Corak Baru Gerakan Intelektual islam

Standar

the-enlightenment-foldable-assessment-1-16-728Lama saya tak bertemu dengan AE Priyono. Di kantor LP3ES Pejaten Jakarta (Senin 29 Desember 2014), kami berbincang cukup lama. Saya mengenal Mas AE sudah lumayan lama, dia bukan tipikal murni peneliti, sekalipun dunia penelitian sudah mendarah daging sejak lama– sehingga selalu ada celah untuk “sepakat secara cepat” mengerjakan sesuatu untuk urusan sosial-kemasyarakatan, tentu dengan tetap bersandar pada sisi fakta-fakta, dan fakta yang saya maksud adalah fakta hasil penelitian, penelitian yang telah diperdebatkan, dan lebih jauh itu sudah diukur segala kemungkinannya untuk “kesalamatan” gerakan.

Dan pembicaraan panjang itu, kami serujuk untuk merumuskan dan menggerakkan semangat kerja intelektualitas yang membumi. Satu rangkaian pendek dari diskursus yang kami bicarakan tersebut tertulis dalam berita di situs http://www.katakini.com/berita-ae-priyono-indonesia-butuh-civic-islam.html

Mas AE Priyono menggulirkan gagasan pentingnya gerakan Civic Islam. Dengan argumentasi yang cukup kuat, baik dari sisi kebutuhan perlunya corak baru dalam kehidupan politik dan keagamaan di Indonesia, disertai basis riset yang matang dan saya merasa klop karena bisa menangkap arah tujunya.

Jadi ini bukan asal sepakat karena saya ditawarkan tapi kata Civic, selain Sipil tentunya, bukan hal yang asing bagi saya. Terkait dengan Islam jauh lebih menarik. Sejauh yang saya perhatikan selama ini pergulatan gerakan Islam lebih pada domain politik, karena itu ide-ide tentang politik dalam pengertian Civil Society terasa sudah ketinggalan zaman.

Bukan karena ia tidak relevan atau bukan pula karena kita sekadar butuh trend baru. Civic menjadi kebutuhan karena zaman memungkinkan pembukaan diskursus dan gerakan soal itu. Ada istilah Civic Virtue yang berkembang di berbagai negara untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dalam ruang demokrasi yang sedang diacak-acak oleh kepentingan sempit ekonomi (kapitalisme), fundamentalisme agama, dan chauvinisme lainnya.

Civic merupakan kata benda yang barangkali tidak menarik jika sekadar didiskursuskan dalam ruang akademik. Terminologi ini bisa menjadi beku jika tidak ada kegigihan menjelajahi nilai-nilai yang berada di dalamnya. Begitu pula ketika Islam bersanding di belakang kata Civic. Ia tak serta-merta hidup dengan gairah gerakan jika tak dijabarkan secara terang, kreatif dan benar-benar sebagai “ide” yang memang dibutuhkan masyarakat.

Pada pertemuan kami itu, saya menangkap ide AE Priyono bukanlah semata kegenitan intelektual, melainkan lebih pada upaya memenuhi kebutuhan masyarakat terkait dengan situasi nasional politik Indonesia—yang tentu juga dipertimbangkan konteks internasional dan lokal-nya. Pemenuhan kebutuhan tersebut di dasarkan pada 3 arus peta seperti pada berita katakini.com tersebut.

Dan buat saya ini adalah catatan penting tentang pentingnya kembali bergairah di tengah padatnya aktivitas kerja, baik mengus PT milik pribadi,mengurus 2 perusahaan baru milik relasi, dan juga mengurus penerbitan buku. Ada harapan untuk urusan ini, dan pastinya saya senang melakukan karena dengan begitu akan banyak lebih berinteraksi dengan teman-teman intelektual muda yang sudah saya kenal di Bandung, Jakarta maupun kota lain. Dan lebih dari itu akan semakin banyak tambah teman baru untuk urusan keilmuan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s