Civic-Islam Lalu Civic-Jurnalisme

Standar

writing-history-credit-union-stlouisTulisan ini sebagai catatan pembuka tentang kajian Civic-Jurnalisme dalam konteks ke-Islaman. Berangkat dari gagasan gerakan pemikiran dalam ruang lingkup diskursus Civic-Islam. Moga-moga nanti bisa mendorong kajian yang lebih detail lebih lanjut.

Istilah civic sudah menjadi khazanah pengetahuan politik, yang titik fokusnya membahas masalah kewargaan dan masalah hubungan antara warga dengan negara (kewarganegaraan).

Pada konteks itu, civic bisa dibicarakan secara otonom tanpa perlu mengaitkan dengan istilah lain. Tapi kemudian selaras dengan kebutuhan politik nasional, istilah Civic-Education menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Dan sekarang, muncul wacana baru civic-Islam sebagai pembaharuan pemikiran dalam studi pemikiran keislaman Indonesia.

Gerakan Civic-Islam muncul pada awal tahun 2015. Selang beberapa bulan kemudian, satu ide merasa perlu dikembangkan, yakni pentingnya kesadaran dalam pelaku jurnalistik terkait dengan ide-ide kewargaan. Jadilah perlu memasukkan ide civic-journalism, sebuah keilmuan (paradigma) tentang jurnalisme yang memiliki semangat kewargaan dan kewarganegaraan.

Mengingat kebutuhan gerakan ini terintegrasi dengan gerakan civic-Islam, selain civic-jurnalisme dalam pengertian umum, nantinya arah gagasan ini juga akan masuk dalam kawasan ruang diskursus pemikiran ke-Islaman sehingga akan ada materi kajian civic-islamic-journalisme.

Atau dengan mudah kita pahami sebagai kegiatan jurnalisme berorientasi kewargaan sesuai semangat nilai-nilai ke-Islaman.

Kajian ini tentu akan menjadi sarana edukasi bagi para jurnalis-jurnalis muslim agar nantinya selain memiliki kepedulian kepada warga, juga mampu membawa semangat keislaman dalam pewartaan. Spirit jurnalisme Islam itu nantinya bisa ditambatkan dari semangat kenabian. Nabi, berasal dari kata naba’ yang artinya pewarta.

Civic-Jurnalisme bisa menjadi studi awal untuk perbaikan kesadaran warga dalam dunia jurnalistik (baik jurnalistik media tulis offline maupun online, jurnalistik televisi, jurnalistik radio, dan lain lain sebagainya). Dahulu sebelum era internet marak berita-berita online dan citizen-journalisme, kita sering mengkritik media mainstream.

Kritik tersebut biasanya pada ketidakberimbangan, tendensius, memihak, dan cenderung sebagai alat propaganda. Tetapi sekarang sejalan dengan maraknya citizen jurnalisme, persoalan itu tenggelam. Kita justru menghadapi problem yang tak kalah pelik dari banyaknya media online dan gerakan citizen-jurnalisme berupa berita tidak akurat, bohong, tendensius, memuat sara, dan bahkan cenderung memuat fitnah.

Pada ruang kajian ke-Islaman, karena kebetulan juga masalah agama, terutama Islam sangat kuat mewarnai ruang publik/politk di Indonesia, banyak bemunculan produk pewartaan yang diproduksi media online non profesional maupun citizen-journalisme muslim dengan mutu yang sangat rendah.

Selain jauh dari semangat dasar jurnalistik (minimal dari standar 5 W 1 H: W1 = What W2 = Who W3 = When W4 = Where W5 = Why H = How) juga sangat bertentangan dengan semangat luhur Islam karena di dalamnya memuat kabar yang tidak akurat, tidak bijaksana, cenderung menghasut, provokatif, bernuansa sara, tak jarang bohong dan fitnahan.

Civic-jurnalisme dan citizen-jurnalisme

Jurnalistis telah menjadi kegiatan warga (terutama kelas menengah Indonesia). Di era sekarang, warga tidak hanya menjadi pembaca, pemirsa, atau pendengar, melainkan juga menjadi bagian dari gerakan jurnalisme itu sendiri. Gerakan warga dalam jurnalistik paling tidak sudah berjalan di bawah ikon citizen jurnalisme. Pada citizen ini, titik tekannya atau objek pembahasannya lebih pada pelaku, atau kegiatan jurnalistik terutama pewartaan yang dilakukan oleh (subjek) warga.

Istilah Civic-Journalisme bukan hal yang baru. Ia telah muncul pada era 1990-an ketika saat itu demokrasi electoral menjadi tren politik di negara-negara demokrasi. Di sana tergambar tentang pentingnya media massa memainkan peranan dalam ruang demokrasi agar terhindar sebagai objek dari pemilu, bisa berpartisipasi dalam kebijakan publik, dan bisa menyuarakan kepentingan-kepentingan publik secara luas.

Sementara pada Citizen Jurnalisme letak kajiannya terbatas pada kegiatan warga masyarakat yang ingin menjadi pewarta, tetapi mereka bukan penyandang predikat jurnalisme profesional. Atau bisa jadi sebagai penulis/jurnalis profesional, tetapi dalam hal tertentu mereka menulis atas dasar kepentingan otonom dan tidak terikat oleh kebijakan kolektif di perusahaan tempatnya bekerja.

Citizen-Journalisme lekat dengan tradisi internet. Sebab sebelum ada era internet, penulisan pewartaan warga itu tidak disebut demikian. Sebagai contoh misalnya beberapa orang membuat buletin dari komunitas tertentu. Di sini warga (subjek) bukanlah pelaku jurnalistik profesional. Tetapi saat itu, kegiatan tersebut tidak disebut sebagai bagian dari Citizen-Journalism.

Sama seperti Civic-journalism, sekalipun tidak menutup kemungkinan dilakukan di luar area online, namun keberadaannya muncul karena dipicu oleh maraknya kegiatan jurnalistik di era internet. Letaknya pada penilaian awal gerakan. Jika citizen berangkat dari kegiatan, maka civic-journalisme lebih menitipkan pembahasannya pada nilai. Dengan demikian, nantinya citizen jurnalisme juga menjadi bagian daripada topik penting dalam civic-jurnalisme, sepenting pembahasan civic-jurnalisme memandang produk-produk jurnalitistik dan perilaku dunia pers secara umum.

Persoalan nilai ini nanti bukan hanya dijalankan dalam konteks subjek (sang penulis), melainkan juga dijadikan acuan diskursus bagi pembaca, dan juga penyebar jurnalistik. Jadi ada tiga hal yang harus dibicarakan dalam kaitan ini. Pertama jurnalis, kedua pembaca, ketiga penyebar produk tulisan.

Pada tiga ruang tersebut, nilai-nilai civic itulah yang akan menjadi piranti dasar tradisi jurnalistik. Pada ujungnya adalah virtue, atau nilai. Civic kita tahu adalah kosakata yang lekat berurusan dengan indentitas (kewargaan/kewarganegaraan) dalam sebuah polis (kehidupan publik/politik) yang selalu menuju sebuah subjek untuk nilai-nilai kebaikan. Nilai kebaikan itu misalnya disebut dalam kamus Oxford advanced American Dictionary -for learners of English (2011), -civic duties/responsibilities atau tanggungjawab atau kewajiban yang berkaitan dengan civic.

Dengan demikian, pada prinsipnya Civic-Journalism  adalah spirit keilmuan sekaligus paradigma tentang nilai-nilai etik, adab, akhlak, budi pekerti, termasuk visi humanis yang tujuannya untuk mewargai produk jurnalisme.

Dalam konteks kewarganegaraan berbasis republikanisme seperti Indonesia ini, semangat civic-jurnalisme akan terhubung dengan semangat memihak pada kepentingan warga. Kepentingan di sini bermakna luas, seperti tergambar pada ikon-ikon tentang demokratisasi, deliberasi (musyawarah), partisipasi, emansipasi, keadilan hukum, keadilan sosial, pemerataan ekonomi, perlindungan terhadap minoritas, peduli pada kaum lemah/marginal, hak-hak ekonomi, pendidikan, dan seterusnya. Atau jika dalam pengertian ruang publik, bisa mendasarkan diri pada tiga elemen dari semangat citizenship, rule of law, dan civic-virtue.

Bagi para jurnalis, nilai-nilai tersebut bisa berguna untuk keberpihakan nilai. Sudah tidak saatnya jurnalis netral karena netral itu artinya hanya menjadi bagian dari kekuasaan (dominasi dan hegemoni).

Jurnalisme yang maju, adalah jurnalisme yang memiliki keberpihakan pada nilai-nilai luhur. Netralitas sama saja membiarkan keburukan setara dengan kebaikan, dan karena itu ketika keburukan berada dalam situasi dominan atau hegemonian, secara otomatis kebaikan akan tergencet.

Yang dipentingkan dalam jurnalisme dengan semangat (keberpihakan pada) warga adalah independensi. Di ruang demokrasi modern, otonomi, liberalisasi dan liberasi menjadi kata kunci agar kita lebih produktif menjalankan nilai-nilai kemanusiaan. Dan jurnalisme memungkinkan sikap otonom tersebut agar penyuaraan hati nurani dan keberpihakan kebenaran bisa dilakukan.

Bagi para pembaca, civic-jurnalisme merupakan sarana pembangunan kesadaran atas produk tulisan yang dibaca. Dengan kesadaran yang dibangun dari paradigma civic tersebut, pembaca bisa menilai secara kritis mana jurnalisme yang bermutu dan memiliki orientasi kepada warga dan mana yang tidak.

Sekarang kesadaran ini menjadi penting karena selain banyak media massa konvensional kebanyakan didominasi kepentingan pihak dominan (kapital/penguasa politik) pada sisi lain banyak produk jurnalistik (terutama media online non profesional) yang jauh dari mutu, bahkan dengan mudah mengumbar kebohongan, fitnah, gemar menebar sara dan ditulis secara asal-asalan.

Pada titik inilah civic-journalisme maju ke depan untuk memberikan pencerahan pemikiran. Untuk menuju ke arah tersebut kapasitas para jurnalis (baik jurnalis profesional maupun non profesional) perlu menuju ke arah kapasitas sebagai subjek yang partisipatoris untuk tujuan memanfaatkan potensi ruang-publik dalam jagat jurnalisme sebagai sarana pencerahan untuk pejabat dan warga sekaligus. Dari titik itulah kemudian nilai-nilai luhur yang harus muncul dari Rahim demokrasi seperti pemikiran inklusif, toleran, pluralis, dan memihak yang lemah menjadi imajinasi sehari-hari.[Faiz Manshur]

2 thoughts on “Civic-Islam Lalu Civic-Jurnalisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s