Iklan dalam Kolam dan Kolam Judi

Standar

kolamSetiap keliling di dusun-dusun pelosok di perbukitan utara Kab.Bandung, saya sering menjumpai air mengalir; sebagian lepas di kali atau selokan, sebagian melewati kolam ikan. Sebagian kolam ikan itu milik petani biasa, sebagian lagi milik orang yang berbisnis. Kolam yang dimiliki petani rata-rata tak terawat. Bendungannya hanya memakai tanah liat diperkuat dengan bambu. Isi ikannya juga sangat sedikit, tak diurus serius.

Setiapkali saya ajak bicara pemiliknya ada tiga jawaban yang paling menonjol. 1) Tidak yakin ikan dipelihara itu menghasilkan nilai ekonomi. Beli bibit saat ada uang, paling hanya setahun sekali, itupun rata-rata dengan alokasi belanja tidak lebih Rp 100 ribu. 2) Tidak serius memodali bangunan kolam karena merasa tidak punya modal untuk nyemen (tapi saya tidak yakin hal ini karena bikin kolam semen dengan modal 500 ribu juga bisa dilakukan. 3). Tidak punya keseriusan untuk menghasilkan uang dari kerja perikanan.

Pada perikanan yang besar-besar dibangun secara serius saya menyaksikan kenyataan lain. Ada banyak kolam dibangun dengan sangat baik. Saluran air, pemisahan jenis ikan, hingga tembok menggelilingi. Manajemen modern dibangun. Apakah itu peternakan? Tadinya saya selalu berharap menyaksikan kolam-kolam ikan itu serius sebagai peternakan, nyatanya berubah fungsi menjadi pemancingan (bisnis pemancingan). Ada beberapa pemilik pemancingan yang membudidayakan ikan dari kecil hingga besar. Itu sebagai pasokan. Namun dari sekian kolam pemancingan, terutama yang agak kecil (2-4 kolam) biasanya tidak berfungsi sebagai budidaya, melainkan murni sebagai pemancingan. Ikannya dibeli dari pemilik pemancingan besar yang membudidayakan dari kecil hingga besar. Kolam-kolam pemancingan itu melayani dua segmen 1) penghobi murni yang gemar mancing, 2) penghobi mancing yang juga suka judi.

“Kalau saya mau mancing di sini, bagaimana caranya?,” tanya saya.

“Biasanya patungan,”jawab seorang pemilik kolam pemancingan itu.

Ia lantas menjelaskan, patungan yang dimaksud misalnya 5 orang mau mancing bareng ( dan biasanya taruhan bareng). Harga ikan per Kg dihitung Rp 25.000×5 Kg= Rp 125.000. Masing-masing orang iuran membayar Rp 50.000x 5= 250.000. Ikan Kg dimasukkan ke kolam. Lalu mereka memancing. Hasilnya bisa dibawa pulang. Intinya pemilik pemancingan tidak terlibat dalam urusan ikan lagi, apalagi urusan judi. Panitia judi biasanya dilakukan oleh pemancing sendiri.

Masyarakat desa kurang asupan gizi ikan dan butuh penghasilan ekonomi. Mereka punya air, punya tanah kosong, punya kesempatan untuk menambah penghasilan usaha. Namun kejadiannya perikanan hanya berkutat pada urusan pemancingan, bukan budidaya ikan. Perlu segera dibuka pemberdayaan soal perikanan. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s