Garis Bawah Tiga Novel Remy Sylado (Filsafat, Sinologi, Javanologi dalam Fiksi)

Standar

novel laris novel bermutu remy sylado

Ketiga Novel Remy Sylado. Filsafat, Sinologi dan Javanologi

Melalui tulisan ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa sebuah novel merupakan sarana. Sebagai sarana ia memungkinkan membuka diri pada banyak hal untuk masuk di dalamnya. Novel merupakan tempat di mana para penulis menyampaikan maksud/kehendak menuturkan, menjelaskan tentang pemikirannya meliputi pola-pikir, asumsi, paham, ajaran, ideologi, termasuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Terkait dengan hal ini, kita akan melihat apa yang dimaui oleh Penulis Novel Remy Sylado dengan ketiga karyanya, yakni Perempuan bernama Arjuna 1 (Filsafat dalam Fiksi), Perempuan bernama Arjuna 2 (Sinologi dalam Fiksi) dan Perempuan bernama Arjuna (Javanologi dalam Fiksi).

Sebagai orang yang mengikuti proses penulisan hingga penerbitan mulai dari novel pertamanya, Perempuan bernama Arjuna ke 1 (Filsafat dalam Fiksi) berlanjut kemudian Perempuan Bernama Arjuna ke-2 (Sinologi dalam Fiksi), dan sekarang Perempuan Bernama Arjuna ke-3 (Javanologi dalam fiksi), saya memahami maksud Remy Sylado menulis keilmuan-keilmuan itu dengan maksud utamanya adalah menggelar “dagangan” ilmu pengetahuan, tidak melalui lapak karya ilmiah, melainkan melalui lapak sastra/novel.

Dengan kata lain, ketiga Novel Remy ini bukan semata karena ide untuk mencurahkan bakat-minatnya seorang penulis sastra semata, melainkan lebih sebagai upaya seorang ilmuwan menyampaikan maksudnya, yakni menyebarkan pengetahuan tentang Filsafat, Sinologi, dan Javanologi.

Maksud tujuan Remy Sylado tersebut  karena menurutnya novel dianggap sebagai medium yang paling bisa mendekatkan diri kepada masyarakat. Sebab jika menulis keilmuan melalui bentuk pakem karya ilmiah, bisa jadi tidak akan disentuh oleh golongan-golongan pembaca muda, atau masyarakat umum. Dengan mengambil jalur kesusastraan/fiksi/novel ini, pecinta sastra kemudian secara otomatis akan belajar tentang pengetahuan-pengetahuan penting keilmuan meliputi filsafat, ideologi, teologi, kenegaraan, sejarah, kebudayaan, seksualitas, agama, dan seterusnya.

Saya sadar jika ada sebagian kalangan pecinta novel, juga mereka yang mencintai fiksi-fiksi Remy Sylado sebelumnya, pasti ada yang bertanya-tanya mengapa model isinya seperti itu. Bahkan wajar pula jika kemudian ada orang bilang, karya-karya novel Remy Sylado tidak seperti sebelumnya, tidak sehebat novel Ca Bau Kan, tidak sebagus novel Parijs van Java dan seterusnya. Tidak hebat di sini maksudnya karena unsur-unsur dramatika yang sebelumnya sangat memikat tidak didapat dalam ketiga novel ini. Di situ Remy Sylado menyadari betul resikonya.

Sekarang ketiga novel tersebut sudah menjadi bacaan publik meluas cetak ulang berulang kali. Kekhawatiran saya bahwa novel ini dianggap kurang lazim dan lebih sebagai penuturan keilmuan memang terjadi. Tetapi itu tak masalah karena dengan cara itulah orang bisa mendapatkan pengertian bahwa novel memang sebuah sarana. Dengan itu pula para penulis muda juga bisa mendapatkan jenis novel yang bisa menjadi sarana untuk kepentingan tertentu, seperti kepentingan sosialisasi ilmu pengetahuan yang dilakukan Remy Sylado tersebut.

Artinya pula tak harus diartikan sebagai kegagalan. Sebab nyata-nyata, dengan corak penulisan dan tentu juga maksud awal penulisan ini, ternyata banyak yang menyukainya, tentu suka karena unsur keilmuannya, bukan unsur sastranya. Mereka yang menyukainya karena memandang melalui ketiga novel tersebut merasa mendapatkan ilmu sebagai ganti tidak mendapatkan sensasi dramatikanya. Bahkan saya merasa bahwa Remy Sylado cukup peka memahami kebutuhan para pembaca, terutama pembaca muda-muda yang gemar sastra sekaligus menggemari diskursus pengetahuan filsafat, sejarah dan budaya. Dengan membaca novel itu, ilmu pengetahuan didapat secara melimpah, tak membosankan sebagaimana saat meneguk bacaan diktat atau buku ilmiah konvensional.

Pada Filsafat dalam fiksinya, kita akan mendapatkan rangkaian sejarah pemikir-pemikiran dunia. Dunia filsafat digelar melalui cerita ringan, yang tetapi memang karena filsafat itu selalu mengajak berpikir, tetap saja menjadi “bukan bacaan ringan”. Kemudian pada novel perempuan bernama arjuna ke-2 tentang Sinologi, kita akan mendapatkan kekayaan pengetahuan tentang sejarah Tionghoa/China di Indonesia. Banyak sekali pengetahuan yang bisa digali melalui novel ini. Dan kemudian berlanjut pada novel Perempuan Bernama Arjuna ketiga, Javanologi, Remy Sylado berhasil menuturkan pengetahuan sejarah bangsa Jawa dengan kelengkapan dan perspektif baru untuk memahami kultur, adat-istiadat, agama, seksualitas hingga urusan politik, bahkan menukik pada urusan akik dan keris.

Selamat menikmati ketiga novel ini. Selamat menegak ilmu pengetahuan. Sedikit berkurang sensasi fiksinya tak masalah karena kita mendapat gantinya dengan perpektif-perspektif pengetahuan yang kayaraya.- Mohon maaf dan terimakasih.-Faiz Manshur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s