Catatan 13 Oktober Bersama Remy Sylado

Standar

Senin, 13 Oktober 2014, saya menyempatkan waktu buat Om Remy Sylado. Seperti biasanya, setiapkali ada acara ke Bandung, ia selalu menyempatkan mampir ke Kantor Penerbit Nuansa Cendekia, atau jika tidak singgah ke kantor, biasanya kami jalan-jalan bareng, makan bersama dan tentu yang lebih penting dari itu adalah bincang tentang keilmuan.

Remy Sylado di Kantor Nuansa Cendekia Bandung

Remy Sylado berfoto bareng dengan karyawan percetakan Nuansa Cendekia bandung

Remy Sylado berfoto bareng dengan karyawan percetakan Nuansa Cendekia Bandung

Khusus pada senin ini, Om Remy mampir ke Percetakan, kira-kira 1 Km dari Kantor Penerbit Nuansa Cendekia. Kami berbincang tentang rencana percetakan baru ke depan. Intinya saya ceritakan  bahwa saya dan teman-teman pengelola percetakan ingin mesin lebih besar, dengan tujuan kapasitas produksi lebih massal.

Dari percetakan kami ke ruang meeting Redaksi. Di sana tumpukan buku karya Remy Sylado sudah menunggu untuk ditandatangani. Ada sekitar 80 buku  yang berhasil ditandatangani.  Buku-buku Om Remy yang telah kami terbitkan adalah. 123 Ayat tentang Seni, Drama Sejarah Diponegoro, Novel Perempuan bernama Arjuna 1 (filsafat dalam fiksi), Perempuan Bernama Arjuna 2 (Sinologi dalam fiksi), Kamus Isme-isme, dan novel Gali Lobang Gila Lobang.

Siang itu kami menyempatkan diskusi beberapa hal:

1) Rencana penulisan lanjut Ensiklopedi Musik yang belum selesai. Ensiklopedi Musik itu target tebalnya kira-kira 1500 halaman. Sampai bulan oktober ini sudah masuk ke 500 halaman. Kurangnya masih banyak, tetapi sebenarnya tidak terlalu sulit karena sebelumnya draft penulisan entrinya sudah merata dari A hingga Z. Jadi semoga bisa selesai bulan desember.

2) Diskusi juga tentang novel lanjutan yang ketiga “Perempuan bernama Arjuna 3” dengan tema Jawanologi, studi kajian Jawa dalam fiksi. Berkaitan dengan sejarah tentang Jawa ini pada senin itu kami sepakat untuk memasukkan kajian penting tentang Sundaland dan Sunda. Ada juga tentang pentingnya menekankan pemahaman peradaban. Soal peradaban ini menjadi penting karena selama ini sering rancu disebut orang sebagai ilmu abstrak. Padahal kata peradaban itu menurut Om Remy tidak sembarangan bisa dipakai. Misalnya, Jawa layak disebut punya peradaban, karena memang memenuhi prasyarat sesuai kajian surah Lukman. Menurut Om Remy, kajian peradaban ini berasal dari Islam, jadi acuannya mau tidak mau harus dari sumber resmi Al-Quran. Jadi kesimpulannya, nanti dalam novel itu Om Remy punya tugas menjelaskan secara rinci dan gamblang tentang apa itu hakikat peradaban sebagai sains sejarah.

Semoga rencana-rencana itu berjalan baik, dan kami terus bisa menggulirkan keilmuan ke masyarakat dengan visi memproduksi studi ilmiah yang bermutu. [Faiz Manshur]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s