Memahami Riset Gunung Padang

Standar

Hal yang baru dan di luar dugaan seringkali menimbulkan skeptisisme. Sebagai “orang awam” perlu cara tersendiri menyikapinya.

 Andi Arief itu nekad. Bisa-bisa nasibnya seperti Mantan Menteri Agama, Said Aqil Munawwar yang tragis mengalami kegagalan karena percaya mistik menggali harta karun. Kenyataan berkata lain….

Bagian atas Gunung Padang (Foto Andy Yoes)

Bagian atas Gunung Padang (Foto Andy Yoes)

Berbeda dengan Aqil, Andi Arief, staf Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam itu bekerja melalui tahapan-tahapan riset ilmiah. Ia pun tidak sekadar mendapat masukan lalu dieksekusi dalam tindakan tanpa koordinasi secara matang dengan pihak-pihak yang kompeten. Urusan penelitian Gunung Padang di Cianjur, bukan menggali harta karun atau timbunan emas.

Semua hal yang berkaitan dengan mistik seperti itu terbukti hanya isu belaka. Kalaupun nanti ada “harta karun” (dalam pengertian yang luas), itu juga bukan target dirinya bersama para peneliti. Yang ia lakukan adalah membuktikan indikasi-indikasi hasil riset para peneliti sebelumnya, mematangkan kerja peneliti lapangan, dan membuka ke ruang publik hasil penelitian tersebut sebagai bentuk “laporan”. Kepada penulis ia bilang; “kita publikasikan setahap demi setahap supaya dikontrol oleh banyak pihak. Dan tak jadi soal dengan apapun hasil riset tersebut.” Malangnya, karena proses baik seperti itu, Sdr. Andi Arief justru dinilai oleh kelompok Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), sebagai orang yang bertindak gegabah dalam mempublikasikan hasil penelitian tanpa pertimbangan matang sehingga menjadi salahsatu alasan kelompok Arkenas untuk membuat petisi penghentian penelitian.

pintu gunung padang

Pintu Masuk (loket) Gunung Padang Cianjur.

Gunung Padang selama beberapa tahun terakhir memang menimbulkan kontroversi. Tapi hal itu saya lihat sebagai sebuah kewajaran proses. Karena itu ada baiknya sebuah tulisan tentang “mengapa harus percaya dan mengapa pula boleh tidak percaya.”

Satu hal yang mungkin perlu disampaikan di sini terkait dengan kontroversi karena sosok Andi Arief yang lebih dikenal sebagai aktivis dan pelaku politik di Istana. Ini sering mengundang kecurigaan banyak pihak, bahkan banyak orang melihat kegiatan Sdr Andi Arif dalam lapangan penelitian ini sebagai sesuatu yang politis. Berbeda dengan cara pandang kebanyakan itu,  saya  rasa memang perlu melihat dengan cara pandang lain, bahwa seseorang sebenarnya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, apalagi sisi tersebut hanya karena alasan ikon. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengeneralisasi Andi Arief yang orang politik lantas semua hal yang dilakukan dirinya politik. (Tentu saja pengertian  politik yang saya maksud dalam hal ini bukan politik dalam artian murni, melainkan sebagai tindakan politik kotor/politisasi untuk kepentingan sempit kekuasaan). Andi Arief dalam penelitian ini adalah orang yang membantu para peneliti, dan itu pun bukan secara tiba-tiba, melainkan terkait dengan tanggungjawab kerjanya sebagai staf Kepresidenan di Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam yang melibatkan kerja para peneliti tersebut. Jika kita tetap tidak bisa “mempercayai” Andi Arief karena alasan politik itu, kita toh bisa “mengabaikan” dirinya dan lebih melihat kiprah satu persatu para peneliti di dalamnya. Ada DR. Danny Hilman Natawidjaja, DR. Andang Bachtiar, DR. Ali Akbar dan peneliti lain yang terlibat yang bisa percayai kompetensinya.

Tulisan ini akan berbagi dari sudut pandang awam,– di mana kita memang seharus memahami sesuatu yang bisa dicerna secara masuk akal oleh akalnya orang-orang kebanyakan. Dengan cara ini, saya bermaksud menegaskan bahwa dalam urusan rasionalitas,  “kita tidak bisa melarang orang mempercayai keyakinan sebelumnya dan tidak bisa begitu saja mempercayai sesuatu tanpa penjelasan yang masuk akal, tetapi sekaligus sadar bahwa kita tidak bisa memaksakan kepercayaan lama harus dipercaya seterusnya sementara ada kesahihan bukti dari yang baru.”  Inilah yang perlu digenapkan sebagai penjelasan karena penelitian adalah urusan ilmiah, bukan urusan soal “aliran kepercayaan” agar kita secara dogmatis,– terus mempercayai hal-hal yang lama.

altar gunung padangbatu batu gunung padang

Sikap ini merupakan bukti tanggungjawab diri sebagai manusia rasional. Dari yang tadinya tidak percaya, kemudian mau mendengar dan melihat serta belajar memahami, lalu sekarang menjadi percaya. Itu wajar. Suatu ketika pandangan berubah lagi karena terdapat perubahan fakta juga tidak masalah. Ini bukan sikap plin-plan atau mudah terbawa arus. Ini merupakan cara bijak memandang sesuatu secara objektif. Sekarang saya percaya tentang Gunung Padang memang sebuah situs tua. Ini membedakan dengan ketidakpercayaan orang yang berpikir “Gunung Padang hanya warisan alam tanpa campur tangan manusia.”

bebatuan gunung padangview gunung padang

Dalam urusan seperti ini saya juga merasa perlu melihat dari perspektif kebanyakan orang, dengan kepatutan menyandang predikit golongan awam. Pengertian awam di sini maksudnya bukan semata untuk sikap rendah hati, bukan pula karena memang benar-benar awam dalam pengertian bodoh, melainkan sebagai salahsatu hal yang wajar terjadi ketika kita dihadapkan pada masalah yang berat, sulit dan membutuhkan perhatian khusus, tetapi kita tidak terlibat di dalamya sehingga tidak mungkin memahami sebagaimana mereka para peneliti yang terlibat aktif di dalamnya.

Saya awam dalam pengertian karena saya bukan bagian dari peneliti yang terlibat aktif melakukan penelitian. Maka, sebuah kewajaran pula jika pada 3 tahun silam, termasuk sampai hari ini, dan bahkan mungkin beberapa tahun ke depan, orang belum mempercayai temuan-temuannya itu. Sangat wajar dan boleh saja.

Saya termasuk orang yang tidak mudah percaya. Berita-berita awal (tahun 2009-2010,2011) tentang Gunung Padang yang diliput oleh Harian Kompas dan beberapa media lain, sebagai situs purbakala tidak cukup meyakinkan. Hanya saja saat itu, disebabkan oleh masifnya pemberitaan, mengakibatkan banyak orang penasaran dan berbondong-bondong menuju Gunung Padang di kawasan selatan Cianjur itu, termasuk saya.

Berbekal tulisan-tulisan dari berita-berita, saya naik Gunung Padang, tepat pada hari liburan Idul Fitri 2012. Sesampai di puncaknya,(yang sebenarnya pantas disebut bukit karena kecil), pikiran saya berada di alam kepercayaan “antara”; antara percaya dan tidak percaya. Berlanjut kemudian, saya terus mengikuti berita di media massa resmi dan juga beberapa publikasi ilmiah berupa buku karya peneliti Gunung Padang, termasuk petisi agar diberhentikannya riset di Gunung Padang. Dan yang paling menarik adalah kalau kita menyempatkan diri melihat pemaparan para peneliti yang begitu banyak melalui youtube. Lihat saja misalnya penjelasan “Danny Hilman Gunung Padang”, “Ali Akbar Gunung Padang”, “Pemaparan Gunung Padang”, dan seterusnya.

Ketertarikan saya mengikuti karena memang beberapa hasil riset para peneliti selalu memacu rasa penasaran. Bahkan karena kokohnya argumentasi para periset yang tergabung dalam Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM),  suara petisi yang cukup menghebohkan itu pada akhirnya tidak berbunyi lagi, –dan para peneliti terus bekerja. Sampai pada tahap yang cukup menyakinkan untuk percaya (walaupun tidak 100 persen), saya akhirnya perlu untuk “meyakinkan diri”.

144542_sketsa-imajiner-gunung-padang-2_663_382

Sketsa Gunung Padang Prof. Pon

Saya hubungi Sdr. Andi Arief dan saya ingin memasuki pengetahuan dari dalam tentang hal itu. Awal Mei 2014 saya bertemu di kantornya. Di sana, selain bicara tentang Gunung Padang, juga bicara tentang bencana alam. Dan kunci pokok dari penjelasan Sdr. Andi Arief memang cukup meyakinkan saya berkaitan dengan Gunung Padang itu.  Banyak hal yang selama ini bias dari media massa. Ambil contoh misalnya. 1) Liputan Gunung Padang kebanyakan liputan wisata, bukan hasil riset. Para wartawan (mohon maaf) yang karena harus dimaklumi target penulisannya semata untuk memenuhi rubrik wisata/traveling hanya bicara tentang hal-hal yang “asyik-asyik”. Media massa lebih banyak memamerkan suasana eksotisme ketimbang suasana keilmuan. 2) Informasi bias juga terjadi karena pada saat hasil riset belum selesai, sudah terjadi pertarungan antar peneliti, terutama dari kelompok Arkenas yang gencar mengkritik para peneliti Gunung Padang dari TTRM. Ini cukup mengganggu “pikiran” saya karena pada satu sisi saya belum mendapatkan data-data hasil riset yang meyakinkan, tetapi di lain pihak diserang oleh skeptisisme dari kalangan peneliti juga. Bahkan sampai pada saat itu, sempat saya berpikir nasib Sdr.Andi Arief beserta Timnya akan serupa dengan nasib Mantan Menteri Agama RI, Said Aqil Munawwar yang gagal menemukan harta karun.

Gunung Padang dari Helikopter. Foto Danni Hilman

Gunung Padang dari Helikopter. Foto Danni Hilman

Dari kantor Sdr. Andi Arief itu, saya merasa mendapatkan banyak masukan, tetapi jujur masih kurang memuaskan juga. Karena itulah seminggu kemudian saya undang Sdr. Andi Arief ke Kantor saya di Penerbit Nuansa Cendekia Bandung. Saya meminta Sdr. Andi Arief memaparkan hasil kerja para peneliti. Saya tahu posisi dirinya bukan sebagai peneliti, melainkan sebatas sebagai orang yang membantu para peneliti. Tapi justru dengan itu pentinglah Sdr. Andi Arief untuk menjelaskan semua hal tentang Gunung Padang. Dari situlah kemudian saya mulai percaya bahwa para peneliti melakukan pekerjaan yang semestinya.

Percaya tentang apa? 1) Percaya bahwa struktur bebatuan di Gunung Padang itu memang ada campur-tangan manusia . Saya tidak belum berani berkata itu piramida, tetapi yakin lah sekarang di sana ada ulah manusia di masa lampau (yang tentu tidak lampau dalam pengertian ratusan tahun) melainkan ribuan tahun.

Dulu, saat pertamakali saya melihat tumpukan-tumpukan batu secara langsung di bagian atas bukit itu,  saya masih sulit meyakini bahwa bebatuan itu campur tangan manusia, –sekalipun juga ragu kalau tidak ada peranan manusia. Tetapi ketika tahu bahwa ternyata yang menjadi objek penelitian itu bagian bawah gunung, dan sekarang sudah tersibak, maka di situlah saya kemudian merasa tidak gengsi untuk mempercayainya. Karena itu saya memaklumi pada siapapun yang berkunjung di sana tetapi kemudian menyimpulan Gunung Padang itu; “tidak ada apa-apanya”, “Susunan Bebatuan Gunung Padang itu faktor alam”, atau kesimpulan skeptis lainnya.

Pada kesempatan lain, Sdr. Andi Arief pernah iseng bertanya kepada saya, “Kalau misalnya di Gunung Padang itu terdapat sesuatu yang di luar akal, bagaimana menjelaskannya kepada rakyat?”

Karena saya percaya bahwa masyarakat sulit menerima hal-hal baru dalam waktu singkat, maka jawaban saya adalah: “Kalau menjelaskan kepada rakyat itu tidak perlu. Dulu Nabi tidak menjelaskan kepada umat secara langsung untuk mempercayai wahyunya, melainkan melalui perantara, yaitu kerabat dan sahabat terdekatnya. Tuhan pun tidak langsung menurunkan wahyu kepada Muhammad, melainkan melalui perantara Malaikat. Jadi ini memang butuh perantara dan selain itu juga butuh pola komunikasi yang tepat.”

Analog di atas tentu bukan maksud saya mengarahkan bahwa temuan di Gunung Padang sejenis wahyu, melainkan pada soal komunikasi, penyampaian kabar baru tentang hal yang dianggap irasional menjadi rasional. Jadi urusan hasil riset Gunung Padang itu pertama harus dikomunikasikan melalui pewarta sebagai perantara. Komunikasi yang pas untuk berbagai segmen dan kelompok masyarakat harus tepat dan mudah dipahami. Karena itulah butuh penjelasan-penjelasan yang masuk akal pula. Jangan sampai hal yang ilmiah karena dijelaskan kurang ilmiah, apalagi mistik, kemudian hasilnya adalah kekacauan pemahaman.

Ini bukan tanpa dasar, sebab sebelumnya penelitian Gunung Padang juga sudah dianggap irasional, berburu harta karun, padahal tidak ada program itu. Tetapi karena media massa memberitakan sebagai penggalian harta karun, maka banyak orang yang skeptis terhadap kerja penelitian. Jadi komunikasi pada media massa nanti harus secara maksimal dijabarkan sungguh-sungguh. Bukan semata wawancara, melainkan publikasi tulisan termasuk visualnya. Jika hal itu sudah dilakukan tetapi memang masih ada berita-berita versi berkebalikan dari fakta, itu sudah bukan tanggungjawab pemberi warta, melainkan dosa dari pewarta.

Saya dan Hermawan Aksan sedang istirahat di pertengahan gunung padang

Saya dan Hermawan Aksan sedang istirahat di tangga Gunung Padang

Saya dan Hermawan Aksan sedang wawancara dengan seorang komandan militer

Saya dan Hermawan Aksan sedang wawancara dengan seorang komandan militer

Apa yang sebenarnya ditemukan dari penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri di Gunung Padang itu? Mengapa pula pemerintah sekarang secara resmi menjadikan situs itu sebagai cagar budaya bangsa? Dan apakah Gunung Padang memang lebih hebat dari Borobudur?

Untuk jawaban itu, nanti kita sambung lagi…..sementara sibuk membantu Pak Hermawan Aksan yang menulis buku Gunung Padang dalam Perspektif Jurnalisme.

Dan semoga pandangan saya ini salah:

Kalau kita menemukan sejarah lama dengan kelebihan-kelebihan karya leluhur,  itu artinya kita menemukan basis tradisi yang bisa menjadi referensi pembentukan karakter masyarakat pewarisnya. Tetapi Saya melihat itu tidak otomatis. Misalnya Yunani dengan jelas menunjukkan basis karya besarnya. Tetapi bangsa Yunani tidak serta-merta menampilkan keunggulan bangsanya di masa sekarang. Sementara Belanda sebagai bangsa yang masih kalah dalam urusan warisan budaya purba, tetap mampu menghasilkan banyak prestasi. Perlu diingat, salahsatu hobi orang Belanda adalah melakukan riset, pemburu penemuan lahan baru, situasi baru dan kesanggupan menjadi orang baru dengan pemikiran baru. Karena itu jika misalnya kita menemukan situs purba dengan mahakarya agung sekalipun tetapi tidak memiliki jiwa atau mentalitas pembaharuan, dan tetap hobi merawat dogma, kita tidak akan menemukan karakter yang lebih baik dan lebih maju. Buat saya, harta warisan bukan penentu, melainkan pewarisnya lah yang lebih menentukan. Diberi warisan besar kalau tidak bisa mengelola rusak juga. Diberi otak kalau tidak digunakan sebaiknya dibawa ke pegadaian saja, atau dihibahkan ke rumah sakit jiwa. Senyatanya, kalaupun kita tidak punya warisan, maka kita bisa secara cerdik dan cendekia, atau seperti kolonial, secara licik dan tanpa rasa dosa, berkenan mencuri warisan orang lain dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya….#Gak usah sewot. Nyekikik saja!

(Faiz Manshur. Bandung 19 Agustus 2014)

2 thoughts on “Memahami Riset Gunung Padang

  1. Situs megalitikum banyak tersebar di Indonesia, mungkin yg terbesar sekarang adalah gunung padang, bila melihat persebarannya kebudayaan ini dilakukan sekelompok koloni kecil, katakanlah sebuah kampung sekarang. Mengingat besarnya situs gunung padang maka dugaan saya itu adalah sebuah komunitas yang tersebar di daerah Jawa Barat sebagai persatuan koloni mereka. Kecuali bila ditemukan sebuah kota sebagaimana kebudayaan Mesir atau di Indonesia adalah Kerajaan Majapahit dan Mataram Hindu. Demikian masukan dari saya semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s