Civic Islam sebagai Solusi Islam-Indonesia

Standar

 

peserta 1Rasanya, perlu saya menulis tentang Civic-Islam ini sebagai bagian penting dari dunia intelektual muslim Indonesia. Tulisan ini merupakan pembuka wacana untuk mahasiswa (pergerakan) Islam Indonesia dan para santri. 

Prolog

Civic-Islam lahir sebagai konsepsi pemikiran dan aksi di bidang keilmuan sosial-politik. Tema paling mendasar adalah membahas masalah kewargaan dan kewarganegaraan dalam ruang lingkup kajian ke-Islaman dan ke-Indonesiaan sekaligus. 

Latarbelakang kelahirannya karena dipicu oleh satu persoalan besar di negara Indonesia, yakni kebuntuan demokrasi. Demokrasi di Indonesia memang belum cukup untuk dibilang gagal.  Tetapi kebuntuan bisa dilihat melalui bukti atas hasil-hasil pemilu yang berdampak kebaikan bersama (common good), terutama bagi kesejahteraan warga mayoritas sesuai dengan maksud dan tujuan esensial dari demokrasi itu sendiri. Itu artinya, demokrasi juga belum mampu menjadikan tujuan dasar negara ini ter-amalkan secara penuh. Harus diperjelas, bahwa negara kita memiliki basis republikanisme dan dalam republikanisme itu terdapat model politik demokrasi ala republikan dan itu berbeda dengan demokrasi ala liberal.

Tetapi naas-nya, yang dipraktikkan di Indonesia saat ini adalah demokrasi-liberal.  Ini nantinya menarik untuk dikaji oleh para mahasiswa-Islam, termasuk santri-santri supaya jangan mudah terjebak pada pemahaman dangkal bahwa demokrasi itu sekadar urusan pilih-memilih (vote), melainkan juga terikat dengan upaya partisipasi-publik, emansipasi, dan deliberasi/musyawarah (tiga hal yang belum tercapai di Indonesia).

Problem politik (kekuasaan model liberal) tersebut, ketika kemudian terhubung dengan realitas kehidupan muslim di Indonesia tergolong sangat memprihatinkan karena sebagai kelompok mayoritas ini belum mampu memberikan solusi atas kemandegan demokratisasi liberal. Bahkan ada kecenderungan orang-orang Islam (khususnya intelektual muslim) berjalan dalam lorong gelap tanpa mampu membuat formula baru untuk sebuah kontribusi pemikiran dan tindakan dalam menjawab problem mendasar politik negara-bangsa ini.

Dalam situasi kebuntuan itu, paling tidak ada masalah besar dalam tubuh umat Islam saat ini.  Pertama kegagalan Islam-Politik di tingkat elit politik. Partai-partai Islam atau elit politik Islam gagal membawa Islam sebagai rahmat. Kemudian di luar Islam-Politik, citra Islam di Indonesia dirusak oleh Islam model garis kasar yang kita sebut sebagai fundamentalisme Islam. Islam dalam kelompok ini menjadi Islam yang garang, beringas, irasional dan tak membawa berkah/rahmat bagi kehidupan. Islam jenis ini mengusung pemikiran cupet; kerjanya memaksa, menekan, dan kehendaknya bukan merangkul melalui dakwah yang bijaksana, melainkan kecenderungan untuk menelan (kanibalis) siapa saja yang dianggap bertentangan dengan pahamnya.

Pada sisi lain, ada pula tragedi dalam tubuh umat Islam di mana Islam diperlakukan sebagai agama yang urusannya sekedar ritual.  Ritual menempati posisi yang penting dalam setiap agama. Tetapi menjadikan Islam sekadar agama ritual senyatanya merupakan bentuk pengingkaran terhadap visi dasar Islam/Kenabian yang selalu menekankan semangat perjuangan sosial, terutama perwujudan keadilan bagi orang-orang tertindas. Islam ritual menafikan etika Islam sebagai agama pembebasan, sebagai agama yang peduli keadaan sosial menjadi beku karena ditarik sekadar sarana penawar kesumpekan hidup di era modern. Islam kemudian menjauh dari tanggungjawab sosial kemanusiaan karena membiarkan persoalan-persoalan umat jauh dari keadilan (sebuah semangat inti dari Islam).

Generasi Islam

Kaum muda Islam, terutama kelompok santri terpelajar dan mahasiswa muslim harus mampu menangkap situasi zaman. Problem saat ini adalah tanggungjawab generasi muda karena generasi sebelumnya lebih banyak terpaku dalam melihat persoalan-persoalan Islam dengan kacamata lama dan kurang serius memahami problem dari sisi yang paling banyak dialami generasi masa kini sebagai generasi mayoritas,– sekaligus generasi yang pada beberapa masa ke depan akan mengganti generasi sekarang yang bermain dalam ruang politik/negara. Tetapi lebih penting dari itu, generasi muda harus mampu meletakkan sendi-sendiri pemikiran baru karena memang persoalan selalu muncul dengan beragam kebaruan, dan di situlah harus ada upaya responsif.

Generasi muda Islam, terutama di basis-basis kultural umat Islam yang kuat seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, atau yang berada di luar haluan ormas besar itu semestinya mulai menyiapkan diri dengan paradigma baru, gerakan baru, dan mampu mengembangkan model-model baru dalam gerakan.

Kecenderungan berpikir taqlid dalam umat Islam saat ini tergolong akut karena bukan lagi urusan seputar persoalan ibadah, melainkan taklid dalam memandang persoalan sosial-politik. Pada pemikiran politik, kita masih terpaut pada konsepsi-konsepsi using tentang politik-Islam dan tak ada kemampuan menawarkan gagasan baru. Celakanya lagi, ini terjadi ketika telah banyak khazanah pemikiran yang semakin maju dan cerdas. Tetapi karena generasi muslim rata-rata kurang mau menekuni bacaan dan juga kurang punya daya untuk menulis secara sungguh-sungguh, akibatnya khazanah-khazanah brilian banyak yang tercampakkan. Di sini, ada kenyataan bahwa banyak muslim yang hidup bergaya modern, tetapi otaknya terjebak pada sikaptaklid dengan bukti gemar melihat sejarah sebagai patung sesembahan, bukan menjadikan sejarah sebagai pelajaran (ibrah) yang diserap saripatinya sebagai modal inspiratif untuk aksi dalam konteks kekinian.

Civic Islam adalah sebuah khazanah penting untuk dipahami (untuk lebih mendalaminya, bisa dibaca konsep-konsepnya di http://civicislam.blogspot.com) karena ia merupakan sebuah tawaran baru untuk menajamkan tentang pentingnya gerakan civil-society melalui jalur penguatan individu agar kekuatan komunitarianisme (organisasi sosial, organisasi kemahasiswaan, komunitas terbatas, atau organisasi kemasyarakatan, termasuk perusahaan tempatnya bekerja, yang kita sebut sebagai instrument civil-society) tersebut punya imajinasi yang kokoh.

Sekarang kita perlu menyadari bahwa salahsatu kelemahan mendasar dalam dunia politik umat Islam karena orang Islam tak imajinasi tentang “masyarakat sipil/warga”. Jadi, jika ditanya mengapa Islam-politik sering rusak, bahkan membusuk, jawabannya karena salahsatunya umat Islam tidak punya imajinasi tentang “civil-society.” Imajinasi umat Islam kebanyakan hanya pada idealitas “keluarga sakinah” kemudian langsung ke “daulah/negara” atau kekuasaan, atau lebih tepatnya imajinasi untuk menguasai. Setelah berkuasa, orientasi perjuangannya tak lebih untuk urusan keluarganya sendiri. Kalaupun meluas diperuntukkan untuk umat, biasanya umat dalam pengertian homogen, umatnya sendiri (kelompoknya sendiri).

Sekalipun di Indonesia fanatisme kesukuan tidak seperti di Timur-Tengah, tetapi solidaritas kelompok yang miskin imajinasi kemasyarakatan ini bisa memunculkan problem berupa keterpecah-pecahan orientasi politik. Ini sudah menjadi fakta di mana tiap-tiap kelompok ormas atau partai politik Islam di Indonesia hanya mampu berpikir untuk kelompoknya sendiri.

Sekarang demokrasi di Indonesia sedang mengalami masa-masa suram. Kelemahan sistem politik dan juga kelemahan sumberdaya manusia politik, tak terkecuali pada partai-partai Islam, juga lemahnya sumberdaya di organisasi-organisasi civil-society menjadi hambatan terciptanya “Islam sebagai solusi”.  Jika hal ini tidak dijawab oleh umat Islam, jangan berharap Islam bisa dihargai sebagai agama yang mampu membawa rahmat. Bisa-bisa Islam justru dituduh sebagai biangkerok kemunduran peradaban Indonesia.

Kini, perlulah  generasi muslim melakukan intropeksi diri. Selalu rendah hati memahami kelemahan dalam umat Islam, mengurangi prasangka kemunduran akibat pihak eksternal, dan fokus menggodok diri dengan keilmuan-keilmuan yang maju.

Ide Civic-Islam adalah gagasan untuk menjawab tantangan sosial-politik di Indonesia saat ini. Ia akan juga berguna untuk jawaban hubungan Islam dengan negara, Islam dengan budaya, dan juga akan memberikan kepastian bagaimana berislam secara baik (untuk perwujudan common good  dan mewujudkan khaira ummah) di ruang-lingkup kebudayaan nasional maupun kebudayaan dunia/global.

Mahasiswa, termasuk santri-santri perlu mempelajari beberapa hal pokok dalam konsepsi Civic-Islam. Kewargaan dan kewarganegaraan dalam Islam harus diperkuat. Basis republikanisme adalah buhul (tali) utama landasan kita bergerak. Ia melepaskan diri dari cara pandang politik liberal, melawan kecenderungan politik frustasi ala kaum fundamentalis, menghindari agama jenis eskapis, dan menawarkan solusi yang lebih realistis untuk aksi politik di republika Indonesia.

Civic-Islam berangkat dari sebuah pilihan politik berbasis republikanisme. Kalau liberalisme lebih memilih jalan kebebasan sipil, kebebasan politik, otonomi individu, gagasan Republikanisme (dalam Civic-Islam) lebih berorientasi pada (active)-citizenship, rule of law, dan civic-virtue. Ini lebih relevan, realistis dan baik dilihat dari kacamata Islam maupun kacamata politik-modern lebih menjanjikan.

Civic-Islam mengambil jalan tengah (sebagai golonganummatan wasatha(n) dari dua kutub ekstremisme, yakni neoliberalisme: yang telah terbukti merusak sendi-sendi demokrasi, dan keluar dari kegagalan Islam-politik yang telah memerosokkan umat Islam ke dalam kubangan fundamentalisme dan eskapisme. Keduanya merupakan ekstremisme. Yang satu bereaksi atas modernisme dan sekularisme melalui bentuk gerakan keras dengan utopianisme, membawa Islam sebagai solusi dengan menampilkan reka-reka keindahan masa lalu, satunya lagi terpuruk dalam lorong-lorong keagamaan dengan memanfaatkan Islam sebagai praktik ritual/semata untuk mengatasi beban psikologis hidup dalam situasi modern.

Al-Quran menyebut sebagai umat Islam sebagaiummatan-wasatha(n). “Demikian itu kami menjadikan kamuummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar rasul (Muhammad, Saw) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Al-Baqarah 143). Kata washat ini secara harafiah “sesuatu yang baik” yang pada pengertian ini merupakan tengah-tengah di antara dua titik ekstrem. Itulah mengapa turun kata wasit (sebagai subjek) yang harus berada di tengah-tengah.

Jika pada era-era tahun 1990-an, mahasiswa Muslim dan kaum santri perlu banyak mempelajari studi hubungan Islam dan negara, sekarang harus diperkuat dengan memahami model politik kewargaan. Studi civic-virtue menjadi kebutuhan penting, dan dari sanalah nantinya kita akan menemukan banyak pemikiran tentang politik terkait dengan Islam.

Dalam ranah kehidupan bernegara melalui jalur republikanisme Indonesia, sudah sepantasnya Civic-Islamdipahami secara sungguh-sungguh. Hanya dengan cara itulah kita bisa menemukan optimisme mengawal negara-bangsa Indonesia agar lebih beradab, dan yang terpenting adalah memberadabkan orang-orang Islam yang semakin banyak terperosok ke dalam kubang fundamentalisme dan eskapisme.

Moga-moga, dengan kehadiran civic-Islam ini, pertama, kekosongan pemikiran kritis di kalangan mahasiswa dan santri bisa terisi. Kita harapkan dengan civic-Islam ini pemikiran-pemikiran generasi muda Islam mendapatkan “gizi” dan menjadi manusia (pelaku/subjek) sejarah penting di Indonesia.

Kedua, dengan civic-Islam ini, upaya kita menjadikan Indonesia yang berpenduduk mayoritas bukan hanya “menang” secara kuantitatif, melainkan lebih “memenangkan” tegaknya nilai-nilai (etik,adab, dan peradaban, rahmat dll), dan juga menjauh dari tujuan kemenangan cupet untuk sekadar penguasaan dominasi maupun hegemoni atas nama Islam kepada golongan lain. Ketiga, dengan civic-Islam kita bisa membangun pemikiran dan aksi secara memadai untuk menjawab persoalan-persoalan umat/rakyat.

Kita tidak akan merugi mengkaji civic-Islam di masa-masa awal ini karena kelak di masa mendatang ia akan menjadi bagian penting pemikiran di Indonesia.[Faiz Manshur/http://civicislam.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s