Muslim Kauman (Bagian 2: Novel Shastri)

Standar

 Kauman. Orang-orang desa dulu kala mengenal desa ini sebagai Kampung Krajan. Berdirinya bangunan kraton Mataram Baru pada 3 Syura tahun Wawu 1681, atau bersamaan dengan kalender masehi 9 oktober 1755 kemudian mengubah nama perkampungan di pusat-pusat perkotaan baik kabupaten maupun di tingkat distrik yang memiliki komunitas muslim.

Krajan di Kecamatan Kanaan menjadi salahsatu nama desa yang diubah menjadi Kauman karena memiliki prasyarat untuk membentuk sebuah komunitas keislaman yang diharapkan oleh keraton Mataram sebagai alat konsolidasi politik. Setiap kampung Kauman, di manapun berada dipastikan memiliki masjid lumayan besar karena mendapatkan perhatian dari pemerintahan kasultanan, termasuk oleh pemerintahan Hindia-Belanda. Kampung Kauman juga dipercaya oleh pemerintah sebagai sarana aktivitas keagamaan yang dianggap resmi oleh Negara. Para penghulu, imam masjid dan kegiataan keorganisasian Islam menyatu di sekitar masjid.  Di Kauman perkotaan Kabupaten atau Provinsi, para ahli agama diberi tunjangan tanah oleh pemerintah. Tanah hibah itu disebut lemah pakauman, tanah tempat tinggal para kaum.

Sementara di Kauman wilayah distrik kebijakan itu belum tentu dilakukan pemerintah. Kampung Kauman di wilayah pedesaan seperti di Kecamatan Kanaan mungkin dianggap sebagai wilayah penetrasi politik negara terbawah sehingga pemberian fasilitas tanah berhenti pada tingkat kabupaten.

Kauman sering diidentikan kampungnya kaum, yang biasanya memiliki semangat modernitas dalam hal keagamaan di banding dengan komunitas santri di desa non Kauman. Tetapi semangat ini tak akan pernah melabrak kekuataan Negara karena memang pada dasarnya para kaum itu sendiri bekerja sebagai abdi Negara, biasanya menjadi penghulu, atau menjadi guru-guru agama sekolah milik Negara. Sedangkan komunitas muslim yang biasanya independen dari negara justru berada di luar Kauman. Pendirian Pondok-Pesantren biasanya jarang berada di kampung Kauman karena di sana para ahli agama lebih suka mendirikan sekolah dan aktivitasnya sangat bergantung Negara. Tetapi di Kauman Kanaan itu, persis di depan masjid ini seorang kiai justru mendirikan Pondok-Pesantren. Dialah Adnan Ahmad bin Bakar. Dulu kala, sebelum pesantren di sebelah selatan masjid itu didirikan, dihuni seorang penghulu dengan luas tanah kira-kira satu setengah lapangan sepakbola. Ketika sang penguhulu pensiun dan pindah kembali ke kota, tanah ini ditempati Adnan, sang keponakannya sendiri.

Di Kampung Kauman Kanaan itu tradisi keislaman sebenarnya sudah cukup lama. Tetapi ilmu pengetahuan agama belum begitu kuat mengakar. Orang-orang desa angkatan kelahiran 1940an belajar ilmu agama sebatas ilmu baca alquran dan pesalatan (ilmu tata cara beribadah). Mereka yang lahir pada tahun 1950an rata-rata belajar ilmu agama juga dari pamannya, yang menganut aliran keagamaan organisasi Persatuan Islam. Barulah kemudian angkatan kelahiran 1960an mulai pada belajar ilmu agama kepada Adnan. Selain belajar tata cara beribadah, orang-orang mendapat pengajaran ilmu mu’amalah. Keberadaan Adnan membuat kampung ini membuat dinamika tersendiri. Masjid berada di tengah kampung. Samping masjid adalah kantor urusan agama. Di Bagian sebelah utara dihuni beberapa rumah penghulu dan abdi Negara. Ia sendiri menempati lahan tanah persis di depan masjid samping selatan. Di kanan kiri rumahnya juga terdapat beberapa deretan rumah santri modern yang hidupnya menghamba pada negara, sedang ia sendiri ‘menghamba’ pada masyarakat, sebagai abdi yang melayani kebutuhan pendidikan agama dan olah spiritual.

Tahun 1965 ia resmi menjadi penduduk desa ini pada umur 30 tahun. Sebelum membangun rumahnya, sementara waktu ia menumpang di rumah kosong milik Ambyah, seorang guru yang kebetulan rumahnya berbatasan dengan tanahnya. Ambyah adalah seorang guru Sekolah Dasar, penganut Muhamadiyah yang dikenal moderat dan mudah bergaul. Selain moderat, ia juga dikenal baik dalam mendidik anak-anaknya, terutama dalam hal belajar. Anak-anaknya dikenal sebagai bintang kelas di sekolahnya. Ambyah yang pemikirannya cukup modern ini terasa mendapat teman bicara yang menyenangkan bagi Adnan. Tetapi perbedaan paham ibadah dan cara pandang tradisi membuat keduanya tidak menyentuh pembicaraan agama, kecuali pada hal-hal persamaan. Sedangkan perbedaan mereka abaikan.

Keduanya sadar, setiap kali perbincangan keagamaan memasuki wilayah furu’iyah pasti akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Masing-masing menyadari masalah ini tak menguntungkan jika diperdebatkan. Pembicaraan sehari-hari pun kebanyakan urusan bercocok tanam, atau urusan lain yang tak ada urusannya dengan agama.

Adnan mengelola pondok-pesantren bukan atas warisan orang-tuanya. Orang tuanya sendiri tidak memiliki pondok sebelumnya. Ia adalah pendiri. Hanya saja Adnan ini memang darahnya tidak lepas dari keluarga kiai. Orang tua desa itu sering mengutip pribahasa Belanda, “buah apel tak akan jatuh dari sekitar pohonnya.” Sementara yang lain mengatakan,“tak ada anak macan lahir dari rahim kucing.” Dengan kata lain, kejadian Adnan menjadi kiai bukan sekedar karena itu pernah nyantri sekian tahun lamanya, melainkan juga karena memiliki darah kiai. Ada banyak santri yang lama bertahan di pesantren tetapi pulang ke desanya tak jadi kiai, apalagi memiliki Pondok-Pesantren. Ada banyak pula keturunan kiai tetapi karena tak mengaji akhirnya hanya jadi priyayi. Orang-orang desa itu di kemudian hari lantas menyadari kemampuan Adnan, menyimpulkan; selain faktor keturunan juga karena ia sendiri santri tulen, santri yang mendapat didikan secara baik dan lama tinggal di pesantren.

Dari sisi ekonomi Adnan sebenarnya tidak bisa disebut miskin. Di tanah kelahirannya, dekat Masjid Agung kota orang tuanya memiliki rumah dan tanah luas. Keberadaannya di kota sebagai pedagang juga cukup lumayan. Hanya nasib yang mengubah segalanya. Bapaknya meninggal saat ia berumur 11 tahun, tiga tahun kemudian ibunya menyusul. Ia menjadi yatim piatu dengan seorang kakak perempuannya dan seorang adik lelakinya. Tanpa orang tua asuh, hidupnya terlunta-lunta. Dua tahun kemudian kakak perempuannya menikah, berjodoh dengan seorang pemilik bengkel di kota Bambu Runcing,-sepuluh kilo meter dari Kota Manggung.  Sebagai usahawan biasa, suami kakaknya itu juga tak mampu banyak berbuat untuk membiayai Adnan dan adiknya, Tambeh. Terlebih setiap tahun kakaknya itu melahirkan anak-anaknya. Kebutuhan hidup kakaknya pun nyaris hanya cukup untuk keluarganya. Saudara-sudaranya yang kebanyakan berlatar belakang muslim santri itu sebenarnya banyak yang mampu. Tetapi Adnan tak hendak merepotkan orang lain. Sejak kecil ia menyadari meminta belas kasih kepada orang lain bukanlah perilaku yang baik.  Ia hanya menerima uluran tangan dari yang hendak memberi tanpa diminta, itupun harus dilihat secara selektif tujuan orang tersebut.

Beruntunglah ada seorang, walaupun bukan saudara kandung tetapi mengerti kebutuhannya. Keluarga yang budiman itu tahu bahwa seorang anak yatim-piatu wajib disantuni. Ia bukan tergolong seorang kaya, hanya petani tembakau biasa di lereng Gunung Sumbing. Kalau dipikir sesungguhnya ini sesuatu yang aneh yang terjadi di kalangan orang Islam. Ada seorang anak yatim yang hidup di tengah-tengah masyarakat muslim yang berada di pusat kota kabupaten tetapi tak ada satupun yang memiliki perhatian terhadap anak yatim. Tetapi justru ada seseorang keluarga muslim biasa yang bisa dikatakan pendidikan keagamannya minim tetapi memiliki kesadaran penyantunan anak yatim-piatu begitu tinggi, sampai-sampai mau membiayayi si yatim piatu itu bertahun-tahun. Keluarga ini mengirimkan Adnan kecil bersama dengan anaknya, menuju sebuah pesantren terkemuka di Jawa Tengah. Sebut saja Pesantren Diponegoro karena letaknya berada di kampungnya Pangeran Diponegoro, berjarak lima kilometer dari pusat kota Magelang.

Di sini Adnan hanya bertahan dua tahun. Minimnya bekal harian membuat ia memilih pindah di pesantren lain, di kota Magelang utara. Di sana ia akan menjadi murid seorang kiai yang baru merintis pesantren anyar. Adnan memilih ke pesantren ini karena tahu persis siapa calon gurunya. Ia adalah seorang murid kesayangan gurunya di Pesantren Diponegoro. Singkat cerita, niat Adnan saat itu langsung mendapat restu gurunya untuk pindah. Di pesantren barunya Adnan merasa yakin akan akan lebih enak karena kebutuhan sehari-hari lebih irit. Gurunya sendiri merestui karena dengan begitu Adnan bisa banyak membantu mengajar santri seniornya.

Dua tahun di Pesantren Diponegoro bukan waktu singkat untuk masa pendidikan era 1950an. Dengan segala kekurangan hidupnya, ia merasakan betul sulitnya mendapat ilmu pengetahuan. Kehidupan yang serba kurang membuat dirinya tak bergaul neko-neko dengan sembarang teman, terutama mereka yang tak serius belajar. Setiap waktu, setiap saat hari-harinya dikonsentrasikan mendapatkan ilmu. Keseriusan itulah yang membuatnya memiliki kecerdasan lebih di banding teman-teman lainnya.

Ia sering berpikir, betapa anehnya teman-temannya yang lebih suka menghabiskan waktu bermain-main di pesantren. Betapa mubadzirnya waktu dan biaya bagi teman-temannya yang kini terbukti tidak bisa berbuat banyak di masyarakat karena tidak serius belajar.

Di pesantren itu Adnan bergaul dengan beragam latar belakang santri dari berbagai daerah di pulau Jawa, sebagian dari Sumatera, Kalimantan dan beberapa santri asal malaysia. Ia tahu letak sukses orang memang bukan sekadar ditentukan oleh rajinnya belajar.

Dari bongkah pesantren itu Adnan merasakan adanya misteri yang tak terduga. Ada santri yang nampak bodoh mencerna pelajaran tetapi ia taat ibadah dan tidak banyak maksiat akhirnya saat pulang di kampung halamannya benar-benar menjadi panutan masyarakat. Sebagian banyak santri yang cerdas dalam hal pelajaran tetapi agak acuh dalam hal ibadah. Akhirnya saat mukim di kampung halamannya tak bisa berbuat banyak.

Setiap kali merenungkan jalan hidupnya, benaknya selalu tertambat pada pesan yang disampaikan gurunya di pesantren Diponegoro itu;

“….santri-santriku, aku doakan kalian semua menjadi kiai setelah keluar dari sini. Tetapi kalian harus sadar jika kelak tidak semua jadi kiai. Telor ayam dari satu peranakan saja tak semuanya menetas, sebagian ada yang gagal. Tetapi telor yang gagal pun tetap bermanfaat, minimal menjadi jamu kuat untuk sapi atau kuda. Kalau sudah pulang, janganlah buru-buru mendirikan Pondok-Pesantren sebelum kendhil (tempat menanak nasi terbuat dari tanah liat, simbol ekonomi keluarga) kalian kuat. Banyak yang memaksakan diri jadi kiai tanpa memperhitungkan kendhilnya, akhirnya menyimpang syariat; menjadi dukun atau pendukung calon lurah, menjual jimat dan lain sebagainya. Kedua, kalau sudah jadi kiai kalian harus istiqamah (lurus). Jadi kiai itu biasanya akan jadi orang penting di masyarakat. Omongannya didengar banyak orang, menjadi orang penting dan kemudian kalau tidak kokoh prinsipnya sering terjerumus kepada kesombongan. Tak jarang lalu menikah lagi. Hanya sedikit kiai punya istri lebih dari satu itu keluarganya sakinah, sebagian besar berantakan. Kalau kendhil sudah kokoh dan kalian kuat dalam memegang prinsip istiqomah, maka godaan selanjutnya ialah munculnya banyak pergunjingan. Yang mempergunjingkan bukan masyarakat awam, tetapi di antara kiai sendiri, atau mereka yang merasa tahu ilmu agama dan merasa tersaingi. Jangan heran kalau muncul fitnah dan cercaan. Biasanya fitnahan yang muncul berupa tuduhan memelihara jin, terima uang negara dan lain sebagainya. Perihal ini tak usah dihiraukan. Kalian harus sabar.

Selain tiga hal itu, menjadi kiai itu akan menghadapi bermacam-macam orang berlatar belakang berbeda. Kalau menghadapi petani, maka kalian harus mampu bicara dengan cara petani. Kalau ketemu pejabat kalian juga harus mampu mengikuti alur pembicaraan pejabat. Ketemu dengan tentara juga harus bisa mengikuti. Ini adalah penting karena kalian akan menjadi panutan mereka semuanya….”

Setiap kali mengingat pesan itu, hati Adnan selalu resah. Ringan dan sederhana, tetapi terasa berat diamalkan. Sebagai kiai kecil di desanya ia pun sudah merasakan secara langsung hal ini. Saat keluar dari pesantren dan menetap di kampung itu, ia tidak serta merta mendirikan pondok. Baru lima tahun kemudian,-setelah kondisi ekonominya lumayan membaik,- barulah ia menerima satu persatu siswa yang hendak belajar agama. Pendirian pesantren pada mulanya bukan inisiatif dirinya, tetapi karena desakan banyak orang-orang tua yang menginginkan anak-anaknya bisa mengaji tanpa harus nyantri di tempat yang jauh.

Lima tahun kemudian seiring dengan banyaknya permintaan banyak ceramah, ia pun menjadi orang penting. Prinsip istiqamah menjadi sesuatu yang berat dilakukan, tetapi ia cukup kuat bertahan untuk tidak sombong atau terjebak sebagai dukun dengan mengormersilkan kemampuan ilmu agamanya. Bagi Adnan, tidak mudah sebagai orang pendatang. Sekalipun di lingkungan muslim santri, tetapi urusan agama bukan sekadar soal ilmu pengetahuan, melainkan terkait dengan persoalan-persoalan hidup masyarakat. Bagi seorang kiai yang sedang merintis karirnya di masyarakat  Jawa, ia punya “kodrat sosial” yang lebih luas ketimbang sekadar sebagai guru ngaji. Kiai bukanlah sekedar guru ngaji, melainkan tokoh desa, tokoh masyarakat yang urusannya meluas meliputi masalah ekonomi, politik, konflik rumah tangga dan lain sebagainya.

Pada tahap-tahap awal penyebaran ilmu agama harus ditularkan secara laten, alias tidak bisa sevulgar mengajar di bangku pesantren atau pengajaran konvensional ala guru-guru agama sekolahan. Tak ada konsep dakwah lisan pada sosok kiai seperti Adnan. Tak sekalipun ia menciptakan ruang kampanye di desa-desa, menguasai masjid, menyusup ke kelompok-kelompok masyarakat. Ia sendiri agak alergi setiap kali mendengar istilah dakwah. Baginya, agama itu adalah laku, amal perbuatan, bukan ceramah dan mendirikan organisasi dengan target-target khusus. Konsep dakwah yang ia ketahui melalui dua jalan, yaitu dakwah dengan tingkah laku, dan dakwah dengan lisan. Ia mengutamakan jalan dakwah laku, sedangkan dakwah lisannya sebatas kalau ia diundang ceramah. Tak pernah ia mencari lahan dakwahnya. Semua karena diminta masyarakat.

Ketegangan antara dirinya, dengan priyayi-priyayi, para pegawai negeri yang tinggal di sekitar itu bisa diatasi pada sepuluh tahun pertama. Hubungan antara kiai dengan pejabat agama sudah bukan sesuatu yang asing lagi di masyarakat muslim. Kiai seperti Adnan sendiri memilih bersikap dewasa dengan tidak menganggap para pegawai agama, penghulu atau guru-guru itu sebagai musuh. Dengan cukup menganggap mereka sebagai pegawai biasa yang hidupnya dari upah negara, cukuplah mereka sebagai kumpulan-kumpulan orang yang harus dimaklumi apa-adanya. Bagi Adnan, uang negara sekalipun itu sifatnya halal, tetapi bukanlah rejeki yang baik. Uang negara adalah uang rakyat, asal-usulnya memang jelas dari rakyat, tetapi tidak semua uang rakyat itu didapat dengan cara yang baik karena pasti bercampur dengan harta yang haram juga. Para kiai ini menganggap uang negara sebagai subhat, alias halal tapi kurang baik. Adnan punya bekal kedewasaan yang cukup untuk mengatasi masalah seperti ini.

Tetapi masalah tidak sampai di situ. Sekalipun kehadirannya di tengah-tengah masyarakat atas permintaan warga, selalu saja ada yang menghambat. Masyarakat kejawen yang sangat asing dengan ajaran Islam ala pesantren di sekitar Kecamatan Kanaan itu membuat kesabarannya terus menurus diuji. Adnan menyadari ilmu agama itu sendiri kontras berbeda dengan pemahaman kejawen. Memang di kampung Kauman yang sudah memiliki tradisi ke-Islaman paham kejawen tidak terlalu kuat, namun di desa-desa lain tempatnya berdakwah, kesadaraan nilai-nilai kejawen sangat kuat di masyarakat. Bagi masyarakat desa saat itu, posisi kiai sebagai pembawa ajaran agama, pengaruhnya setara  dengan para dukun-dukun klenik. Hal-hal seperti inilah yang membuat juru dakwah seperti tak boleh sembarangan menawarkan gagasan keagamaan. Klenik merajalela; ada anak sakit perut sehabis mandi di sungai dianggap kena serangan setan yang menjaga sebuah batu. Petani terjatuh saat memanjat pohon dianggap kuwalat karena tidak menjaga etika di lingkungan. Sesajen menjadi bagian hidup masyarakat di hampir desa di sekitar kecamatan Kanaan.

“Syirik,” kata saudara tua Adnan dari kota. Adnan sendiri adalah sosok muslim yang tak begitu fanatik dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Satu hal yang tak bisa dipunkiri dari dirinya adalah nalar politiknya yang tidak cocok dengan NU. Ia anggap kelompok NU dalam hal politik sering gagal dan berlaku kurang tegas. Ia pun lebih menyukai politik gaya masyumi, sebuah organisasi politik yang pada masa kecil Adnan menjadi pilihan keluarganya di kota.Tetapi ajaran pesantrennya yang rata-rata diamalkan oleh mayoritas kiai NU membuat dirinya ditasbihkan sebagai kiai NU.

Terkadang saat-saat tertentu Adnan berkeluh, “ngurusi wong ndeso luweh repot.” (mengurus orang desa lebih repot).  Ia lantas membandingkan dengan kehidupan masa kecilnya, di kota, di mana di sana banyak orang-orang terdidik, pegawai negeri dan pedagang. Baginya, orang-orang desa itu sangat sulit mencerna pemahaman baru, gampang bingung oleh isu, penakut dan tata kramanya seperti budak.  Suatu ketika cucu kakaknya dari Jakarta berada di rumahnya melihat orang-orang desa yang menyalami Adnan di ruang tamu itu terheran-heran oleh kelakuan orang desa yang merunduk-runduk saat menyalami Adnan.  “itu orang-orang kok pada merunduk ketakutan kalau bicara. Kayak ngadepi raja aja Mbah…?”

“Ya, namanya saja wong ndeso,” jawab Adnan.

“Wah embah di sini jadi raja ya….Enak ditakuti orang.”

Seisi rumah tertawa berbahak mendengar celetukan perempuan kelas satu SMA itu.

“Raja itu enak karena dapat upeti. Kalau embahmu ini tidak,”Jawab Adnan. “Sebenarnya Mbah ini pingin orang-orang wajar, tidak usah merunduk-runduk begitu. Tapi bagaimana, wong  itu kebiasaan mereka.

“Di Jakarta tidak begitu Mbah. Bicara sama pak Ustad biasa saja. Aneh ya Mbah….?”

“ Enak di Jakarta tho…..”sahut Adnan.

“Enggak juga. Kalau nggaji kan harus bayar….”

“Ya, itu kan pak ustadnya bekerja. Kalau embahmu ini cuma ngabdi. Ndak ada tujuan dapat uang….”

“Mbah pindah saja ke Jakarta. Pasti cepet kaya. Mbah bisa jadi  mubalig terkenal…..”

“Nduk, Ilmu itu tidak boleh diperjual belikan. Gusti Allah akan membalas ke-ikhlasan kita. Satu huruf al-Quran nilainya tak bisa ditukar dengan sejuta uang sekalipun. Embahmu ini milih pahala daripada diganti uang…”tutur Adnan menasehati cucunya.

“Berdosa enggak kalau mengajar lalu dapat upah uang?” tanyanya terus terang. Perihal ini agaknya perlu dijawab secara tepat. Ia tidak sedang menghadapi seorang cucu, melainkan dengan keponakan-keponakannya yang hidup di Jakarta dengan pemahaman agama yang berbeda. 

“Tidak haram. Itu sah. Tapi kalau di dalam hatinya punya pikiran mencari uang dengan mengajar ilmu agama itu kurang baik. Dia hanya semangat mengajar kalau ada uang. Itu akan menghilangkan pahala,”jelasnya. [By:Faiz Manshur/2010]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s