Arjuna Mencari Tuhan

Standar

filsafat dalam fiksi

Judul: Perempuan Bernama Arjuna (filsafat dalam fiksi)
Penulis: Remy Sylado/Penerbit: Nuansa Cendekia, 2013/Tebal: 276 Hlm/Harga. Rp 65.000

REMY SYLADO akhir September 2013 ke Kantor Nuansa Cendekia. Seperti biasanya, urusannya seputar naskah. Jumat siang itu, ia menyodorkan bundelan naskah. Judulnya Perempuan bernama Arjuna. “Waduh. Naskah yang lain belum terbit ini. Sekarang disogok naskah baru,” gurau saya menanggapi tawaran agar novel bermerek filsafat dalam fiksi itu diterbitkan segera.

Setelah melalui pertimbangan waktu, akhirya kami sepakat menerbitkan itu di pertengahan November. Tapi meleset karena saking padatnya jadwal di percetakan. Belum lagi ditambah kegagalan cetak sampul, sehingga harus tertunda seminggu lagi. Saya meminta bantuan untuk desain sampul pada Ratu Lakhsmita Indira. Seminggu memberikan waktu akhirnya tercapai. Terimakasih! Dan sekarang novel ini berhasil terbit.

Novel ini secara pribadi kami sambut dengan baik. Sekalipun akhir tahun ini kami sedang penat oleh banyaknya pekerjaan menyusun puluhan buku, apalagi ensiklopedi dan kamus-kamus yang kelewat tebal, kami tetap berpikir karya fiksi. Buat saya, ini bukan sembarang novel. Tentu bukan melebih-lebihkan karya Remy, tetapi karena tema “filsafat dalam fiksi” yang amat langka disentuh kalangan novelis itulah yang membuat saya antusias.

Moga-moga novel ini bisa Anda baca dan memberikan nilai-nilai baru dalam pemikiran Anda tentang filsafat dan kebudayaan. Berikut sinopsis yang saya susun. –[Agak berbeda sedikit dengan sinopsis yang ada di sampul karena disampul punya keterbatasan ruang teks]-

***

Apakah anda termasuk orang yang kangen fiksi bermutu?

Jika itu pertanyaannya, barangkali inilah buku yang ditunggu. Dalam Novel ini, Remy Sylado, mengambil tema filsafat. Pokok kajian di dalamnya merangkai sejarah pemikiran para filsuf dari zaman Yunani hingga era masa kini. Aktor utama yang bermain dalam novel ini adalah Arjuna, seorang perempuan 25 tahun ketuturan Cina-Jawa yang sedang  belajar filsafat di Amsterdam, Belanda.

Sedikit menyinggung ketidaklaziman judul novel dan nama perempuan ini, nama Arjuna itu berawal dari “keterpaksaan menuju keliru”. Kisahnya, kakek Arjuna mengharapkan cucunya laki-laki. Pada usia kandungan yang ke 7 bulan, dibuat upacara khusus yang memberikan nama bakal jabang bayi dengan nama Arjuna. Karena sikap keluarganya yang kokoh dalam memegang adat, maka dengan terpaksa, nama Arjuna tidak diganti sekalipun kemudian bayi yang lahir itu perempuan.

Muatan novel ini mengutamakan isi dengan mengulas pemikiran para filsuf dunia. Tak tanggung-tanggung. Remy mampu mengulas lebih dari 150 filsuf dunia. Dan secara keseluruhan terdapat 200 sosok pemikir atau tokoh penting yang termaktub dalam catatan kaki di bagian halaman belakang novel ini.

Dalam membaca literatur fiksi, biasanya kita sering menarget untuk mendapatkan kenikmatan atas deretan kisah di dalamnya. Jika itu yang diharapkan, maka novel ini memberikan sarana meraih kenikmatan atas, 1) pengetahuan sejarah filsafat yang benar-benar akurat dan berwawasan, 2) teladan kemandirian berpikir dan juga kebebasan memilih dan menentukan garis hidup dari perempuan bernama Arjuna, dan, 3) cakrawala bahasa, sejarah,sains, budaya, politik dunia, termasuk politik nasional yang terpotret apik menyatu dengan paham-paham/ajaran isme dunia.

Lain daripada itu, perihal urusan kelamin dalam novel ini cukup banyak mewarnai alur cerita. Tentu itu bukan karena tujuan sensasi syahwati, melainkan alasan kajian ilmiah biologi-evolusioner. Tentang seksualitas itu menjadi topik yang unik ketika Arjuna harus jatuh cinta pada dosennya, Van Damme, seorang Jesuit asal Banneux Belgia yang dikatakan dalam novel itu, “kelihatannya kebanci-bancian tapi ternyata seorang koboi heunceut yang liar di atas ranjang.”

Jadi, jika nanti Anda menemukan istilah-istilah yang vulgar seperti “memberdayakan vagina”, “menggaruk-garuk kontol”, “koboi heunceut”, atau istilah sejenisnya, janganlah menganggap terdapat unsur porno dalam novel ini, sebagaimana pula kita tidak boleh gegabah menyebut novel religius karena di dalamnya banyak istilah agama, seperti “masya Allah”, “mazmur”, “tawakal”, dan lain sebagainya.

Buku ini bisa disebut novel-filsafat, artinya novel yang berisi ulasan filsafat secara mendalam dan karena itu wajar jika ditinjau dari sudut pandang fiksi, muncul slogan “Bukan Bacaan Ringan” dan jika dilihat dari sudut pandang filsafat, akan muncul slogan; “filsafat yang ringan”.

Maksudnya ringan karena dengan model adonan fiksi seperti ini, filsafat yang selama ini terasa mbulet bin ruwet, terurai secara simple, mudah dipahami, dan efektif dipahami.[Faiz Manshur. Redaktur Nuansa Cendekia]

Kutipan awal Novel:

Saya sadar, saya tidak cantik. Tapi saya pun tidak mau seperti perempuan-perempuan lain yang mengira dirinya menjadi cantik jika bisa memupur wajahnya dengan bedak cair setebal sekian mili, dan memasang bulu mata palsu tiga susun, sehingga jika disoroti lampu jalan pas di atas kepalanya, tampak wajahnya seperti jerangkong. Amit-amit jabang bayi.

            Saya Arjuna. Serius, ini nama perempuan. Nama saya.

            Muasalnya, ini kekeliruan kakek dari pihak ibu, orang Jawa asli Semarang, yang mengharapkan saya lahir sebagai anak laki, dan untuk itu kepalang di usia 7 bulan dalam rahim ibu, dibuat upacara khusus dengan bubur merah-putih bagi Arjuna diserta baca-baca Weda Mantra, pusaka pustaka warisan Sunan Kalijaga1 dari masa awal syiar Islam di tanah Jawa. Jadi, apa boleh buat, nama Arjuna adalah anugrah yang harus saya pakai sampai mati.

            Walaupun saya tahu, saya tidak cantik, toh saya memiliki rasa percaya diri yang luar biasa, yaitu berdasarkan observasi, bahwa semua perempuan yang paling jelek pun, pasti bisa membuat lakilaki, dalam keadaan darurat, terserang mata keranjang. Arti sebenarnya kata ‘mata keranjang’, harusnya dieja ‘mata ke ranjang’, adalah lakilaki yang melihat perempuan sertamerta pikirannya tertuju ke atas ranjang.

–Plato, Aristoteles, Zeno, Anaxagoras, Parmenides, Diogenes, Pythagoras, Nietzsche, Darwin,Wittgenstein, Spinoza, Nero. Schopenhauer, Kant, Kierkegaard, Hegel, Marx, Feuerbach, Aquinas, Al-Ghazali, Galileo, Kepler, Descrates, Rousseau, Diderot, Bacon, Tillich, Konghucu, Hobbes, Barth, Sartre, Zebedeus, Erigena, Luther, Heidegger, Hussrel, Shakespeare, Seneca, Goethe, Xenophanes, Popper, dan lain sebagainya–

2 thoughts on “Arjuna Mencari Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s