Bacaan Online dan Manfaat bagi Akalbudi

Standar

boy-and-girl-readingApa yang perlu direnungkan dalam dunia bacaan sekarang ini?

Pertanyaan ini perlu saya ajukan karena setiap waktu saya bertemu dengan orang yang sedang membaca. Ponsel di genggam sudah menjadi fenomena sehari-hari masyarakat dalam mengakses bacaan. Bukan hanya saat senggang orang-orang membaca. Bahkan saat kerja dan rapat sekalipun terus membaca. Saat nyetir mobil pun saya sering melihat orang di di mobil lain yang sedang asyik membaca. Ponsel yang digenggam bukan lagi sarana telpon atau sms, melainkan sarana membaca teks atau menonton video hasil koneksi dengan internet.

Jumlah masyarakat pembaca online tersebut mungkin saja belum begitu banyak di banding dengan jumlah penduduk. Lagian masing-masing pemegang ponsel memiliki varian-varian kemampuan mengakses internet karena tidak semuanya memiliki kemampuan unlimited dalam menikmati revolusi literatur digital di masa kini.

Tetapi bagaimanapun — entah berapa penduduk negeri ini yang sudah mudah mendapatkan pasokan bacaan melalui internet– yang jelas merupakan sebuah fakta luar biasa berbanding dengan zaman 5 tahun lalu, dan bisa disebut revolusioner untuk urusan bacaan manakala kita mengingat tradisi baca kehidupan zaman di bawah tahun 2000—saat internet hanya bisa dinikmati lapisan kecil masyarakat melalui warnet atau kantor untuk urusan kerja.

Teknologi selalu berubah begitu cepat. Evolusi kebudayaan sudah masuk ke wilayah panggung supratruktur kehidupan dan informasi merupakan salahsatu kebutuhan dasar manusia. Dunia online yang telah merasuki kehidupan masyarakat bukan lagi untuk menyerap informasi dan sarana komunikasi, melainkan juga sudah mendorong gerak interaksi ekonomi/bisnis, interaksi lawan jenis, politik, sosial hingga masalah hubungan warga dengan negara.

Kembali ke urusan bacaan. Internet telah melapangkan jalan pemenuhan hasrat baca masyarakat. Buku, Koran/majalah/tabloid cetak sudah bukan sesuatu yang mewah karena internet menyediakan daya tarik yang lebih lengkap. Era literatur kertas berevolusi menuju era online sekalipun bukan berarti literatur cetak mengalami kematian dalam waktu cepat. Orang-orang sering keliru melihat pergerakan zaman dari cetak ke online ini secara linier. Padahal faktanya barang cetakan mengalami kenaikan. Oplag sebuah Koran tertentu memang menurun, tetapi penyebabnya tak seratus persen akibat internet, melainkan juga disebabkan oleh munculnya kompetitor baru yang lebih menawarkan pemenuhan kebutuhan/hasrat masyarakat.

Bacaan menjadi sebuah kebutuhan masyarakat. Dua istilah yakni 1) Bacaan dan 2) Kebutuhan, barangkali memang perlu ditafsir secara khusus untuk mengambil sebuah hikmah dari perkembangan realitas masyarakat baca Indonesia di penghujung tahun 2015 ini.

Istilah bacaan yang biasanya merujuk pada ikon-ikon kemewahan masyarakat intelektual sekarang tidak lagi berlaku. Setiap orang yang asalkan bisa mengakses situs online di manapun ia bisa menikmati bacaan. Itulah kadang kita melihat seseorang yang maaf, terlihat bukan tipikal kelompok peminat baca (intelektual) sekarang mampu menjadi bagian dari tradisi intelektual. Puji Tuhan!

Kedua, soal ‘kebutuhan’ barangkali memang kita harus menilik lebih dalam pengertian tentang apa yang dibutuhkan masyarakat dalam urusan bacaan. Pertanyaan ini perlu diajukan karena dunia terang bukan semata urusan informasi, melainkan juga sebagai pilar penyangga akalbudi, sebagai mesin transformasi pengetahuan pengembangan sumber daya manusia.

Dari pertanyaan itu kemudian akan timbul sikap kritis, apakah sebuah bacaan, bacaan yang setiap hari dinikmati masyarakat itu benar untuk sebuah kebutuhan peningkatan akal budi atau sebatas informasi instan agar semata tahu situasi? Apa saja situasi pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat? Apakah masyarakat juga benar-benar telah sampai tahap menikmati sensasi intelektual dengan bacaan bermutu? Atau benar jangan-jangan tradisi baca online itu hanya semata untuk mengintip situasi, utamanya dari jejaring sosial—guna memenuhi hasrat diri untuk sebatas tidak ketinggalan perkembangan situasi harian?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan muncul manakala kita tidak memetakan antara kebutuhan informasi sebagai makanan instan sehari-hari dengan kebutuhan ilmu pengetahuan. Antara informasi dan ilmu pengetahuan memang terdapat kesamaan atau lebih tepatnya tidak bisa didikotomikan semudah membedakan antara kucing dengan anjing. Informasi bisa memuat ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan sendiri merupakan informasi. Tetapi yang saya maksud dengan dikotomi di sini ialah bahwa tidak semua informasi itu akan membawa nilai-nilai pengetahuan untuk pencerahan akal budi, tidak semua informasi membawa nilai transformasi sumber daya insani, tidak semua informasi menjadi penyangga untuk pemenuhan upgrading diri.

Dengan telaah sederhana ini sebenarnya menyiratkan sebuah pengertian dalam diskursus literasi bahwa bacaan yang sifatnya informatif (dari kebiasaan perilaku pembaca online, khususnya yang sekadar mengakses info-info media online dan jejaring sosial) belum bisa memberikan nilai-nilai tinggi bagi pengembangan sumber daya manusia.

Gerakan membaca itu penting. Tetapi lebih penting pula disertakan pengertian apa yang mesti dibaca, dan untuk apa bacaan itu harus dijadikan kebutuhan hidup? Apakah bacaan sebatas sekadar untuk pemenuhan hasrat “supaya tahu dan tidak tertinggal informasi dengan teman-teman”, atau “hanya berpikir lebih tahu daripada tidak tahu?”.

Urusan membaca sebagai sarana peningkatan mutu akal budi memang tidak semudah memiliki ponsel kelas wahid dan akses internet serba cepat. Keberangkatan seseorang itu sendiri sangat menentukan pencapaian meraih pengetahuan yang berguna sehingga bacaan itu benar-benar membawa seseorang meraih kualitas pengetahuan.

Ibaratnya, kita butuh makan. Tetapi untuk urusan gizi, urusannya tentu bukan sekadar ada makanan. Seorang yang benar-benar lapar terang akan lebih menikmati urusan makanan ketimbang yang setengah lapar atau masih kenyang. Tetapi balik lagi, urusan gizi tidak ditentukan oleh dorongan nafsu makan. Urusan membaca tentu tidak semata asal ada bacaan lalu dilahap. Manusia dikaruniai hasrat tidak puas atas keadaan. Bagi saya hasrat tidak puas ini bisa disebut sebagai anugrah selagi kita punya pengetahuan untuk bersikap kritis dalam memanfaatkan hasrat.

Nafsu bisa membawa keburukan, tetapi ia pun bisa mendorong emosi positif dan menggerakkan diri bahkan menggerakkan manusia berbuat baik. Membaca bisa semata jadi sarana pemuas nafsu diri yang rendah jika alasan membaca hanya untuk mendapatkan informasi. Celakanya informasi yang dicari perspektifnya bukan atas dasar untuk mendapatkan nilai-nilai baru yang positif, melainkan sebagai sarana suka-suka.

Prinsip membaca di dasarkan “rasa suka” (bacalah yang kamu sukai supaya kamu kerasan membaca) memang tidak salah. Tapi saran ini serupa, makanlah ketika kamu lapar supaya enak. Sementara pada level kualitas, sebenarnya ketidakpuasan manusia untuk urusan makan mesti mengarah pada upaya kesehatan dengan prinsip, misalnya, “makanlah yang bergizi baik dan menyehatkan. Jangan sembarang makan sekalipun kamu dalam situasi lapar. Jangan pula sembaran makan sekalipun kami punya uang kemudian hobi makanan cepat saji yang membawa resiko kadar gula, obesitas, dan lain sebagainya.

Prinsip bacalah bacaan yang bermutu, bukan sembarang literatur. Bacaan bermutu saat ini tidak melulu pada buku-buku cetak, sekalipun menurut saya buku-buku cetak (tentu saja tidak semua jenis buku) lebih banyak menawarkan “gizi intelektual” ketimbang bacaan online.

Dikotomi internet bacaan sampah vs buku cetak bacaan mulia terang tidak bisa lagi diterima. Tetapi keterjebakan banyak orang membaca internet dan tanpa sikap kritis menikmati sampah; pengetahuan dangkal, hasut, fitnah dan seterusnya adalah cermin kemunduran manusia di zaman maju.

Jika tidak ada kesadaran memilih dan memilah bacaan, pada akhirnya manusia bisa larut menjadi kawanan ternak yang diputar-putar situasi dan (secara kompetitif) sekalipun setiap hari membaca, tidak akan lahir manusia unggul yang mampu berkompetisi di percaturan hidup.Konsep manusia unggul tetaplah pada subjek; kemampuan mengikuti arus tetapi tidak terbawa arus secara alamiah. Bahkan keunggulan manusia adalah karena kemampuannya menawarkan diri mengatur arus.-[#faizmanshur]

Arcamanik, 10 November 2015.

#literatur #minatbaca #gerakanmembaca #upgrading

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s