi ini tak cukup menjelaskan bagaimana sesungguhnya Islam memberikan kontribusi kehidupan yang lebih baik karena pesantren itu hanyalah berupa pondokan gedhek tradisional yang diisi oleh santri-santri desa terbelakang. Pesantren ini belum memiliki guru-guru ngaji yang handal kecuali Adnan sendiri. Murid-murid Adnan yang sudah menjadi guru ngaji juga tak cukup memberikan banyak kontribusi karena kebanyakan hanya menyerap Ilmu dari Adnan. Biasanya, pesantren akan mengalami kemajuan pesat jika para gurunya menguasai berbagai jenis keilmuan secara khusus.

Kemajuan pesantren juga bisa berkembang ketika masyarakat di sekitarnya juga menyadari bahwa ajaran agama adalah sesuatu yang penting bagi kehidupan. Masyarakat di Kecamatan Kanaan yang sering dikatakan abangan itu kebanyakan memasukkan anak-anaknya ke pesantren bukan karena kebutuhan memahami syariat secara mendalam, melainkan supaya anak-anaknya sekadar mengerti ilmu agama, atau karena orang tuanya tak mampu membiayai sekolah anak-anaknya di SMP atau SMA. Adnan sendiri dengan kemampuan terbatas tak berani berspekulasi mendirikan sekolah. Ia sadar akan keterbatasannya. “Ya kalau merasa kurang mendapat ilmu di sini, bisa cari di tempat lain. Kalau pingin sekolah ya masuk saja sekolah negeri. Kalau pingin dapat dua ilmu, boleh mondok di sini, siang sekolah malam mengaji.” Itulah Jawaban yang ia berikan kepada siapapun, termasuk kepada pejabat Negara yang menawari agar Adnan berkenan memimpin pendirian sekolah agama.

Adnan berpikir, menyadarkan orang-orang tua lebih penting, karena tiada mungkin anak-anak petani memiliki kesadaran sendiri. Ini disadari karena banyak orang-orang desa yang masih belum begitu serius ber-Islam. Takhayul yang sudah berakar kuat di kalangan petani menjelma menjadi dogma yang sulit diubah. Kalau ia mendirikan sekolah, maka beban berat ada dipundaknya, apalagi ia sendiri tidak melihat banyak orang yang bisa diandalkan menjadi guru agama di sekitar itu. Karena itu ia lebih memilih fokus pada acara pengajian keliling desa sekitar dan mengajar di pesantrennya. Sebagai seorang kiai ia sadar dibutuhkan banyak kelompok. Baginya politik saat itu adalah pemihakan terhadap satu kelompok dari tiga kelompok berbeda. Hijau, Kuning dan Merah adalah indentitas yang jelas. Masing-masing orang yang bernaung di bawah warna itu membutuhkan dirinya. Diam dan bergaul baik dengan mereka adalah satu-satunya cara terbaik. Bahkan untuk urusan organisasi pun ia tidak memilih sikap secara jelas apakah NU atau Muhamadiyah. Yang ia pahami, tugasnya adalah memperkuat pemahaman keagamaan di kalangan masyarakat, bukan menghimpun kekuatan organisasi. Perbedaan tata cara beribadah tak dianggap penting olehnya. Berdebat yang baik diperbolehkan kepada ahli kitab dan tidak dibenarkan berdebat dengan mereka yang tidak menguasai kitab. Ada rasa sedikit sombong dalam hatinya ketika ia menganggap orang-orang di desanya yang sering berkhotbah keliling masjid itu tidak masuk kategori ahli kitab. Apa boleh buat. Selama kesombongan tidak diucapkan, dan hanya dirasakan, buatnya itu lebih baik ketimbang ia menganggap mereka ahli kitab lalu berseteru.

Orang-orang Jawa tak pernah punya sikap jelas. Mudah terbawa arus dan tak suka menghargai pendapat dari musuhnya. Mereka lebih suka mempercapai pendapat orang yang tak dikenal ketimbang saudaranya sendiri. Menaklukkan orang Jawa bukan dengan kepintaran akal budi, melainkan cukup dengan sentuhan kesantunan dan pelayanan keramahan. Orang-orang Jawa di desa-desa pedalaman akalnya tumpul dan mudah diakali, namun budi-nya terbuka untuk dimasuki apa saja yang dikehendaki. Jika budi-nya sudah diambil, berikan air kencing pun mereka akan berterimakasih.

Adnan lebih suka berdialog dengan saudara-saudaranya dari luar yang tak bersinggungan setiap hari di desanya. Perbedaan pendapat dengan orang-orang luar desanya terasa menyenangkan, pun itu berbeda aliran mazhab atau berbeda agama. Olok-olokan perbedaan jumlah rakaat salat tarawih, doa qunut subuh atau ihwal nyadran memang sering terjadi, namun dalam batasan sebagai gurauan. Masing-masing memiliki penalaran secara dewasa dan tidak saling memojokkan. Bahkan untuk urusan ziarah kubur, sepupu Adnan, seorang penganut gerakan Islam modernis yang tinggal di Malang tetap melakukan saat berziarah di makam orang tuanya di Kota Manggung. Ziarah kubur masih sering dianggap bid’ah dlalalah, perilaku baru yang “menyimpang” oleh sebagian kalangan muslim modern. Mereka menganggap ziarah kubur sudah dilarang nabi, tetapi lupa dengan hadist nabi lain yang menganjurkan ziarah kubur. Bagi kalangan muslim modern yang serius mengkaji Ilmu Hadist, biasanya mereka percaya bahwa ziarah kubur baik dilakukan untuk sarana menghormati orang tua yang sudah meninggal dan sebagai sarana refleksi kehidupan. Lain dari itu, fungsi ziarah kubur juga sangat bermanfaat bagi acara silaturahmi antar keluarga. Dengan ziarah bersama mereka berkumpul dalam suasana haru dan batin mereka merekat kembali setelah lama berpisah. Lain ladang lain belalang, lain orang lain maunya. Tinggi ilmu baik pemikirannya, rendah ilmu jadi konflik akibatnya.

Kultur pedesaan dengan ekonomi pertanian yang tak begitu maju. Di sini, agama memainkan peranan yang cukup dominan di masyarakat Kauman dan sekitarnya. Orang-orang butuh agama karena dengan itu mereka bisa menjawab berbagai persoalan. Agama akan selalu berperan di manapun jua. Kalaupun orang-orang Jawa tidak terlalu mementingkan agama formal yang sifatnya samawi, mereka tetap butuh “agama” dalam pengertian aliran kebatinan. Agama dibutuhkan oleh masyarakat karena ia lebih lengkap memberikan Jawaban ketimbang ideologi. Dalam ideologi masalah pencernaan perut paling-paling bisa dijelaskan dalam konteks kebutuhan makan. Tetapi dalam ilmu (kesehatan) masalah pencernaan juga meliputi kandungan nutrisi, gangguan lendir, gangguan angin sampai soal usus buntu. Di dalam ideologi masalah ekonomi sebatas soal  bagaimana menyejahterakan rakyat agar terhindar dari kelaparan. Sementara dalam ilmu pengetahuan, ilmu ekonomi meliputi sejumlah kompleksitas yang lebih detial, misalnya ekonomi keluarga, ekonomi pedesaan atau ekonomi subsistem, termasuk ekonomi perdagangan dan diplomasi. Agama lebih komplit ketimbang ilmu pengetahuan.

Dalam ilmu pengetahuan pijakan dasarnya adalah rasionalitas. Artinya setiap yang irasional tidak masuk wilayah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus rasional karena dalam hal ini harus menjawab secara masuk akal. Masalahnya kemudian tidak setiap masalah selalu rasional. Ada banyak elemen kehidupan yang irasional, bahkan di jaman modern seperti sekarang ini. Agama tidak luntur di masyarakat modern atau pasca modern sekalipun karena persoalan hidup manusia akan selalu bergayut pada sampan irasionalitas. Agama akan berperan, sekalipun dalam peranan terbatas dengan artikulasi yang berlainan sepanjang kehidupan manusia masih ada. Umur agama itu sendiri sudah ada semenjak manusia lahir, sekalipun masih dalam bentuk kepercayaan-kepercayaan terbatas. Sedangkan ajaran agama dibentuk melalui pengalaman empiris umat manusia. Pengalaman empiris yang berhimpung sekian abad, sekian ribu tahun hingga saat ini terus berevolusi membentuk banyak aturan, nilai dan pandangan kehidupan setelah kematian. Di dalam himpunan tata nilai itulah agama lebih lengkap dalam memberikan jawaban dibanding ilmu pengetahuan atau ideologi yang sangat terbatas. Seorang Sosiolog, Arief Budiman (1996) pernah mengatakan, “agama akan mampu menjawab masalah-masalah yang tidak dipecahkan ideologi atau ilmu pengetahuan, sekalipun Jawabannya tidak tidak rasional.

Ideologi, ilmu pengetahuan dan agama masing-masing berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat. Corak perkembangan masyarakat terhadap ideologi tersebut sangat terkait dengan lingkungan sekitarnya. Dalam masyarakat perkotaan, yang lebih maju di banding masyarakat pedesaan, pemahaman akan ketiganya sangat berbeda. Masyarakat yang lebih maju akan menghayati agama lebih rasional, sedangkan masyarakat terbelakang terbelakang pula pemahamannya akan ilmu pengetahuan. Semakin rasional masyarakat, semakin pudar nilai keagamaan. Masyarakat modern kebanyakan akan lebih mempercayai ilmu pengetahuan ketimbang agama.

Uraian ini memang tak melulu benar, sebab di dalam agama sendiri terdapat variable-variabel yang mengandung ilmu pengetahuan, ideologi, termasuk mitologi. Tetapi semakin kuat ilmu pengetahuan, semakin berkurang kecenderungan orang mempercayai agama, terutama dalam hal mitologinya. Kalaupun pada pasca tahun 2000 ini kita menyaksikan gairah keagamaan, tentu bukan agama dalam pengertian tradisional, melainkan corak yang lain, yakni agama politik, agama ilmu, termasuk agama teror. Agama pedesaan sarat dengan mitos. Setiap daerah memiliki perbedaan mitos sehingga agama itu sendiri terkontaminasi dengan unsur lokal setempat. Sebagian unsur lokal bisa beradaptasi dengan ajaran agama, sebagian tidak. Seorang tokoh agama yang menyebarkan ajarannya sangat penting memahami hal ini. Sedikit berlaku ekstrim dalam menyebarkan pemahaman, “barang dagangan” tak akan laku. Bagi pendakwah yang kompromi dan sabar dalam mengajarkan ilmu keagamaan ia akan diterima masyarakat, sedangkan yang vulgar dan reaksioner atas perilaku non agamis akan menjadi hantu yang menakutkan masyarakat sekitar.

Di sini tampaknya memang penting memahami tentang apa itu yang disebut ‘kesadaran’. Seseorang mungkin mudah diberi ilmu pengetahuan dalam sebuah pertemuan, tetapi mewujudkan orang menjadi sadar adalah soal proses berliku. Kesadaran tak cukup dibangun dari sebuah institusi pendidikan, melainkan harus melalui pola hidup keseharian. Praktek pergaulan yang baik sangat menentukan kesuksesan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Faktanya sangat jelas dari pengalaman empiris. Sama-sama belajar di suatu tempat tetapi tidak mendapat pelajaran dari lingkungan non akademis secara baik paling-paling seeorang hanya berubah sedikit pemikiran, sementara mereka yang bergaul luas dengan dunia kompleks akan terbangun kesadarannya ke arah yang lebih maju. Bagi kiai tradisional di Jawa, ilmu agama itu sendiri hanya akan bisa diterapkan dalam wilayah terbatas. Mereka menyadari tidak semua ilmu agama yang ia dapatkan dari pesantrennya selama ia nyantri akan bisa diajarkan di lingkungan masyarakat tempatnya berdakwah.

Agama tak sesimple ilmu pengetahuan, melainkan memiliki dimensi yang lebih rumit; ajaran petunjuk praktis untuk laku, bertindak, praksis dan menggerakkan. Ada banyak kasus santri lulusan Universitas Ilmu Islam tetapi menjadi manusia kesepian setelah pulang kampung di desanya. Tak jarang mereka lebih memilih menjadi pegawai negeri yang peranannya terbatas, atau bisa jadi mereka menjadi orang biasa yang tidak memiliki nilai lebih di masyarakat karena laku dan komunikasinya dengan masyarakat desa tak berjalan baik.  Sarjana agama rata-rata mahir dalam membedah ilmu keagamaan di banding lulusan pondok pesantren. Tetapi ilmu pengetahuan itu tiada berguna karena laku mereka tak bisa dijadikan contoh. Kiai diikuti masyarakat bukan karena ilmu dan laku. Ilmu pengetahuan saja tak cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Di masyarakat manapun, selalu saja penduduknya memiliki rasionalitas tersendiri, yang bahkan sangat empirisme untuk mengikuti pembaruan yang ditawarkan seseorang.

Bagi masyarakat agama penting dan kemudian membentuk semacam “ideologi” dominan. Ia bukan sekadar dahaga saat manusia didera dehidrasi kehidupan sebagaimana orang-orang kota yang agak oportunis memperlakukan agama untuk kepentingan duniawi. Bagi orang desa, bagaimana pun juga agama adalah identitas. Seseorang bisa diakui keberdaannya di lingkungan sekitar jika ia memiliki identitas jelas. Tanpa identitas keagamaan ia akan terasing secara natural dari pergaulan. Orang-orang akan merasa canggung mengajak bergaul dalam banyak hal, khususnya yang berurusan dengan kegiatan keagamaan seperti hajatan kawinan, acara syukuran, doa kematian atau urusan lainnya. Orang Jawa secara umum, terkecuali kaum santri taat,-dikenal setengah hati dalam menjalankan agama. Ini sudah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Tetapi menolak agama tetaplah sebagai suatu penyimpangan moral dan kejahatan sosial. Tetapi bagaimanapun pentingnya agama di masyarakat Jawa,-seperti Jawa pegunungan Manggung yang mewarisi sejarah panjang agama-agama non samawi seperti Hindu dan Buddha,- agama tetap tak mampu membentuk identitas tunggal di masyarakat.  Wujud nyatanya terlihat jelas dalam hal politik. Sekalipun agamanya jelas Islam, kecenderungan politiknya tak melulu Islam. Orang desa yang mayoritas petani, dengan nalarnya sendiri memandang identitas dirinya sebagai muslim dan tidak wajib memilih Partai Islam. Tak heran di kalangan masyarakat ini pada masa silam orang-orang Islam sebagian ikut Partai Komunis, Murba, atau Partai Nasionalis. Di luar politik, orang-orang Islam juga tak merasa alergi dengan kesenian lokal. Bahkan sebagian kiai,- tidak termasuk tipikal Kiai Adnan,-tetap memanfaatkan unsur-unsur kesenian lokal sebagai bagian kehidupan keagamaannya.

Dalam hal busana, keluarga santri taat merasa pas dengan ucapan assalamu’alaikum, tetapi bagi muslim lain lebih enak menyapa dengan ucapan kulo nuwun. Jilbab dikenakan secara ketat oleh keluarga santri perempuan, namun tidak menjadi persoalan bagi muslimah pada umumnya. Keluarga santri sendiri tak terlalu rewel dan harus berpesan agar orang-orang itu wajib memakai jilbab.  Di sini, kesantunan dan sikap moderat kaum santri nampaknya dirasakan lebih nyaman untuk menjaga etika pergaulan dengan masyarakat sekitar. Sangat berbeda dengan kaum santri kota yang setiap kali ketemu orang selalu mendakwahi dengan ceramah-ceramah lisan hingga membuat orang yang diajak bicara merasa tak nyaman karena merasa digurui.

“Ngelayani wong Ndeso kuwi kudu sabar nak,” kata Adnan kepada Khozin, suatu malam. Khozin adalah seorang kiai muda dari kampung Goano, lima kilometer dari kampung Adnan menuju arah kota. Di usia mudanya, umur 28 tahun, setelah nyantri di Lirboyo Jawa Timur, Khozin diambil menantu oleh seorang guru ngaji desa itu. Kehadiran Khozin di kampung itu membuat suasana baru. Dulu ketika mertuanya merintis jamaah ngaji satu persatu murid berdatangan kepingin diajarkan ilmu agama. Melihat ada kebutuhan guru ngaji, mertua Khozin lantas memberikan amanat untuk mendirikan pesantren. Dari sinilah Khozin merintis karirnya sebagai kiai. Tetapi ia bukanlah tipikal kiai angkatan Adnan dan mertuanya. Khozin lebih menunjukkan dirinya sebagai sosok mubalig yang lebih menaruh perhatian pada kemajuan modernisasi. Orasinya menawan, provokatif dan membangkitkan gairah keagamaan kaum muda. Muatan-muatan ceramahnya banyak berisi pandangan-pandangan dunia pesantren yang kompromi terhadap kebudayaan. Selain membaca kitab kuning, ia gemar membaca buku.

Kedatangan pertamanya ke rumah Adnan tiada lain sebagai kulo nuwun, perkenalan diri. Sebagai kiai muda Khozin menyadari ada tradisi unggah-ungguh di masyarakat Jawa di mana yang muda harus menghormati mereka yang tua. Dengan cara itulah Khozin memperkenalkan diri kepada Adnan. Sekali dua kali pertemuan terjadi biasa dan saling tukar pendapat. Selanjutnya mereka punya hubungan dalam. Semakin tahu masing-masing kepribadiannya, semakin akrab hubungan mereka. Sebagai orang tua Adnan merasa mendapat angin baik untuk membantu perjuangan dakwahnya menghadapi masyarakat Jawa.

“Sampeyan saya harap bisa mengisi ngaji (cermah) di beberapa desa.” Pesan Adnan suatu kali. Melihat karakter Khozin yang mengenal banyak budaya Jawa dengan tradisi kesenian yang begitu bagus, Adnan memanfaatkan Khozin untuk mengisi ceramah di beberapa dusun yang masih kental tradisi kejawennya.

“Injih Mbah, saya akan bantu simbah. Minta bimbingannya. Saya pun merasa demikian. Kalau bicara dengan orang kota lebih enak. Akalnya encer,” jawab Khozin. Khozin memanggil Adnan dengan istilah simbah bukan karena soal umur.  Sebutan “simbah” itu sendiri di kalangan pesantren dipakai sebagai bentuk penghormatan keilmuan. Mereka yang mendapat sebutan Mbah artinya tua, atau matang dalam hal keilmuan.

Adnan tertawa. Keduanya memiliki satu persepsi tentang kehidupan desa dari sudut pandang orang kota. Masa kecil Adnan sendiri tinggal di kota, sama seperti Khozin yang juga berasal dari sebuah kampung di tengah kota. Rumahnya orang tuanya di kota bahkan hanya berjarak dua ratus meter dari Kantor Dinas Kabupaten.

“Salah satu perjuangan Kanjeng Nabi yang sulit mengajak orang-orang badui,”katanya. Keduanya nampak bukan lagi seorang kiai, melainkan sebagai sesama orang kota yang melihat desa sebagai sebuah ketertinggalan. Ada superioritas di sana. Ada semacam kebutuhan untuk penaklukan sosial.

“Badui…?” Mendengar hal ini Khozin kaget. Seorang kiai seperti Adnan yang nampak lugu dan hanya berkutat pada kitab kuning ternyata bisa menyerap isu masyarakat Badui Makkah di jaman Nabi. Walaupun dengan penalaran yang tak panjang dan detail, tetapi paling tidak mendekati kesahihan sejarah. Mendadak Khozin mengingat istilah dari sejarahwan Toynbee yang pernah menuliskan tentang “ploretariat internal dan ploretariat eksternal. Toynbee menilai, tantangan dakwah Nabi di Makkah salah satunya adalah menghadapi orang-orang Arab Nomad yang sering dikenal suku Badui. Bagi orang-orang Islam yang kebanyakan tinggal di tengah kota menganggap diri mereka derajatnya lebih tinggi dari orang Badui. Superioritas ini pun mendapat legitimasi dari al-Quran. “Orang-orang Badui itu lebih sangat kekafirannya dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi maha bijaksana. Di antara orang-orang Badui itu, ada yang memandang rendah apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu. Merekalah yang akan ditimpa marabahaya; Allah maha mendengar lagi Maha Mengetahui “(Q:S. 9: 97-98).

Sesungguhnya, menarik kesimpulan tradisi hidup orang-orang nomad Badui dengan petani desa kurang memiliki  dasar yang tepat. Orang-orang Badui memiliki kebiasaan berpindah-pindah tempat. Kehidupan mereka berada dalam adat istiadat komune primitif yang tak memakai stukturur komando, sementara kaum tani di Jawa hidup dalam tradisi menetap yang sangat mementingkan sosok panutan. Di sini seorang kiai desa sebenarnya tak seberat menghadapi tantangan sebagaimana yang dialami oleh calon tokoh masyarakat di kalangan masyarakat nomad. Orang-orang desa di hampir seluruh pulau Jawa sekalipun tidak menyukai dengan seseorang pemuka mereka tetap menampakkan sikap toleran dan tiada pernah berani menentang secara terbuka. Gerundelan dan hasutan yang sering dijadikan cara untuk menggerogoti pengaruh kelompok lain. Akan tetapi harus dikatakan pula bahwa dalam setiap masyarakat yang memiliki keterbelakangan baik masyarakat nomad padang pasir, pesisir maupun masyarakat menetap memang memiliki sikap mapan terhadap warisan pikiran, paham dan keyakinan nenek-moyangnya. Masyarakat di tiap-tiap kelompok ini sama-sama tak mudah melepaskan diri dari paham tuanya. Jika Toynbee memasukkan golongan Badui sebagai “Ploretariat internal” maka golongan Ploretariat eksternal yang di maksud ialah kelompok Khawarij. Kelompok khawarij di masa Nabi adalah sebuah faksi dari kelompok nomad yang lebih modern, sadar akan politik yang mengikuti jalan nabi tetapi tetap pada garis independensinya. Independensi Khawarij ini karena mereka tiada pernah menyukai garis politik demokrasi (syura) yang diterapkan Nabi dalam membentuk tata pemerintahan Islam. Di Masa Nabi kelompok Khawarij belum menjelma menjadi kekuatan oposan yang kuat. Tetapi sepeninggal nabi kelompok ini memainkan peranan menentang kekuasaan para pewaris Nabi. Slogan “La imara” tidak ada pemerintah adalah ekspresi anarkhisme paling puncak untuk menyatakan pembangkangannya terhadap pewaris kekuasaan Nabi.

Di kalangan kiai sendiri Khozin menyadari sering munculnya sikap penyempalan, alias pembangkangan antara sesama kiai. Setiap kali kiai memasuki wilayah-wilayah politik praktis seringkali mendapat dukungan dari sebagian kiai, sekaligus mendapat tentangan. Perbedaan partai seringkali menjadikan mereka bersitegang mencari pengaruh. Tak jarang antara kiai itu sendiri saling menjelek-jelekkan. Di luar urusan politik, Khozin melihat struktur ekonomi tetaplah sebuah pengaruh paling kuat untuk melihat setiap perkembangan kehidupan, termasuk kehidupan keagamaan itu sendiri. Budaya (yang didalamnya terdapat “getah” politik, sosial, agama) eksistensinya ditentukan oleh ekonomi. Kiai muda seperti Khozin yang melek pengetahuan budaya dan ekonomi ini agaknya menyadari situasi masyarakat yang dihadapi. Impiannya untuk mendirikan pesantren dan sekolah maju di tengah-tengah masyarakat petani terbelakang agaknya harus berhadapan dengan kultur masyarakat itu sendiri. Bagi kaum tani, pendidikan formal seperti pesantren dan sekolah belum begitu dianggap penting. Mulanya ia tak suka dengan asumsi kaum Orientalis Barat seperti Mogomentary Waat yang melihat esensi ekonomi sebagai penentu keagamaan. Pada sebuah buku terjemahan yang ia dapatkan dari seorang temannya di Yogyakarta itu, Khozin teringat Watt yang bersikukuh berpendapat bahwa perubahan-perubahan agama sangat ditentukan oleh perubahan alat-alat produksi masyarakat setempat. Perubahan alat produksi ekonomi akan menimbulkan reaksi sosial, kemudian akan mengubah kegiatan dan paham keagamaan seseorang.

Hai Khozin, kau Ingat cerita lain tentang berbondong-bondongnya masyarakat Badui masuk Islam?

Khozin, kiai muda yang masih sangat ambisius memajukan kehidupan Islam di Kecamatan Kanaan dengan mimpinya mendirikan sekolah dan pesantren secara integral seperti pesantren di kota-kota akhirnya tertambat pada kenyataan sejarah Badui. Orang-orang Badui berbondong-bondong masuk Islam saat  perang antar suku berhasil dilerai oleh Nabi Muhamad. Berhentinya perang itu membuat orang Badui yang sebelumnya posisinya marjimal mendapat kesempatan akses ekonomi yang lebih baik. Dan orang-orang Badui itu kembali menentang keputusan-keputusan politik Islam saat dinasti Usman semakin dominan memonopoli kebijakan ekonomi dan politik. Ketika Usman berhasil memainkan politik nepotisme di mana hampir seluruh pos-pos politik dikuasi oleh keluarga dekatnya dari suku Quraish, orang Badui lantas memilih anti kebijakan pemerintahan Usman. Wacana seperi inilah yang menjadi tonggak kegelisahan masyarakat ilmiah karena pada akhirnya juga tak mampu memberikan Jawaban terhadap problem-problem getah yang terus menerus berkembang tiada kendali. Tak bijak menjawab setiap masalah dikembalikan pada aspek ekonomi. Tragisnya kemudian adalah ketika setiap orang hendak menyelesaikan urusan getah selalu terkait ekonomi, dipastikan menghadapi tembok besar kehidupan. Keyakinan determinasi ekonomi sebenarnya tidak hanya diyakini orang-orang pintar di lingkungan akademis, atau mereka yang mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi secara baik. Mereka, petani buta huruf pun menyadari aspek ekonomi adalah mendasar bagi kelangsungan kehidupan.

Hai Khozin, apakah engkau hendak bertahan dalam sangkar dakwahmu? Apakah politikmu cukup sebagai juru kampanye partai hijau? Apakah tiada mungkin mengubah keputusanmu dari seorang kiai budayawan menjadi kiai-budayawan plus politisi di gedung DPR?

(Pertanyaan-pertanyaan ini ini sering muncul dibenak Khozin, yang pada akhirnya pada tahun 1998 kelak membuatnya mengambil keputusan menjadi Ketua Partai sekaligus anggota DPRD).

Setiap kali hendak mengubah keadaan, setiap kali pula mereka terbentur dinding ekonomi. Problem klasik. Bagai tembok tua yang kokoh tetapi tak memberi manfaat apapun. Menghancurkan tembok dengan peralatan sederhana adalah sia-sia, bisa-bisa memakan korban. Sementara membiarkan tembok terus menerus bercokol adalah tekanan hidup berkepanjangan.

Agaknya, jalur kedua inilah yang menjadi pilihan orang-orang desa. Tembok tua yang semakin lama justru semakin kuat itu kini menjadi masalah yang nyaris tak bisa dijawab. Semakin mustahil meruntuhkan tembok, semakin orang melupakannya, dan menjadikan tembok sebagai takdir kehidupan yang tak bisa diubah. Tak ada upaya peruntuhan tembok dengan jalan massal dan radikal membongkar masalah ini. Tembok-tembok justru semakin bertumbuhan bak jamur mekar di musim penghujan. Silih berganti dengan label, mulai dari tembok pembangunan hingga tembok reformasi. Jalan kompromi menyelesaikan getah hanya berbuah penantian ke penantian, bertepi pada keterasingan hidup dengan lautan mimpi yang tak bisa dinikmati.

Lalu, menjelmalah sebuah kenyatan hidup, di mana para petani desa itu sebagai manusia-manusia terpinggirkan dari kehidupannya sendiri. Sementara sebagian anak-anak petani yang berhasil menjadi pengawai negeri pun tak mampu bekerja untuk manfaat orang tua dan saudara-saudaranya di desa. Kehidupan pegawai di lembaga negara justru adalah bentuk pemisahan yang seolah-olah menjadi takdir politik. Di dalam tembok tua yang kokoh dan congkak itu mereka hanya bisa menyapa saudara-saudaranya, kaum tani yang hidup melarat tanpa harapan. Dan bersama para abdi raja lainnya yang berada di tembok itu mereka menegak keringat saudaranya sendiri. Jika petani melawan itu akan dicap golongan komunis, atau paling tidak anak cicit PKI, yang sah dibasmi seketika. Komunis dalam pandangan penguasa orde baru bukanlah penganut aliran politik Marxisme, teori politik Bolshevikisme, Leninisme atau Maoisme yang memiliki keberpihakan pada nasib kaum tani dan buruh, melainkan sebagai gali, kecu, perampok, maling yang wajib dibasmi. Dan memang hanya partai beraliran politik itulah yang pernah nekad berani menghancurkan tembok tua kokoh itu. Naas, partai raksasa berkaki lempung itu harus tumbang, hancur berkeping-keping di tahun 1965 dengan menyisakan tragedi kemanusiaan yang panjang dan berlarut-larut hingga detik ini.

Di salah satu desa wilayah Kecamatan Kanaan itu, pernah suatu ketika, pada tahun 1985an, penguasa di Ibu Kota menggulirkan kebijakan monopoli cengkih. Harga cengih yang tadinya setara dengan harga emas, dengan alasan kebijakan negara, dibeli sepertiganya. Petani di manapun, tak terkecuali di desa itu harus menerima kenyataan pahit bercampur pedas, sepedas rasa cengkih saat dihisap.  Amarah petani merajalela, tetapi mereka tak bisa menyalahkan siapapun juga. Hidup di bawah tembok adalah penjara. Semua persoalan tak akan ada jalan keluar karena tembok begitu kuat bertahan. Tak ada perlawanan sekalipun. Tak ada satu pun koran cetak berani mengangkat masalah itu kecuali dari sudut pandang penghuni tembok besar. Seorang priyayi pemilik tiga hektar tanah bertanam cengkih akhirnya memilih membakar semua pohon cengkihnya untuk melepas amarahnya. Soal apakah kemudian petinggi mendengarnya tak pernah ia pikirkan.

Petani rugi. Lalu siapa yang diuntungkan? Petani Jawa hanya diam dan diam…..mengerundel dalam kurungan takdir ketidakberdayaan.

****

Berbanding dengan daerah lain, kehidupan minoritas kaum santri di Kauman sendiri sering dirasakan Adnan kurang begitu bagus. Ia sering membandingkan dengan lingkungan-lingkungan desa lain di beberapa kota di mana pemikiran agama santri dengan orang-orang desa di sekitarnya tidak terlalu memiliki perbedaan yang menonjol. Inilah yang membuat dirinya agak ketat memantau anak-anaknya bergaul dengan teman-teman mainnya. Ia nampak cemas kalau anak-anaknya mendapat didikan dari pergaulannya yang tidak beres. Adnan tak ingin anak-anaknya mengikuti pemikiran kebanyakan orang desa itu. Adnan sangat selektif dan gampang marah kalau ia ketahuan bergaul dengan anak-anak petani yang orang tuanya tidak memperhatikan agama karena khawatir oleh pikiran-pikiran orang desa yang tidak tahu adab itu.

Adnan membatasi pergaulan anak-anaknya ini kepada tetangga depan, atau keluarga yang dianggap memiliki darah priyayi. Begitulah priyayi, selalu khawatir dengan sesuatu yang tak ia sukai. Adnan akan merasa nyaman kalau anak-anaknya bermain di saudara sepupunya yang pegawai negeri dan kebanyakan menganut Islam modernis. Ketakutan terhadap pergaulan anak-anaknya membuat ia serius memantau, sekedar memantau dan selalu menasehati, terkadang memarahi jika dilihat anaknya bergaul tidak beres di luar. Jika anak-anaknya tidak nampak di halaman saudara sepupunya, maka ia akan tanyakan setiap waktu. Salahsatu santri seniornya mendapat tugas untuk memantau anak-anaknya bermain. Kalau bermain terlalu jauh dan melewati batas waktu main, maka seorang santri dipastikan mendapat tugas mencari sampai ketemu. Adnan berpikir ketimbang pusing memantau anak-anaknya terus-terusan, ia ijinkan kedua anak laki-lakinya, Zaid dan Sabit mengikuti acara pengajian ke desa-desa. Tentu ini menyenangkan bagi keduanya karena ia akan berjalan jauh melihat alam desa. Hal yang menyenangkan dari setiap perjalanan Sabit ke desa-desa adalah uang. Setiap kali pulang pengajian, selalu ada saja dari salahsatu atau beberapa jamaah bapaknya yang memasukkan uang ke sakunya, sampai-sampai sakunya menebal karena banyaknya kepingan uang logam atau uang kertas. Ia senang karena itu. Bagi siapapun, tak terkecuali anak kecil seperti Sabit; uang adalah sesuatu yang mampu menggerakkan dirinya untuk bergaul dengan teman-teman mainnya.

Di sekolah ia bisa mengajak gerombolan anak-anak itu mengambil jajanan warung. Sepulang sekolah ia bisa membeli minuman bersoda sebelum bermain sepakbola. Setelah lelah bermain bola otak nakalnya tersalurkan dengan mengajak teman-teman mainnya menghisap rokok. Sebuah kenakalan yang paling membanggakan sekaligus beresiko. Setiap Bapaknya mengetahui Sabit merokok, ia akan dihukum tidak boleh keluar rumah hingga beberapa hari.  Tetapi sebenarnya kesenangan mendapatkan uang itu tidaklah gratis. Sabit harus membayar mahal dengan omelan bapaknya.

“Kamu sering lihat Pak Tani atau Mbok Tani memanggul kayu?” Itulah pekerjaannya untuk mendapat uang. Mereka mendapat uang Rp 1000, lalu dikasihkan ke kamu. Kamu harus tahu, duit itu paling sulit dicari. Karena itu bapak tidak pernah menganjurkan santri-santri mengadakan iuran macam-macam karena nanti memberatkan orang tua.”

Mendengar nasehat ini perasaan Sabit merasa tak nyaman. Ada rasa malu, apalagi saat menasehatinya di dengar para pengikut bapaknya. Rasa kasihan Sabit terhadap petani biasanya ia dapatkan dari seringnya nya menjadi keluhan para petani di berbagai desa. Selalu setiap petani berkeluh kesah urusannya tak lebih dari masalah antara petani dengan kebijakan pemerintah, entah itu soal kebijakan lurah, camat, harga pupuk Koperasi Unit Desa, uang sekolah, seragam, tanaman ujicoba pemerintah yang gagal, termasuk juga masalah posyandu. Terpikir olehnya, ada permusuhan besar antara kiai tradisional dengan para pejabat. Anak-anak yang masih polos seperti Sabit hanya bisa merasakan betapa  malang para petani itu yang baik hati itu, sering mengajak bergurau dan memberi uang saku kepadanya itu. Keterbatasan nalar tak mampu menembus kabut di balik persoalan-persoalan petani itu. Ini bukan kasus pertama. Hampir setiap bulan selalu ada masalah dari pada petani yang disetorkan kepada nya. Misalnya, soal Keluarga Berencana (KB). Ya, ini cukup menyinggung perasaan Sabit. Suatu ketika di ruang kelas ibu gurunya bilang, KB itu harus dilaksanakan karena Bapak Presiden sudah menyuruh. Dengan cukup dua anak keluarga akan bahagia dan sejahtera. Kalau banyak anak nanti susah mengurusnya.

“Penghasilan yang seharusnya cukup untuk dua anak harus dibagikan kepada anak yang lain. Akibatnya keluarga miskin. Tak bisa menyekolahkan kalian ke SMA, apalagi kuliah. Karena itu kalau kalian pulang nanti, bilang kepada bapak ibu agar ikut program KB,”tutur gurunya mantap.

Dua anak cukup!. Bagi Sabit, ini yang menjadi masalah serius. “Aku adalah anak ketiga.” Apakah aku mengurangi rejeki kedua kakakku? Bagaimana dengan adikku, dan adik-adiknya adikku nanti? Bapak bilang, semakin banyak anak semakin banyak rejeki…”

Ada sesuatu yang tak beres. Gelisahnya semakin menjadi-jadi. Ketika Nuriyah,  ibu tirinya yang biasa dipanggil Emak itu masuk ke kamarnya sehabis mengajar santri putrinya. Sabit langsung mengeluarkan unek-uneknya yang mengganjal sejak siang.

“Mak, Bu Guru bilang, semua ibu harus KB. Kalau punya anak itu dua saja. Kata bu guru supaya bisa sekolah lebih tinggi, sampai SMA. Bisa jadi dokter atau jadi ABRI.”

Emaknya yang mendengar itu sontak kaget dan tak tahu harus bagaimana bicara dengan anaknya yang sebenarnya terlalu dini untuk membicarakan panjang lebar tentang rejeki, tentang masa depan. “Kenapa anak sekecil ini diberi masukan persoalan berat?” batinnya. Bagi Nuriyah, sebenarnya masalah ini tidak terlalu rumit. Tetapi menjelaskan kepada anak kecil yang serba tanya seperti Sabit adalah sebuah persoalan. Pengalaman menjelaskan satu soal, akan memunculkan masalah lain. Pernah suatu ketika Sabit bertanya di mana Tuhan berada dan bagaimana bentuknya. Mulanya sang Emak menjelaskan secara telaten dengan cara pandang yang simple sekalian untuk menyusupkan ilmu ketauhidan dasar. Sabit malah menjawab “Tuhan curang karena tidak berbelas kasihan pada orang miskin. Tuhan tidak adil karena orang-orang yang rajin salat tetap miskin.” Trauma oleh Jawaban seperti ini, Nuriyah harus hati-hati. Ia ingat betul pelajaran dari pesantrennya tak boleh sembarangan menyampaikan pemikiran baru karena setiap pemikiran baru pasti mengundang penolakan. Di pesantren kalau ada santri yang belum mahir menguasai ilmu syariat, tak boleh sembarangan belajar ilmu hakekat. Setiap pengajaran harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan. Dan berharap orang bisa mempraktekkan ilmu itu melalui proses lama. Harus ada kesabaran dan keteladanan. Tak cukup dengan omongan. Kalau para pejabat sendiri tidak KB atau sudah terlanjur punya anak lebih dari dua bagaimana? Kenapa harus memakai pesan dua anak? Pesan ini apa pas ditujukan kepada keluarga yang sudah terlanjur memiliki lebih dua anak? Kenapa harus menyinggung soal rejeki? Bukankah rejeki adalah urusan Tuhan? Apakah para pegawai itu suka mengukur rejeki sebatas gaji sehingga mereka menganggap gajinya tidak mungkin mencukupi kebutuhan banyak anak?

Dalam Islam, penyadaran harus dilakukan secara pelan-pelan melalui bimbingan yang baik. Banyak ibu-ibu yang sering mengeluh dengan program kebersihan karena para petugas PKK sering mengecam dan mengolok-olok mereka yang jorok. Akibatnya ibu-ibu itu tersinggung dan tidak mau menerapkan program pemerintah.

“Mak diam? bener kata Bu Guru itu?” paksa Sabit.

“Terus Jawabanmu kepada bu Guru gimana?” tanya balik Emaknya.

“E, ya enggak kujawab tho…..”

“Begini saja. Besuk kalau ketemu Bu Guru kamu tanyakan punya anak berapa?……(belum selesai bicara, Sabit menyela), “tiga, sedang hamil lagi.”

“Nah, kan…..kenapa Bu Guru bilang cukup dua saja tapi anaknya sudah tiga? “

Sabit pun bingung. Mendadak angannya melayang pada ungkapan yang sering didengar, guru = digugu dan ditiru. Tapi kenapa antara omongan dengan kenyataannya berbeda?

“Kamu  tanyakan juga berapa anaknya Pak Presiden?” pinta Emak.

Sabit yang masih dibuat bingung akhirnya tak bisa bicara lebih jauh. Ia cengengesan. Kakinya diangkat tinggi-tinggi dan secepat itu ia jatuhkan di kasur keras-keras sebagai bentuk pelampiasan atas kejengkelan.  Ia tak berpikir besuk akan bertanya soal itu kepada Guru. Takut. Tetapi dengan bekal jawaban Emak itu paling tidak ia bisa menyebarkan pikirannya kepada teman-temannya.

 “KB itu boleh-boleh saja. Tetapi kalau alasannya takut tidak dapat rejeki itu tidak bener. Allah sudah membagikan rejeki sesuai kebutuhan orang,” jawab Nuriyah. Ia merasa tak perlu terlalu jauh mengisi pikiran Sabit yang masih terlalu dini. Penjelasan yang lebih jauh tentang halal atau haramnya KB lebih baik besuk dijelaskan kepada para santri putrinya.

“Tidur saja. Sudah jam delapan. Besuk sekolah,” ujar Emak sambil mengecilkan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah yang menggantung di pagar bambu putih di sudut kamar itu. Sebentar kemudian tubuh Emak sudah merapat dengan tubuh Sabit supaya anaknya segera tidur. Tiba-tiba dari halaman depan rumahnya ada suara derap kaki mendekat.

“Kulo nuwun…….,” terdengar suara laki-laki dari luar.

“Monggo, assalamu’alaikum……”jawab Emak sambil membenahi kebayanya yang baru saja ia lepas.

Wa’alaikum salam……”jawab tamu dari luar dengan ucapan yang kaku.

Kulo nuwun adalah sapaan khas orang Jawa. Orang-orang desa di luar Kauman masih agak asing dengan dengan ucapan assalamu’alaikum. Mereka merasa menjadi begitu Islam jika mengucapkan kalimat salam Arab itu, karena itulah mereka menghindarinya, sebab menjadi Islam di lingkungan yang masih asing oleh Islam justru sering menimbulkan bahan tertawaan, minimal gerundelan lucu bagi pendengarnya.

“Emak yang mendengar kulo nuwun tetap dibalas dengan jawaban, monggo, tetapi sengaja ia menyambung dengan Assalamu’alaikum sebagai cara memberikan pengajaran orang-orang desa agar tak ragu melafalkan salam Arab. Dan biasanya orang-orang desa itu sering dibuat malu dengan cara ini.

Nuriyah beranjak ke depan. Membuka pintu. Malam-malam begitu pasti ada hal yang sangat penting. “Monggo….monggo, pinarak.”  Satu orang lelaki setengah baya, berumur 35 tahun dan satu orang perempuan lebih tua dari.

“Nuwun sewu Bu, menganggu. Bapak ada?”

“Ada, sedang mengaji. Sebentar lagi juga selesai. Panjenengan dari mana?”

“Saya dari Jurang,” Jawab keduanya serempak. “Dalem sering ikut pengajian bapak tiap selasa pahing. Kedatangan saya dengan kakak saya ini bermaksud merepotkan bapak. Mau minta air. Anak saya sakit panas, sudah empat hari tidak kunjung turun. Ibunya juga masuk angin,” ujar lelaki berpeci hitam lusuh itu.

Sebentar, tunggu saja dulu ya,” Nuriyah lantas masuk ke belakang, menuju dapur. Membuatkan minuman untuk tamunya. Mendengar keluhan tamunya ia terasa Iba. Jauh-jauh berjalan enam kilometer menyusuri jalanan sempit perkebunan hanya untuk meminta doa. Betapa besar kepercayaan pada suaminya. Kasus seperti ini bukan yang pertama. Sejak beberapa tahun lalu suaminya memang dikenal bisa mengobati orang sakit, sebatas sakit ringan. Orang-orang desa percaya akan kemanjuran air putih dari sumber air sumur yang diberikan doa oleh sang kiai. Dengan air putih itu banyak pasien sakit ringan sembuh. Dukunkah Adnan? tidak. Suatu hari pernah ada laporan dari salah seorang warga bahwa Adnan sering diomong orang karena sering memberikan air putih dengan doa. Mereka yang tidak suka, lalu menebarkan isu praktek perdukunan. Kepada para jamaahnya Adnan pernah menyampaikan secara khusus agar tidak terjadi keresahan soal soal ini.

“Katanya, air putih itu masih murni anugrah Allah. Air itu memiliki kekuatan untuk melawan penyakit dalam. Orang sakit semakin sakit karena kurang air. Air adalah materi, itu tak cukup, karena harus ada ruhani. Kalau kekuatan materi dan ruhani disatukan akan mampu melawan sakit,” katanya Adnan tak bertele-tele agar jamaahnya tidak bingung oleh teori-teori pengobatan yang ia pejari dari berbagai kitab-kitab kuno.

Sewaktu ia menempati rumah di desa itu, selain membuat saluran air, kolam ikan, penanaman pohon kelapa, kelengkeng juga menggali sumur. Pencarian galian sumur dilakukan secara selektif. Tidak sembarangan. Selain harus diuji dengan memasang daun sente di atas tanah untuk mengetahui kadar sumber air, juga harus dilihat tata telaknya. Setelah lebih dua bulan mengenal seluk beluk area tanah itu, ia memilih menggali ujung timur tanahnya. Persis di bawah pohon kelengkeng besar ia gali. Ia pilih musim kemarau saat menggali sebab dengan begitu ia bisa tahu sampai di mana kedalaman air di musim kemarau. Selama tiga hari ia menggali dan merasakan gelagat baik untuk diteruskan. Setelah tergali dua meter lebih, baru ia menyuruh tiga santrinya meneruskan galiannya sampai keluar air. Baru dua hari kemudian, ketika galian mencapai empat meter air bening mengucur. Para santri yang tadinya menarget tujuh meter mendadak teriak kegirangan galiannya sudah berhasil menghasilkan air.  Tetapi ini sekaligus menyulitkan kerja karena kalau hanya menggali empat meter tentu saja tak akan cukup. Ia harus tetap menggali sampai tujuh meter agar pasokan air stabil. Selain mengali tanah, pekerjaan selanjutnya ialah mengeluarkan airnya terlebih dulu.

Melihat hasil itu Adnan merasa lega. Dengan semangat penuh lalu ia perintahkan empat orang santri lagi untuk menggali tanah di sekitar sumur. Program kedua adalah kolam ikan. Ya, seperti yang dianjurkan oleh gurunya dulu kala. Di pesantrennya dulu, gurunya punya tanah lumayan luas di sekitar sumber air terbesar di Magelang, pemandian Kali Bening. Di situ ia mengelola kolam ikan. Aliran air yang biasanya hanya mengaliri sawah ditampung di kolam. Tanpa mengganggu aliran pertanian, air akan menghasilkan ikan, sebagai menu gizi yang baik juga membahagian para tamu yang mendapat suguhan ikan-ikan gorengnya. Lain dari itu, fungsi kolam ikan ialah untuk memanfaatkan makanan-makanan yang terbuang percuma.

“Manusia itu suka lupa diri. Kalau makan sering dibuang-buang.“

Santri mengangguk, sadar ada tujuan mulia dari Adnan membuat kolam ikan itu.

“Air itu bermanfaat. Tetapi kalau kalian tidak bisa memanfaatkan dan menjaga sumber air pasti akan celaka,”tambahnya. Santri mengangguk, menyerap setiap pesan gurunya.

Sejak itulah para santri mulai menyadari pentingnya air sumur. Air alam yang bersih. Kalau mereka mamasak nasi atau minum, langsung meneguk air sumur. Mereka tak lagi meneguk PAM yang kata gurunya, “sudah melewati selang besi berkarat.”

Sewaktu Nuriyah mengantarkan minum ke ruang tamu, ternyata suaminya sudah duduk berbicara dengan kedua tamunya.

“E, ibu kok repot-repot, tho, sudah malam bu. Walah……”ujar perempuan itu dengan ekspresi basa-basi khas orang Jawa.

“Ndak apa-apa, sudah ada,” Jawab Nuriyah.

“Namamu siapa, tanya Adnan kepada lelaki sembari menolehkan muka kepada perempuan yang duduk di sampingnya.

“Dalem Ngatino.

“Dalem Parijah Mas kiai…”susul perempuan itu. “Saya mulai sering ikut bapak ngaji selasa Pahing di masjid. Ya terimakasih banyak Mas Kiai berkenan pengajian di situ. Kita jadi tahu agama. Gimana ya Mas, kita ini tidak pernah ngerti agama sejak kecil. Anak saya kalau sudah lulus SD nanti pingin saya titipkan mondok di sini. Apakah boleh Mas?

“Ya boleh. Pondok ini bukan milikku. Yang bangun kan kalian semua. Ini semua untuk tinggal anak-anakmu semua. Parijah dan Ngatino tak menyangka mendapat Jawaban seperti itu.

“Anakmu yang sakit umur berapa…?”

“Dua tahun …”

“Namanya…?

“Parjiyah……”Jawab Ngatino tersenyum. Ada rasa bangga memberikan nama anaknya dengan bahasa Arab. Tetapi ucapan Ngatino itu bagi Adnan justru dagelan paling kocak yang tak pernah ia dengar selama ini.

Astaghfirullah…….” Siapa?

“Parjiyah Pak….., “kali ini jawaban Ngatino terbata-bata karena ternyata sang kiai merespon agak kecut dengan tertawa lebar tanpa kontrol. “Ada yang salah?” batinnya.

“Kang, kalau kasih nama anak itu yang baik. Sekalipun tidak harus memakai nama Arab tapi usahakan mengandung arti.”

Ngatino dan Parijah bingung…..

“Siapa yang kasih nama itu.”

“Dalem pak…..” sahut Ngatino

“Apa Artinya…Kamu tahu?”

Ngatino menggeleng. Dahinya berkerut. Ia merasa bersalah karena saat kelahiran jabang bayinya istrinya meminta agar anaknya diberi nama Arab. Ia bingung harus tanya kemana waktu itu. Nama Rahmat, Abdul, Zaenal, Muhamad dan lain sebagainya sudah terlanjur banyak dipakai orang.

“Itu nama keliru”

Ngatino dan Parijah terbengong menunggu penjelasan lebih lanjut…..

“Kalau Fadjriyah atau Farihah tidak masalah. Lha kalau Parjiyah,….iku artine lak barange wadon.

Deg. Keduanya tersenyum kecut sekaligus malu bukan kepalang.

“Tega anakmu dipanggil begitu?”

“Maaf….maaf….adik saya Mas Kiai. Orang bodoh ya keliru-keliru begitu,” tanggap Parijah takut disalahkan.

“Ya sudah. Namanya juga tidak tahu. Kamu juga tidak tahu kan?”

Parijah tersenyum kecut menahan malu.

“Begini, aku kasih beberapa nama pilihan. Kamu ganti itu nama anakmu. “Sudah dicatat di kelurahan belum…?”

“Belum Pak…”

Begitulah orang-orang desa, tak pernah langsung mencatatkan kelahiran anaknya. Mereka hanya mencatat nama dan tanggal lahir di sebuah papan kayu di rumahnya dengan kapur yang mudah terhapus oleh air.

“Supaya tidak terlalu berbeda dengan aslinya, kamu ganti saja Farihah, atau Fadriyah. Biar tetangga-tetanggamu tidak dibuat bingung. Sebelum mereka memanggil Parjiyah, tulis secara jelas dan katakan kepada keluargamu ada kekeliruan menulis. Gitu saja…..”saran Adnan.

Keduanya mengangguk lega.

“Ingat, jangan ditulis Padjriyah, tapi Fadjriyah, jangan juga tulis Parihah, tapi Farihah. Tambahkan Siti didepannya. Besuk kalau kasih nama jangan hanya satu kata, minimal dua kata,” tutur Adnan.

Berbunga-bungalah hati mereka berdua, mendapat nama dari seorang kiainya. Ia merasa menyesal dulu tidak nekad meminta nama untuk anaknya kepada kiainya itu. Khawatir salah, Adnan lantas menuliskan nama Siti Fadjriyah dengan bahasa Arab sekaligus bahasa Indonesianya. Tak lupa ia cantumkan artinya. Usai perbaikan nama anak, Adnan langsung menuju pintu depan. Ia panggil salah satu santri. Seorang santri langsung menghadap. Diperintahkannya mengambil satu gelas air sumur.

“O, ini gelasnya,” mendadak Ngatino menyodorkan gelas berbungkus plastik putih kepada sang santri agar tidak memakai gelas tuan rumahnya.

Santri pun langsung menuju sumur tanpa bicara. Tak sampai lima menit datanglah air. Ditaruh di meja dengan plastik terbuka.

Air putih berkilau. Dingin terasa gelas dalam genggam. Kecuali bening, tiada warna dan noda. Tampungan energi yang mampu kan mampu mengusir penyakit. Hati yang bersih sumber energi hidup. Jangan ingkari materi, karena ia karunia ilahi. Jangan abaikan ruhani, karena ia sumber hakiki.

Doapun bergumam dari mulut Adnan. Tangannya menadah, diikuti Ngatino dan Parijah yang khusuk berharap agar anaknya sembuh sekalipun tak paham apa yang diucapkan sang kiai. Tak sampai dua menit Adnan mengusapkan telapak tangan ke mukanya, kemudian mengenggam gelas. Bibirnya lalu meniup ke arah bagian atas gelas. Lalu ditutupkan plastik itu rapat-rapat, karet ditalikan kuat-kuat.

“Ini kamu berikan minum pada anakmu yang sakit. Juga istrimu.” Sampai di rumah minumkan langsung. Setengah gelasnya ditampung digelas lain dan dicampur dengan air sumur supaya pagi dan sorenya kamu bisa memberi air lagi kepada anak dan istrimu.”

“Injih, maturnuwun…..”jawab kedua petani itu serentak.

Hening….

Tetapi tiba-tiba kaki Parijah mendadak bicara. Ia menendang pelan kaki Ngatino sambil mengedipkan mata.

“Maaf, saya harus memberi berapa pak?” tiba-tiba Ngatino bertanya demikian dengan deg-degan.

“Memberi apa…?” tanya Adnan keheranan. Tetapi nalar Adnan langsung paham maksudnya. Pasti tamunya tanya tarif. Biasanya begitulah orang desa yang belum paham dunia kekiaian, menganggap kiai sama dengan dukun. Atau memang para petani di desa itu seringkali bertemu kiai yang melakukan praktek perdukunan. Sebenarnya Adnan agak tersinggung dengan perilaku petani itu. Tetapi mau bagaimana lagi kalau memang mereka tidak paham? Tak terbersit sama sekali keinginannya mendapatkan duit dari membacakan doa, tak terbersit sekecilpun dalam pikirannya tega menerima uang dari para petani miskin.

Bagi Adnan, mereka mau mengambil manfaat doa saja sudah bersyukur daripada jadi mainan praktek perdukunan yang sering menipu petani.

“Mak….maksud dalem…, harus memberikan uang berapa buat bapak…..?” sahut Ngatino terbata-bata.

Adnan tertawa lebar. “Anggepmu aku iki dukun opo dokter?” Orang sudah sakit masih dipaksa mengeluarkan biaya. Iku nyikso.”

Kedua tamu itu dibuat heran. Setulus itu sang kiai.

“Sudah …ini sudah malam. Anak dan istrimu menunggu. Habiskan minumnya, lalu pulanglah.  Pakai senter tidak?”

“Tidak pak…”sahut Parijah.

“Mau pakai senterku?” sahut Adnan.

“Matur nuwun…Kami memakai oncor kok. “

Ngatino langsung menghadap Adnan dengan merunduk. Ia salami kiainya dengan kedua tangannya sembari mencium erat. Menyusul kemudian Parijah yang mengikut Ngatino, juga menyalami dan sungkem dengan Adnan.

Assalamu’alaikum…..”tiba-tiba Ngatino dan Parijah fasih mengucapkan salam.

“Aneh…” batin Ngatino. “Biasanya kalau ia berobat ke dukun harus membayar mahal. Apalagi ke rumah sakit. “Harus bagaimana aku membalas kebaikannya?”.

Sementara di ruang dalam Adnan masih terbawa geli. Ia ceritakan pengalamannya itu kepada Istrinya sambil cekikikan. Dua cerita menarik malam ini mereka jadikan hiburan. Pertama soal Ngatino yang hendak memberi uang. Adnan agak tersinggung tetapi memakluminya karena Ngatino memang harus dimaklumi. Yang kedua, soal jabat tangan Parijah. Maklum, para petani tak terbiasa salaman saat bertemu orang. Jabat tangan waktu itu belum dianggap penting sebagai bentuk penghormatan pertemuan. Kalau sudah begitu, maka lagi-lagi Adnan harus memaklumi. Ia sendiri yang mengajak salaman Ngatino. Sedangkan Parijah yang melihat keduanya salaman pun tak otomatis reflek menyalami. Baru kemudian setelah hendak pulang itulah Parijah kebawa suasana untuk salaman.

“Wah…wah…dasar wong ndeso. Gak ngerti aturan agama bune….perempuan ngajak salaman aku. Batal maneh wudluku…..”keluh Adnan disambut tawa Nuriyah. Ini bukan pengalaman pertama. Karena itu setiapkali pengajian Adnan sering mengulas hukum-hukum dasar tata etika hubungan antar sesama muslim. Bagi Adnan, terasa sekali bahwa perjuangan dakwah tidak dimulai dari perang, tetapi dari penegakan akhlak.

“Anak-anak sudah pada tidur…”

“Sudah, Sabit saja yang nakal. Malah ngomongin KB….”jawab Nuriyah.

Mendadak si kecil itu bereaksi “….haha….KB itu keluarga besar….haha…” tertawa ngakak tak terkendali.

Entah ide dari mana ini muncul. Sejak ada tamu itu, selain nguping pembicaraan para tamu dari kamarnya, ia masih sempat berpikir soal KB. Sebagaimana ia tahu, KB adalah singkatan dari Keluarga Berencana. kata keluarga ia pahami, tetapi Berencana entahlah apa artinya. Yang ia tahu KB adalah dua anak. Kalau lebih itu namanya menentang pemerintah. Karena jengkel dengan istilah yang tidak dipahami dari berencana itulah itu mengotak-atik singkatan sendiri. Muncullah ide Besar. Jadinya Keluarga Besar.

Adnan dan Istrinya tak bereaksi banyak kecuali dengan tawa cekikikan.

“Kamu ini kurang ajar. Nanti dijewer sama gurumu, sahut Adnan.

“Biar saja. Aku jadi malas sekolah pak kalau terus-terusan diledek Bu Guru….”keluh Sabit lepas.

“Jangan. Kamu sekolah yang rajin. Biar pinter baca. Bapak kuat sekolah sampai kelas empat SR karena Embahmu meninggal. Sekarang kamu beruntung ada bapak. Sekolah dan nanti masuk pesantren yang lama. Biar jadi orang pinter….”

Sabit tak menyahut, malah bicara perkara lain.

“Pak, tadi mau dikasih uang kok tidak mau tho?, wah rugi itu. Kalau aku langsung tak gembol….”ledek Sabit.

Belum sempat Adnan menyahut, istrinya lebih dulu bicara.

“Kamu ini ngawur saja. Tiap duit diterima. Itu tidak baik. Kayak dukun saja….”.

“Haha….. Yang penting halal…..”sahut Sabit dengan nada keras menirukan sebuah iklan bumbu masak.

“Bit,…..tidak semua yang halal itu boleh diambil. Kalau asal halal kamu makan tiang rumah mau? Halal kok,” sahut Adnan mencoba memberikan dengan penalaran lain.

“Wah Bapak….kayu kok dimakan. Nanti giginya ompong.”

Ketiganya cekikikan tertawa.

Malam semakin larut. Tak ada tontonan televisi. Emak kembali ke kamar menggendong Habib, menidurkan di samping Sabit. Kemudian keluar rumah menuju pondok, memastikan bahwa Zaid tidak terlalu larut bermain. Ia ijinkan Zaid tidur di pondok bersama para santri dengan catatan tidak ikut-ikutan lek-lekan bersama santri melebihi jam sembilan malam. Setelah tahu kabar Zaid tidur, Emak kembali ke kamar dan tidur.

Sementara di ruang tengah Adnan menikmati rokok linting dengan meneguk teh hangat buatan istrinya. Dan biasanya sampai larut malam ia belajar kembali membaca berbagai kitab. Jam sebelas ia tidur. Kemudian bangun jam tiga malam untuk solat sambil membangunkan para santri seniornya agar melakukan solat malam dan belajar hingga subuh. Usai solat subuh Adnan akan mengajar dua materi pelajaran, menyimak bacaan al-Quran santrinya di teras masjid, kemudian mengajar ilmu tauhid. Sampai jam tujuh pagi ia mengaji. Istirahat sebentar kemudian menyempatkan menemui anak-anaknya yang hendak pergi sekolah.  Setiap pagi itulah bentuk kasih sayang terhadap anak-anaknya tercurahkan. Ia berikan sarapan pagi secara wajib. Entah nasi goreng atau makanan jajan pasar. Ia tak ingin anak-anaknya senasib dengan masa kecilnya yang tak pernah sarapan, bahkan sampai sore tak makan sesuap nasi pun. Dan ia tak ingin anak-anaknya kehilangan kebahagiaan di masa kecilnya. Ongkos sekolah pun dijamin penuh setiap hari. Prinsipnya cukup dan jajan seadanya. Jangan sampai memanjakan anak-anaknya lalu lupa bahwa dengan uang itu anaknya malah berlaku boros.

Dan puncak kebahagiaan setiap pagi adalah ketika anak-anaknya sehabis sarapan berlarian menyalami dengan menciumkan muka ke tangannya.[by:Faiz Manshur/2010].

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s