Wajah Islamisme Kota

Standar

artikel civic islam sinar harapanDalam sebuah negara modern berhaluan demokrasi, “warga agama” kedudukannya sama sebagai “warga negara”. Namun, kenyataannya selalu ada kelompok tertentu yang ingin mencoba menjadikan agama sebagai identitas publik; bahkan sering menyeruak masuk mendesakkan kepentingan atas nama agama, atau lebih tepatnya memaksakan kepentingan kelompok (agama)-nya. Hal tersebut bukan terjadi di kawasan pedesaan, melainkan kawasan modern perkotaan.

Identitas Islam di kawasan perkotaan di Indonesia misalnya, mewujud dalam tiga bentuk. Pertama, Islam-politik yang masuk dalam kekuasaan parlemen dan eksekutif. Kedua, fundamentalisme yang bergerak secara terorganisasi (minoritas tapi sering membuat cemas masyarakat), dan eskapisme: sisi kehidupan muslim yang asosial dan lebih menekankan Islam ritual.

Ketiga fakta tersebut ini menggeser fenomena yang terjadi pada era 1990-an. Sebagaimana pernah disinggung Yudi Latif dalam buku Negara Paripurna (2011), kota justru sekarang semakin mengalami islamisasi; sementara pada saat yang sama, di kota-kota kecil dan pedesaan sedang mengalami transformasi ke arah “sekularisasi”.

Eskapisme dan Fundamentalisme

Kota memang menjadi sumber dinamika kemasyarakatan. Di satu sisi memiliki problem dengan banyaknya kriminalitas, di lain pihak juga bisa menjadi agen keadaban. Baik/buruknya kota bahkan memengaruhi baik/buruknya kehidupan daerah sekitarnya.

Karena itu, gejala islamisasi atau lebih tepatnya “arabisasi”, bisa juga dilihat sebagai bagian pop-culture berlabel Islam—seperti tren hijab/jilbab, tren bank syariah, tren umrah—sebenarnya sedang memperlihatkan sisi gelap dalam tubuh umat Islam. Saya sebut itu sisi gelap, bukan pencerahan; karena yang muncul dalam islamisasi itu bukan spirit esensial hadirnya Islam kebajikan publik, apalagi  untuk tujuan nilai-luhur dari Islam sebagai agama pembebasan dan peradaban.

Sedikit ditarik ke belakang, Islam hakiki adalah Islam yang penuh gerakan emansipasi, gerakan partisipasi, gerakan keilmuan, dan selalu peduli publik, perhatian terhadap kaum marginal. Nyatanya, di perkotaan di Indonesia yang terjadi bukan itu, melainkan Islam yang ritualistik, konsumeristik, hedonis, eskapis, bahkan fundamentalistik. Ekstremis politik dengan ideologisasi Islam untuk tujuan khilafah atau daulah islamiah—bukan hanya menentang sendi kerepublikan Indonesia—melainkan sebagai petunjuk belum tercapainya derajat sumber daya manusia muslim dalam peradaban politik modern.

Sebuah peradaban dalam ruang demokrasi tidak akan tegak jika tidak didukung warga yang bermental demos (warga inklusif yang sadar akan hak-hak politik). Sementara itu, kita lihat warga muslim masih banyak kelompok antidemokrasi yang bermain politik dengan mengedepankan isu-isu nondemokrasi.

Selain ekstremisme Islam, ada pula gaya hidup umat Islam yang terjerumus pada arus pop-culture. Di kota-kota besar, fakta itu muncul selaras dengan kondisi sosiologis. Mayoritas golongan muslim migran yang masuk dalam dua arus tersebut merupakan produk “Islam turunan” (dan bisa disebut Islam awam) yang masih sebatas mencari-cari identitas dirinya terkait Islam.

Di kota-kota besar, mereka hidup dalam arus modernisasi yang menjauhkan spiritualitas. Alienasi dirasakan sebagai tekanan yang tak membahagiakan, lalu banyak orang membangun harapan hidup tersendiri, menciptakan utopia masyarakat ideal, dan dari situlah benih-benih fundamentalisme menguat.

Islam Jalan “Virtue”

Modernitas merupakan sunnatullah. Selaras dengan itu, rasionalitas menjadi bagian tak terelakkan untuk menghadapi keuntungan maupun resiko dari dunia modern. Karena itu, warga masyarakat modern semestinya fokus bersikap rasional, dan bukan lari ke jalan eskapisme ritual—yang di luarnya tampak saleh—tetapi sesungguhnya cuek dengan semangat pembebasan dari para nabi.

Kita lupa, progres Islam di Indonesia tergolong rendah karena masih maraknya intoleransi, irasionalitas; sehingga saat ini terkaget-kaget karena di dalam ruang kemodernan, muncul banyak tindakan non-Islami dari tubuh umat Islam. Kota bisa menjadi sumber peradaban bisa pula menjadi sumber kefasikan. Dalam arus modern ketika titik peradaban harus ditegakkan dalam altar demokratisasi, nilai-nilai kebijaksanaan hidup harus diupayakan.

Itulah kenapa negara-negara maju serius berupaya memaksimalkan sumber daya warganya. Apa yang kita kenal sebagai kajian terpenting saat ini, yakni civic-virtue, gerakan dengan semangat citizenship, rule of law, dan public-virtue; dan pada arus ke-Islaman kita bisa mendemonstrasikan gagasan dan gerakan ke-Islaman dengan civic-Islam.

Penulis adalah aktivis Gerakan Civic-Islam Indonesia, Bandung.

Sumber : sinarharapan.co

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s