Tragedi Pemikiran Umat Islam

Standar

SH tragediADA dua tragedi dalam umat Islam saat ini. Pertama, tragedi peperangan fisik. Di antara bangsa muslim di Timur Tengah terus-menerus dilanda perang sesama Islam. Fanatisme kesukuan yang dulu dipangkas oleh Nabi Muhammad Saw rupanya sekarang berkembang lagi dan mengakibatkan pertumpahan darah di mana-mana.

Jenis lainnya, adalah tragedi pemikiran. Kasus ini secara nyata merujuk pada realitas kehidupan muslim di Indonesia. Belakangan banyak muncul pemikiran muslim model keras, anti dialog, dan lebih suka mengecam, mengolok-olok secara kasar, memfitnah terhadap kelompok atau orang lain yang berbeda pemikiran/pendapat. Tak jarang sampai tahap pengkafiran.

Faktor frustasi
Fakta dibalik kekerasan dalam pemikiran maupun tindakan menunjukkan emosi (amarah). Emosi tanpa kendali menghilangkan kebeningan berpikir sehingga hilang esensi dari tujuan mulia Islam yang mengajarkan penghormatan pada lawan bicara melalui jalan damai.
Banyak orang Islam frustasi. Dan ini sudah masuk level tragedi  (kesengsaraan) karena usaha bangkit orang frustasi ini jauh dari semangat kesabaran, serba instan, pragmatis, dan memakai jalan pintas. Tak punya bekal ilmu yang mumpuni sekalipun harus menang berdebat dengan rivalnya. Tradisi keilmuan menjadi rusak karena bukan untuk meraih maslahat publik, melainkan sebagai sarana pelampiasan emosi.
Perasaan kalah: kalah oleh Barat, kalah oleh kelompok non-muslim, dan bahkan karena saking frustasinya tak mendapat dukungan dari sesama muslim, membuat mereka memandang ‘yang lain’ sebagai golongan sesat.
Satu contoh paling baru adalah ketika Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggulirkan ide  “Islam Nusantara”. Maksudnya ialah menawarkan model kehidupan umat Islam di Indonesia sebagai model Islam yang ramah, Islam yang pro kemajemukan, dan itu maksudnya membedakan dengan model Islam di Timur Tengah (Arab) yang kasar, keras dan gemar perang.
Sebagai model tentu hal ini bisa diterima oleh nalar secara mudah. Sebab pengertian “Islam-Nusantara” tidak menyampurkan dua ajaran yang berbeda (karena memang pengertian nusantara bukan suatu ajaran). Tetapi oleh Rizik Shihab (Ketua FPI) dan juga oleh Felix Siauw (Hizbuturahrir Indonesia), Islam Nusantara ini dituduh sebagai bentuk kesalahan karena “menusantarakan Islam.”
Belum lagi perdebatan tentang suara speaker masjid dari Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tentang tidak perlunya memaksa warung untuk tutup di bulan ramadhan. Kedua pernyataan tersebut dipotong-potong kemudian ditafsirkan dengan penuh kebencian; disebar luaskan untuk sarana memaki-maki.
Kenyataan itu bisa disebut tragedi karena seolah-olah kita tidak punya sandaran rujukan etika dalam menyikapi perbedaan. Lupa akan pesan “janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imran 105). Kemudian ada isyarat kecelakaan bagi orang-orang gemar berselisih dan itu mengakibatkan degradasi, “janganlah kamu berselisih sehingga yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang serta bersabarlah (al-Anfaal 46).
Universalitas Islam
Modernitas dengan segenap kedigdayaan teknologinya semestinya dijadikan sarana untuk memasok keilmuan yang konstruktif. Saya jadi bertanya; apakah media sosial semacam twitter (lebih tepatnya pernyataan-pernyataan singkat) untuk sebuah argumentasi keilmuan itu mencukupi sebagai pemasok gizi otak?
Terlihat bahwa saat ini serang-menyerang dalam polemik, terutama agama dengan logika-logika simple. Otak-atik model “benar versus salah” dengan tujuan menghakimi melalui cara pandang  “jika rumus A salah maka rumus B yang benar” menjebak pemikiran Islam menjadi sangat dangkal.  Tak ada kemungkinan melihat kebenaran pada C, D, E dan seterusnya.
Kita hidup di zaman modern. Akalbudi melahirkan banyak peradaban ilmiah. Tetapi orang Islam terjebak pada lingkaran setan amarah di lorong gelap abad kegelapan. Seakan-akan perbedaan cara memandang melahirkan kiamat esok hari dan karena itu “kesalahan” pandang orang lain harus dibunuh pada dini hari.
Padahal semangat Islam (QS Ali- Imran ayat 64 dan surat Saba’ ayat 24-25) menganjurkan titik temu, bukan hanya pada sesama muslim, melainkan terhadap non-muslim. Dan yang terpenting soal benar dan sesat ini, Tuhan sendiri yang kelak akan menilai, “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui (Al Saba’ 26).
Dan yang terpenting dari Islam adalah ajaran hanif, sebuah gerakan untuk penyucian diri melalui kesadaran pikiran dan jiwa. Islam sebagai agama dengan jalan hanafiyah al-samhah, semangat gerak manusia yang terbuka. Itulah kenapa Al-Quran dalam surat al-Ankabut: 46, melarang perdebatan dengan ahli-kitab, dan jika terjadi perselisihan lebih memilih berdebat secara baik.[]
Sumber: Sinar Harapan. 16 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s