Spirit Nabi, Ummah, dan Civic Islam

Standar

spirit nabi, ummah dan civic Islam

Sumber: Pikiran Rakyat, 5 Januari 2015.

Suasana Peringatan kelahiran (maulid) Muhammad Saw. masih terasa. Pelajaran (ibrah) sebagai aset terpenting perlu digulirkan terus sebagai upaya kreatif membangun peradaban dari hulu (Islam) agar bermuara pada hilir (rahmat untuk semesta alam).

Sosok pengubah sejarah ini perlu dipotret dari kisah artistik (qishshah fanniyah) karena sosoknya memang unik; memiliki nilai “seni” yang tinggi dan menawarkan sejuta inspirasi untuk pelajaran hidup kita semua.

Ia pendobrak zaman, mengeksekusi pembaruan, menata pola hidup yang baru yang bervisi universal. Ia melawan situasi barbarian; yang sebelumnya tak ada panduan untuk sebuah pola hidup kemanusiaan, ketimpangan merajalela, chauvinisme kesukuan menjadi hal yang wajar. Muhammad yang beradab Vs Abu Hakkam yang jahilliyah, (Abu Jahal=Bapak Kebodohan) merupakan dua  ikon pembeda pada masyarakat Arab kala itu.

Masa pra kewahyuan, Nabi merupakan sosok menarik karena kepribadiannya yang beradab; lembut, menghormati orangtua, lebih suka menghindari perseteruan, mau berbagi penghasilan kepada yang lemah dan seterusnya.

Ia melepaskan diri dari determinasi perilaku orang-orang Arab yang terkungkung oleh pola hidup dengan sekadar mewarisi leluhur-leluhurnya. Dan lebih dari itu, Nabi adalah sosok pemimpin antar suku-suku tanpa birokrasi atau legitimasi ras dengan konsepsi ummah; menjadi pembela kaum jelata,–seperti Musa membela kaum dari Bani Israel di Mesir dan Isa membela umatnya di Yerusalem yang terindas.

Ummah merupakan ide kreatif yang dihasilkan dari renungan atas kebutuhan pengaturan hidup dan mengelola urusan sosial era Arab pada masa itu. Konsepsi ini cocok diterapkan mengingat kehidupan nomad merupakan tradisi yang dihadapi sehingga dari itu Nabi tidak mencanangkan birokrasi secara khusus seperti mendirikan instrumen/birokrasi negara, apalagi kerajaan. Bahkan harus diakui, setiap Nabi tak memiliki tradisi untuk berebut kekuasaan, misalnya mengkudeta raja dan duduk menggantikannya. Nabi Musa As. tak mengkudeta Fir’aun, Nabi Muhammad Saw. tak mengkudeta kepala suku.

Ia pengusung agama berbasis kewahyuan dari leluhurnya, Ibrahim, Musa dan Isa, mewartakan (membawa pesan kenabian) dengan mandat berupa risalah (kerasulan) profetik karena itu ia amat menghormati ajaran agama lain dan tak menyebutnya kafir.

Ummah bermakna esensial sebagai sebuah gerakan yang memiliki tujuan sosial sekaligus tujuan spiritual: mengesakan sesembahan, berserah dan hanya tunduk pada yang esa, kesanggupan hidup setara dan kesanggupan menjadi pengelola alam dengan visi ideal rahmat semesta alam.

Kontekstual Indonesia

Masa kehidupan Nabi Muhammad Saw. di Arab berbeda dengan Indonesia,–apalagi sekarang direntang oleh jarak pemisah waktu yang begitu jauh. Tetapi konsep “hijrah” bisa menjadi sarana kreatif untuk kebutuhan perlunya “pergi” dari situasi yang beku ke tempat yang menyegarkan, yang mengondisikan hidup lebih beradab. Setiap zaman selalu ada tantangan, setiap perubahan butuh rekayasa kreatif.

Karena itu paradigma berpikir kreatif dengan spirit “hijrah”; pergi dari situasi Islam yang buruk ke situasi islam yang baru untuk Indonesia diperlukan.

Dalam bingkai Nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) era orde lama, kebutuhan Islam tampil di panggung sejarah adalah partisipasi elit untuk mengurus negara.

Kemudian di era orde baru di mana Soeharto memundurkan peran masyarakat dalam partisipasi politik, kebutuhan para tokoh muslim adalah membangkitkan semangat partisipasi warganya. Itulah mengapa Civil Islam kemudian memenuhi kebutuhan di masa Orde Baru.

Sekarang urusan lain. Civil Islam terang tak cukup karena problemnya bukan lagi semata partisipasi publik, melainkan harus menyentuh pada upaya pemberadaban politik yang lebih esensial selaras dengan nilai-nilai Islam (bukan simbol Islam). Maka konsepsi Civic Islam (ke-“ummah”an/kewarganegaraaan yang bijak) menjadi lebih penting diupayakan karena di dalamnya memuat sendi-sendi keadaban (yang bisa digali dari sumber Islam) untuk menuju kebajikan (virtue).

Dengan jalan itu, warga yang beradab dari umat Islam tumbuh dengan generasi-generasinya yang bijak itu terus tumbuh, niscaya stok kepemimpinan untuk kebutuhan kepemimpinan yang berkualitas dan beretika modern, bisa terpenuhi. Dan inilah terobosan yang perlu dilakukan kita sedang dalam situasi jahiliyyah, di mana banyak pejabat mengatakan mengikut nabi secara lisan, tetapi lakunya meneladani Abu Jahal. Civic dengan nilai Islam lebih tepat ketimbang sekadar “Pemberi Harapan Palsu” (PHP) dengan ide daulah islamiyyah, khilafah, atau negara Islam–seperti Nabi yang lebih fokus pada ummah ketimbang daulah.

Civic Islam bukan soal merek, melainkan urusan untuk menjawab tantangan zaman di mana liberalisi politik yang sangat terbuka memungkinkan kreativitas intelektual (yang harus dieksekusi dalam bentuk gerakan) untuk men-“dakwah”kan jalan baru nilai-nilai keadaban Islam dalam baru yang hidup dalam “struktur” globalisasi yang melibatkan elemen-elemen “inftrastruktur”; liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, rasionalitas publik, teknokrasi, komunikasi internet dan lain sebagainya.[] Faiz Manshur. Pemimpin Redaksi Penerbit Nuansa Cendekia Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s