Perihal Diskusi

Standar

diskusi kebun seni“Diskusi”. Antara suka dan tidak suka sebenarnya “praktik” ini selalu bersama dalam kehidupan saya. Kadang saya menyukainya dengan alasan tertentu, kadang pula tidak menyukainya tanpa alasan khusus. Tapi yang jelas diskusi merupakan bagian yang terus saya alami. Terhadap banyak tema diskusi, paling menyita perhatian saya sejak dulu adalah filsafat, kemudian budaya,agama,  sastra, ekonomi, filsafat, dan tema lain.

Terlibat langsung menjadi bagian orang yang berbicara atau tidak, yang jelas diskusi selalu bermanfaat.  Dan saya sering merasakan manfaat justru manakala tidak ada target pribadi atau target kepanitiaan. Maka, ketika kemarin, hari sabtu, 13 Juli 2013, saya hadir dalam acara diskusi “Sastra Ndangdut” di kebun seni, parkiran ITB, saya hanya menikmati sebagai pendengar murni, bersama Pak Remy Sylado, Pak Budhiana Pikiran Rakyat, dll. Buat saya, berada dengan teman-teman pegiat sastra budaya bukan hal yang asing tentunya. Saya dengarkan terus dari awal sampai akhir obrolan tentang sastra, musik, dan perihal Ndangdut.

Pembicaraan teman-teman dalam forum itu relatif santai, tapi perdebatannya kenceng. Sejam pra buka puasa dilanjut lebih dua jam setelah buka, perdebatan tentang seni, sastra, teks, musik dan seterusnya berlangsung tanpa ujung pangkal.

Setelah saya pikir, hal-hal semacam itu sangat baik. Diskusi memang bukan rapat yang harus mengambil keputusan. Juga bukan semata memecahkan masalah terhadap problem. Urusan ndangdut bisa dikesampingkan karena dalam wicara satu persatu peserta berkembang dinamis melibatkan keilmuan beragam bidang pengetahuan, pemaknaan, penyerapan maksud, dan sejumlah kesalahan yang sangat berguna diperhatikan.

Makna diskusi dengan adu argumentasi –baik argumentasi dengan alasan ilmiah maupu subjektif—sama-sama berguna untuk penyegaran otak. Bahwa terhadap satu persoalan yang mungkin sebelumnya dianggap masalah sepele bisa berkembang  menjadi masalah prinsipil. Itu semua akibat dari keberagaman masing-masing individu dengan latarbelakang pemikiran dan pengalaman.

Di sini, kemajemukan menjadi inti untuk menghadirkan “gesekan-gesekan” yang efeknya menghasilkan kearifan diri untuk tidak selalu ngotot bertahan pada pandangan atau asumsi personal kita.

Forum-forum diskusi memang tidak menarik perhatian masyarakat. Itulah sebabnya di tengah lautan kerumuman masyarakat selevel kota Bandung sekalipun, peserta diskusi di mana pun sering sepi. Termasuk di Kebun Seni ITB  atau di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang sering jadi tempat diskusi para seniman dan aktivitas gerakan sosial itu, tak mampu memobilisasi massa.

Namun bukan di situ masalahnya. Nilai kebaikan, atau nilai spiritual diskusi tak bisa diukur dari kerumuman massa, melainkan dari keseriusan para peserta. Jika dasar utamanya ialah hendak menghargai nilai dari perbedaan, atau menyerap pandangan orang lain, terlepas dari benar-salah, bermutu atau tidak, maka selalu ada makna yang penting di sana. Bagaimanapun juga, obrolan yang dianggap tidak bermutu sekalipun senantiasa menghadirkan hikmah. Bukankah hikmah merupakan puncak spiritualitas dari ilmu pengetahuan?

***

Kembali pada pentingnya diskusi, sebenarnya kalangan intelektual di Bandung sangat penting untuk terus menumbuhkembangkan dinamika ini. Forum-forum sekecil apapun harus tetap dijaga.

Pengorganisasian dari berbagai bidang kegiatan harus terus dirawat dan dipelihara. Orang-orang semacam Kyai Matdon yang bekerja di basis kepenyairan dengan melakukan pengorganisasian dengan Majelis Sastra Bandung adalah langkah maju.

Bukan semata untuk urusan sastra, melainkan karena kegiatan diskusi selalu menghasilkan karakter kemanusiaan sekalipun sifatnya jangka panjang. Teman lain, seperti Basuki Suhardiman yang membentuk forum diskusi rutin mingguan di dalam Kampus ITB juga bagian dari cara untuk menghasilkan karakter manusia yang lebih maju untuk melampaui konvensionalitas mayoritas.

Sebelumnya, Bilven dan Denai dengan Ultimusnya sudah bekerja beberapa tahun dan menjadikan forum-forum kecil itu dinamis dengan beragam kajian. Dan itu tidak hanya mewarnai situasi urban di Bandung, melainkan mampu “menyusupkan karakter liyan” dalam tradisi kebudayaan kita.

Demikian juga pembentukan “Selasar Bahasa” oleh Sahabat Ahda Imran. Itu semua bisa dianggap gerakan kecil, tapi maknanya besar mengingat langkah-langkah untuk menerobos kebuntuan dalam beragam bidang ilmu pengetahuan senantiasa harus lahir dari dapur kecil yang punya tradisi memasak secara serius.

Jadi, menyempatkan diskusi itu sangat baik. Terutama bagi kelas menengah yang selama ini sering sibuk dan bosan dengan rutinitas. Terutama bagi kutu buku yang terlalu asyik dengan teks akan butuh penyegaran ilmu secara lisan dengan beragam cara pandang.

Akhirul kalam, adu cangkem itu buruk jika hanya dilakukan dengan satu orang, bisa berkembang adu jotos. Maka, adu cangkem yang baik ialah manakala dilakukan dengan beberapa orang secara terbatas misalnya cukup 10-20 orang. Karena kalau adu cangkem kelewat banyak orang akan banyak yang jadi korban kantuk! []

//

One thought on “Perihal Diskusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s