Sepotong Senja di Desa (Bagian 1 Novel Shastri)

Kutipan

Senja di musim kemarau.

Desiran angin menerpa dedaunan menebarkan suasana alam pedesaan yang alami. Di langit, warna biru dihias mega putih berarak. Orang-orang desa di kampung itu nampak ceria. Laki-laki perempuan meninggalkan kesibukan sehari-hari di luar rumah. Mereka duduk di emperan rumahnya masing-masing, sebagian memilih berjalan-jalan sambil mengajak anak-anak balitanya bermain. Sedangkan anak-anak bermain menyatu dengan teman-temannya. Halaman masjid menjadi pusat keramaian anak-anak desa itu. Ada puluhan anak-anak bermain bola. Para santri yang duduk di jerambah pesantren yang terletak di sebelah masjid itu menghibur diri melihat anak-anak desa itu riang gembira bermain-main bola.

Di langit, kabut putih berarak juga sedang bermain-main dengan cahaya merah sang surya yang sebentar lagi akan tenggelam. Gulungan kabut putih yang memoles langit biru itu menjadikan alam seolah-olah punya kodrat permainan sendiri. Dan, ratusan burung senja yang setiap sore melintas di atas desa itu seolah-olah terpanggil oleh kilauan sang surya di ujung barat. Kawanan burung biasanya berisi sekitar 20 ekor. Sebagian ada yang hanya 10 ekor, sebagian lagi lebih banyak mencapai ratusan ekor. Di antara kawanan burung sriti itu terkadang muncul beberapa jenis burung besar dengan kepak sayap yang agak panjang terbang tenang menyalip kawanan sriti. Apakah itu bangau? Rasanya tidak. Biasanya bangau mulutnya agak panjang. Burung itu tak terlalu jelas bentuknya. Anak-anak kampung itu sering meneriakkan ‘kunthul….kunthul…’

Senja makin beranjak. Bulatan bola api itu semakin turun, sinarnya semakin mengarah ke atas. Semakin kecil bola api tertelan belahan Gunung Sumbing-Sindoro, semakin pekat sinarnya, seolah-olah sang surya sedang marah harus berpisah dengan kehidupan desa itu. Ia sorotkan cahaya itu setajam-tajamnya.

Dusun Kauman terletak di sebelah timur kantor Kecamatan Kanaan. Kecamatan Kanaan sebelum era reformasi adalah salahsatu dari 12 Kecamatan di Kabupaten Manggung. Pada bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Kendal, bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Semarang, sebelah tenggara berbatasan dengan Kecamatan Krenggan, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Manggung dan bagian Barat dengan berbatasan Kecamatan Dangan. Sekalipun mayoritas penduduk di kabupaten penghasil Tembakau ini memeluk ajaran-ajaran agama, -Islam, Kristen, Katholik, Buddha, sebagian Konghucu dan Hindu,- pandangan terhadap kosmologi Jawa tetap kuat.

Masyarakat penduduk muslim yang paling menonjol berada di Kecamatan Bambung Runcing dan seputar sekitar alun-alun kota Manggung (Sumopuran, Surodinatan, Kauman dan Kepatihan), juga beberapa kampung santri di Kecamatan Mbarak. Kecamatan-kecamatan lain nampaknya kaum muslimnya masih kental hidup dalam tradisi Jawa, sisa-sisa peradapan masa silam. Agama Islam yang mayoritas dipeluk masyarakat sekitar itu tetap menjadi sistem keyakinan yang paling penting dan hanya sebagian kecil yang benar-benar menganut ajaran kejawen. Tetapi, pada praktek keseharian, tetap mewarisi kosmologi kejawaan. Jelasnya, Jawa sebagai ideologi, atau sistem kepercayaan atau katakankan Jawaisme sudah mengalami kepunahan, tetapi Jawa sebagai adat istiadat tetap bercokol kuat. Tak pernah runtuh oleh desakan Islam, Kristen atau modernisasi.

Dari sisi pengaruh politik, Manggung lebih bercorak mataraman ketimbang Banyumasan. Bahkan ada kemungkinan Kabupaten ini pernah menjadi pemukinan, atau kemungkinan tempat kerajaan Mataram Kuno. Rakai Pikatan sendiri dikuburkan di pinggir kota Manggung. Belum lagi situs-situs tua, seperti candi-candi mataram dan situs pasar tua. Semuanya menandakan kehidupan di pegunungan Sumbing-Sindoro-Prau ini sudah berlangsung sejak lama. Kalau boleh di sebut, beberapa prasasti yang pernah ditemukan di Manggung sebelum tahun 1990 adalah, Prasasti Jumo/Munduan, berjenis Tembaga (807 (M)asehi), Karang Tengah/Kayumwungan, berjenis logam (824), Gondosuli I dan II/ Dan Pu Hawang Glis, berjenis Stela Batu (827 M), Candi Perot I/II berjenis Stela Batu, Candi Argopuro/Wanua Tengah I dan II berjenis stela batu (863 m), Candi Argopuro/Wanua Tengah II berjenis stela Batu (863). Kesemua prasasti ini ditemukan di Kecamatan Bolo, lima kilometer dari Kota Manggung. Kemudian prasasti Telahap berjenis stela batu (898/9 M), Mantyasih I berjenis Tembaga (907), Mantyasih II berjenis stela baru (907). Ketiganya ditemukan di Kecamatan Kedu, berjarak 4 Kilometer dari Kota Manggung. Lalu Mantyasih III berjenis tembaga juga ditemukan pada (907 m) di kecamatan Direjo, 16 kilometer dari kota Manggung, Candi Rukam berjenis tembaga (907 m) di Bambu Runcing, 12 Kilometer dari kota Manggung, di susul candi Wanua Tengah III berjenis tembaga (908 M) yang ditemukan di Desa Gandul Kecamataan Kanaan, berjarak 4 kilometer dari Kota Manggung.

Sejarahwan Supratikno Rahardjo dalam buku Perabadan Jawa (2002) mengatakan, dua belas prasasti ini dibangun antara tahun 807-908 masehi, atau pada masa kerajaan Mataram Kuno. Lebih tepat lagi, saat raja keempat Rakai Warak yang berkuasa periode tahun 803-827 M hingga raja Mataram ke 14, Rakai Watukara Dyah Balitung, 898-910 M. Dari sekian candi ini kami belum mendapatkan penjelasan-penjelasan materialisme sejarah yang memadai. Tapi untuk dua Prasasti Gondosuli, Supratikno Rahardjo mengatakan bahwa Gondosuli I adalah simbol dari keagamaan masyarakat lama Manggung di masa Hindu kuno berpaham Siwais. Nama tokoh yang membuat prasasti ini adalah Dang Puhawang Glis, seorang nahkoda kapal. Isi pesan pada prasasti itu untuk memperingati persembahan kepada bangunan suci berupa alat-alat upacara yang dilakukan oleh DangPu Hawang Glis. Tindakan ini dilakukan untuk tidak melupakan sima-nya. Prasasti ini ditemukan di desa Gandasuli, Manggung tahun 749 saka/827 masehi. Hingga tahun 2007 ini, umurnya telah 1180 tahun. Sedang Gondosuli II terdapat sifat keagamaan yang juga mencerminkan persembahan pada dewa Siwais. Isinya menyebutkan peringatan pembangunan sebuah prasanda bernama Sang Hyang Wintang. Disebutkan pula, silsilah dari Dang Krayan Partapan pu Palar. Seorang Sejarahwan Eropa, De Casparis menduga tokoh ini sebagai raja bawahan (pemeluk ajaran Siwa) yang akan mengambil alih kedaulatan tertinggi di Jawa dari dinasti Sailendra yang mulai memudar antara tahun 824-842. Prasasti tanpa tahun diperkirakan dibuat pada tahun 832. Memiliki ukuran besar (290 x 100 m), ditemukan di desa Pragaluh, Kecamatan Bolo Kabupaten Manggung, tidak jauh dari penemuan prasasti Gondosuli I.

****

Bagi orang desa di masa itu, tahun 1980an,- yang jauh dari keramaian kota, siang begitu nampak cepat, sementara malam jarak tempuh malam dengan segenap kesunyiannya begitu panjang. Dari seratus kepala keluarga di dusun itu hanya tiga orang yang memiliki pesawat televisi. Jika penduduk itu kepingin menonton televisi, mereka mengerubuti rumah para pemilik televisi itu; puluhan orang menghadap layar televisi mini berukuran 14 inci, duduk di atas tikar yang digelar di lantai.

Pemilik televisi memberikan kesempatan kepada para tetangganya menonton siaran TVRI, satu satunya siaran televisi di Indonesia. Mereka menonton hanya satu hingga dua jam. Para pemilik televisi harus menghemat pasokan energi aki-nya. Kebanyakan orang-orang desa itu menonton televisi saat acara ketoprak setiap malam minggu.

“Lakone opo saiki…..Gito-Gati kapan…?

Kala hujan tak turun, senja adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus ancaman. Menyenangkan karena mereka guyub rukun berarak-arak menuju masjid dan merasa terancam hari terangnya akan segera berganti gulita. Masjid semakin ramai. Laki-laki tua berpeci atau ibu-ibu tua berkerudung lebih dahulu memasuki masjid ketimbang para laki-laki atau perempuan muda. Sementara anak-anak nampaknya lebih suka menuruti kehendak naluriahnya, bermain sepuas mungkin.

”Hewan saja tahu waktu kapan pergi kapan pulang,” ujar seorang ibu berkerudung kepada anak-anak yang sedang asyik bermain pola plastik itu. Naas. Teguran itu tak menghentikan ambisi anak-anak itu. Bola plastik terus ditendang. Perempuan setengah baya yang biasa dipanggil Bu Nyai itu raut mukanya nampak masam. ”Orang baik itu harusnya lebih tertib. Kapan main kapan ngaji, kapan sekolah. Cepat wudlu dan solat. Sudah mandi kok main bola lagi. Tahu rasa kalau nanti gatelen!,” serunya.

Tak ada Jawaban.

Bagi perempuan itu, lebih enak rasanya menasehati orang-orang dewasa daripada menasehati para bandel kerdil itu. Satu telingannya berfungsi menyerap suara, satunya lagi sebagai jalan keluar. Nasehat disampaikan lewat telinga kanan, keluar menguap lewat telinga kiri.”

Sedangkan bagi anak-anak sebenarnya mereka sendiri tak sebandel yang dianggap Bu Nyai. Anak-anak itu sejujurnya takut dengan teguran. Apalagi yang mengucapkan adalah Ibu Nyai yang dihormati orang-orang tuanya. Mereka sadar, dengan orang tuanya sendiri takut, apalagi dengan guru orang tuanya. Tapi hasrat mengubah segalanya. Pilihan tunduk pada nasehat dengan pemenuhan hasrat membuat anak-anak itu dilema. Bagi anak-anak itu, nurani sebenarnya memainkan peranan yang kuat untuk tidak menjadikan dirinya bersikap durhaka, tetapi nalurinya selalu mendorong menyalurkan hasratnya. Untuk mendamaikan ketegangan ini akhirnya mereka memilih jalan tengah; tetap melanjutkan permainan, tetapi mengurangi teriakan-teriakan agar tak mengundang amarah Ibu Nyai.

Naluri dan nurani, dua komponen yang sudah melekat pada anak-anak. Tetapi akalnya yang belum begitu bisa menerima maksud baik orang-orang tua membuat hatinya mudah dilema. Bahkan ketika adzan magrib berkumandang, mereka pun masih terus bermain dan bermain. Sadar waktunya mepet, agresivitas bermain bola semakin ditingkatkan. Kiper yang tadinya setia menunggu bola di depan gawangnya, mendadak menjadi penyerang tanpa memperdulikan gawangnya lagi. Bagi mereka yang penting bisa menciptakan gol ke gawang lawan. Permainanpun berlangsung awut-awutan. Bola yang semakin sulit didapat membuat mereka kesetanan, apapun ditendang. Kaki-kaki beradu, tak peduli kaki teman satu kubu. Gol demi gol pun tercipta. Keriuhan pun terjadi. Tepat pada akhir kumandang adzan,teriakan-teriakan bergema;

“Menang….menang….” teriak yang menang.

“Curang….”teriak yang kalah.

Adzan magrib usai. Semua berlarian menuju kolam tempat wudlu yang berada persis di depan masjid. Mereka tak mau ambil resiko jika sebentar lagi seorang kiai akan melewati halaman itu. Anak-anak itu sudah paham setiap kali ada suara dehem atau batuk kecil dengan suara khas dipastikan ia akan segera keluar menuju masjid untuk mengimami jamaah. Ia, adalah orang penting di bidang agama di kampung ini. Adnan Ahmad namanya. Biasanya orang desa menyebut Pak Kiai. Sebagian orang tua lanjut usia menyebut Mas Kiai, sementara anak-anak kecil suka menyebut Mbah Kiai. Umurnya baru memasuki kepala empat. Belum terlalu tua, tetapi orang desa menghormati sebagai orang yang layak dituakan karena ilmunya.

Cukup dengan dehem atau batuknya saja anak-anak itu akan menghentikan aktivitasnya. Jangankan anak-anak, orang-orang tuanya sendiri tidak ada yang berani berbicara lancang. Ia punya karisma. Orang-orang tak berani berlama-lama menatap mukanya. Jangan heran kalau anak-anak itu lebih takut pada sosok ini daripada ancaman surga atau neraka. Bukan adzan yang menghentikan permainan anak-anak itu, melainkan Adnan. Dulu pernah kejadian, saat Adnan dan Istrinya tidak berada di rumah, anak-anak itu terus bermain bola sampai lewat magrib.

Di bawah lampu petromak masjid tua itu suara gemuruh nyanyian bergema semakin keras. Santri-santri Adnan biasanya mendendangkan salawat setelah adzan hingga ia masuk ke dalam pengimaman. Sementara di pondokan belakang rumahnya, keriuhan juga terdengar. Kalau para jamaah laki-laki di masjid mendendangkan salawat dengan suara-suara kurang beraturan, jamaah perempuan di belakang rumah itu nampak lebih bersahaja mendendangkan lagu-lagu pujian.

Eman-eman temen, wong bagus ora sembahyang

Eman-eman temen, wong ayu ora sembahyang

Nabi Yusuf bagus, iyo tetap sembahyang

Siti Mariam ayu, ora ninggal sembayang

(Sangat, sangat disayangkan, lelaki ganteng tidak sembahyang

Sangat, sangat disayangkan, perempuan cantik tidak sembahyang

Nabi Yusus ganteng, ya tetap sembahyang

Siti Maryam cantik, tak pernah meninggalkan sembahyang)

Eman-eman temen, wong sugih ora sembahyang

Emang-eman temen, wong melarat ora sembahyang

Nabi Sulaiman sugih, iya tetap sembahyang

Nabi Ayub melarat, ora pernah ninggal sembahyang.

(Sangat, sangat disayangkan, orang kaya tidak sembahyang

Sangat, sangat disayangkan, orang melarat tidak sembahyang

Nabi Sulaiman kaya-raya, iya tetap sembahyang

Nabi Ayub melarat, tak pernah meninggalkan sembahyang)

Atau suatu kali mereka juga menyanyikan syair miris mencekam ini;

Illahi lastu ril firdausi ahla

Wala aqwa ala nari al-jahimi

Fa habli taubatan wagfir dzunubi

fa innaka gofiru danbil ‘adzzimi

(Ya Tuhan, kami sadar bukan ahli surgaMu.

Tetapi kami tak kan kuat berada di neraka jahaman

Karena itu ya Tuhan, terimalah pertobatan ini

Ampunilah segenap dosa kami)

Di pondokan terbuat dari kayu itu ada beberapa puluh santri putri. Sebagian berasal dari desa jauh sebagian lagi adalah para perempuan muda yang rajin mengaji di tempat itu. Syair lagu tanpa musik yang dilantunkan koor bersama dengan penjiwaan itu tak kalah sendu di banding lagu pop cengeng tahun 1980an.

Sembahyang. Menyembang Sang Yang Wenang. Tetapi kaum santri takut memakai istilah selain Allah. Istilah Sang Yang Wenang itu sendiri biasanya dipakai oleh orang-orang Buddha yang kebanyakan tinggal di desa-desa sekitar itu. Biasanya setiap hari mereka lebih suka memakai istilah sholat (bukan salat) sedangkan istilah sembahyang digunakan pada saat mereka melantunkan lagu menjelang ibadah magrib saja. “Tak enak kalau saat salawatan dengan memakai istilah sholat,”kata Nuriyah, Ibu Nyai, pengasuh pesantren putri itu. Ia menuturkan, pemakaian istilah sembahyang bukan berarti sebagai penganut kejawen. Menurutnya, Sang Yang Wenang, Sang Yang Widi dan lain sebagainya adalah Tuhannya orang Buddha. “Tuhan kita adalah Allah.” Karena itu Nuriyah selalu berpesan kepada santrinya agar tidak mengucap nama sembahyang kecuali untuk lelaguan itu, juga melarang pengucapan kata gusti. “Kalau ngucap gusti jangan cuma gusti, tetapi harus gusti Allah, sebab kalau ngucap kata gusti saja nanti menyerupai ucapan orang Kristen,” pesannya. Bagi kaum santri, menyerupai tindakan suatu kaum itu bisa menjadikan dirinya bagian dari orang-orang yang diserupai. Maka, kata kata Allah pun tidak juga diucapkan dengan lafal Allah (dengan L), tetapi dengan awlloh sebagaimana pelafalan dalam teks Arab.

Usai solat magrib jamaah solat di masjid atau di pondok itu langsung melantunkan wirid, sekitar sepuluh menit kemudian menjalankan solat sunat. Bagi para santri salat sunat itu sendiri sudah menjadi bagian sehari-hari, sementara bagi orang desa lebih suka menjalankan solat wajib. Bagi anak-anak kecil lain lagi. Jangankan menjalankan salat sunat, menjalankan salat wajib pun terasa menyiksa; tak boleh menggerakkan organ tubuh kecuali itu takbir, rukuk dan sujud. Yang paling menyebalkan, menoleh pun tak boleh.

Usai wiridan, anak-anak desa itu mengaji, menghadap guru-guru ngaji di pondok pesantren itu. Laki-laki mengaji di aula pesantren sedangkan kaum hawa mengaji di aula pesantren putrinya. Di beberapa rumah sekitar masjid itu ada juga tempat mengaji lain. Orang tua mereka seringkali memilih guru ngaji masing-masing. Tak semua disuruh mengaji ke Adnan. Sebagian mengaji kepada saudara sepupu Adnan.

Ada tiga saudara sepupu Adnan yang juga mengajar ngaji. Masing-masing memiliki pengikut. Suatu ketika banyak anak desa itu yang memilih mengaji di tempat Adnan dan meninggalkan tempat mengaji di saudara-saudara sepupunya. Adnan merasa tak enak. Ia khawatir menyinggung perasaan saudara-saudaranya yang semakin menyusut murid ngajinya. Takut ada konflik karena soal rebutan jamaah ngaji. Akhirnya Adnan memutuskan salahsatu santri seniornya membuka pengajaran mengaji dan memindahkan pengajaran mengajinya ke murid seniornya itu. Khusus untuk Anak-anaknya, tak boleh mengaji di luar. Adnan menyuruh salah seorang santri seniornya mengajar privat anak-anaknya sendiri.

****

Kala musim kemarau suasana desa itu terasa lebih nyaman. Suhu udara saat itu rata-rata tetap bertahan di bawah 19 derajat celcius. Pada pertengahan bulan Jawa, kemarau adalah berkah karena cahaya rembulan akan menjadikan malam setengah siang, dan orang bisa beraktivitas malam di luar.

Pepohonan nampak rimbun, di langit bintang-bintang bertaburan. Dan itulah kenikmatan malam orang-orang desa yang sulit didapatkan orang-orang desa dua puluh tahun kemudian. Sayangnya, sebagian panorama malam tidak bisa dinikmati oleh anak-anak kecil. Mereka seringkali sudah disuruh tidur oleh orang tuanya sebelum jam delapan malam. Sementara anak-anak remaja masih beruntung karena masih bisa keluar malam hingga jam sembilan malam. Langit cerah, udara dingin. Beribu bintang bertebar di langit biru bergaun mega putih. Rembulan terang nampak bahagia setelah jalurnya sepanjang siang dikuasai matahari. Dan anak-anak desa yang tak memahami ilmu astronomi itu terpaksa harus menafsirkan bentuk-bentuk bintang secara tradisional yang didapatkan dari orang-orang tuanya,-para petani yang pola pikirnya masih kuat didominasi oleh astrologi yang penuh mistis itu. ‘

Orang Jawa punya tafsir terhadap dunia perbintangan dengan ilmu pawukon,-tetapi sebenarnya ilmu ini juga tidak banyak diketahui secara baik oleh para petani. Para petani hanya mengandalkan ilmu tafsir turun menurun yang dipelajari leluhurnya secara lisan. Tak ada buku pegangan untuk menggali ilmu pawukon secara detail. Sementara anak-anak muda yang mayoritas lulusan sekolah dasar itu tak cukup bekal untuk mengenal jagat perbintangan karena materi-materi yang didapatkan dari gurunya di sekolahan sangat terbatas. Dari tiga puluh istilah pawukon rata-rata hanya sedikit yang diketahui petani. Biasanya mereka mengenal istilah bintang waluku (orion) sebagai tanda masa tanam yang baik dan tidak baik. Bintang waluku bisa berpindah-pindah dari ujung langit ke langit yang lain, sesuai peralihan mangsa penanggalan Jawa. Bintang lain seperti jenis kwalu, prangbangkat, ugu, wayang, dukut, watu gunung dan lain sebagainya hanya dikenal sebatas istilah, tetapi tidak diketahui maknanya. Orang Jawa yang mewarisi paham astrologi dalam menentukan hari baik perkawinan biasanya bertanya kepada orang pintar.

Bagi orang Jawa, bumi dan langit adalah dua komponen yang menyatu dalam konsep sepasang, sebagaimana mereka meyakini semua unsur kehidupan baik benda hidup atau benda mati selalu memiliki pasangan. Bintang dengan segenap panorama perubahannya memiliki tanda-tanda bumi. Salahsatu hal yang bisa diserap dari perubahan bintang adalah perubahan musim. Pada umumnya orang Jawa mengenal dua musim, yakni penghujan dan kemarau. Di dalam dua musim ini terdapat varian-varian kejadian alam yang sangat beragam, terkadang bisa diantisipasi terkadang pula tidak. Variasi musim itu biasanya bisa dikenali melalui paradigma wuku. Sudut pandang wuku dalam melihat musim dengan cara melihat waktu sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari 30 pekan. Dengan kata lain, satu wuku berisi 210 hari. Konon ide dasar wuku ini sendiri terkait dengan penghitungan antara hari pasaran (pancawara) yang terdiri dari lima hari, Kliwon, Pon, Pahing, Wage, Legi, dengan saptawara (pekan) yang terdiri dari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Ketiga puluh pekan itu masing-masing memiliki sejumlah nama, yakni wuku sinta, landep, wukir, kurantil, tolu, gumbreg, wariga alit, wariga agung, julangwangi, sungsang, galungan, kuningan, lagkir, mandasiya, julung pujut, pahang, kuru welut, marakeh, tambir, medangkungan, maktal, wuye, manahil, prangbakat, bala, wugu, wayang, kuwalu, dukut, dan watu gunung.

Dari rangkaian perhitungan hari yang terkumpul dalam pekan, kemudian berakumulasi dalam konsep wuku ini orang Jawa memiliki dua belas musim tanam. Konsepnya ialah kasiji, karo, katelu, kapat, kalimo, kanem, kapitu, kawolu, kasongo, kasepuluh, kasewelas, karolas.

Musim kasiji (pertama), biasanya terjadi pada musim panen antara bulan Agustus dan September. Musim pertama ini masanya 41 hari. Pada masa ini biasanya dedaunan rontok, beberapa tanaman berakar pendek layu atau mati. Masa panen disertai kekeringan ini sering digunakan petani sebagai masa persiapan pengolahan lahan. Rumput-rumput dan semak-semak dibabat lalu dibakar. Abu pembakaran itu dijadikan penyubur tanah. Musim kedua yang memiliki umur 25 hari biasanya hujan telah tiba. Pada hari-hari pertama biasanya hujan tidak turun terus-menerus. Masa ini tumbuhan sedang bersemi. Para petani mulai menggarap lahannya. Biasanya musim ini sangat cocok untuk menanam umbi-umbian berjalar seperti umbi jalar, kacang panjang dan lain sebaginya, termasuk singkong. Musim ketiga berumur 24 hari. Biasanya pada musim ketiga ini ladang sangat cocok untuk bercocok tanam. Memasuki musim keempat yang memiliki masa 24 hari, biasanya angin kencang berhembus, hujan deras mulai turun dan air sungai meluap. Di mana-mana banyak genangan air yang sangat menyuburkan tanah, tak jarang di tempat-tempat tertentu tanah mengalami erosi. Konon pada masa ini hewan-hewan liar seperti monyet, harimau, anjing di tengah hutan sedang banyak melakukan perkawinan. Selanjutnya musim kelima yang berlangsung 26 hari, para petani mempersiapkan bibit padi, mengairi sawah dan memperbaiki irigrasi untuk persiapan memasuki masa tanam di musim keenam. Pada musim keenam yang berlangsung cukup lama, yakni 41 hari petani mulai sibuk bekerja di sawah, membajak tanah dan mulai menyebar bibit, dilanjut menanam menyebar bibit pada musim ke tujuh yang berlangsung selama 41 hari. Musim kedelapan yang berlangsung 26 hari digunakan masa perawatan pertanian, hingga memasuki musim ke dua belas yang berlangsung selama 41 hari, di mana pada musim terakhir ini udara panas di siang hari sangat menyengat dan dingin menyergap di malam hari.

Menatap langit, terbukalah cakrawala kehidupan. Anak-anak itu mendapat ilmu pengetahuan dari alam yang terpandang. Tetapi itu tak mampu menjelma pengetahuan empiris karena cara memandangnya dengan lensa mistis yang tak mengenal ujung pangkal kesimpulan. Pendidikan di bangku sekolah formal belum mampu menjelaskan, sementara guru-guru ngaji di kampung itu tak ada yang menguasai ilmu falak (perbintangan) secara khusus.

Sebuah bintang tiba-tiba terlihat oleh pasang mata meluncur, seperti jatuh ke bumi.

“Bintang apa itu ….?” teriak seorang anak terheran-heran.

“Bintang jatuh, tho,” jawab seorang teman sekenanya.

“Tidak ku tanya kalau itu. Maksudku, kenapa ada bintang yang jatuh? jatuh kemana?

“Jatuh ya ke bawah. Tidak mungkin jauh ke atas. Kenapa jatuh ya tanya saja sendiri,” sangkalnya lagi dengan nada slengekan.

“Sikak kowe,” umpatnya marah.

Anak-anak umur belasan tahun itu sedang menafsir jagat semesta. Bintang dan rembulan ditatap tiada henti hingga leher mereka kaku. Di langit kehidupan semesta membukakan pikiran dan menyadarkan betapa luasnya kehidupan, sangat berbeda dengan kehidupan dunia tempat kaki mereka berpijak yang terasa sempit terbatas pada lingkungan rumah sekolah dan ladang. Memang, mereka mengenal negeri asing seperti Belanda, Amerika, Perancis, Australia, Arab dari cerita atau dari layar kaca televisi. Tetapi kabar negeri asing itu tak bisa mereka cerna sebagai kenyataan, seolah-olah kenyataan Negara lain yang terekam dalam layar kaca itu tak ubahnya seperti film rekaan.

Media cetak yang sebenarnya bisa melengkapi informasi agar masyarakat lebih rasional dalam menerima berita asing tidak pernah merdeka dapatkan. Literatur sekolahan sangat terbatas. Jangankan kabar luar negeri, kabar kota-kota terdekat seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, atau kota lain pun masih jarang yang mereka jumpai, kecuali mereka saksikan siaran televisi atau potongan koran bekas.

****

Setiap Ahad malam, Adnan akan meliburkan santrinya mengaji, diganti acara dziba’an. Para santri mendapatkan materi pelajaran bersama tanpa pengajaran khusus ini untuk menyanyikan syair-syair al-Barzanji sebagai bentuk ekspresi kecintaan terhadap Nabi Muhamad dan keluarganya. Selain sebagai bekal latihan olah vocal, acara nyanyi bersama ini juga menjadi hiburan agar anak-anak santri mengekspresikan kesenangannya menyanyi. Hal yang paling indah dan mengasyikkan adalah saat malam senin jatuh pada pertengahan bulan, di mana rembulan terang di luar. Para santri menikmati pemandangan langit dari aula depan pesantren, bernyanyi bersama.

Tala’al-Badru ‘alaynā

Min thaniyyatil-Wadā’

Wajaba al-shukru ‘alaynā

Mā da’ā lillāhi dā’

(Purnama merekah menerangi kita

Di belahan gunung wada’

Wajiblah bagi kita bersyukur

Karena seruan Allah memanggil kita)

Asyaraqal badru’alaina

Fakhtafat minhul buduri

Mitsla husnik ma ra-aina

Zath-thu ya jaddal husaini

(Bulan purnama terbit memancar

Bintang-bintang sinarnya memudar

Keindangan seperti raut wajahmu itu

Tak pernah aku lihat, wahai kakek Husein)

Menyanyi bersama adalah sebuah kebutuhan. Adnan menyadari anak-anak santrinya butuh hiburan di luar urusan mengaji yang memenatkan pikiran. Setiap malam senin itu, kegiatan menyanyi bersama menjadi rutinitas para santri. Tetapi rupanya syair-syair Arab yang kebanyakan tidak dimengerti artinya membuat sebagian santri merasa kurang menjiwai isi yang dilantunkan. Mungkin karena sebab ini para santri putri yang diajarkan tembang-tembang Jawa oleh Nyai Adnan pelantunannya lebih enak didengar, tertib dan ekspresif. Sedangkan lantunan syair-syair Arab santri putra itu cenderung mekanis dan asal teriak dengan suara-suara parau.

Bagi Adnan, masalah seni sangat sensitif. Ia hanya menganjurkan seni-seni yang dianggap Islam, dan menganggap kesenian lain sebagai tindakan maksiat. Adnan selalu melarang suara-suara musik konvensional seperti musik pop, dangdut, rock, atau kesenian yang bersifat tradisional non Arab seperti kuda lumping. Dalam pandangan hampir kiai tradisional, -kecuali kiai yang dianggap nyleneh,-syair atau musik yang tidak sesuai dengan syari’at diharamkan. Hiburan pada prinsipnya tidak dilarang, tetapi harus mengarah pada upaya ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu nyanyian atau hiburan yang berpotensi melarutkan diri dalam kesenangan duniawi, bahkan berpotensi membangkitkan birahi harus dijauhi. Dalam hal percintaan misalnya, tak diperbolehkan mengekspresikan cinta antar jenis kelamin, melainkan harus cinta yang ditujukan untuk Tuhan. Karena itulah lagu-lagu yang boleh dinyanyikan di pesantren sangat terbatas, pada jenis lagu-lagu seperti Qasidah a-Burdah, sebuah naskah epos kenabian. Qasidah Burdah ini bisa dinyanyikan tanpa musik, atau terkadang juga dengan alat musik padang pasir jenis rebana. Kalau pun Adnan memperbolehkan dendang musik modern, biasanya hanya mengijinkan lagu-lagu Ummi Kalsum atau Hadad Alwi.

Di mata para kiai tradisional seperti Adnan, lagu ini adalah lagu Islam, walaupun sebenarnya lebih tepat disebut lagu Arab. Anehnya, syair Ummi kulsum dan beberapa lirik lagu padang pasir sebenarnya tidak selalu berisi pujian atau ekspresi cinta terhadap sang Khalik, melainkan juga banyak terdapat senandung percintaan yang bahkan di dalamnya sering terdapat lirik-lirik sensual. Kiai tradisional memang aneh. Seni menjadi sesuatu yang problematis. Di satu pihak menjadi dibutuhkan karena masyarakat menyukainya, di lain pihak sering dianggap sebagai ancaman degradasi moral. Berkaitan dengan seni Jawa misalnya, di satu sisi mayoritas kiai tradisional menentang unsur-unsur kesenian Jawa seperti kuda lumping dan ketoprak, tetapi di lain pihak bisa kompromi dengan lagu-lagu Jawa, seperti salawatan mulud, salawatan laras madya, Mocopat dan lain-lainnya.

Ambigu. Pandangan kiai konservatif seperti ini kalau ditelisik lebih jauh ternyata bukan ketakutan terhadap pesan ayat-ayat suci al-Quran atau Hadist Nabi, melainkan disebabkan ada satu kitab yang menilai secara umum kesenian olah suara disertai musik adalah haram hukumnya. Sebuah kitab fikih karya ulama Banten, Safinatu al-Naja misalnya, dengan jelas melarang musik-musik non Arab karena menurutnya dianggap mengikuti perilaku londo kafir.

Kalau acara barzanji usai, mereka bubar dan menuju depan halaman pondok. Ini adalah hal yang menyenangkan karena biasanya dari dapur Ibu Nyai ada jatah minuman dan sedikit camilan seperti singkong rebus, kripik goreng atau talas godok. [By:Faiz Manshur/20120]

//

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s