Melihat Bangsa dari Lukisan

Standar

oksigen hanafi

Pelukis Hanafi Muhammad berpose di Galeri Soemardja ITB

Apa hubungannya lukisan dengan sebuah bangsa? Adakah itu? Pertanyaan ini barangkali terlalu naif untuk diajukan. Tetapi amat mudah mengkaitkan jika kita punya “benang” untuk merajutnya. Apalagi pada lukisan-lukisan Hanafi Muhammad yang memang selalu memiliki sikap responsif terhadap realitas sosial.

Pada pameran lukisan yang akan digelar 17 April-17 Mei 2015 di Galeri Soemardja ITB Bandung, ia usung tema “Oksigen Jawa”. Kata Oksigen sudah mengkonotasi dengan realitas buruk alam di pulau Jawa akibat kerusakan ekologi. Adapun Jawa, sekalipun oleh Hanafi dimaksudnya merujuk pada objek pulau, dan lebih pas-nya urusan demografi, tetapi tak lepas dari urusan etnik dan kebangsaan. Dan pada sisi kontekstual kehidupan saat ini –ketika kita memiliki sebuah rumusan hidup berbangsa–Oksigen Jawa bisa dan berkait dengan urusan kebangsaan.

Oksigen-Jawa adalah sebuah respon terhadap realitas sosial. “Kepadatan penduduk itu berdampak kehidupan masyarakat kita berhimpit-himpitan. Bekerja maupun beristirahat selalu tumpang tindih. Ini persoalan demografi,” jelas Hanafi di hadapan wartawan saat menggelar konferensi pers di Galeri Soemardja, Rabu 15 April 2015.

hanafi pelukis oksigen jawa

Pelukis Hanafi sedang berjalan cepat melewati “pelukis-pelukis” ITB di Kampus ITB Bandung…:)

Dalam pandangan Hanafi, “hidup selalu bergerak bahkan dengan kebiasaan cepat, tetapi dari kita tidak yang banyak tahu arah tujuan. Misalnya, kita melihat bis kota, atau taksi yang tak pernah memiliki tujuan yang pasti. Namun itulah kebiasaan hidup yang tak terelakkan. Termasuk demografi itulah yang kita alami sekarang ini membuat setiap orang bergerak cepat, kemudian kehilangan rasa berjalan, kehilangan udara yang kita alami,” terangnya berfilsafat.

Oksigen adalah teman karib makhluk hidup. Gas yang tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa yang mengisi kurang lebih duapuluh persen udaya yang kita hirup sehari-hari tersebut merupakan kebutuhan asasi manusia, hewan dan tumbuhan. Dalam kepadatan yang sekarang inilah kemudian maksud Okzigen Jawa karya Hanafi ingin mengajak masyarakat menjadi lebih arif merenungkan siklus kehidupan yang semakin cepat ini.

Hanafi orang Jawa, keturunan priyayi Jawa, tetapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah sikap responsifnya tentang dirinya, orangtua, baik Ayah maupun Ibundanya, keluarganya, kampung halamannya, lingkungan pergaulannya, yang menjadi bagian masa lalu, yang secara ambisius ingin ia rajut menjadi kenangan yang bermakna untuk hari ini.

Salahsatu kebijaksanaan dari kenangan itu ialah nasehat Ayahnya. “Kalau kamu punya sahabat satu juta itu masih kurang. Tetapi kamu punya musuh satu orang saja sudah sangat berlebih. Jadi saya menjadikan galeri ini, pameran ini menjadikan sebuah momen persahabatan. Hubungan yang rusak dijahit kembali. Hubungan yang lama tidak dijalin dirajut kembali, dan seterusnya. Rasanya kita memang bersahabat,” ungkapnya.

Dan pada makna kenangan itu sendiri, melalui Oksigen Jawa ini, Hanafi punya tafsir khusus. ”Saya ingin menjangkau kenangan yang sudah hilang. Saya merasakan, kenangan itu hilang, dan masa depan belum kita dapatkan. Yang ada hanya hari ini,” terangnya.

oksigen jawa hanafi

Katalog Lukisan Hanafi Oksigen Jawa

Karena perspektif pemikiran Hanafi banyak membuka kemungkinan penafsiran untuk diotak-atik bahkan bisa diseret-seret ke wilayah lain, saya mencoba mengkaitkan urusan lukisan pada wilayah tafsir kebangsaan. Tak ada urusannya dengan bangsa Jawa, tak juga mengikat pada nasionalisme apalagi negara, tetapi bangsa dalam pengertian generik sebagai sebuah entitas kemasyarakatan, solidaritas bawah sadar atau atas kesadaran, dan yang lebih penting lagi adalah urusan transformasi bangsa.

Terkait urusan kebangsaan, saya memancing dengan pertanyaan kaitan lukisann dengan urusan bangsa. Reaksi Hanafi dalam ini sederhana. Ia ungkapkan, “di dapur saya tidak ada bangsa karena dapur saya bahasa, bangsa tidak datang. Saya membawa semen, atau lem, itu tidak semua memiliki perhitungan kebangsaan,” jelasnya.

Namun seusai berbicara simple menafikan hubungan dirinya dengan kebangsaan, ia refleks mengucap, “pameran oksigen ini inginkan menciptakan bahasa yang menghadirkan momen-momen perjumpaan yang menjadikan satu nasib, satu bangsa. Kembali pada bangsa dan bangsa,” tegasnya. Bahkan ia menambahkan pesan, “rasanya, sebelum urusan bangsa ternyata kita harus mempersiapkan diri kita secara personal. Personal yang baik itu untuk cerminan hidup berbangsa,” ujarnya.

Sebenarnya mengaitkan urusan bangsa, urusan warga dan sosial kemasyarakatan dalam dunia lukisan bukan hal yang tabu. Seni bukan untuk seni itu sendiri. Dimensi kreatifnya pun bukan hanya pada pelukis itu sendiri, melainkan pada orang yang punya kehendak kreatif sang penafsir.

Pada penafsiran kontekstual pada dua lukisan Hanafi misalnya, kita bisa melihat potret transformasi bangsa ini.

Lukisan penjahit malam misalnya, oleh Hanafi memiliki akar historis transformasi itu. Ia ceritakan, “dulu pada tahun-tahun 1960-an, kita mengenal mesin. Mesin yang kita kenal, bukan mesin-mesin besar, melainkan mesin jahit. Kita suka dengar suara mesin jahit di malam hari. Itu untuk keperluan hidup keluarga, mencari sesuap nasi, mencari uang untuk anaknya yang sekolah, dan seterusnya. Mesin jahit adalah jembatan untuk berpandangan berpikir, pencerdasan, untuk kesejahteraan,” paparnya.

penjahit malam hanafi

Lukisan Penjahit Malam karya Hanafi Muhammad

Lukisan “penjahit malam”, pada konteks sekarang punya makna filosofis. Di jauh sana, di masyarakat masa lalu, ada kehendak untuk berputar sebagaimana roda mesin jahit yang tidak hanya siang berputar, tetapi juga berputar hingga larut malam. Ada upaya kewirausahaan, upaya modernisasi, ada pula cermin etos untuk menjadi manusia yang berbudaya melalui ekonomi keluarga dengan industri rumahan. Di sini makna berbangsa, yakni bermodern, berindustri, dan berperadapan pada masyarakat kita sudah berjalan.

Sekarang? Orang tidak lagi merasa perlu capek-capek membuat baju atau celana sendiri, lebih praktis bekerja di industri besar, kemudian duitnya untuk beli baju di mall, atau pasar-pasar saat gajian tiba. Di sini Hanafi ingin menyampaikan makna pentingnya tentang kreativitas individual, kreativitas keluarga, etos kerja, selera dan makna kerja.

“Orang sekarang mengenakan ini mau, itu mau. Itu menjadikan kita profan, tak punya selera khusus. Tak punya taste, padahal taste itu pencapaian. Pencapaian adalah cara melihat kehidupan. Urutan-urutan ini yang hilang,” jelasnya.

lumbung

Lukisan Lumbung Padi yang tumpah, Hanafi Muhammad

Adapun pada lukisan “Lumbung Padi yang Tumpah”, merupakan simbol penyimpanan makanan atau aset kekayaan. “Ini metafora, kalau lumbung pingin berisi lagi harus ditumpahkan, dikosongkan supaya nanti bisa diisi lagi. Pesan kontekstual Hanafi adalah, “jika Anda adalah pemilik pabrik, atau orang yang berpunya, tumpahkan itu padi dari lumbungnya. Berbagilah untuk yang lain, supaya nanti lumbungnya berisi lagi, “pesannya.

Dari pemaknaan singkat seperti itu, lukisan bukan lagi sekadar hiasan dinding, melainkan bisa menjadi medium menafsir transformasi zaman. Kepingian sejarah, masa lalu, atau yang disebut kenangan oleh Hanafi, bisa diserap sebagai sebuah cermin untuk berkaca dari yang lalu untuk kerangka berpikir zaman sekarang.

Urusan bangsa bukan urusan besar, tak melulu urusan politik, bukan pula urusan nasionalisme, melainkan urusan perspektif, ilmu pengetahuan, dan lebih penting dari itu lukisan dalam sebuah jejaring kebangsaan juga bagian dari upaya mengingatkan kembali hakikat diri para manusia di tengah geliat transformasi hidup.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s