15 Januari 2012

Kata Mereka Genius Menulis

Menulis itu pekerjaan individual. Berhasil tidaknya menjadi penulis sangat bergantung pada sang individu. Bahkan sekalipun karya seorang penulis harus berurusan dengan pihak lain, (penerbit atau media massa), peranan individu sangat menentukan. Di sini, Genius Menulis, memberikan tawaran yang konkret agar kita memahami posisi sebagai seorang penulis, memahami kepentingan redaksi dan bahkan memberikan peta calon pembaca yang akan memanfaatkan karya seorang penulis. Membaca satu persatu uraian dari buku ini jelas merupakan sesuatu hal yang baru.  Problem internal dan eksternal yang lekat dengan kehidupan penulis juga dijabarkan secara apik, mendasar dan detail. Saya kira buku ini bukan kategori kiat praktis menulis, melainkan lebih pada upaya kuat agar kita berani terus menjadi penulis dengan segenap risiko dan keuntungannya. Kita akan beruntung membaca buku ini. —Acep  Zamzam Noor, Penyair. Tinggal di Pesantren Cipasung Tasikmalaya.

“Menulis adalah kerja kemanusiaan yang paling konkret dalam mengubah peradaban. Tingkat kemajuan peradaban sebuah bangsa atau negara dapat dilihat dari kualitas karya-karya tulis yang dihasilkannya. Menulis juga merupakan ekspresi dari kematangan dan kedewasaan ruhani seseorang. Buku karya Faiz Manshur ini sarat dengan ide-ide cemerlang yang dapat menginspirasi seseorang untuk berani melahirkan karya tulis yang bermakna bagi kemanusiaan. Buku ini penting dibaca bagi siapa saja yang tertarik untuk mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan peradaban manusia.” –Prof.Dr Siti Musdah Mulia M.A. DirekturIndonesian Conference on Religion and Peace.

Buku ini menarik untuk dibaca karena bukan hanya mampu membuka jendela pengetahuan di dalam diri kita ke alam yang lebih luas lagi, akan tetapi juga sanggup menggetarkan hati kita untuk berani menulis. Semua itu diurai dengan kalimat yang bernas, dan mudah ditangkap maknanya. Bila Anda ingin terjun ke dalam dunia tulis-menulis, jangan ragu membaca buku ini.-Soni Farid Maulana–Penyair, Jurnalis Harian Umum Pikiran Rakyat Jawa Barat.

Aktivitas “membaca”, “mengajar” dan “menulis” merupakan pesan Al-Quran pertama dan utama sebagai aplikasi keimanan untuk merespon berbagai problem kemanusiaan yang kompleks, mengatasi kekalahan dalam kompetisi kehidupan dan meraih nilai-nilai yang bermakna bagi sesama. Menulis adalah sebuah proses dan usaha kreatif yang akan mengantarkan seseorang memiliki jiwa spriritualitas yang kuat berupa integritas (kejujuran), energi (semangat), inspirasi (penuh ide), kesabaran, dan keberanian (courageous). Hal-hal positif itu penting di tengah mewabahnya “budaya instan” yang mendorong banyak orang mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Buku ini, seperti penulisnya, Faiz Manshur, dengan penuh semangat ingin menularkan virus kegairahan berkreatifitas, berproses, dan membangun jati diri dengan cara menulis!. Sehingga pembusukan di segala sendi kehidupan bisa dihentikan. –KH Maman Imanulhaq, Pimpinan Ponpes al-Mizan Jatiwangi Majalengka.

Pilih mana? Jadi penulis “idealis” atau penulis “produktif”? Mungkinkan kita memilih jadi keduanya sekaligus, penulis produktif yang idealis? Menjadi kepercayaan umum bahwa penulis “idealis”, yang menulis dengan nilai-nilai yang diyakininya, yang memiliki target ideal terhadap apa yang ditulisnya, sedikit menghasilkan buku. Atau kalaupun ada, jarang jadi best seller. Sementara penulis yang rajin “berkompromi” dengan pasar dan mengikuti apa maunya pasar, dengan enteng menghasilkan berlusin-lusin buku, dan seringkali laris seperti kacang goreng. Lalu, para penulis “idealis” dengan enteng menuding para penulis jenis itu sebagai “pekerja”, para tukang yang menghasikan “kerajinan tangan.” Sementara di sisi lain, dengan bangga, mereka menepuk diri sendiri sebagai   penulis sejati, meskipun sedikit menghasilkan karya yang jarang dibaca. “Genius Penulis” mampu melihat dikotomi ini dengan cara menarik. Dan jika Anda merasa diri sebagai penulis “idealis”, bersiap-siaplah untuk “tersinggung”..:).--Fransisca Ria Susanti, Redaktur Pelaksana Harian Sinar Harapan, Jakarta , Penulis buku “Kembang-Kembang Genjer”.

Dengan membaca buku genius Faiz Manshur ini yakinlah, para profesional penulis makin bergairah untuk berkarya dengan kekayaan berbagai ‘senjata’ jiwa. Ibarat kata, tak terbatas. Faiz yang peka intuisi bisnisnya menggedor penulis untuk tidak berkacamata kuda dalam menulis hanya untuk kepuasan jiwa penulis. Tapi, yakinlah realitas hidup jasmani dan rohani dapat diseimbangkan dengan menulis genius ‘sesuai mahzab’ Faiz Manshur ini.–Drh Yonathan Rahardjo. Novelis

 

8 Januari 2012

Proses Kreatif Menulis

Pengantar untuk buku Genius Menulisku.

Kreatif menulis itu butuh proses. Selain butuh proses waktu, juga butuh keuletan tersendiri. Bekal utamanya ialah ketekunan, kesabaran dan kecerdasan. Tekun artinya kesanggupan untuk terus bekerja mengatasi segala kerumitan, sadar artinya sanggup untuk berproses dalam jangka waktu panjang, dan cerdas artinya harus siap menjadi pembelajar sepanjang hidup. read more »

7 Januari 2012

Sunni-Syiah, Sesat dan Sindrom

Kekerasan yang merusak sendi keharmonisan hidup terus terjadi. Selain kekerasan atas nama ekonomi, politik dan kekerasan sosial, juga kekerasan atas nama agama. Kita tak kaget dengan serentetan kejadian kekerasan dari berbagai penyebabnya karena ini telah berulang.

Tetapi, kejadian pembakaran Kompleks Pesantren Islam Syiah, Kamis (29/12) di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, merupakan sesuatu yang perlu kita bicarakan secara khusus. read more »

29 Desember 2011

Remy Sylado tentang Genius Menulis

Saya harus berterimakasih kepada Om Remy Sylado yang telah membaca secara seksama, mengevaluasi dan berkenan memberi kata pengantar pada buku Genius Menulis ini.

PERI DUA KEKAYAAN

Oleh REMY SYLADO )*

Tidak semua yang baik boleh dianggap bermanfaat. read more »

13 November 2011

Gugatan Globalisasi

Judul Buku: Penjajahan Kapitalisme/Penulis: Noorena Hertz/Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung 2011/Tebal: 312 Hlm/Harga: Rp 39.000

Pada beberapa bulan terakhir ini demontrasi anti globalisasi kembali marak. Di Madrid, Spanyol, Hongkong, London, Amerika dan read more »

13 November 2011

Manfaat Sastra dan Peran Sastrawan

-Belajar dari personalitas Acep Zamzam Noor

Ada banyak karya sastra dari para sastrawan di negeri ini. Tetapi, perlulah kiranya sejenak menengok buku kumpulan esai berjudul Puisi dan Bulu Kuduk (Penerbit Nuansa Cendekia: Juli 2011), karya Acep Zamzam Noor (50 tahun). Ada apa? read more »

19 Oktober 2011

Modernitas, Obsesi, dan Jalan Tuhan

Manusia butuh Tuhan itu merupakan naluri. Berbagai penemuan sejarah membuktikan masyarakat primitif telah memiliki (persepsi) ketuhanan. Karen Amstrong dengan buku Sejarah Tuhan-nya, atau John C Alvies dengan buku The Genetic Gods-nya memiliki argumentasi yang sangat kuat untuk membuktikan bahwa ide tentang Tuhan bukanlah tradisi, melainkan muncul dari naluri (bawah sadar) manusia. read more »

3 Juni 2011

Nasionalisme dan Ancaman Islam Radikal

Radikalisasi dalam agama muncul di tengah panggung politik global. Indonesia dalam arus demokratisasi memiliki problem yang berat menghadapi masalah ini.

Apa yang tidak pernah kita pahami semenjak sepuluh tahun belakangan ini ternyata kini menjadi masalah yang gawat. read more »

19 Februari 2011

Enuma Elish dan Rekam Jejak Ketuhanan

KESADARAN manusia untuk bertuhan memiliki alasan logis sebagai naluri insting­tif dari bawah sadar manusia. Alasan ini bi­sa diterima manakala kita sedikit merela­kan waktu untuk menengok jauh ke za­man purba di mana nenek moyang kita me­miliki rasionalitas instingtif terhadap Tuhan. read more »

6 Februari 2011

Akar Moderat Islam Jawa

JAWA sebagai ideologi, atau sistem kepercayaan atau katakanlah Jawa­is­me memang sudah punah, te­tapi Jawa sebagai adat istiadat tetap bertahan kuat. Tak pernah runtuh oleh desakan Islam, Kris­ten atau moder­nisasi. read more »

23 Januari 2011

Agamawan Versus Penguasa

Statemen Kebohongan Publik terhadap Pemerintah beberapa waktu lalu cukup menarik perhatian masyarakat. Kalau sebelumnya kritik-kritik pedas, bahkan makian terhadap pemerintah ditanggapi adem-ayem, kritik agamawan itu justru mampu membuat gerah penguasa. read more »

15 Januari 2011

Mengapa Kita Malas Bertani?

Liputan harian Sinar Harapan beberapa waktu lalu tentang sepinya peminat jurusan pertanian, menarik diulas lebih lanjut. Dari tulisan tersebut diungkap rendahnya minat calon mahasiswa yang mengambil jurusan pertanian. Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar, dalam liputan itu, mengatakan sepinya minat ini disebabkan dunia pertanian tidak memiliki gengsi dan masyarakat lebih tertarik pada read more »

11 Desember 2010

Peran Kiai Sebagai Budayawan

(Belajar dari budayawan desa K.H Ahmad Muhamad Tegalrejo Magelang)
Kebudayaan tumbuh-berkembang ditentukan oleh gerak dua hal utama, yakni corak produksi ekonomi dan aktor yang bermain di wilayahnya. Pada masyarakat yang masih kuat read more »

5 Desember 2010

Menulis Panjang?

Membaca judul itu, sejenak jari saya berhenti untuk memberikan kesempatan impuls pada otak saya untuk bekerja. Kira-kira setengah menit kemudian, pikiran saya menerawang ke masa silam, saat dulu (kira-kira pada usia 16 tahunan) saya sering punya keinginan read more »

5 Desember 2010

Menulis K.H Khudlori Magelang?

Suatu malam di hari ketiga Idul Fitri 2010. Tepat magrib saya datang untuk bertemu Ibu dari Alm Bapak asuh saya, Kiai Abduljabar Aly. Lebih 9 tahun saya tidak memasuki rumahnya. Situasi tidak banyak berubah. Tetapi yang sangat berubah adalah karena saya tidak bisa bertemu dengan K.H Abdul Jabar Aly (alm), orangtua asuh yang  sangat berjasa read more »

4 Desember 2010

Abrahami: Tiga Jalan Satu Tujuan

ADA elemen yang sama dan ada elemen berbeda dalam ajaran adalah sesuatu yang sifatnya masuk akal. Rasionalitasnya bersandar pada fakta sosiologis-antropologis yang secara natural (sunnatullah) selalu menyajikan fakta; tidak ada gagasan, pemikiran, ideologi atau ajaran yang bisa diterapkan secara mutlak. Sesungguhnya read more »

4 Desember 2010

(Shastri) Di Kaki Merapi

Akhirnya kesempatan pergi dari kampung halaman pun terpenuhi. Niatnya  sekolah di pesantren Pabelan, yang pengelola pesantren itu masih kerabat dekat dengan Bapaknya. Tetapi karena bapaknya tidak mengijinkan sekolah, ia terpaksa harus masuk pesantren tradisional. Mula-mula masuk pesantren Diponegoro, Tegalrejo Magelang. Tetapi hanya sebulan karena tidak kerasan. Terlalu ramai dan tidak nyaman untuk membaca. Lalu pindah ke pesantren di dusun Kapas Kuning, sekitar 14 Kilometer dari Gunung Merapi. Hari-harinya sebagai santri pun dimulai, read more »

3 Desember 2010

(Shastri) Sepanjang Jalan Daendels

-Sebuah catatan perjalanan Semarang-Rembang waktu lalu.

Bus yang ditumpangi sudah masuk kota Demak. Tak lama lagi ia akan melewati kota bersejarah yang sangat luas dikenal orang sebagai bekas kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Saat bus yang yang ditumpanginya melewati alun-alun Kabupaten Demak, tak henti-hentinya matanya melotot bangunan masjid itu. Dulu ia sering diajak Bapaknya berziarah di kuburan Raja Jawa pertama, Jimbun yang makamnya berada persis di Belakang Masjid. Orang-orang pesantren yang gemar berziarah menganggapnya sebagai salahsatu ulama terhormat. Itu saja yang diketahui read more »

3 Desember 2010

Perjalanan inspiratif Penulis

-Sebuah tafsir

Setiap kali menjalani perjalanan jauh, entah naik bus, mobil pribadi, kereta api atau pesawat terbang kita selalu mendapatkan situasi lain, yang khas. Dan situasi itu biasanya terjadi manakala kita melakukan perjalanan sendiri. Saat-saat perjalanan seperti itulah sebenarnya momen-momen kecerdasan seseorang tumbuh berkembang, disemai oleh kenyataan alam yang cepat berubah. Alam yang read more »

3 Desember 2010

Pasar buku dan nasib penulis

Bagaimanapun juga kenyataan yang sulit berubah dari pasar buku,-yang di dalamnya terkait masalah rendahnya minat baca masyarakat dan juga daya beli,-ini menjadikan banyak penulis di Indonesia dirundung awan gelap pesimisme, terutama jika itu menyangkut soal penghasilan. read more »

3 Desember 2010

Minat Baca Masyarakat dan Nasib Penulis

Ada sedikit perlu diulas dari realitas pasar buku di Indonesia. Pada saat saya menulis, kebetulan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jawa Barat mengadakan halal bil halal sederhana di Hotel Horison Kota Bandung. Acara bertajuk “Prospek read more »

2 Desember 2010

Pentingkah Sastra untuk Penulis?

Apakah Anda masih berpikir jenis sastra jenis fiksi seperti novel, cerpen, cerita bersambung atau puisi adalah karya yang tidak menarik dan tidak penting? Itu adalah hak masing-masing. Namun sebagai penulis kita harus menyadari, bagaimanapun bidang yang kita tulis; ilmiah atau fiksi, tetaplah membutuhkan nilai sastra. Mengapa? Karena dunia tulis-menulis tidak terpisah dari bahasa, dan karena itu pula sastra menjadi bagian terpenting bagi para penulis. read more »

30 November 2010

Penulis dan Salah kaprah

Aku tidak bisa menulis “karena aku bukan penulis”. Ada-ada saja. Pikiran ini seperti igauan di siang bolong, atau seperti omongan pemalas yang tak punya kemauan. Lebih aneh lagi, yang sering bicara seperti ini bukan sekedar orang awam, melainkan para guru, read more »

30 November 2010

Penulis: Bebas Berpandangan

Sebagai penulis, Anda bebas berpikir salah-satu atau kombinasi di antara pandangan-pandangan di bawah ini:

-Bagiku menulis adalah berkarya individual dan siapapun tidak kuijinkan mengubah apalagi mengatur proses dan hasil karyaku. Karena itu aku tak mengijinkan editing.

-Bagiku menulis adalah berkarya terampil untuk menyampaikan pesan secara baik dan tepat kepada masyarakat. Sebaik apapun tulisanku, aku sadar pasti butuh kontrol dari pihak lain. Dengan tidak mensakralkan ketrampilanku itulah aku berserah untuk diproses secara baik melalui editing. Aku memiliki pandangan, 70 persen karya murniku, 30 persen read more »

30 November 2010

Merapi, Salah Persepsi, dan Sembako

Ada banyak kegagapan kita dalam menghadapi bencana.  Salah satunya adalah masalah distribusi logistik. Tulisan ini akan bicara masalah ketidakmerataan logistik yang terjadi di kawasan lereng Merapi. Letusan Merapi menimbulkan korban. Itu semua mudah dipahami. Tetapi apa yang disebut korban ternyata sering kali dipersempit menjadi korban letusan yang mengungsi. Cara pandang bencana dan pengungsian yang seolah-olah setali tiga uang ini pada mulanya banyak digerakkan oleh akibat pemberitaan media massa, khususnya televisi, yang sangat fokus menyoroti korban letusan wedhus gembel itu identik dengan pengungsi. read more »

Kaitkata: ,
29 November 2010

Motivasi dan Inspirasi Menulis

Akhirnya harapan saya menulis buku Motivasi dan Inspirasi dalam proses kreatif menulis kelar sudah. Butuh waktu penuh 3 minggu selama bulan puasa ramadan dan dua minggu masa editing.  Sekarang tulisan itu saya endapkan, sambil berpikir penerbit mana yang sebaiknya menerbitkan buku ini.Draft sementara: Judul Buku: Genius Menulis (Penerang Batin Para Penulis). read more »

18 November 2010

Jawa-Pedalaman, Islam dan Ilmu Pengetahuan

Salah satu kajian ilmu sosiologi yang masih menarik diperhatikan ialah dikotomi antara budaya keagamaan di masyarakat pesisir berbanding keagamaan di masyarakat pedalaman. Sekalipun variable dikotomi untuk saat ini sayup-sayup mulai tergerus arus komunikasi dan informasi, -terutama terkait dengan dikotomi Pusat  (Ibukota Jakarta ) berbanding daerah,- tetapi agaknya tetap masih relevan untuk menyimak tradisi kehidupan masyarakat muslim di pulau Jawa. read more »

11 November 2010

Menengok Perubahan Cina dan India

Judul : Menjadi Raksasa Dunia Penulis : Robyn Meredith Penerbit : Nuansa Cendekia, Bandung Tahun : I, Juni 2010 Tebal : 240 halaman Harga : Rp45.000

Sejarah perubahan dunia tidak melulu bergantung pada kekuasaan politik dan ekonomi negara adidaya. Perubahan di planet Bumi ini bisa saja bukan karena perang atau revolusi, melainkan berjalan merayap, lalu menggurita, untuk kemudian bisa jadi menggulung kekuatan bangsa lain. India dan China adalah sesuatu yang penting disimak atas capaian-capaian revolusioner, khususnya dalam bidang ekonomi. ‘ read more »

23 Oktober 2010

Evolusi Penyingkap Spiritualitas

Judul: Evolusi dari Teori ke Fakta/Judul Asli: What Evolution Is/Penulis: Ernst Mayr/Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010./Tebal: xxii/434 halaman. Semenjak On The Origin Of Species diluncurkan tahun 1859, dunia ilmu pengetahuan dibuat geger. Para ilmuwan dan agamawan sibuk mempersoalkan pemikiran pengarangnya, Charles Darwin (1809-1882). Sebab harus diakui, karya On The Origin of Species yang diluncurkannya pada tahun 1859 mengubah banyak hal, read more »

20 Juni 2010

Berbagai Resensi Buku Entrepreneur Organik

Entrepreneur Organik
Penulis: Faiz Manshur/ Penerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung Sept 2009. Tebal: 392 Halaman (dengan 32 warna bagian dalam. Harga: Rp 88.000. REHAL Majalah Gatra Hlm 59/16 Desember 2009). Inilah sebuah cerita sukses seorang-dari banyak- kiai membangun pesantren, bisnis, sekaligus mengubah wajah masyarakat pedesaan di sekitarnya. Kiai bernama Fuad Affandi ini amat dikenal sebagai pemimpin Pesantren Al-Ittifaq. Dia sekaligus menjadi tokoh penting di balik kemajuan bidang agrobisnis di Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Bandung. read more »

4 Juni 2010

Buku untuk wirausaha orang desa

Kalau ada pengalaman yang tidak saya sengaja dalam penulisan, maka inilah  yang saya tulis dari ketiga buku kelinci. Mulanya, awal 2006 lalu, saya iseng-iseng memelihara kelinci, lalu menghadapi banyak masalah. Akibatnya harus repot mencari referensi untuk mengenal urusan perkelincian. Kurangnya bacaan sampai-sampai harus beli buku khusus pengobatan dan kedokteran kelinci dari Amazon seharga read more »

18 April 2009

Melepas Jerat Kehampaan Hidup

Judul Buku    : Optimisme di Tengah Tragedi (analisa logoterapi)/Penulis    :    Viktor E Frankl/Penerjemah    :    Lala Hermawati Dharma/Penerbit    :     Yayasan Nuansa Cendekia Bandung, Desember 2008/ Tebal    :    287 Halaman
Adakah nilai yang paling berharga di dunia selain makna hidup? Rasanya tak ada. Sebanyak apa pun harta bisa jadi menjerumuskan seseorang dalam kehampaan. read more »

Kaitkata: , ,
18 Januari 2009

Perempuan Berkalung Surban

pbs-poster1

 

Ceritanya, malam sabtu lalu saya menyempatkan nonton film “perempuan berkalung surban”. Dorongan yang membuat saya masuk gedung bioskop ini karena saya dapat info film ini bercerita tentang emansipasi kaum perempuan di pesantren. Apalagi film ini diangkap dari sebuah novel (yang belum saya baca), yang ditulis oleh Ebidah El-Khailaqi, sastrawati Yogya yang sudah saya kenal sejak saya di Pesantren, sekitar tahun 1993 silam. read more »

17 Januari 2009

Sesat

Aku rasa banyak yang tak benar dalam kehidupan ini Kehidupan religi yang polos dan lugu
Tetapi aku lebih suka menyebutnya dungu
Orang-orang gemar menutup diri
di ruang hampa mitologi para nabi dan wali
Orang-orang beragama mengaku dirinya punya cinta Senyatanya fanatisme buta
Aku rasa banyak yang tak benar dalam kehidupan ini Orang-orang berselisih paham tentang waham

28 November 2008

Tuhan dan Tuan

Tuhan yang kami pertuankan
Hidup adalah permainan
Tetapi kami menderita jika terus dipermainkan read more »

9 September 2008

Glokalitas dan Masyarakat Budiman

Semakin kuat identitas global, semakin kuat pula pencarian identitas lokal. Solusi terhadap dominasi dan hegemoni globalisasi bukan lagi sosialisme, agama, atau anti globalisasi, melainkan glokalitas.  Gejala penemuan (kembali) identitas lokal yang selama ini tercerabut dari akarnya sekarang muncul dalam bentuk yang unik, khas dan menjanjikan perubahan ketimbang aksi politik herois di jalanan. read more »

Kaitkata: ,
8 September 2008

Sajak-sajak

Tuhan yang tertelan
-saat khusuk tanpa sembah

yang telah tiada ialah Tuhan
tertelan nafas menuju awan
bersamaku berbaling-baling melangit
melupakan yang fana read more »

7 September 2008

Puasa Kuasa

Ramadan datang lagi. Sebulan penuh umat Islam akan mengarungi bahtera kehidupan yang lain. Sekalipun kehadiran Ramadan sudah akrab di masyarakat kita, namun tetap saja nuansa asing dan sakral tetap kuat. Inti Ramadan adalah saum (puasa), tapi ramadan itu sendiri bukan semata puasa. read more »

Kaitkata:
22 Agustus 2008

Politis Selebritis Vs Politik Pergerakan

Lukisan karya Butet Kartaredjasa

Lukisan karya Butet Kartaredjasa: Negara kok diuntal? Bisa Kloloden. Bikin modar.

Politik para artis bukanlah berkah, melainkan potensi dari proses pembusukan partai politik dalam mengelola Negara. Kita sadar setiap orang memiliki hak yang sama dalam hal politik.  Seorang artis, -apalagi rata-rata lulusan sarjana dan setiap waktu berhadapan dengan masyarakat,- adalah bagian dari warga negara yang memiliki hak untuk ambil bagian dari perebutan kekuasaan melalui pencalonan legislatif maupun eksekutif. read more »

Kaitkata: ,
20 Agustus 2008

Ketika Ajip “Melukis” Affandi

Judul Buku: 100 Tahun AFFANDI/Penulis: Ajip Rosidi/Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung I April 2008/Tebal: 144 Halaman/

Affandi; sebuah nama yang mudah diingat, dikenal dan dikenang. Mendengar nama Affandi, pasti pikiran kita akan langsung tertambat pada seorang pelukis besar yang dimiliki bangsa ini,- bukan Kang Pandi, mas Fandi atau Afandi yang lain. Nama besar Affandi bukan hanya dikalangan pecinta lukis, melainkan dikenal hingga kalangan awam sekalipun. Namun, apakah dengan begitu sosok kehidupan Affandi sudah dikenal seluruhnya? read more »

9 Juli 2008

Masa Lalu Fasisme Hindia Belanda

Judul Buku: Orang dan Partai Nazi di Indonesia/(kaum pergerakan menyambut fasisme)/Penulis: Wilson. Pengantar: Hilmar Farid/Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta, Mei 2008/Tebal: xviii+ 210 halaman

Dalam khazanah ekonomi-politik marxian, kita mengenal istilah struktur dan suprastruktur untuk melihat kondisi sebuah masyarakat. Istilah struktur ( corak dan hubungan produksi ekonomi) dijadikan pijakan dasar untuk melihat perkembangan suprastruktur; ideologi, politik, sosial, agama, seni dan kebudayaan. Pendek kata, maju-mundurnya sebuah masyarakat pun bisa dilihat dalam konteks hubungan corak produksi yang berkembang. read more »

Kaitkata:
14 Juni 2008

Kelayaban Menafsir Budaya Orang

Judul Buku: Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (Jilid 2)/ Penulis: Sigit Susanto/Penerbit: Insist Press,  I Maret 2008/Tebal: xvi+ 478 Hlm.

Mengenal budaya orang adalah salah satu cara yang baik untuk mengenal budaya sendiri. Pluralitas sebanyak kenyataan dunia menyadarkan orang pada kesadaraan tertentu; beragam nilai dan norma hampir dipastikan tidak lagi menempati posisi dalam konteks hirarki; karena masing-masing memiliki latar belakang tersendiri. read more »

Kaitkata:
6 Mei 2008

Jalan Kemurnian Menemukan Objektivitas Hukum

Judul: Teori Hukum Murni/Judul asli: Pure Theory of Law/Penulis: Hans Kelsen/Penerjemah: Raisul Muattaqien/Penerbit: Nuansa Cendekia & Nusa Media (anggota IKAPI) Bandung/Cetakan: 2008/Tebal: IX + 408 halaman

Sebagaimana lazimnya cabang ilmu pengetahuan, hukum bisa dilihat secara terpisah dari ilmu sosiologi, sejarah atau ekonomi. Tapi apa jadinya jika terpisah dari keadilan? read more »

Kaitkata:
9 Maret 2008

Ekonomi-Politik dan Marginalisasi Dunia Ketiga

Judul: Ekonomi Politik Internasional (peran domestik hingga ancaman globalisasi)/Penulis: T. May Rudy, S.H, M.I.R., M.Sc./ Editor: Agus Salim/Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung (Anggota IKAPI)/Cetakan: I, 2008/Tebal: 185 halaman.

Akhir-akhir ini, eksistensi ilmu pengetahuan sedang mendapat tantangan serius di masyarakat. Kompleksitas masalah yang dihadapi umat manusia, berikut kecepatan derap globalisasi mengakibatkan berbagai paradigma ilmu pengetahuan cepat usang. read more »

Kaitkata:
2 Februari 2008

Amal Madinah dan “Kelainan Zaim”

Judul Buku: Ilusi Demokrasi; kritik dan otokritik Islam/ Penulis: Zaim Saidi/Penerbit: Republika Jakarta 2007/Tebal: xxxiv + 291 halaman/Harga: 43.000

Kapitalisme adalah biangkerok ketidakadilan! Ini bukan suatu slogan haram. Selain kaum sosialis, beberapa organisasi keagamaan di Indonesia seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Muslimin Indonesia (MMI) dan partai politik Islam seperti Partai Keadilan Sosial adalah kelompok penentang kapitalisme. read more »

Kaitkata:
16 November 2007

Blog sebagai Media Alternatif

http://kalorancraft.blogspot.com

http://kalorancraft.blogspot.com

Blog mirip website, hanya saja fasilitas sudah dipaket dalam satu desain. Blog banyak digunakan oleh individu untuk publikasi individu ketimbang untuk publikasi produk perusahaan atau propaganda organisasi. Sedangkan website nampak lebih serius, visioner dan isinya eksklusif. Kesan lain tentang blog cenderung negatif, karena kebanyakan para pengisi “buku harian maya” itu cenderung bangga dengan dirinya sendiri. Para blogger gemar menuangkan soal-soal sepele. “gue pusing dengan ortu, kagak beliin pulsa minggu ini, padahal gue butuh curhat sama doi”, tulis seorang blogger. read more »

Kaitkata: ,
11 November 2007

Legitimasi Teror dan Hasrat Kekerasan

Kekerasan terus berlangsung. Ada yang sifatnya terbuka seperti peledakan bom, ada yang sifatnya terselubung. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tanpa kompromi boleh jadi bisa dikategorikan sebagai kekerasan. Pelaku kekerasan terbuka maupun terselubung sama-sama mempunyai berbagai legitimasi yang sulit dipatahkan oleh teori ilmiah. read more »

10 Oktober 2007

Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno (1)


Bagian pertama dari dua tulisan
Oleh Faiz Manshur

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=183543

Rabu, 3 Oktober 2007
Bagi umat Islam, bulan suci Ramadhan memiliki banyak keistimewaan. Selain kemuliaan malam laetaulkadar (Laylat al-Qadar), suatu malam yang oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai bulan yang “lebih baik dari seribu bulan,” juga ada peringatan hari kemuliaan, yaitu malam Nuzulul Qur’an. Peristiwa itu sangat monumental mengingat Nabi Muhammad untuk kali pertama menerima wahyu di gua Hira. read more »

10 Oktober 2007

Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno (2)

Ber-Nuzulul Qur’an Bersama Bung Karno
Bagian kedua dari dua tulisan
Oleh Faiz Manshur

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=183585:

Kamis, 4 Oktober 2007
Terlepas dari faktor-faktor politik, Al-Qur’an bagi seorang Soekarno adalah kitab suci yang sakral. Apakah bagi seorang yang menyakralkan sesuatu (Al-Qur’an) seperti Bung Karno lantas menjadi seorang Muslim yang dogmatis? read more »

Kaitkata:
11 September 2007

Cerita Bangsa dibalik Kontra-Revolusi

Judul Buku: Bangsa yang Belum selesai/Penulis: Max Lane/Penerjemah: Daniel Indrakusuma/Penyunting: Nurul Agustina/Penerbit: Reform Institute Jakarta/Cetakan: edisi pertama, Mei 2007/Tebal: xxviii + 339 halaman.

Bangsa dan Revolusi adalah dua sisi mata uang. Tapi keberhasilan revolusi fisik melawan kolonialisme tidak menjamin suatu bangsa lepas dari jajahan begitu saja. Tanpa tiga kesadaran revolusi, yakni, partisipasi politik, kemandirian ekonomi dan karakter budaya nasional, tidak mustahil sebuah bangsa akan dijajah oleh kolonial pribumi. read more »

15 Agustus 2007

Menuju Pasar Sukses Sepakbola

Era globalisasi, artinya era pasar-bebas. Segenap logika, suka tak suka, halal tak halal, sudah kepalang basah harus tunduk pada logika ini. Mengelola sepakbola, sebagaimana para mubalig mengurus umatnya, butuh manajemen yang sesuai dengan logika pasar, artinya logika uang. Bukan hanya manajemen mengelola para pemain-pemain di lapangan, melainkan harus cerdas mengelola pasar bisnis. Tanpa itu, sama artinya menggali liang kubur. read more »

9 Agustus 2007

Agama dan Visi Kemerdekaan

Agama,-oleh para pemeluknya- diyakini memiliki peran yang sangat penting dalam konteks kemerdekaan nasional republik Indonesia. Keyakinan ini didasarkan setidaknya oleh dua hal. Pertama, dari sisi tekstual (kitab suci) tidak ada satupun ajaran agama yang mengajarkan penindasan, melainkan justru mengajarkan pembebasan. Kedua, dari sisi historis, setiap kemunculan agama ajaran pembaruan tata kehidupan sosial,-dari era jahiliyah menuju era pencerahan, dari era biadab menuju tatanan beradab. read more »

Kaitkata:
8 Agustus 2007

Islam, Progresif dan Membebaskan

ADA satu keyakinan kuat pada diri umat Islam bahwa ajaran agamanya adalah alternatif terbaik bagi solusi atas problematika kehidupan. Satu hal yang membuat pede (percaya diri) orang Islam terhadap masa lalu ini sering digambarkan dengan kejayaan selama 14 abad dimana kekuasaan Islam mampu mengusai lebih dari separoh dataran dunia. Karena ‘fakta’ ini, rupanya umat Islam kemudian menjadi sangat romantis. read more »

8 Agustus 2007

Kemerdekaan dan Perbudakan


Pekik merdeka akan segera kita dengar. Merdeka sudah menjadi slogan tetap. Orang-orang mewiridkan khusuk setiap 17 agustus. Upacara benar-benar menjadi tata-cara kita menghadap inspektur upacara, tata-cara kita menghormati bendera. Begitu juga dengan pekik merdeka, telah menjadi bagian dari seremoni tahunan. read more »

Kaitkata:
1 Juli 2007

Seni, Sosial dan Kritik

Apakah karya seni itu netral? Pertanyaan ini agaknya tidak mengenakkan telinga kita, telinga para pecandu seni, terutama sastra di tahun 2007: terlalu klasik dan cenderung mengarahkan pembicaraan kita pada ranah ideologi. Mungkin tidak menarik bagi para pekerja seni bebas nilai, bagi para seniman generasi postmodernisme dan bagi mereka yang secara “sadar” menyatakan seni untuk seni. read more »

Kaitkata:
12 Juni 2007

CEO dan Modal Emosional

Modal Emosional CEO

  • Judul Buku: Manajemen dengan Kecerdasan Emosional
  • Pengarang: Dr. Henry R.Meyer (Penerjemah: Munir)
  • Penerbit: Nuansa Books, Bandung 2007
  • Jumlah halaman: 168
  • Penulis Resensi: Faiz Manshur

Globalisasi menuntut perubahan dalam hampir segala hal, termasuk karakter kepemimpinan. Generasi baru CEO pun semakin sadar, sukses perusahaan sangat bergantung pada rasionalitas kepemimpinan. Artinya, seorang CEO tidak hanya butuh kecerdasan rasional instrumentalis seperti mengatur birokrasi secara efektif, melainkan juga harus memiliki modal kecerdasan emosional. read more »

Kaitkata:
12 Juni 2007

CSR, Berangkat dari Falsafah Dasarnya

        Kondisi perekonomian umat manusia sangat ditentukan oleh elemen dasar struktur ekonomi. Sedangkan struktur itu sendiri akan terus berubah sesuai dengan strategi dan target pencapaian laba perusahaan yang dikendalikan oleh kaum homo economicus.

Istilah homo economicus di sini kita gunakan sebagai cara mengenali karakter manusia modern yang perhitungan hidupnya semata-mata bersandar pada target laba. Jika homo economicus masih mau mengontrol diri untuk tidak terjebak pada ‘ideologi’ “demi laba berbuat semaunya”, maka ia masih bisa dikategorikan sebagai homo social. Jika ia bertindak semaunya, maka identitas libidonomic, adalah istilah yang tepat dilabelkan untuk sang pelaku. read more »

Kaitkata: ,
12 Juni 2007

Menuju Pasar Sukses Sepakbola

Era globalisasi, artinya era pasar-bebas. Segenap logika, suka tak suka, halal tak halal, sudah kepalang basah harus tunduk pada logika ini. Mengelola sepakbola, sebagaimana para mubalig mengurus umatnya, butuh manajemen yang sesuai dengan logika pasar, artinya logika uang. Bukan hanya manajemen mengelola para pemain-pemain di lapangan, melainkan harus cerdas mengelola pasar bisnis. Tanpa itu, sama artinya menggali liang kubur. Kita bisa menikmati gemerlap dunia bisnis sepakbola dengan rincian miliaran uang kontrak pemain, puluhan ribu tiket terjual, atau royalnya sponsor yang mendukung sebuah klub. Namun ini ternyata hanya berlaku pada segelintir klub. Di luar itu, klub-klub lain berada dalam situasi kembang-kempis keuangan. read more »

10 Juni 2007

Kapitalisme dan Pendidikan

Berhemat-hematlah berekonomi dalam hal apa pun, kecuali untuk keperluan pendidikan. (V.I. Lenin)

BAGI seorang pemimpin komunis seperti Lenin, menghemat anggaran biaya keuangan dalam segala hal adalah keharusan. Akan tetapi, kenapa dengan pendidikan ada pengecualian? read more »

9 Juni 2007

Mentalitas Produktif

“Mentalitas Produktif”


 ”Sudahlah, kita tak usah politik-politikan dulu, percuma kalau tidak pintar berproduksi. Bisa-bisa jadi koruptor nanti,” begitu kata Lexi Rambadeta, kawan saya suatu ketika. Lexi yang kini jadi Direktur Off Stream, sebuah lembaga yang memproduksi film-film dokumentar itu memang sedang naik daun bisnisnya. read more »

Kaitkata: ,
17 Mei 2007

Jalan Baru Pendidikan tanpa Sekolah

Judul Buku: Belajar tanpa Sekolah, Judul Asli: The Unschooling Handbook: How to Use Whole World As Your Child’s Classroom (1998). Penulis: Mary Graffith Penerjemah: Mutia Dharma Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung Cetakan: I, 2007. Tebal: 240 halaman

cover_belajar_tnpa_sekolah.gif

Di Indonesia, tahun 2006 ada 6 juta lebih anak usia 7-15 tahun yang putus sekolah. Ada lebih 14 juta orang buta huruf. Berulang kali pemerintah dikritik. Berulang kali gerakan sekolah digalakkan. Namun, selama jalan yang ditempuh sekadar membangun sekolah baru, selama itu pula ketertinggalan tidak akan teratasi secara mendasar. Harus ada terobosan baru. read more »

Kaitkata:
5 Mei 2007

Komunikasi Pekerja & Pengusaha di Era Global

Ada yang salah dari kita di jaman ini dalam melihat pola baru hubungan antara buruh dengan karyawan. Realitas sudah sedemikian jauh berubah, tapi cara pandang, sikap dan tindakan kita dalam menyikapi persoalan lapangan kerja, kondisi buruh dan globalisasi masih dilihat dengan cara lama.

Sebuah istilah, apalagi digunakan oleh lembaga-lembaga resmi dunia, bahkan lembaga politik tentu bukan sembarang istilah. Globalisasi atau neoliberalisme tak cukup dipahami sebagai neo-imperialisme. Globalisasi juga sebagai proses alamiah transformasi kehidupan manusia. Kaum kapitalis maupun proletar sama-sama problematis menghadapi situasi ini. Memang tidak salah pandangan klasik konflik majikan dan buruh sebagai konsekuensi logis dari sistem kapitalisme. Yang salah adalah memandang konflik tersebut sebagai sesuatu yang baku, sementara realitas sudah berubah. Konsekuensinya, cara pandang pun harus berubah untuk menentukan tindakan yang tepat. read more »

Kaitkata:
23 April 2007

Negeri Asing dalam Catatan Pengelana Indonesia

Catatan mengenai perjalanan seseorang biasanya bersifat personal dan tak menarik dibaca orang lain. Apakah sebuah perjalanan jauh seseorang memang bukan sesuatu yang menarik? Sampai saat ini buku-buku tentang kisah perjalanan wisata tergolong sedikit, itu pun tidak didukung penulisan bermutu. read more »

16 Maret 2007

Fasisme dan Sepakbola

Politisasi Sepakbola dalam Piala Dunia
Faiz Manshur – detikSport

Jakarta – Beberapa kali Piala Dunia dicampuri urusan politik, tapi beberapa kali pula tidak mempan. Apakah akan ada isu politik yang bakal mempengaruhi perhelatan Piala Dunia 2006 di Jerman? read more »

11 Maret 2007

Kualitas Karya adalah Tujuan Utama

Judul: Meracik Buku Menjadi Bestseller

Penulis: Agung Prihantoro

Editor: Mathori Al-Elwa & Agus Salim

Penerbit: Nuansa Cendekia (anggota IKAPI) Bandung

Edisi: 1, 2007

Tebal; 150 halaman

Si pengarang punya peluang untuk menekuni sesuatu yang menyenangkan, menarik, dan membesarkan hati, yang nantinya hanya akan ditawarkan kepada seorang pembaca personal. Sungguh sial baginya bila tidak ada orang yang dibuatnya senang….(Robert Louis Stevenson) read more »

Kaitkata:
20 Februari 2007

Mengarungi Bencana Bersampan Akal Budi

 

Mengarungi Bencana Bersampan Akal Budi

-berguru pada Siti Jenar


Di suatu tempat di Pengging, siang hari. Sebelum layar dibuka atau lampu dinyalakan terdengar gemuruh bencana gempar bercampur dengan teriakan dan jeritan orang….

read more »

Kaitkata:
4 Februari 2007

Catatan Aktivis dari LP Cipinang

Catatan Aktivis dari LP Cipinang

 

Buku ini adalah buah catatan pribadi Wilson, seorang aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dipenjara di LP Cipinang bersama aktivis gerakan pro-demokrasi angkatan 1990-an. Karya ini menunjukkan kepada kita bahwa pemenjaraan adalah sebuah realitas normal dalam kekuasaan politik otoriter. Bagi Wilson dan para aktivis lainnya, pemenjaraan adalah konsekuensi politis yang secara sadar dianggap sebagai yang harus diambil dalam memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat kecil. read more »

Kaitkata:
4 Februari 2007

Melacak Jejak Gereja di Timur Tengah


Judul Buku :Arab dan Kristen:

(Gereja-gereja Kristen di Timur-Tengah Penulis: Anton Wessels)

Judul Asli : Arabier en Crhisten: Christelijke kerken in het Midden-Oosten.

Penerjemah : Ny Tati S.L Tobing-Kartohadiprojo

Penerbit: PT BPK Gunung Nulia (anggota IKAPI)

Tebal: xxii+234 halaman

Secara definitif gereja pada mulanya adalah tempat peribadatan umat beragama Nasrani. Dalam prakteknya gereja mempunyai prinsip yang hakiki sebagai sarana “persekutuan orang-orang yang dipanggil untuk dijadikan milik Tuhan”. Definisi ini diambil dari kata Yunani ekklesia (ek-kaleo, memanggil keluar) dan kuriake atau kuriakon (milik kurios yaitu Tuhan). Dari sisi ini gereja ingin mewujudkan persekutuan antar sesama pemeluk agama demi melaksanakan tugas panggilan, kesaksian (baiat), dan pelayanan. read more »

Kaitkata:
4 Februari 2007

Neo Liberalisme di Negeri Cina

Judul Buku : Belajar Dari Cina
( Bagaimana Cina merebut peluang dalam era globalisasi)
Penulis: I Wibowo
Editor : P. Cahanar
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Edisi: Cetakan Pertama Januari 2004
Tebal: 238+viii
Harga: Rp 36.000

Setiap kali pembicaraan mengenai Cina berlangsung, kerapkali pembicaraan itu mengarah pada isu komunisme yang selama sekian abad telah menjadi hantu menakutkan bagi kapitalisme. Tapi kini, hantu itu sudah pergi entah ke mana. Komunisme di Cina kini bisa dikatakan tinggal simbol yang tidak menakutkan lagi. read more »

Kaitkata:
4 Februari 2007

Dua Kubu dalam Serat Cabolek

Judul Buku : Serat Cabolek (The Book of Cabolek)
Karya Dr. S Soebardi
Penerjemah: Enoch Machmoed
Editor: Mathori A Elwa
Cetakan: 1, September 2004
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung (Anggota IKAPI)
Tebal 202 Halaman
Harga Rp 28.000

Serat Cabolek, yang ditulis oleh Raden Ngabehi Yasadipura I, seorang pujangga keraton Surakarta abad ke-18, merupakan dokumen yang melukiskan ketegangan dalam kehidupan keagamaan orang-orang Jawa yang timbul karena adanya kontak dengan ajaran Islam. read more »

Kaitkata: ,
4 Februari 2007

Islam dan perlindungan Minoritas

 

Judul buku: Fiqh Baru bagi Kaum Minoritas
Judul asli: Nahwa Fiqhin Jadidin lil Aqalliyat (Kairo: Dar al-Salam, 2003)
Penulis: Prof Dr Jamal al-Din Athiyah Muhammad
Penerjemah: Shofiyullah Mz.
Penerbit: Marja (Nuansa Cendekia), Bandung
Cetakan: I, Oktober 2006
Tebal: 240 halaman

Wacana tentang minoritas sampai kini masih terus menarik diperbincangkan, terlebih jika diskursus itu masuk wilayah agama. Mungkin ini disebabkan oleh sensitivitas yang dimiliki para pemeluk agama. Kelompok yang berada dalam mayoritas agama sering kali merasa lebih superior ketimbang minoritas. Sedangkan yang minoritas merasa tertekan oleh dominasi ataupun hegemoni mayoritas. Akibatnya, yang terjadi adalah hubungan tidak nyaman di antara keduanya. read more »

Kaitkata: ,
2 Februari 2007

Dari Sunda, Korban G-30-S itu Bicara

cov_tragedi_65.jpgJudul Buku: Tragedi 1965; dari Pulau Buru sampai Ke Mekah
Penulis: H Suparman/ Kata pengantar; Asvi Warman Adam & Acep Zamzam Noor/ Editor: Mathori A-Elwa & Agus Salim/Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung (Anggota IKAPI)/Cetakan: edisi Pertama Oktober 2006
Tebal: 343 Halaman

Ada banyak buku sejarah yang mengisahkan tragedi Gerakan 30 September (G-30 S). Kebanyakan buku itu berkisah tentang korban di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Sekalipun tragedi G-30-S tersebut berlangsung dalam waktu yang sama, namun masing-masing wilayah memiliki ciri khas (latar belakang) read more »

10 November 2006

Spritualitas Puasa Sebagai Kontrol Kehidupan

 Ada banyak manfaat positif dari puasa. Salahsatunya adalah mengembalikan ketegangan, labilitas, keterasingan manusia ke arah normalitas kehidupan. Kita tahu, keseharian gerak hidup yang serba semrawut selama 11 bulan membuat manusia alpa akan suatu kewajaran. Pada hari-hari biasa kita berhadapan dengan berbagai kecenderungan nafsu duniawi yang tiada tepi. read more »

Kaitkata:
13 Oktober 2006

Rasionalitas Puasa untuk Orang Modern

Resensi Buku:

Judul Buku: Madrasah Ruhaniah: Berguru pada Ilahi di Bulan Suci
Penulis: Prof Dr Jalaluddin Rakhmat MSc
Penerbit: Mizan & Muthahhari Press, Bandung, Cetakan: II 2006
Tebal: 250 Halaman 

Ritual atau ibadah dalam setiap agama lebih menampakkan wajah dogmatis ketimbang rasionalitasnya. Ibadah puasa, misalnya, cenderung terlihat sekadar bagian dari sikap tunduk seorang manusia kepada yang gaib. Bagi seorang rasionalis tulen, hal ini tentu merupakan bagian dari perilaku tiada guna jika tetap dijalankan. read more »

Kaitkata:
13 September 2006

Ragam Kritik Sastra Indonesia

Media Indonesia Selasa, 13 September 2005

RESENSI » Buku

Ragam Kritik Sastra Indonesia

Judul Buku: Mozaik Sastra Indonesia

Oleh: Faiz Manshur
MUNGKIN sebagian orang masih punya pendapat, sastra adalah bidang marginal, terkucil dari gegap-gempita kesenian panggung dan televisi sekarang ini. Kita hanya menyaksikan eksistensi sastra pada panggung-panggung mini, atau acara bedah buku, temu penulis dengan pembaca yang pengunjungnya bisa kita hitung dengan jari.Namun, biar begitu adanya, eksistensi sastra bukan tidak berguna. Sastra bercita rasa tinggi, akan sangat penting manfaatnya sebagai kontrol terhadap kesenian (bahkan kebudayaan) hasil produk pasar bebas yang serbainstan, imitatif, pasaran, dan rendah nilai estetiknya. read more »
Kaitkata: ,
11 Agustus 2006

Blog Sebagai Media Alternatif

 

Blog mirip website, hanya saja fasilitas sudah dipaket dalam satu desain. Blog banyak digunakan oleh individu untuk publikasi individu ketimbang untuk publikasi produk perusahaan atau propaganda organisasi. Sedangkan website nampak lebih serius, visioner dan isinya eksklusif.

Kesan lain tentang blog cenderung negatif, karena kebanyakan para pengisi “buku harian maya” itu cenderung bangga dengan dirinya sendiri. Para blogger gemar menuangkan soal-soal sepele. “gue pusing dengan ortu, kagak beliin pulsa minggu ini, padahal gue butuh curhat sama doi”, tulis seorang blogger. read more »

Kaitkata:
8 Agustus 2006

Pramoedya dan Mentalitas Produktif

Pramoedya dan Mentalitas Produktif

Pramoedya Ananta Toer telah meninggal. Apa yang perlu kita warisi dari seorang sastrawan hebat asal Blora Jawa Tengah itu?

Karya sastra adalah bagian terpenting yang kita miliki dari seorang Pram. Dalam khazanah susastra, Pram bukan lagi sosok asing. Ia sastrawan hebat. Berbagai karyanya telah diakui dunia internasional. ini dibuktikan oleh berbagai penghargaan internasional yang pernah Pram dapatkan. read more »

Kaitkata:
23 Juli 2006

Sepakbola dan Globalisasi


Apa yang kita pahami tentang sepak bola? Secara sosiologis kita akan menjelaskan sebagai permainan paling populer sejagat, namun popularitasnya merepresentasikan permainan masyarakat kelas bawah. Maklum, media massa sebelum era 1995-an masih senang mengejek sepak bola milik kelas proletar di Eropa, milik masyarakat negara dunia ketiga di
Asia dan Amerika Latin, dan miliknya penduduk negara terbelakang di benua Afrika. read more »

Kaitkata:
7 Juli 2006

Uang

 Uang telah menjadi bagian hidup manusia. Kita semua butuh uang untuk memenuhi hajat kehidupan sehari-hari. Tapi agaknya kita sering lupa tentang asal muasalnya. Kapan sebenarnya uang pertama kali hadir dalam kehidupan manusia? read more »

Kaitkata: ,
6 Juni 2006

Sekulerisme dalam Sepakbola

Sekularisme Sepakbola, Luput Fatwa

      

            Kelompok pro-syariat Islam bisa berargumentasi demokrasi sebagai sistem politik kafir, karena itu harus ditentang. Mereka boleh saja mengeluarkan sejuta fatwa dalam sebulan untuk menyatakan majalah Playboy haram beredar, bunga bank tergolong riba. Tapi anehnya, mereka tak pernah mengeluarkan fatwa haramnya sepakbola. read more »

Kaitkata:
4 Juni 2006

Efektif Menulis Resensi Buku

Menulis resensi pada dasarnya sama dengan menulis karya ilmiah seperti artikel, opini, feature. Berbagai macam bentuk penulisan bisa diterapkan. Yang sering kita lihat di media massa biasanya berbentuk artikel yang panjangnya kira-kira antara 5000 sampai 8000 karakter. Ada yang juga yang berbentuk ulasan naratif feature karakternya lebih panjang dari ukuran dari 8000 karakter. read more »

6 Mei 2006

Muhamad dan Kristen Arab

Agustus 1980 silam, Presiden Libya, Moamar Qadhafi pernah menyerukan agar orang Kristen di jazirah Arab segera bertobat. Menurut Qadhafi, “Seorang Arab yang beragama Kristen merupakan suatu penyimpangan.” Pernyataan ini diungkapkannya saat diwawancarai sebuah media harian di Libia ketika ia ditanya tentang nasib sepuluh juta orang Kristen di Arab. Tidak disangkal lagi, pendapat ini bermuatan politis. Atau kalau mau berprasangka buruk, sebenarnya Qadhafi tidak memahami sejarah kekristenan di Arab. Pemahaman Qadhafi tentang Arab dan Islam tampak reduksionis, sebagaimana umumnya orang Indonesia melihat Arab adalah Islam dan Islam adalah Arab; dua sisi mata uang. read more »

Kaitkata:
4 April 2006

Negeri Asing dalam Catatan Pengelana Indonesia

Negeri Asing dalam Catatan Pengelana Indonesia

 

Catatan mengenai perjalanan seseorang biasanya bersifat personal dan tak menarik dibaca orang lain. Apakah sebuah perjalanan jauh seseorang memang bukan sesuatu yang menarik? Sampai saat ini buku-buku tentang kisah perjalanan wisata tergolong sedikit, itu pun tidak didukung penulisan bermutu. Demikian pula dalam dunia kesusastraan kontemporer Indonesia. Nyaris tidak ada penulis yang berkarya mengikuti “genre” penulisan ala Karl May atau VS Naipul yang rajin berkelana mengunjungi berbagai tempat jauh dan menuliskan dalam bentuk buku.

  read more »

Kaitkata:
4 April 2006

Benua Hitam Menjelang Piala Dunia Jerman

Menunggu Kiprah Benua Hitam di Jerman

 

      Ada yang menarik dari delegasi tim dari benua Afrika pada Piala Dunia di Jerman tahun ini. Afrika mendapat jatah 4 dari 5 wakil dari benua Afrika yang berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia Jerman 2006.

  read more »

Kaitkata:
8 Januari 2006

Olahraga Atlet dan Buku

[detikSport, 8 Januari 2006] -Jakarta – Olahraga dan buku. Yang pertama adalah kata subyek, kedua kata benda. Ada keterpisahan yang jauh pada keduanya. Namun jika disatukan dalam istilah Buku-Olahraga, akan mudah dimengerti maknanya; suatu benda berupa kertas bundel yang di dalamnya memuat tulisan tentang olahraga. read more »

21 Oktober 2005

Jalan Lurus Islam Berbasis Tradisi

Jalan Lurus Islam Berbasis Tradisi

MENEMPATKAN ajaran Islam dalam dialektika kehidupan sosial, politik dan budaya adalah proyek yang harus terus-menerus dilangsungkan. Dari sisi keilmuan, dinamisasi ajaran Islam secara kontekstual dengan tradisi masyarakat akan memperkaya kajian agama. Dengan itu pula sejarah membuktikan kebesaran suatu ajaran sangat ditentukan keberhasilan beradaptasi dengan tradisi para pemeluknya. Penyebaran agama-agama besar dunia pun harus melewati proses panjang. Agama-agama besar itu menurut Polikarpus Ulin Agan (2003) selalu mengalami pengalaman pahit, penyebaran iman itu tidak sama dengan menerjemahkan kultus, doa-doa dan nyanyian ke dalam bahasa pribumi. read more »

Kaitkata:
10 Oktober 2005

Bernuzulul Quran Bersama Bung Karno

Ber-Nuzulul-Quran Bersama Bung Karno (1)

Oleh FAIZ MANSHUR Bagi umat Islam, bulan suci Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan. Selain kemuliaan malam Laitaul Qadar (Lailat Al-Qadar), suatu malam yang oleh Al-Quran dikatakan sebagai bulan yang “lebih baik dari seribu bulan,” juga ada peringatan hari kemuliaan yaitu malam Nuzulul Quran. Peristiwa itu sangat monumental mengingat Nabi Muhamad untuk pertamakalinya menerima wahyu di gua hira’. read more »

Kaitkata:
10 Agustus 2005

Nasionalisme, Globalisasi dan Kemerdekaan

 Tanggal 17 Agustus tahun ini mengantarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke usia 60-tahun. Apakah usia ini tergolong tua atau muda itu sesuatu yang relative. Yang jelas, setiap hadir momentum peringatan dalam setiap tahun, selalu kita membutuhkan pemaknaan. Dan memang demikianlah, dalam momentum seperti itu kebutuhan memaknai akan terasa lebih baik ketimbang tidak. read more »

Kaitkata:
10 Mei 2005

Ledakan Penduduk


 

 
Kecemasan atas Pelipatgandaan Manusia

Faiz Manshur (10/05/2005 – 10:42 WIB)

Jurnalnet.com (Bandung): Data Lembaga Bank Dunia bulan Juli lalu memperkirakan, populasi global akan meningkat menjadi lebih dari 8,3 miliar pada tahun 2025, dari hanya sekitar Rp5,3 miliar saat ini. Persoalannya riil, bahwa semakin banyak manusia hidup, kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan, lapangan kerja, persoalan kriminalitas, serta penciptaan kedamaian menjadi tuntutan utama umat manusia. Kita cemas karena itu tuntutan selalu kalah dengan ledakan demi ledakan penduduk di berbagai negara. read more »

Kaitkata:
5 April 2005

Birokrasi, Sosialisme dan Mentalitas

Birokrasi, Sosialisme dan Mentalitas
Tanggapan atas Tulisan Menpan Taufik Efendi


Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), Taufik Efendi rupanya sedang risau atas problematika birokrasi di negara kita. Ia jabarkan persoalan kinerja buruk negara secara ringkas dalam tulisan berjudul, ”Sistem Birokrasi Berbasis Teknologi” di harian Sinar Harapan (Selasa, 19/4). Lalu ia pun menawarkan dua solusi sebagai pemecah kebuntuan dalam penyelengaaraan negara. Pertama, penerapan teknologi informasi sebagai bagian dari efektivitas kerja aparat birokrasi. Kedua, pentingnya revitalisasi aparat birokrasi yang handal dan terpercaya dalam melayani masyarakat. Siapapun akan setuju dengan upaya di atas. Selama ini kita tahu, kinerja birokrasi negara Indonesia masih jauh dari ideal. Buruknya kualitas birokrasi selalu menjadi sorotan masyarakat. Setiap pemerintahan berganti selalu memberikan terobosan guna memperbaiki birokrasi negara kita. Tapi sampai sekarang masyarakat belum mendapatkan kepuasan atas kinerja aparat pemerintahan. read more »

Kaitkata: ,
4 April 2005

Melihat Modernitas dari Sisi Mentalitas

modernitas1.jpg

 

Judul Buku: Filsafat Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzsche). Penulis : Dr F Budi Hardiman. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

SECARA general, ada dua cara untuk memahami modernitas. Pertama, memakai perangkat analisis sosiologi. Kedua, memakai analisis filsafat itu sendiri. Yang pertama lebih cenderung melihat modernitas sebagai gejala sosial di mana transformasi masyarakat bergerak maju ditentukan oleh determinasi ekonomi. Yang kedua lebih melihat modernitas sebagai bentuk kesadaran/pemikiran manusia. Dengan kata lain, modernitas dipandang dari sisi internal yang menekankan paradigma epistemologi. read more »

Kaitkata:
2 April 2005

Gerakan Radikal PRD

Membaca Radikalisasi PRD

“Dalam sejarah modern kita selamanya Angkatan Muda menjadi motor perubahan ke arah yang lebih maju, kecuali angkatan 66.”
Pramudya Ananta Toer

Kata-kata Pramoedya Ananta Toer tersebut tentu punya bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Melalui buku-buku sejarah, kita akan mendapat dengan istilah ‘angkatan’yang menjadi rujukan untuk menandai kiprah kaum muda. Sebut saja angkatan 1908, angkatan 1928, angkatan 1945, angkatan 66(?) dan angkatan 1990. Saking sentralnya peranan kaum muda, Benedict Anderson (1972) berani mengatakan, bahwa “peranan inti pada awal pecahnya revolusi di beberapa negara, seperti Belanda, Inggris, dan Indonesia diambil bukan oleh para cendekiawan yang terasingkan, bukan juga oleh kelas-kelas tertindas, melainkan oleh kaum muda, atau sebagaimana orang-orang Indonesia menyebutkan mereka, pemuda.” read more »

7 Desember 2004

Aktivis Pergerakan dan Pilihan Partai-Populis

Jumat, 3 Desember lalu, Budiman Sudjatmiko, bekas Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) menyatakan diri masuk ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Budiman tidak sendirian, tetapi bersama dengan 51 aktivis pro-demokrasi yang berdomisili di Jakarta. read more »

Kaitkata: ,
13 Agustus 2003

Politisi dan Polilisasi Bom

Politikus Memolitisasi Bom

Lagi-lagi negara kita diguncang bom. Kali ini menimpa Hotel Marriott yang berada di pusat Ibu Kota negara. Masyarakat kembali dicemaskan oleh aksi ini. Ledakan Bom Bali yang masih kuat dalam ingatan kita dengan berbagai korbannya ternyata kini terulang kembali. Karena meledak di Jakarta, tingkat sensitivitasnya pun lebih besar dari yang meledak di Bali. Ironinya, ledakan berlangsung ketika sistem pengamanan di Jakarta diperketat sehubungan penyelenggaraan Sidang Tahunan MPR. Aparat pemerintah pun kini dibuat malu lagi. Pasalnya rangkaian aksi teror yang selama ini terus menghantui kita tidak berhasil dihentikan. read more »

Kaitkata: ,
5 Agustus 2003

Militer dan Gerakan Islam Radikal

Agama dalam perspektif politik sepertinya tidak terbatas dalam pengertian hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Melainkan lebih dari itu, agama juga memberikan satu pengertian tentang hubungan horizontal sesama manusia. Lebih dari itu, agama-politik juga selalu dituntut untuk menyesuaikan, menyelaraskan, dan bahkan masuk menjadi bagian dari politik-kekuasaan. Karena itu tak heran jika dalam pengertian politiknya agama pada akhirnya tidak sekedar bersifat sosial yang lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok agama yang sedang bermain politik. Karena kepentingan yang tujuannya adalah kemenangan pada akses kekuasaan, maka umat beragama pun harus punya strategi dan taktik untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan. read more »

Kaitkata: ,
10 Juli 2003

Pendidikan dan Ideologi Dominan


DALAM pandangan umum pendidikan adalah sarana manusia memperoleh ilmu pengetahuan. Tujuan akhirnya adalah agar terbebas dari segala macam bentuk kebodohan sehingga manusia memiliki martabat kehidupan yang manusiawi.
Ada anggapan bahwa dalam memperoleh ilmu pengetahuan melalui pendidikan tersebut kita tidak lagi mempersoalkan posisi (institusi) pendidikan. Mungkin karena ilmu pengetahuan itu sendiri dianggap netral, dengan sendirinya proses belajar-mengajar pun kemudian dianggap netral dan selalu mengandung kebajikan. read more »

Kaitkata:
5 Mei 2003

Menuju Kebangkitan Ekonomi tanpa IMF

Menuju Kebangkitan Ekonomi tanpa IMF

 

KEHADIRAN lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) pada mulanya telah melahirkan perdebatan yang cukup panjang. Jika pada mulanya kontroversi itu dimulai pada saat Presiden Soeharto menandatangi Letter of Intens (LoI), tahun 1997, kini kontroversi tersebut semakin kuat pada saat pemerintahan Megawati dan Hamzah Haz berkehendak mengakhiri kontrak dengan IMF. Sekalipun pada mulanya pemerintah merasa ragu, pada akhirnya muncul tekad mengakhiri program kerja sama dengan IMF. Hal itu diperkuat oleh pernyataan resmi pemerintah melalui Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti setelah dipanggil Wakil Presiden Hamzah Haz di Istana Wakil Presiden, Senin (5/5/2003) siang. Menko itu mengatakan pemerintah siap menjalankan rekomendasi hasil sidang MPR tahun 2002 untuk menghentikan kerja sama dengan IMF pada Desember 2003. (Kompas, 6/5/2003). read more »

Kaitkata:
4 April 2003

Mata Pena Kaum Muda untuk Perubahan

Mata Pena Kaum Muda untuk Perubahan
Oleh FAIZ & FENDRY PONOMBAN

“Tidakkah kita, bangsa Indonesia, ikut pula berdebar-debar hati, kalau kita mendengar kabar tentang madjunja usaha Ghasi Zaglul Pasha membela Mesir? Tidakkah kita ikut berhangatan darah kalau kita mendengar kabar tentang haibatnja pergerakan Mohandas Karamchand Gandhi atau Chita Ranjau Das membela India? Tidakkah kita berbesar hati pula mendjadi saksi atas hasilnja usaha Dr. Sun Yat Sen, “Mazzini Negeri Tiongkok” itu?. Bahwasanja, bahagia jang melimpahi negeri-negeri Asia jang lain adalah kita rasakan sebagai melimpahi diri kita sendiri; malangnja negeri-negeri itu adalah malangnja negeri kita pula.” (“Soekarno, Indonesianisme dan Pan-Asiatisme, Soeloeh Indonesia Moeda, 1928 dalam Di Bawah Bendera Revolusi”, Djakarta, 1963) read more »

Kaitkata:
1 April 2003

Globalisasi dan Budaya Pasar

Globalisasi Determinasi Ekonomi dan Budaya Pasar
Oleh FAIZ MANSHUR

ISTILAH globalisasi telah menjadi perbincangan banyak orang. Terlepas dari suka atau tidak, paham tak paham, banyak orang memakai istilah ini di saat-saat kuliah, ngobrol ataupun hanya sekadar ikut-ikutan latah. Oleh karena itu, kita tak usah heran jika globalisasai yang pada mulanya hanya diperbincangkan pada konteks ekonomi-politik, kini meluas menjadi tren yang menyeruak ke sendi-sendi kebudayaan; mulai dari dunia fashion, masa depan kesenian rakyat, keagamaan, seks, perkembangan teknologi informasi hingga pemberdayaan ekonomi rakyat. read more »

Kaitkata: ,
3 Maret 2003

Paradigma Islam Menghadapi Globalisasi

Pilihan Paradigma Islam Menghadapi Globalisasi

PADA mulanya agama-agama muncul dari unsur kebudayaan sebuah masyarakat sebagai bagian ritus transendental yang didominasi kekuatan mistis. Agama ini lahir dalam bentuk-bentuk yang plural sesuai dengan corak ekonomi sosial tiap-tiap masyarakat pada masanya. Meskipun tidak secara linier bentuk tersebut sesuai dengan kondisi transformasi sosioekonominya, setidaknya fakta telah menunjukkan bahwa agama pada era kini telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dibandingkan awal kemunculannya. Perubahan nonlinier ini kemudian membentuk beragam kategori. Namun, secara general kualifikasinya hanya menjadi dua bentuk yang sekarang ada dalam umat Islam. Perspektif ini hampir berlaku pada setiap agama. Demikian pula dengan Islam yang berdiri di atas tiga pilar doktrin dasarnya (tauhid, syariat, dan akhlak), dalam perkembangannya mengalami perubahan bentuk aplikasi pemaknaan di kalangan umatnya. read more »

Kaitkata: ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.