Banyak Tanah, Umur Pendek, Nafsu Tak Kenal Usia

Standar

hutanarcamanikSeseorang hadir di rumah saya hari ini. Sudah ketiga kalinya ia menemui saya. Lelaki berusia jelang 60 tahun beberapakali membeli tanah di warga kampung, kawasan Bandung utara. Tanah-tanah penduduk dibeli. Tetangga saya pun bercerita banyak tentang lelaki ini. Dari pembicaraan banyak hal saya dapat pengetahuan tentang pertanahan, perilaku konsumen tanah, karakter ekonomi warga dan seluk beluk harga tanah. Kepadanya saya tanyakan satu hal. “Untuk apa bapak membeli tanah yang banyak itu?”

 Dia jawab, “tidak tahu. Saya senang saja. Siapa tahu nanti berguna,” demikian salahsatu jawabannya. Saya memang tidak puas dengan jawaban itu. Masak orang beli tidak tahu tujuan? Kalaupun dia mengindap penyakit konsumerisme (hobi membeli tanpa ngerti kegunaan), apakah betul ini berlaku dalam urusan tanah yang menyedot konsumsi puluhan juta setiap lokasi tanah yang ia beli. Bahkan ada tanah (berjarak kurang lebih 300 meter dari rumah saya) harganya mencapai 200 juta. Desas-desus dari banyak orang, dia ini dianggap calo karena selain sering memasukkan anak-anak petani menjadi pegawai dengan memasang tarif puluhan juta, beberapa orang bilang “uang beli tanahnya” bukan milik dia, tetapi milik orang lain.”

 Dari situ spekulasi muncul, bisa jadi dia hanya perantara dari orang kaya yang sedang cuci uang dengan cara membeli tanah-tanah petani. Tapi itu tidak terlalu penting saya tulis. Fokus saya di sini sedang bertanya, “mengapa banyak orang kota yang membeli tanah di desa-desa itu tanpa tujuan yang masuk akal?”.

 Pertanyaan ini menggayuti pikiran saya karena bukan hanya orang itu yang melakukan. Banyak dari orang kota membeli tanah, sebagian dibiarkan begitu saja tanpa kejelasan melewati 5 hingga 10 tahun, bahkan ada pula yang lebih 20 tahun tidak diurus kecuali sebagaimana sebelumnya tanahnya digarap untuk pertanian sederhana. Ada pula yang dibangun untuk rumah singgah, bahkan villa.

 Membeli tanpa segera menggunakan dan membiarkan harga naik terlebih dahulu itu punya logika karena ada alasan investasi. Tapi membeli untuk Villa atau rumah singgah yang kemudian terlantar karena alasan bosan itu menandakan banyak dari orang-orang yang mampu itu hidup tanpa kejelasan program. Banyak uang bingung mencari kebahagiaan. Pingin enak-enak punya rumah di desa, tetapi nyatanya hanya setahun bosan dan bangunan banyak yang rusak dimakan rayap. Itu banyak sekali saya temui. Perihal tanah sebagai investasi sebenarnya juga perlu dipertanyakan. Pasalnya tidak semua tanah memiliki hitungan yang normal; membeli mudah tapi kelak saat menjual tidak bisa cepat sesuai saat butuh uang. Mungkin jika maksud investasi itu dilakukan oleh orang yang masih berumur 20an tahun lebih realistis. Cuma faktanya, ini rata-rata dilakukan oleh pejabat-pejabat yang sudah mendekati masa pensiun. Begitu masa pensiun tiba, tidak lama kemudian mati. Tanah pun kemudian hanya menjadi warisan untuk anak-anaknya. Ironisnya saat dijual juga tidak mudah, sang anak tidak memiliki kompetensi dan minat untuk mengurus. Akibatnya tanah itu bertahun-tahun mengangur, tidak terurus. Laku dijual pun harus tetap dengan merendahkan harga.

 Memang setiap tanah terus naik harga. Tetapi apakah setiap kenaikan itu berarti keuntungan? Belum tentu. Kalau logika investasi yang benar pasti dipikirkan perihal untung-rugi memandegkan uang dalam waktu yang lama itu. Bisa jadi kalau buat usaha lain uang 100 juta sudah menghasilkan kelipatan yang lebih ketimbang sekadar menuruti logika investasi. Umur manusia dengan nafsu terkadang tidak sealur. Manusia berusia 60tahunan masih sering dilanda kebingungan. Begitu mencitai hartanya ia lupa manfaat yang lebih besar. Logika manfaat ini begitu penting kita kedepankan dalam urusan tanah. Seandainya orang-orang itu benar memiliki spiritualitas sosial, tentu tidak akan terpaku pada investasi tanah sebagai pengeruk laba material semata.

 Seandainya ia punya orientasi sosial, maka tanah untuk sekolah atau yayasan pemberdayaan ekonomi masyarakat akan menjadi investasi sosial yang bagus. Tanah untuk urusan sosial tidak butuh luas karena pasti akan sealur dengan kebutuhan organisasi yang didirikan.

Dari sini saya mendapatkan pelajaran hidup yang berharga, banyak orang yang nafsunya lebih panjang dari pada umurnya. Tanah untuk penyalur hawa nafsu memang tak kenal batas; sudah punya 1 hektar masih butuh 4 hektar, sudah punya 4 hektar masih butuh 10 hektar. Tanpa menimbang untuk apa tanah seluas itu akan dijadikan produksi; tanpa menimbang umurnya segera habis dan kecuali akta tanah yang ia wariskan untuk jadi rebutan anak-anaknya, kepemilikan tanah yang luas oleh orang-orang kota itu begitu banyak mubadzir.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s