Persimpangan (Bagian 3 Novel Shastri)

Standar

Lima belas tahun sudah Adnan berada di desa ini. Pahit getirnya sebagai seorang kiai desa ia alami. Empat hal yang dikatakan gurunya hampir semua mendekati kebenaran. Kepercayaan yang berlebihan membuatnya ia yakin apa kata sang guru, dan mempercayai kata-kata guru adalah sesuatu yang lebih penting.  Guru adalah sentral pengetahuan dan tindakan, karena seorang guru pasti pernah mengalami kehidupan yang Adnan alami sekarang ini. Baginya kitab-kitab, termasuk kitab suci al-Quran dan al-Hadist adalah segala-galanya, tetapi kedua pegangan ini tak bisa diterapkan secara langsung sebagai bimbingan. Pusat pengetahuan untuk menegaskan kebesaran sang guru dan kelemahan para murid bermula dari kisah lama tentang Musa dan Khidir.

“Tiada mungkin seorang murid mengalahkan gurunya.”

Serupa wahyu, bunyi ini selalu bergema di telinga santri. Gurulah yang menjadi bimbingan utama hidup seorang santri, pun ia telah menjadi kiai, menjadi guru bagi para santri dan orang-orang desa. Kitab-kitab yang diajarkan pun semua harus dipelajari dari guru. Adalah sebuah kecerobohan mengajarkan ilmu yang belum pernah dipelajari dari ahlinya. Ada kitab yang tak ia pelajari saat nyantri dan Adnan pun tahu bahwa itu adalah sebuah kebutuhan. Maka pilihan terbaiknya adalah tidak mengajarkan. Baginya selama tak mampu, ia memilih ‘diam’. Tak terbersit sedikitpun berbuat nekad mengajarkan sesuatu yang tak ia pelajari dari gurunya.

“Gusti Allah tak membebani dengan apa yang tiada mampu orang lakukan.”

Tetap berjalan; lurus, sabar dan tawakal. Tiga kata kunci saja yang jadi pegangan. Ia tak pernah membaca sejarah kehidupan Jawa, tak juga mengerti ilmu sosiologi tentang karakter dan laku orang Jawa yang sesungguhnya. Adapun ia sekarang mendapat pengaruh yang kuat di masyarakat semuanya telah diatur kehendak luar, kehendak yang tak ia harapkan pula. Baginya, tak ada amal baik tanpa keridloaan Tuhan, apapun itu bentuk amalnya.

Maka suatu ketika ia didudukkan sebagai penasehat utama panitia pemugaran masjid, ia pun memberi nama Masjid itu Ridlo Allah, tak terkecuali pesantrennya pula. Berdempetlah sebuah Masjid dan sebuah Pondok Pesantren bernama sama, Ridlo Allah.  Semua pengaruh ia dapatkan dari laku dari tiga ihwal, niat baik, sabar dan tawakal. Ia tak pernah tahu apakah ini sesuai dengan tradisi masyarakat Jawa atau tidak, benar dan salah juga tak pernah ia pikirkan. Yang ia pikirkah ialah menjalankan amanat sang guru. Pengaruh dakwah dengan laku ini sangat kuat di Jawa karena dalam tradisi Jawa ilmu itu sendiri akan dihargai oleh masyarakat jika seseorang mengamalkan dengan laku. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan tetapi jika laku kesehariannya melabrak norma dan moral bisa jadi menjadi orang terasing, apalagi jika di sekitarnya ada seorang atau kelompok yang menjadi pesaingnya. Mereka inilah yang akan melakukan propaganda kepada orang-orang sekitar dengan cara berbisik-bisik agar tidak mengikuti mereka yang sukses berilmu tapi gagal beramal. Laku baik sangat dihargai oleh orang Jawa. Rata-rata masyarakat Jawa memang mengedepankan laku. Tetapi laku baik tanpa ilmu juga tak akan menunjukkan kualitas seseorang. Karena itu untuk menjadi manusia Jawa, khususnya di pedesaan ilmu pengetahuan dan laku harus saling melengkapi,-kalau perlu ditambah dengan status sosial. Jika ketiganya ini dimiliki seseorang, pastilah ia akan terpandang dan sangat disegani,-bukan hanya dirinya, melainkan juga menimbulkan berkah penghargaan bagi keluarganya, saudara dekat dan keturunannya.

Hal yang penting di dalam masyarakat Jawa untuk meraih penghargaan ialah keharusan pribadinya untuk selalu menyesuaikan kata-kata dan tindakan, serta tidak bersikap konfrontatif terhadap kebiasaan atau pikiran orang yang berseberangan. Kesabaran menjadi kata kuncinya. Jika seseorang hendak mempengaruhi orang lain, maka bukan adu argumen yang jadi syarat utama, melainkan menaruh kepercayaan, sanggup berada di depan dengan tindakan. Jika ia sudah meraih simpati, dan sanggup berbareng bergerak dengan idenya, maka tugas selanjutnya adalah kemampuan menghembuskan nafas-nafas gerakan lebih lanjut dengan menjadi ‘ahli bicara’ yang provokatif dan menyakinkan. Laku inilah yang membuat Adnan disediakan banyak kesempatan untuk terus mengembangkan potensinya sebagai kiai, sebagai pemimpin ibadah sekaligus pemimpin umat. Suatu ketika, Kiai Said, sang penghulu yang selama ini mengimami masjid itu merasa yakin bahwa Adnan lebih mumpuni, baik dari segi ilmu maupun keseriusannya mengurus agama. Baginya, Adnan akan lebih baik ketimbang dirinya yang seringkali tidak tertib mengimami solat lima waktu.

Menjadi imam secara otomatis akan meningkatkan derajat sosial seseorang karena seorang Imam masjid dipilih dari orang terbaik dalam hal agama di sebuah kampung. Dengan berat hati Adnan menerima tugas itu sebagai bentuk penghormatan. Tetapi bukan status sosial yang lebih menjanjikan yang diterima Adnan, melainkan isu-isu miring yang berhembus. Isu itu dihembuskan oleh para elit agama di sekitar itu. Sebuah kewajaran tentunya di mana mereka merasa dilangkahi oleh seseorang pendatang yang tiba-tiba menjadi tokoh panutan di masyarakat.  Adnan sadar hal ini. Dan sebenarnya ia juga tak terlalu berminat menjadi pemuka dengan memegang peranan di masjid. Kalaupun ada orang yang berminat jadi imam dan khotib jumat, dengan sukarela Adnan memberikan kesempatan.  Sabar adalah kata kuncinya. Ia pun menyadari kaum penggunjing bisa dihitung dengan jari. Sementara ia melihat ratusan orang memberikan dukungan penuh. Mereka merasa nyaman berada di belakang Adnan. Bacaan al-Quran’nya bagus, wiridnya runtut. Penjelasan agamanya masuk akal dan mudah diterima kalangan petani. Dan satu lagi, Adnan banyak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah-masalah kehidupan keluarga, seperti soal waris, sengketa tanah, pembagian zakat, ruwatan, khitanan, pernikahan dan lain-lain sebagainya.

Dalam usianya yang baru menginjak usia 37 tahun memang masih tergolong dini untuk menjadi imam masjid, apalagi di sekitar masjid itu masih banyak orang tua, yang lebih layak menjadi imam. Setelah menjadi orang nomor satu di masjid, pesantrennya juga mengalami kemajuan. Kalau selama ini para petani kebanyakan menitipkan anak-anak lelakinya, muncul niatan yang ingin menitipkan anak putrinya.  Ini adalah tantangan. Mengurus anak laki-laki yang masih remaja jelas sangat sulit. Sulit di banding mengurus anak-anak berusia di atas 20 tahun. Apalagi jika nanti banyak putri itu pasti ia harus menambah jadwal mengajarnya. Memang ada sebagian pelajaran umum yang bisa digabung. Tetapi untuk materi pelajaran secara umum santri putra dan putri harus dipisah. Adnan menyadari tak menguasai kitab-kitab khusus perempuan secara detail. Kalaupun ia tahu, hanya kitab-kitab tertentu dan sangat terbatas.  Lain dari itu, santri putri  juga membutuhkan perhatian khusus dari seorang ibu. Pesantren itu bukan seperti sekolahan yang hanya mengasuh siswanya sebatas urusan pelajaran, melainkan berkewajiban memantau kehidupan sehari-hari remaja ndeso yang susah didik maju itu; mengajarkan kemandirian, mengajarkan tata krama kehidupan sehari-hari dan keteguhan hidup.

“Aku belum mampu. Tapi bingung karena mereka butuh.”

Selama ini ia bisa menjawab belum sanggup, dan selalu menganjurkan agar anak-anak perempuan petani itu dikirim ke pesantren lain yang menerima santri putrinya. Lama-kelamaan jawaban ini tak memuaskan mereka. Bukan masalah tidak percaya pada Adnan, tetapi orang tua itu menginginkan pesantren yang dekat dan tidak memungut biaya kecuali hanya untuk iuran penerangan dan kebutuhan membeli kitab. Sebagian orang tua juga merasa takut anak-anaknya sulit dipantau kalau berada di tempat jauh. Lain dari itu, orang-orang desa yang selama ini mengikuti pengajian pada Adnan sudah terlanjur percaya padanya. Mereka akan merasa kurang puas jika tidak diasuh oleh Adnan secara langsung.

Bertahun-tahun ia merenungkan masalah ini. Sampai ia merasa tak bisa memutuskan sendiri. Seperti biasanya, lantas ia pun berkonsultasi dengan gurunya, serta saudara-saudaranya yang lain yang menurutnya bisa memberikan masukan berharga. Kepada saudara-saudaranya masalah ini tak pernah mendapat kejelasan. Mereka yang dimintai pendapat rata-rata malah tertawa karena merasa Adnan sebenarnya lebih pintar untuk memutuskan perkara ini. Bahkan saat masalah ini disampaikan kepada gurunya, sang guru pun tak memberikan Jawaban memuaskan. Solusi ada pada dirinya. Dan ia pun merasa tertantang tapi tak juga kunjung merasa mampu.

 “Betapa sulitnya mengumpulkan biaya.”

Memang selama ini pembangunan pesantrennya bukan atas biayanya sendiri, melainkan hasil sumbangan dari orang-orang desanya. Namun pada prakteknya tetap saja Adnan merasakan beban setiapkali membangun pondokannya. Selalu ada kebutuhan ini itu yang harus disediakan secara mendadak, dan ini cukup membebani. Ia harus menyediakan makanan secara khusus setiap hari bagi para tukang kayu dan tukang bangunan. Dan itu tidak kecil karena puluhan orang yang harus dijamin. Memang selalu saja ada tetangganya yang pengertian akan hal ini. Biasanya mereka menyumbang makanan, suguhan, atau bahan makan mentah. Lagi-lagi, karena sifatnya sukarela itu semua tak selalu mencukupi. Tombok sudah menjadi rutinitas. “Kalau ada yang buat nomboki memang tidak jadi soal. Kalau tidak ada?”

Setelah beberapakali membicarakan dengan gurunya, ia mendapat jawaban serius.

“Masalahmu rumit. Aku tak pernah menghadapinya. Kamu mendapat beban berat karena harus mengurus ratusan orang-orang. Mengurusi orang tua lewat pengajian saja susahnya bukan kepalang. Dulu kamu tahu, aku pun dapat banyak masukan dari orang-orang sini untuk mendirikan pondok putri, tetapi aku bisa menolak dengan cara menyarankan ke pesantren teman-temanku. Ini bisa kulakukan karena orang-orang di sekitar sini tidak susah mencari pesantren putri yang dekat dari sini. Kondisi ini lain dengan desamu yang memang tidak ada pesantren sama sekali di satu kecamatan seluas itu. Di sini satu kecamatan saja aku lupa menghitung jumlahnya. Dan Aku tidak berani gegabah memberikan keputusan kepadamu. Masalahmu adalah masalah di desamu. Lain tempat lain ijtihad….”.

Adnan serasa mendapat perhatian penuh. Lalu sang guru melanjutkan, “jumat lalu aku bertemu dengan romo guru (gurunya di Pesantren Diponegoro). Aku sampaikan masalah ini tanpa menyebut sebagai masalahmu. Beliau mengatakan, kamu sendiri yang memutuskan. Intinya keputusan jangan sampai mengecewakan pengikutmu, juga tidak merugikan keluargamu. Harus ada tawasud.”

Adnan tak juga paham

“Ia menyarankan beberapa hal untuk kasus tertentu. Dan salahsatunya tak lazim dilakukan, bahkan bertentangan dengan kaidah umum yang pernah disampaikan. Kamu ingat bukan?”

Adnan mengangguk dalam ketidakpahaman.

“Romo memberikan satu kiat khusus. Tetapi ini juga tidak mudah dilakukan. Kamu sendiri yang harus memutuskan. Sekarang begini saja. Kamu ceritakan ulang lagi masalahmu yang dulu itu. Aku ingin mendengarnya lebih jelas,” pinta gurunya bijak. Adnan lantas menceritakan panjang lebar. Masalah yang dimaksud di sini tentu saja paling banyak adalah mengenai keadaan masyarakat sekitar di mana Adnan berkiprah sebagai kiai. Setelah panjang lebar diuraikan, sang guru merasa masalah mendasar Adnan terkait hubungannya dengan para elit agama sebagai penduduk asli desa itu. Adnan sendiri adalah kiai pendatang. Di kalangan masyarakat pedesaan setiap kali ada warga lain yang mukim di suatu desa tersebut selalu dianggap warga kelas dua. Sekalipun memiliki status sosial yang mentereng tetapi ia tetap memiliki identitas sebagai “wong neko”.

Wong neko ini konotasinya sebagai pendatang yang tidak boleh main-main dan menonjol di masyarakat, apalagi sampai menjadi orang nomor satu. Adnan memang masih beruntung tidak dimusuhi secara langsung oleh seterunya.

Tetapi dari banyak laporan dari orang-orang desa yang memihak dirinya, banyak isu-isu miring tentang dirinya sering disebarkan dari mulut ke mulut. Adnan dikabarkan gemar terima uang dari pejabat, bermain politik kanan kiri, menjadi dukun saat musim pencalonan kepada desa dan lain sebagainya. Adnan sempat berpikir, “kalau hal-hal seperti itu saja jadi isu, bagaimana kalau nanti ia punya santri putri? Bisa jadi ia akan diisukan meniduri santri putrinya secara bergiliran. “

Mendengar uraian panjang lebar ini sang guru mendadak pergi ngeloyor tanpa pamit. Ia tinggalkan Adnan sendirian, berteman dengan segelas teh di meja ruang tamunya. Tak jelas kemana perginya sang guru. Mengaji, rasanya tidak. Ini hari Jumat. Dan Gurunya memanggilnya ke sini karena sedang tidak ada acara pengajian. Detik demi detik berlalu. Menit demi menit dilewati. Hingga akhir beberapa kali jam dinding kuno itu berdenting keras. Tak terasa. Satu jam lebih Adnan bengong mematung di ruang tamu itu. Pikiran Adnan terus melayang ke kampung halamannya dan tempat-tempat pengajian yang selama ini di datanginya. Pergaulan hidup orang Jawa di desa atau kota sama saja. Masing-masing menghormati hak individu dan tiada suka mengurus orang lain. Masalahnya di kota lebih enak untuk urusan ini karena orang-orang tak terlalu suka mengurus orang lain. Sementara di desa gunjingan adalah sesuatu yang paling sering terjadi.

Elit-elit politik atau elit agama yang merasa iri dengan dirinya gemar menghasut orang-orang desa. Orang-orang desa yang tak terpelajar mudah terkesan oleh omongan itu membuat mereka gampang terpedaya. Kasus penipuan akibat percaya pada calo di pasar bukan berita lagi. Rentenir bak pemberi bantuan tunai tanpa agunan selalu mendapat sambutan baik dari rumah ke rumah. Orang-orang menggantungkan takhayulnya pada mega-mega mendung berarak yang mudah hancur tertiup angin. Kabut yang tak jelas dari mana datang dan perginya itu diterka melalui nujum, isyarat alam, ramalan dan pemujaan yang tiada dasar akal sehat. Islam yang sering ia khotbahkan kepada mereka pun tak sanggup mengubah pikiran dari takhayul-takhayul. Ayat-ayat yang sering ia ajarkan untuk membangun kepribadian menegakkan syariat dan meningkatkan akhlak mulia tak menarik perhatian orang-orang desa. Mereka justru lebih suka mendapatkan ayat untuk kekebalan, penglarisan dan pengasihan. Adnan tiada suka dengan laku mereka, tapi tiada mungkin melawan keyakinan turun temurun itu. Jalan tengah dan moderat adalah satu-satunya cara agar ia tak terasing dari kehidupan umatnya. Bukan melayani permintaan pasar klenik tentunya, melainkan mendiamkan, sambil terus mendakwahkan apa yang ia anggap benar dan lurus sesuai syari’at Nabi. Ia pun sadar bahwa tak setiap orang mampu mengamalkan syari’at secara total. Dan mereka, orang-orang desa itu lebih suka menggabungkan dua ajaran, setengah syari’at setengah kejawen.

Dua jam menunggu akhirnya sang guru keluar.

 “Aku tidur duluan,” ujarnya sambil menahan kantuk.

Adnan mengangguk.

“Kalau kamu tidak keberatan, sebaiknya tazawud…..”

Adnan terdiam. Ia tetap tenang. Karena ini solusi di luar dugaan ia anggap bukan perkara serius. Jangan-jangan gurunya sedang bergurau. “Bukanlah ia yang selama ini melarang agar para santrinya menikah kedua kali? Bukankah gurunya juga berwanti-wanti agar para santri yang jadi kiai jangan mudah menikah lagi? “Ah, ini pasti gurauan….”pikirnya.

Sang guru menunggu reaksi muridnya.

“Gak kepikir yo?” tanya sang guru.

“Nuwun. Selama ini saya berusaha tidak menambah beban diri. Kalapun menikah kedua, ketiga diijinkan saya tidak akan melakukan. Nuwun….nuwun sewu…..”ujarnya bersopan santun.

“Ya… aku juga mengerti. Kiai-kiai yang menikah lagi biasanya karena istrinya meninggal. Sangat jarang kiai yang benar-benar serius mengurus pesantren dan umat beristri banyak. Biasanya kiai yang gemar kawin rumah tangganya kurang bagus dan anak-anaknya kelak banyak yang berseteru,”Jawab sang guru.

“Pulanglah dan pikirkan dulu…..” suruh gurunya.

Usai salaman, Adnan melangkah sempoyongan menuju jalan raya. Ia lewati jalan bebatuan itu dengan langkah yang tak beraturan. Kakinya terasa berat melangkah. Beban di kepala begitu berat. “Ini baru rencana. Semoga kelak berubah,”batinnya menghibur diri. Ia terus melangkah dan melangkah melewati persawahan di mana dulu ia hampir setiap hari melalui jalanan ini. “Menikah lagi? Tak terpikirkan olehku. Aku menikah dengan Afifah saja tergolong keberuntungan. Usiaku sudah mencapai 35 tahun sehingga aku harus memberanikan diri menikah. Dan aku merasa bersyukur mendapat Afifah. Ia berlatar belakang keluarga petani biasa. Bapak istriku hanya seorang guru ngaji bukan kiai yang punya pesantren atau orang berpangkat. Dulu pada umur 33 tahun pernah aku dicarikan jodoh oleh pamanku agar berkenan menikah dengan saudara istrinya. Tetapi aku menolak secara halus karena aku khawatir tak bisa mengikuti pola hidup orang kota. Ya, aku memang orang kota, tetapi itu dulu. Masa kecilku. Sekarang aku sudah putuskan jadi orang desa. Sangat sulit mengajak hidup bersama orang kota yang bukan karena keinginannya sendiri harus hidup di desa yang serba terbelakang.  Aku merasa nyaman di desa karena tak mampu tinggal di kota. Dan aku sadar lebih bermanfaat hidup di desa dengan segenap kemampuan yang aku miliki, sekalipun itu hanyalah tenaga dan sedikit ilmu agama. Beruntunglah aku mendapat Afifah. Ia menerima keadaanku apa adanya. Tanpa penghasilan yang jelas kecuali hasil panenan dari kebun kecilku. Afifah hanya lulusan SD dan belajar mengajipun hanya dengan kiai di desanya. Tetapi aku tahu ia memiliki ketulusan yang sulit kudapatkan dari seorang perempuan. Ia selalu melihat kenyataan sebagai apa adanya, dan dengan keadaan apapun ia rela berbagi masalah dengan diriku. Dan sekarang Afifah sudah melahirkan empat anakku. Entah akan berapa anak lagi yang akan dilahirkan dari rahimnya.”

Bagi Adnan, keluarga, selain membahagiakan juga beban. Ia tak bisa membayangkan beban tambahannya, apalagi jika kelak anak-anaknya lahir dari dua ibu. Selama ia masih hidup, mungkin ia bisa menjadi penengah konflik, namun ia tak bisa membayangkan jika anak-anak dari kedua istrinya itu berseteru.

“Kenapa mesti menyiksa diri?”

“Kalau niatnya ibadah bukankah banyak beribadah dengan cara lain?”

“Adil.” Ya, ini yang paling sulit baginya. Dulu saat kelahiran anaknya yang kedua ia berpikir bahwa harus siap-siap memberikan perhatian yang sama dengan keduanya. Jangan sampai hanya karena anaknya kedua lahir lalu mengabaikan anak pertama. Begitu seterusnya. Adnan merasa harus benar-benar bisa berbuat adil. Pun begitu, tetap saja pikirannya lebih condong menyanyangi anaknya yang kedua, hanya karena ia yang kelak akan meneruskan kelanjutan pesantrenku.

“Adil berpikir dan adil bertindak bukan sesuatu yang mudah dipraktekkan. Kalau orang merasa mampu berbuat adil silahkan. Aku merasa tak mampu dan tiada niat pula menikah lagi.”

Tak terasa, kakinya telah menginjak trotoar. Sekarang ia berdiri di pinggir jalan raya lintas Semarang-Yogya. Ia menunggu bus jurusan Magelang-Manggung. Dan sebentar kemudian bus jurusan Wonosobo-Magelang membawanya pulang.

Tazawud…..menikah. Rabi? Apa kata orang-orang desaku kalau aku menikah lagi? Bukankah kehadiranku selama ini juga dipersoalkan sebagian orang. Apakah seandainya aku menikah lagi apakah mereka akan bisa mengerti dengan aturan agama yang memperbolehkan menikah dua, tiga, empat?”

“Tidak…tidak. Aku tak yakin itu bisa dipahami. Mereka pasti akan menganggap yang tidak-tidak terhadapku. Bagaimana pula dengan istri dan anak-anakku yang sudah mulai menalar? Apakah kehadiran ibunya yang baru bisa diterima? Dan bagaimana aku akan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bertambahnya seorang perempuan di rumah itu?”

Kantuk menyergap. Tapi matanya tak hendak lelap. Kepalanya berat. Seolah-olah kopiahnya adalah sumber masalah. Ia pun menurunkan ke pangkuannya. Seorang kiai seperti gurunya,- bahkan termasuk dirinya selalu berpikir mendalam untuk menyelesaikan setiap perkara. Terkadang karena renungannya teramat serius dan mendalam menghasilkan kesimpulan yang aneh-aneh. Banyak orang-orang desa yang menganggap idenya aneh dan tak masuk akal. Namun karena kemudian bisa diterapkan. Lantas orang-orang desa menyebutnya “orang pintar.” Dan Adnan adalah bagian “orang-orang pintar” itu sekarang. Beberapakali memberi nasehat kepada petani teruji kebenarannya. Para petani pun berbondong-bondong mengagumi “ngendikane kiai.”

Dan kini, berhadapan dengan gurunya itu Adnan seolah-olah menjadi petani yang sedang berhadapan dengan orang pintar. Dijelaskan secara masuk akal menolak. Tetapi saat penjelasan itu terbukti, mereka lantas menganggap berlebihan. Sulit mencerna gagasan namun tiada dorong yang kuat untuk menolak gagasan itu.

“Dasar wong ndeso. Perkara masuk akal dianggap klenik,” tiba-tiba ia mengecam orang-orang desa. “Apakah aku termasuk orang ndeso itu sekarang…? “

“Aku harap, pemikiran guruku itu tidak terwujud.”

 

****

Setahun kemudian….

Semakin pesat kemajuan pesantren dan kegiatan dakwahnya, semakin banyak orang yang meminta Adnan mendirikan pesantren putri. Saking tak sabarnya, salah seorang warga bertindak di luar dugaan. Ia sampaikan kepada para tetangganya bahwa Kiai Adnan akan membangun pesantren putri. Mendengar desas-desus itu, beberapa orang jamaah pengajian di kampung Suwet yang bejarak lima kilo dari kampung Adnan mengumumkan pengumpulan dana untuk pendirian pesantren putri.

Tak lama kemudian satu persatu tanpa diminta pun datang langsung ke rumah Adnan dengan berbagai bentuk sumbangan. Ada yang nyumbang kayu, bambu, paku, genteng, ada juga yang menyumbang bahan makanan pokok untuk persiapan pendirian pesantren. Adnan yang tak tahu menahu soal ini jelas kaget setengah mati. Ia pun mengusut sumber utama dibalik gosip ini, tetapi tak berhasil. Akhirnya sumbangan yang sudah terkumpul disimpan baik-baik. Di setiap pengajian ia sampaikan secara terbuka kalau dirinya sebenarnya belum siap membangun pesantren putri karena kemampuannya terbatas. Di sini Adnan kemudian sadar bahwa apa yang ia pikirkan, apa yang ia utarakan sejujurnya kepada orang-orang desa itu tak sepenuhnya dipahami seperti apa adanya. Mereka yang sudah terlanjur percaya kemampuan Adnan menganggapnya sebagai sikap rendah hati. “Tak mungkin pak kiai tidak mampu,” kata seorang ibu yang kepingin anak puterinya nyantri di pesantren Adnan.

 “Dasar wong ndeso, dikandani bener enggak percoyo, nek diapusi dukun malah percoyo,” lagi-lagi Adnan berkeluh. “Kenapa orang-orang desa ini kalau melihat sesuatu dengan cara yang tak masuk akal? Bukankah aku sudah menjelaskan, bukan karena aku tak mau, tetapi tak mampu. Seolah-olah ngurus pesantren semudah ngurus ternak kambingnya saja….”

“Apa mereka berharap istriku yang mengajar santri putri?”

Mendadak pikiran Adnan berspekulasi. Sebab memang hampir setiap pesantren putri pengasuhnya adalah istri-istri kiai. Di sini masalah muncul; istrinya bukan seorang santri yang mampu banyak membaca kitab. Pemahaman dasar keagamaannya memang tak diragukan lagi. Ia bisa membaca beberapa kitab tanpa harakat dan mengartikan secara lancar. Namun itu tak cukup untuk bekal mengajar karena ia harus rutin belajar lagi, sementara selama ini kesibukannya mengurus rumah tangga sudah sangat menyita waktu. Tamu-tamu yang datang silih berganti setiap hari juga sudah teramat menyibukkan. “Tidak…tidak. Apapun alasannya aku tidak ingin memberatkan istriku. Cukuplah bebannya.”

Hari terus berganti. Rupanya, permintaan orang-orang desa untuk mendirikan pesantren putrinya sudah menjadi desakan serius. Ia merasa terpojok oleh tanggungJawab besar ini. Tak tega rasanya melihat keluguan petani-petani di desa yang anak-anak perempuannya hanya lulus SD itu tidak mendapatkan ilmu pengetahuan tambahan. Parahnya lagi, orang-orang tua desa itu seringkali mengawinkan anak-anaknya pada usia dini tanpa bekal ilmu agama yang layak. Sang Guru pun akhirnya jadi mitra curah hatinya lagi.

 “Kamu akan kokoh di desa itu karena menjadi bagian kehidupan dari salahsatu keluarga besar orang desa,” ujar gurunya.

“Belanda bertahan ratusan tahun di Indonesia bukan menjajah seperti yang dibayangkan orang. Mereka berdagang dan berhubungan secara baik. Bukankah kamu mengenal orang Belanda dan Jepang dulu kala? Bukankah mereka bergaul dengan pribumi secara baik?”

Sang guru menceritakan panjang lebar perihal sejarah. Bukan sejarah-sejarah dari telaah buku, melainkan sejarah empiris masa lalunya ketika di jaman penjajahan Belanda dan Jepang ia ikut terlibat aktif berjuang dengan sebuah organisasi laskar di Magelang. Katanya, “Londo-londo juga bisa diterima orang pribumi dan menikahi dengan cara yang baik.”

Di jaman Belanda, terutama di kota-kota fenomena ini sebenarnya bukan hal yang asing. Walaupun tidak banyak terjadi perkawinan Bule-Pribumi tetapi orang bisa membedakan mana perkawinan sejati dengan pergundikan. Ada banyak orang asing, Arab, Cina, Jepang dan Belanda yang menikah secara baik dengan cinta kasih yang sesungguhnya, bukan sekedar tujuan biologis atau ekonomis. Melalui perkawinan itulah yang membuat orang asing bukanlah manusia yang tak bisa disentuh bayang-bayangnya.

“Kalau kamu mau tahu,” lanjutnya dengan tertawa. “Sekarang orang bule yang punya kepentingan meneliti soal keadaan Indonesia menikah dengan orang Indonesia. Dan dengan itulah mereka merasa nyaman berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sedang mereka teliti.”

Adnan tertawa mendengar hal ini. Tetap saja belum jadi alasan untuk mengubah sikapnya. Guru melanjutkan, “Isya Allah, kalau kamu menikahi orang situ akan ada banyak yang kamu selesaikan. Pertama memang jadi masalah karena orang-orang di sekitarmu akan mempergunjingkanmu. Tapi percayalah, itu akan hilang dengan sendirinya. Jangan marah dan jangan bereaksi. Pasrahkan kepada Allah semuanya.”

Ruwet….

Pusing…..

Aneh….

Keterbatasan menalar mengharuskan orang pasrah. Terbayanglah ingatan tentang masa lalunya, saat ia mengaji kitab Al-Hikam, sebuah kitab tasawuf yang ia pelajari dari seorang kiai saleh di Lasem Rembang. Ia mengaji khusus kitab ini juga atas perintah gurunya agar dirinya mengenal kebaikan-kebaikan para sufi. Ada banyak bait-bait mutiara hikmah dari kitab karya Syekh Athaillah Ibnu yang dihafal Adnan. Tetapi ada dua bait yang benar-benar melegakan hatinya di tengah-tengah kegundahan ini.

“Cayaha-cahaya kebijaksanaan orang-orang bijak tampil mendahului ucapan-ucapan mereka. Pada saat pencerahan sudah terjadi, barulah kemudian datang penjelasan. Ketika Allah membuatmu gelisah karena pergaulan bersama makhluk-nya, maka ketuhuilah, bahwa Ia sedang memiliki kehendak untuk membuatmu tenteram hanya bersama-Nya.”

“Siapakah orang-orang bijak yang mendahului ucapannya?” batin Adnan. Siapa lagi kalau bukan gurunya. Kuyakin ia memang sedang memberikan pencerahan bagi orang bodoh sepertiku. Ya, aku harus kuat meyakini hal ini. Penjelasan kelak pasti datang menyusul di kemudian hari. Tentu yang kutunggu bukan penjelasan lisan, melainkan penjelasan kenyataan.”

Pikirannya tiba-tiba menerawang, mencoba menggurat pengalaman sejarah sosok yang menjadi panutan semua umat Islam, Nabi Muhamad. Baginya, ini penting untuk mencari hikmah atas perkawinan nabi yang menikah beberapa kali, melampaui pesan al-Quran yang membatasi seorang laki-laki menikah maksimal empat orang. Pernikahan nabi yang pertama dengan seorang janda kaya, bernama Khadijah. Para kiai sering menafsirkan Tuhan menjodohkannya dengan perempuan kaya sehingga kendhil keluarga nabi tidak njomplang. Sisi ekonomi ini disadari oleh umat Islam secara keseluruhan, tetapi tiada satupun yang berani mengatakan bahwa motif perkawinannya sebagai upaya Nabi memanfaatkan harta istrinya. Bagi umat Islam, pernikahan adalah sesuatu bentuk perjodohan yang netral dari motif-motif ekonomi, kalupun ada motif tersebut, dimensi kasih-sayang tetaplah harus dimiliki oleh kedua pasangan. Pernikahan Nabi selanjutnya dengan seorang gadis. Nabi menikah bukan karena poligami, melainkan karena ditinggal istri pertama. Baru kemudian ia melakukan poligami di masa kekuasannya di Madinah seiring dengan terjadinya peperangan. Perkawinan poligaminya dengan perempuan kedua, ketiga hingga ke delapan tidak ada satupun yang berstatus gadis. Mereka adalah janda-janda korban perang yang membutuhkan perhatian. Di sini motif kasih-sayang sosial lebih menonjol dibanding motif seksual atau kasih-sayang personal.

Adnan berpikir, memang tidak selalu perkawinan itu sebuah bentuk cinta-kasih yang lurus. Ada kalanya pengaruh-pengaruh lain bermunculan dan saling bersinambung memperkuat alasan orang untuk menyatakan cinta. Cinta itu sendiri memang sebuah konsep rumit yang sulit dirumuskan dalam kata-kata.

Banyak orang pacaran bertahun-tahun dengan sumpah sehidup semati, tapi cerai dalam  hitungan minggu. Sebaliknya, ada banyak percintaan yang dibangun oleh cinta kilat tetapi langgeng hingga akhir hayat. Para santri seringkali menikah dengan cara meminta bantuan kiai. Setelah dicarikan dengan cara praktis, yakni diperkenalkan dan diberi nasehat menjalani bahtera kehidupan, akhirnya mereka bisa menikmati kehidupan panjang tanpa percekcokan berarti.

Apakah mereka cinta? Bukan kata-kata yang menjawab, tetapi rasa di dalam diri masing-masing. Faktanya, mereka hidup langgeng berpuluh-puluh tahun dan hanya sedikit dari para santri yang melakukan praktek kawin cerai. Bisa jadi orang berpikir mereka “terpaksa” menjalani. Kalau begini cara berpikirnya, maka apa bedanya dengan mereka yang terpaksa tidak menikah karena tidak mendapatkan cintanya? Bukankah banyak seseorang mencintai lawan jenisnya tapi tidak kesampaian dan harus menikah dengan orang lain atau memilih nekad tidak menikah?. Ngurusi cinta terasa tiada jalan ujung. Adnan hanya berpikir bahwa yang ia pusingkan bukan soal yang satu ini, melainkan bagaimana ia bisa menjalani kehidupan dengan dua istrinya dalam keadaan yang baik, sepanjang hidupnya kelak.

“Niat baik belum tentu menghasilkan kebaikan,” ia berpikir begitu.

Niat baik memang dibutuhkan, tetapi itu tak cukup. Laku keseharian harus benar-benar berpijak pada kebaikan. Itulah yang menjadi hantu di kepalanya. Adnan sebenarnya memiliki personalitas yang kuat dalam hal mental. Ia tak terlalu pusing dengan anggapan orang. Setiap masalah selalu dikembalikan pada dirinya. Baik-buruk amal perbuatannya ia yakini akan menjadi taruhannnya dihadapan Tuhan kelak.

Ia berpikir, jika nasehat gurunya untuk menikah lagi pada dasarnya niat yang baik, maka tugas dirinya adalah membentuk perilaku baik terhadap dua istrinya kelak. Itu saja yang dibutuhkan. Masalah omongan orang lain yang tidak simpati ia anggap angin lalu, toh dirinya akan tetap mendapat simpatik sebagian orang dari jamaahnya yang jumlahnya sudah mencapai ribuan orang. Mereka para jamaah yang setia itu pasti akan mengerti saat mendapat penjelasan-penjelasannya. “Mengurusi jalan pikiran orang-orang itu pasti hanya akan membuatku terus dirundung gelisah dan tak tentram. Saatnya seluruh masalah ini harus kupasrahkan kepada Allah,” batinnya mantap.

Beberapa hari kemudian ia pun memutuskan berencana menikah. Mendengar rencana itu, istri jelas murung, bahkan sempat menangis berkali-kali. Baru kemudian ia sadar bahwa ada semacam kehendak lain yang sedikit mampu mengerem amarahnya.

Menikah dengan siapa? Entah. Yang jelas kemudian ia dapatkan seorang janda, usianya dua tahun lebih tua dari Afifah.  Perempuan itu bernama Nuriyah. Ia seorang janda karena bercerai dengan suaminya. Bukan diceraikan, tetapi ia sendiri yang memilih cerai karena setelah setahun menjalani bahtera rumah tangganya ia mengetahui suaminya memiliki pergaulan yang kurang baik dengan para pedagang di pasar. Bahkan urusan salat pun mudah ditinggalkan. Ia kecewa lalu minta cerai dan kembali ke desa.  Baru beberapa bulan di desa, emaknya hendak menjodohkan lagi dengan seseorang lelaki. Ia kabur berbekal perhiasan yang dimilikinya, menuju sebuah pesantren di Wonosobo dengan meninggalkan sepucuk surat, menolak perjodohannya. Beruntung protes dengan cara melarikan diri ke pesantren itu tidak menimbulkan masalah berkepanjangan. Emak dan bapaknya akhirnya sadar anak pertamanya itu justru memiliki kedewasaan untuk tidak buru-buru menikah lagi. Bahkan dengan sukarela ia mau membiayai anaknya nyantri lebih lama. Empat tahun bertahan di pesantren Wonosobo, ia pulang dengan niatan membantu Emaknya kembali berdagang. Kepulangan Nuriyah inilah yang kemudian berbuah pertemuan dengan Adnan. Pernikahan terjadi atas persetujuan istri Adnan.

Tak ada perempuan yang rela dimadu. Itu jelas. Dan Adnan pun tidak akan memaksakan ide gurunya itu jika memang sang istri tidak berkenan. Ia sampaikan bahwa ini bukan idenya, tetapi ide gurunya dengan pertimbangan-pertimbangan yang banyak. Akhirnya sang istri luluh dan mau menerima Nuriyah menjadi bagian keluarganya satu atap. Namun setelah istrinya setuju, Adnan malah berpikir lain. Ia yang tadinya berharap istrinya bisa ikhlas dan istrinya benar-benar ikhlas malah tidak percaya. Ia pusing tujuh keliling. Setiap malam berdoa tiada henti. Ia berikan curahan kasih sayang penuh kepada istrinya yang telah banyak memberikan kebahagian tetapi belum terbalaskan. Adnan tidak percaya kalau istrinya benar-benar ikhlas. Ia selalu mengukur dengan perasaan dirinya. Bagaimana seandainya hukum Islam memperbolehkan seorang istri menikah dengan seorang laki-laki? Apakah kemudian aku akan mengijinkan walaupun itu diperbolehkan oleh agama?

Rasanya tidak. Karena itu istriku pasti tidak ikhlas.

Sementara istrinya juga bingung. Ketika ia sudah mencoba secara tulus menyadari “takdir” barunya, justru suaminya malah tidak percaya. Sebenarnya ini main-main atau serius?” pikirnya.

Pernikahan dilakukan sebatas mengundang orang-orang dekat. Lancar. Tetapi kemudian suara-suara miring pun mulai terdengar. Mereka yang selama ini kurang suka dengan Adnan memanfaatkan kesempatan sebagai momentum memojokkannya. Ada tiga santri yang pulang kampung atau pindah ke pesantren lain karena pernikahan itu. Adnan yang sudah tahu akan muncul badai bergelombang berusaha tetap tenang. Sementara waktu ia harus menjadi karang tegak menantang gelombang. Ia biarkan omongan orang. Bahkan ia berharap mereka yang tidak suka itu bicara secara terbuka, namun tak pernah terjadi.

Orang-orang Jawa gemar menjaga perasaan. Sekalipun membenci seseorang tak akan ia katakan secara langsung. Glendengan. Itulah yang bisa dilakukan kebanyakan orang-orang Jawa. Di depan orang bibirnya manis menyuguhkan sapa kesantunan, di belakang menghunus keris; ngomong berkelok-kelok, berbasa-basi busuk ujungnya lacip menusuk.

****

Seperti angin, suara-suara negatif itu akhirnya berhenti sendiri. Adnan tetap kokoh pada posisinya. Ia menjelma karang yang kuat menancapkan pada prinsipnya. Kalau seandainya perkawinan keduanya memang tidak dikehendaki Tuhan karena salah langkah, ia pasrah sepenuhnya, toh sebelum melakukan pernikahan ia sudah total berserah meminta petunjuk. Tak ada tujuan aneh-aneh dalam dirinya. Tak juga ia berharap menikah. Ia jadikan pernikahan ini sebagai “jalan” yang memang harus ditempuh. Posisi Adnan semakin kokoh karena ia mendapat keluarga besar di kampung itu. Keluarga mertuanya yang memiliki sejumlah saudara di kampung itu tiba-tiba menjadi bagian terpenting dari di desanya. Dan saudara-saudara itu pula yang menjadi tambatan kuat keluarga Adnan. Orang-orang semakin menyadari siapa sesungguhnya Adnan.

Setahun pernikahan berjalan akhirnya pesantren putri pun berdiri. Gurunya tiada lain adalah Nuriyah. Sekalipun tetap dengan kemampuan terbatas tetapi itu sudah cukup. Sekadar untuk mengajar ngaji anak-anak desa lulusan SD. Kalaupun materi pelajaran susah diajarkan oleh anak-anak desa yang nyaris tiada bekal pengetahuan al-Quran sekalipun, pesantrennya tetap akan bermanfaat. Minimal untuk menunda perkawinan anak-anak perempuan di pedesaan.  Ini yang memang memprihatinkan Adnan selama ini. Anak-anak desa yang masih ingusan, umur 14-an tahun sudah sering dikawinkan. Akibatnya hanya dalam beberapa tahun keluarganya berantakan. Dengan adanya pesantren itu ia berharap paling tidak anak-anak desa itu bisa menunda dua hingga tiga tahun.

“Perkawinanku bukanlah sebagai bentuk terjerumusnya aku ke dalam godaan sebagaimana yang dikhawatirkan guruku. Merekalah sendiri yang menyuruh. Ya, Allah, aku pasrah.”

Waktu berlalu, sekarang, di keheningan senja ini ia benar-benar terpana oleh lingkungan desa ini. Tahun demi tahun ia jalani kehidupan mengalir, penuh kelokan menikung tajam. Kehidupan yang serba menantang. Di rumah ini ia rasakan pergulatan yang hebat, sebuah kehidupan yang tak pernah terbayangkan. Kegetiran hidupnya sebagai anak yatim piatu di masa lalunya sudah ia lalui. Sekarang ia berdiri kokoh di tengah keluarganya, di tengah kehidupan luas masyarakat desa, juga berharapan dengan pejabat-pejabat kota. Ia sadari sepenuhnya masalah keluarga dan masalah masyarakat dua hal yang berbeda. Seberat-beratnya mengurus pengajian para petani, tak terlalu memusingkan pikiran. Tetapi menjaga perasaan antara kedua istrinya inilah yang justru menjadi masalah.

Dalam renung yang menyimpan tanda tanya itu, Adnan merasakan dirinya memang manusia yang aneh; aneh dimata dirinya sendiri. Ia memang sudah mampu menjalankan hidup dengan kedua istrinya dalam satu atap. Sekalipun menikah dua kali sebagai sesuatu yang tidak dilarang Islam, tetapi Adnan tiadalah ia pernah menyarankan seorang pun untuk menikah kedua kali. Ia sadari pernikahan kedua kali hanya akan menimbulkan banyak masalah jika dilakukan oleh setiap orang. Kalau seandainya adalah larangan haram ia rasakan itu lebih baik. Hanya saja tiada mungkin mengubah hukum halal menjadi haram. Akhir jaman tiada lagi Tuhan mengirimkan nabi baru dengan ajaran baru. Ia tak punya tafsir berlebihan soal agama. Sepanjang tahun, jalan lapang perbedaan tak pernah menimbulkan ketegangan. Masing-masing menyadari bahwa amarah, rasa iri dan dengki hanyalah siksa kehidupan.

Masing-masing hidup dan menjalani aktivitas sehari-hari di bawah naungan “takdir”, takdir sebagai istrinya kiai yang harus terus mendorong sang suaminya bekerja banyak untuk orang-orang desa. Tak ada ibu tiri di rumah ini. Keduanya menyayangi anak-anak yang dilahirkan dari rahim Afifah. Sampai beberapa tahun kemudian Adnan yakin ada kehendak ‘luar’ yang ia sebut takdir Tuhan agar dirinya tak khawatir akan terjadinya konflik antara anak-anaknya dari kedua istrinya itu benar-benar terbukti. Sebab ternyata Nuriyah tak melahirkan anak satupun.

“Apakah dengan dua istri masalahnya semudah ini?” Adnan membatin penuh tanya. Jalan panjang penuh teka-teki.[By:Faiz Manshur/2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s